แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Zoya
Rezie baru saja pergi, bel pintu pun berbunyi.

Elora membuka pintu. Seorang wanita berdiri di luar, di tangannya membawa kotak kue yang indah.

"Halo, aku Elise, yang kemarin kirim pesan ke kamu."

Elise tersenyum lembut tetapi penuh provokasi. "Akhir-akhir ini Rezie banyak menjagaku, jadi aku buat sedikit kue sebagai ucapan terima kasih. Orang yang datang berkunjung adalah tamu, kamu nggak mungkin nggak menyambutku, 'kan?"

Tanpa menunggu jawaban, dia sudah masuk sendiri dan mulai melihat-lihat.

Saat melewati taman, Elise berhenti. "Mawar-mawar ini semuanya varietas yang paling aku suka. Nggak nyangka Rezie masih menanamnya."

Ujung jari Elora sedikit bergetar. Dia ingat, setiap pagi Rezie selalu merawat bunga-bunga ini sendiri, tidak pernah menyuruh orang lain.

Dulu Elora mengira itu hanya hobi hidupnya.

Di tepi kolam, beberapa kura-kura berjemur dengan malas.

"Ah, mereka masih hidup!" Elise berseru senang, "Ini peliharaanku waktu kecil. Setelah ke luar negeri, aku sudah nggak mengurusnya lagi, kukira sudah mati."

Elora teringat bagaimana setiap hari Rezie memberi makan kura-kura itu tanpa pernah absen. Dadanya terasa sesak.

Di ruang tamu, pandangan Elise menyapu boneka-boneka di etalase. "Ini semua koleksi favoritku." Dia lalu melihat sekeliling. "Gaya furniturnya juga minimalis Nordik, sesuai seleraku."

Elora berjalan di belakangnya, setiap langkah terasa seperti menginjak ujung pisau. Rumah yang telah dia tinggali selama dua tahun, tiba-tiba terasa asing.

Di kamar tidur, Elise menyentuh jas dan dasi di dalam lemari. "Ini semua hadiah dariku. Nggak kusangka dia masih menyimpannya dengan sangat baik."

Elora teringat Rezie yang setiap hari menyetrika pakaian-pakaian itu dengan tangan sendiri, tenggorokannya terasa seperti tercekat. Jadi, selama ini Rezie tidak membiarkannya menyentuh barang-barang itu, bukan karena dia punya kebiasaan bersih yang berlebihan, tapi karena semua itu adalah jejak Elise.

Akhirnya, Elise berhenti di depan foto pernikahan mereka.

"Lucu ya." Dia memiringkan kepala sambil tersenyum, "Dulu aku dan Rezie pernah membahas ingin memotret tiga tema, gurun, laut, dan hutan. Nggak nyangka kalian juga milih tiga tema ini."

Wajah Elora seketika memucat.

Saat mengambil foto pernikahan, Rezie bersikeras memilih tiga tema itu. Dulu Elora mengira itu karena Rezie menyukai romantisme alam.

"Kenapa kamu ada di sini?"

Suara Rezie tiba-tiba terdengar dari pintu. Dia melangkah cepat masuk dan wajahnya tampak muram.

Elise langsung mengganti ekspresinya menjadi manis. "Aku buat sedikit kue dan datang untuk antarin. Istrimu ini mengundangku masuk dengan ramah, bahkan bilang ingin mengajakku makan malam."

Alis Rezie sedikit mengendur, lalu dia menoleh ke Elora. "Ini Elise, tetangga masa kecilku, dari dulu seperti adik sendiri. Sebelumnya dia ke luar negeri dan baru-baru ini kembali, jadi kamu belum pernah ketemu."

Elora menatapnya dengan tenang.

Tetangga masa kecil? Seperti adik sendiri? Rezie benar-benar menyembunyikan hubungan mereka dengan rapi.

Elise pun ikut berakting, "Iya, sejak kecil Rezie selalu menjagaku. Waktu kecil aku pilih-pilih makan, dia sampai sengaja belajar masak untukku. Masakannya seperti iga asam manis, ikan kukus, bakso daging saus kecap ... semua itu favoritku."

Jari Elora mencengkeram telapak tangannya sendiri.

Semua itu adalah masakan yang paling sering dimasak Rezie. Dulu, Elora dengan polosnya mengira itu karena dirinya yang suka.

Elora tidak mampu tersenyum, lalu beralasan tidak enak badan dan naik ke atas. Namun tak lama kemudian, Elise mengetuk pintu sambil membawa semangkuk obat.

"Ini obat penenang kandungan yang dimasak Rezie, dia suruh aku antarin." Dia tersenyum tanpa cela dan berkata, "Minum selagi hangat."

Elora menerima mangkuk itu, bau obatnya menusuk.

"Oh ya ...." Elise tiba-tiba bertanya, "Jangan-jangan nama anak kalian nanti kebetulan juga, laki-laki Kenzie, perempuan Nisse, 'kan? Itu nama yang dulu disepakati aku sama Rezie."

