LOGINMemandang mobil polisi yang menjauh, Naretta tiba-tiba merasa seluruh tenaganya terkuras. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh, untung Baskara sigap menahannya."Terima kasih." Dia tersenyum penuh rasa syukur, tetapi kesedihan di matanya hampir menenggelamkannya.Sorot mata Baskara dipenuhi rasa pedih saat berkata, "Kita juga pulang saja."Saat Naretta mengangguk, tiba-tiba Jenson berlutut di hadapannya. Ketika tatapan mereka bertemu, matanya seketika memerah."Naretta, maafkan aku ...."Naretta memejamkan mata dengan lelah. Saat membukanya kembali, tatapannya hanya tersisa ketenangan. "Aku nggak akan menerima permintaan maafmu dan tolong jangan muncul lagi di hadapanku.""Hubungan kita satu-satunya adalah sebagai musuh."Setiap kata seolah menguras seluruh kekuatan Jenson. Isakan di tenggorokannya tak lagi bisa dia tahan. "Naretta, selama ini aku nggak pernah berhenti mencarimu. Aku sangat merindukanmu.""Aku juga sangat menyesal nggak lebih cepat melihat kebusukan Keisha, sampai kamu
"Naretta ...." Jenson berbisik pelan menyebut namanya. Sudut matanya memerah.Dia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Dengan langkah lebar, dia berjalan ke arah Naretta. Kerinduan di matanya begitu kuat hingga hampir tak terkendali. Jenson menahannya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendali di depan umum."Naretta, aku tahu kamu baik-baik saja. Aku sudah mencarimu dengan susah payah."Pada saat itu, Jenson tidak peduli lagi pada segala gosip dan tuduhan. Dia hanya ingin memeluk Naretta dengan erat. Namun, Naretta hanya meliriknya dengan tatapan dingin, lalu menghindar ke samping. Dia melangkah ke depan kerumunan dan menekan tombol putar dengan senyum sinis.Layar besar langsung menyala, menampilkan rekaman Keisha yang menyiksa Hana."Bocah sialan, sama menjijikkannya seperti ibumu yang murahan. Percaya nggak, aku bisa mencungkil bola matamu!""Sekarang aku hamil. Kalau nggak menyingkirkan anak haram sepertimu, bagaimana kalau kamu berebut warisan sama anakku?"Keisha memaksa Ha
Jenson hampir mengerahkan seluruh sumber daya dan koneksinya, tetapi tetap tidak bisa menemukan jejak Naretta. Dia terus menjelajahi tujuh benua dan empat samudra. Setiap kali merasa lelah, hanya dengan kembali ke rumah yang pernah dia tinggali bersama Naretta dan menghirup sisa aroma tubuhnya di seprai, dia baru bisa tertidur dengan susah payah.Sejak memutus kerja sama dengan keluarga Keisha, internal Keluarga Hanifa dilanda kekacauan. Hati semua orang pun diliputi kecemasan. Dulu dia sangat memanjakan Keisha, sehingga membuat kepentingan kedua keluarga terikat sangat dalam.Kini, keluarga Keisha bangkrut dalam semalam. Dampaknya juga pasti menyeret bisnis inti Keluarga Hanifa. Sebagian besar klien jangka panjang hilang, harga saham pun hampir menembus batas aman.Di depan meja kerja, Jenson sedang menangani setumpuk dokumen. Samar-samar terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.Sesekali, dia melirik foto di sudut meja. Foto dirinya dan Naretta saat pertama kali bertemu di Kenya. It
Jenson menendang pintu hingga terbuka. Wajahnya tampak begitu suram hingga terasa menakutkan.Ponsel Keisha terjatuh ke lantai. Matanya pun membelalak. "Jenson? Bukannya kamu ada kerjaan ....""Selama ini kamu terus membohongiku." Tangan dengan ruas-ruas jari tegas itu perlahan merayap ke lehernya. Ujung jari Jenson semakin mengencang, seolah hendak mematahkan lehernya.Keisha mundur dengan ketakutan hingga punggungnya menempel ke dinding yang dingin. Tubuhnya gemetar. "Kamu, kamu bicara apa? Aku nggak mengerti ....""Anak itu bukan milikku. Nenek menjadi koma karena kamu. Hana nggak pernah kamu perlakukan dengan tulus." Suara Jenson serak dan mengerikan. "Bahkan Naretta pun nggak luput dari perbuatan kejimu."Bibir Keisha bergetar, tubuhnya gemetar hebat. "Jenson, dengarkan penjelasanku ...."Mata Jenson memerah. Cengkeramannya begitu kuat hingga hampir meremukkan tulangnya. "Bicara!""Aku ... aku hanya khilaf sesaat ...." Wajahnya pucat pasi dan air matanya menggenang. "Semua ini kar
Asisten itu menjawab dengan gemetar, "Setelah Bapak mengusir Bu Naretta, dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Saya sebenarnya ingin memberi tahu Bapak, tetapi Bu Keisha berpesan agar tidak menyebut kabarnya, supaya nggak membuat Bapak kesal.""Lalu bagaimana dengan Hana?" Jenson menggenggam ponselnya dengan erat dan wajahnya makin suram."Saya ... saya tidak tahu ...," jawab asisten itu terbata-bata.Sorot mata Jenson mengeras. Dengan suara rendah yang menahan amarah, dia berkata, "Terus kenapa nggak cepat diselidiki?"Setelah menutup telepon, Jenson menendang kursi dengan keras, seolah melampiaskan amarahnya. Dia tidak menyangka campur tangan Keisha sudah sejauh itu, sampai bisa melewatinya dan langsung memberi keputusan pada anak buahnya.Tenaganya terlalu besar hingga kotak brokat di atas meja terjatuh. Jimat keselamatan yang diikat dengan simpul sepasang hati pun terlempar.Jenson tertegun. Dia membungkuk mengambilnya dan mengenali bahwa jimat itu adalah hadiah ulang tahun pernika
Melihat panggilan dari rumah lama Keluarga Hanifa, sebersit kekecewaan melintas di mata Jenson. Dia menggeser layar untuk menjawab, lalu suara kepala pelayan terdengar penuh emosi. "Tuan Muda, Nyonya Rania sudah sadar!"Seketika itu juga, Jenson terbang kembali ke tanah air.Di dalam jet pribadinya, ingatannya kembali ke enam tahun lalu saat neneknya menjadi vegetatif. Kalangan elite Kota Jiran hampir sepakat bahwa Jenson dan Keisha akan menikah.Saat Rania mengajak Keisha ke vila pemandian air panas, semua orang mengira itu adalah bentuk pengakuan terhadap calon cucu menantunya.Namun, nasib berkata lain. Saat melewati jalan pegunungan dalam hujan deras, mobil mereka mengalami kecelakaan.Demi melindungi Rania, Keisha patah tiga tulang rusuk dan mengalami kerusakan serius pada organ reproduksinya.Sementara itu, Rania selamat. Akan tetapi, pendarahan di otak menekan sarafnya dan membuatnya sepenuhnya kehilangan kemampuan merawat diri. Tubuhnya dipenuhi selang dan sepertinya kemungkina