Tangan Elora bergetar, mangkuk obat hampir saja terjatuh. Kedua nama itu, persis adalah nama yang diberikan Rezie saat dia baru hamil.

Jadi, bahkan anak mereka pun harus dijadikan alat untuk mengenang Elise?

Dadanya tiba-tiba terasa sakit luar biasa. Sebelum dia sempat bereaksi ....

"Ah!"

Elise tiba-tiba "tidak sengaja" menyenggol mangkuk obat, cairan panas langsung tumpah ke lengan Elora. Tangannya seketika memerah dan melepuh.

Elora terkesiap karena sakit. Tanpa sempat memedulikan permintaan maaf Elise, wajahnya pucat saat hendak turun untuk mengambil salep.

Namun saat melewati tangga, punggungnya tiba-tiba didorong keras.

"Ah!"

Elora terjatuh berguling-guling dan menghantam lantai dengan keras. Darah mengalir dari bawah tubuhnya, membasahi karpet krem.

Detik berikutnya, Elise juga ikut jatuh.

Di dapur, Rezie yang hendak membuka kulkas, langsung berlari keluar saat mendengar suara itu.

Melihat pemandangan itu, pupil matanya langsung menyusut.

"Elise!" Dia berlari menangkap Elise yang terhuyung dan memeriksa pergelangan kakinya dengan cemas. "Kamu nggak apa-apa?"

"A ... aku nggak apa-apa." Elise berkata lemah, "Cepat lihat Elora ...."

Barulah Rezie menoleh ke arah Elora yang terbaring dalam genangan darah. Namun, Elise tiba-tiba "pingsan" di pelukannya.

"Elise!"

Suara Rezie yang biasanya tenang, kini penuh kepanikan. Dia langsung mengangkat Elise dan berjalan cepat keluar, bahkan tidak sempat melihat Elora lagi.

Elora menatap punggung mereka yang menjauh, kesadarannya perlahan memudar.

Di detik terakhir sebelum jatuh ke dalam kegelapan, dia seolah melihat pintu kulkas sedikit terbuka. Kotak berisi "hadiah" di dalamnya tampak menyembul sedikit ....

Saat sadar kembali, cahaya putih yang menyilaukan membuat Elora menyipitkan mata. Dokter sedang memeriksanya, Rezie berdiri di samping dengan wajah serius.

"Gimana kondisi anaknya?" tanya Rezie kepada dokter.

Dokter mengangkat kepala dengan heran. "Anak? Bukannya anak Bu Elora sudah digugurkan sejak dulu?"
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 26

    "Elora, maukah kamu menikah denganku?"Candra berlutut dengan satu kaki, memegang cincin dan menatap Elora.Dikelilingi ayah dan teman-temannya, Elora menatap Candra yang penuh cinta, lalu perlahan mengangguk. Candra langsung memasangkan cincin itu ke jarinya dengan penuh haru.Elora menariknya berdiri. Di tengah sorakan dan ucapan selamat, Candra berbisik pelan, "Aku boleh cium kamu?"Elora mengangguk.Di kejauhan, Rezie berdiri di balik pohon, mengamati mereka berdua dalam diam. Setelah ragu sejenak, dia tetap berjalan mendekat saat kerumunan mulai bubar.Begitu melihatnya, Candra langsung waspada dan berdiri di depan Elora. "Untuk apa kamu datang?"Menghadapi pertanyaan dingin itu, Rezie tidak menunjukkan ekspresi lain. Dia hanya diam, lalu menyerahkan sebuah kotak kepada Elora.Elora tidak menerimanya.Rezie membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kunci."Aku meninggalkan sebagian harta untukmu di bank. Itu bagian yang seharusnya kamu dapatkan saat perceraian."Elora menatap kunc

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 25

    "Elise, ada seseorang yang ingin menemuimu."Beberapa hari berada di tahanan membuat tubuh Elise jauh lebih kurus. Wajah dan tubuhnya penuh dengan memar. Dia berdiri dengan kaku, lalu dibawa petugas ke ruang kunjungan.Begitu melihat Rezie, dia langsung jatuh terduduk dan memegang tangan petugas."Tolong ... aku nggak mau ketemu dia, aku mau kembali."Petugas itu langsung melepaskan tangannya. "Surat perdamaian sudah ditandatangani. Saya bantu urus prosedurnya, Anda bisa membawanya pergi."Rezie mengangguk.Mendengar hal itu, Elise mengira Rezie sudah berubah pikiran dan langsung meraih pakaiannya."Rezie, aku tahu kamu pasti datang menyelamatkanku. Rezie, cepat bawa aku pergi. Aku nggak tahan lagi di tempat ini."Elise adalah wanita yang dimanjakan sejak kecil, belum pernah dia mengalami penderitaan seperti ini. Selama di tahanan, dia sering diperlakukan kasar oleh petugas dan sesama tahanan karena tidak bisa beradaptasi, sehingga tubuhnya penuh luka.Tatapan Rezie dingin, tetapi suar

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 24

    Pintu ruang rawat tertutup, Elora pun pergi. Rezie duduk terpaku di atas ranjang. Tatapannya terpaku lama pada kursi yang tadi diduduki Elora. "Maaf ...."Dia perlahan melepas cincin di jarinya. Itu adalah cincin pernikahan mereka.Akhirnya, Rezie tidak mampu lagi menahan tangis. Semua ini adalah kesalahannya.Apa yang dikatakan Elise benar, apa yang dikatakan Candra benar, terlebih lagi apa yang dikatakan Elora. Hubungannya dengan Elora sampai di titik ini sepenuhnya akibat perbuatannya sendiri.Setelah lukanya sembuh, Rezie kembali ke negaranya. Dia duduk di rumah sambil menatap ruang yang kosong. Namun, setiap sudutnya dipenuhi kenangan mereka berdua, membuat hatinya terasa perih. Dia berjalan ke kamar bayi di lantai atas.Semua yang ada di dalam ruangan itu dipilih sedikit demi sedikit olehnya dan Elora."Rezie, menurutmu bayi kita nanti laki-laki atau perempuan?"Rezie memeluk Elora dari belakang. "Laki-laki atau perempuan, aku akan tetap menyukainya.""Kalau begitu kita beli baju

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 23

    Saat Candra tiba di rumah keluarga Elora, Elora sedang duduk di sofa menonton televisi."Kamu sudah pulang?"Ayahnya juga menoleh. "Candra sudah kembali?"Candra menyerahkan kue di tangannya kepada Elora. "Iya, tadi lewat toko yang kamu suka, jadi sekalian aku belikan."Elora ragu sejenak sebelum bertanya, "Dia ... gimana?"Gerakan Candra sedikit terhenti. "Dia baik-baik saja, tapi terus bilang ingin ketemu kamu."Mendengar ucapannya, ayah Elora mendengus. "Dia berani mau ketemu Elora? Menyelamatkan Elora itu sudah kewajibannya."Ucapan itu membuat Elora dan Candra sama-sama tertawa.Meski dalam hati khawatir Elora akan luluh karena Rezie menahannya dari pisau, Candra tetap bertanya dengan menghormati keputusannya, "Kamu mau menjenguknya?"Elora ragu sebentar, lalu mengangguk. Sekilas kesedihan melintas di mata Candra. Bernard juga mengira Elora masih belum bisa melupakan Rezie, sehingga dia kembali mendengus."Kenapa kamu masih memikirkannya? Bukankah dia sudah cukup menyakitimu?" Sua

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 22

    Pantulan cahaya dari pisau di tangan Elise jatuh ke mata Elora yang penuh ketakutan."Elora, mati kamu!"Melihat Elise menusuk ke arahnya, Candra dan Rezie hampir bersamaan maju melindunginya.Candra menarik Elora ke dalam pelukannya, sementara Rezie berdiri di depannya, menahan tusukan itu dengan tubuhnya. Elora begitu terkejut hingga saat dipeluk Candra pun dia belum sepenuhnya sadar.Semua orang di restoran ikut terkejut.Serangan Elise gagal. Dia mencoba menarik kembali pisaunya untuk menyerang lagi, tetapi langsung ditendang oleh petugas keamanan yang datang."Cepat panggil ambulans!""Ada pembunuhan!"Restoran langsung kacau.Para pelayan mengeluarkan ponsel dengan panik dan segera menghubungi ambulans."Elora, kamu nggak apa-apa?" Candra menatap Elora yang masih gemetar di pelukannya dengan khawatir. Baru saat itu Elora tersadar, buru-buru memeriksa apakah Candra terluka."Aku nggak apa-apa." Candra memeluknya dan menenangkan dengan lembut.Melihat Elora selamat tetapi Rezie ter

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 21

    Rezie benar-benar seperti orang gila. Di satu sisi dia mengurung Elise, di sisi lain dia menekan Keluarga Rangkuti.Keluarga Rangkuti sendiri memang sudah mengalami masalah besar pada arus dana karena kondisi industri. Terakhir kali mereka sempat bernapas sejenak karena berhasil memanfaatkan hubungan dengan Rezie.Pihak lain yang sebelumnya ingin menyerang Keluarga Rangkuti juga menahan diri karena melihat pengaruh Keluarga Ferdian.Namun kali ini, justru Keluarga Ferdian yang lebih dulu menarik investasinya. Melihat arah situasi berubah, pihak lain pun ikut berbalik menyerang Keluarga Rangkuti. Tak butuh waktu lama, Keluarga Rangkuti langsung jatuh ke dalam krisis.Ayah Elise terus mencoba meneleponnya, tetapi tidak pernah mendapat jawaban. Dengan marah, dia melempar ponselnya ke dinding.Elise terbangun karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia menatap sekeliling dengan ketakutan, lalu baru sedikit lega saat tidak melihat Rezie di sana.Rezie mengurungnya di tempat ini, memaksanya m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status