Share

Bab 5

Author: Nesya
Entah sejak kapan, Hana sudah mengikuti mereka. Dengan tubuh kecilnya, dia berdiri melindungi Naretta. Namun, cambukan terakhir begitu keras dan berat. Tubuh Hana terlempar ke udara. Dia terlalu kesakitan hingga tak lagi mampu menangis atau berteriak, lalu langsung pingsan.

Naretta merasakan beban di tubuhnya tiba-tiba menghilang. Dengan susah payah dia membuka mata dan melihat Hana tergeletak di genangan darah, punggungnya penuh luka menganga. Dia panik dan berusaha merangkak ke arahnya, tetapi seorang pengawal menendang dadanya dan menarik rambutnya, memaksanya mendongak melihat video yang diperintahkan Keisha untuk diputar.

Di layar, Jenson berlutut dengan satu kaki di tanah. Wajahnya tampak serius sambil memijat pergelangan kaki Keisha yang bengkak dengan sabar. Sementara itu, Keisha menikmati perlakuannya dengan ekspresi manja dan puas.

Naretta memalingkan wajah dan tidak ingin melihat lagi, tetapi pengawal menamparnya hingga kepalanya terhempas kembali.

Ada video Jenson mengupas anggur dan menyuapkannya sendiri kepada Keisha, ada ketika Jenson bersikeras membacakan cerita pendidikan janin setiap hari, ada pula saat Keisha memanggilnya "Sayang" sekali dan Jenson langsung menciumnya.

Setiap adegan itu bagaikan sayatan pisau di jantungnya.

Hujan membasuh darah di sudut bibirnya dan sekaligus memadamkan sisa terakhir cintanya kepada Jenson.

Benar juga. Bagaimanapun, nyawanya dan Hana bahkan tidak lebih penting daripada seekor anjing.

Pengawal itu tiba-tiba melepaskannya. Naretta terjatuh keras ke dalam lumpur, tetapi dia seolah tak merasakan sakit. Dia mati-matian memeluk Hana ke dalam pelukannya. Dahi Hana yang panas membuat ujung jari Naretta gemetar hebat.

Sambil memeluk anaknya, dia merendahkan diri untuk mengakui kesalahan dan memohon ampun, tetapi tidak seorang pun mau memanggil ambulans untuknya, bahkan tidak mau memberinya sekotak pun obat penurun demam.

Napas Hana semakin melemah.

Di saat keputusasaan itu, sebuah telepon masuk. Dari seberang terdengar suara Keisha yang mengejek dengan sinis, "Kalau nggak mau anak haram itu mati, datanglah padaku dengan patuh."

Naretta tahu Keisha tidak berniat baik, tetapi melihat wajah Hana yang pucat, dia tetap melangkah tertatih di lumpur, lalu memeluk Hana dan berlari keluar.

Di kamar bayi yang hangat dan indah, Keisha sedang mengelus perutnya sambil melakukan gerakan prenatal. "Papa bilang dia paling suka pinggang Mama yang ramping. Mama harus menjaga bentuk tubuh supaya tetap disayang ...."

Saat Naretta muncul di hadapannya dalam keadaan basah kuyup dan berantakan, Keisha tersenyum mengejek.

"Nggak kusangka nyawamu dan anak haram itu bandel sekali. Tapi waktu kamu dihukum, Jenson kasihan padaku karena aku takut petir. Dia menenangkanku dan bayiku sepanjang malam."

Tangan Naretta yang memeluk Hana tanpa sadar mengencang. Suaranya serak dan bergetar. "Tolong selamatkan Hana."

Keisha memainkan botol obat di tangannya dan menggoyangkannya perlahan. "Kalau begitu, kamu mohon padaku?"

Sudut bibirnya terangkat dan tersenyum jahat. "Dokter Naretta bertugas untuk menyelamatkan orang. Seharusnya kamu nggak akan keberatan untuk bersujud tiga kali padaku demi menolong anak haram itu, 'kan?"

Tenggorokan Naretta terasa sesak. "Hana juga anakmu."

"Siapa yang mau mengadopsi anak haram tanpa ibu!" Wajah Keisha penuh jijik. "Sejak kecil aku sudah bilang padanya bahwa dia adalah sampah yang dibuang ibu kandungnya."

"Bu Naretta sesayang itu sama dia, apa kamu ibu kandungnya?" Seolah terlintas sesuatu di pikirannya, dia tiba-tiba tertawa kejam. "Kalau kamu masih ragu, putrimu nggak akan hidup lama."

Keisha menginjak-injak pil di bawah telapak kakinya hingga hancur, hanya menyisakan tiga butir. "Satu sujud, satu pil. Kalau nggak sujud, tinggal lihat dia mati saja."

Naretta memeluk Hana yang hampir tak bernapas, matanya merah membara. Lututnya menghantam lantai dengan keras. Lukanya terbuka kembali, darah memercik ke gaun putih Keisha.

Keisha tersenyum tipis. "Memang benar, hati orang tua itu menyedihkan." Dia mengulurkan tangan seolah hendak menyerahkan obat itu. "Tapi dia bukan anakku."

Setelah berkata demikian, dia berbalik.

Plop!

Pil-pil itu jatuh ke dalam tempat sampah dan menghilang.

Naretta menggigit bibirnya dengan kuat dan merangkak ingin mengambilnya, tetapi pintu kamar tiba-tiba didorong terbuka. Jenson berdiri di ambang pintu, wajahnya muram dan suram.

"Naretta, apa yang kamu lakukan!" bentaknya tajam.

Keisha seketika berubah lemah tak berdaya. Dia menangis dan menerjang ke dalam pelukan Jenson.

"Jenson, aku khawatir Hana sakit, jadi sengaja mengantar obat untuk Bu Naretta. Tapi dia malah menjatuhkannya ke lantai, membuangnya ke tempat sampah, bahkan memarahiku karena ikut campur ...." Dia tersedu sambil menarik ujung gaun yang berlumur darah dengan penampilan menyedihkan.

Naretta menatap Jenson dengan tak percaya. "Dia berbohong!"

Namun, Jenson mencengkeram pergelangan tangan Naretta dengan keras, wajahnya dipenuhi amarah. "Dia sedang hamil, kamu masih tega menyentuhnya?"

Bahu Naretta yang kurus gemetar hebat. Air matanya jatuh ke punggung tangan Jenson, membuatnya tanpa sadar mengendurkan genggaman.

"Naretta, kamu ...."

"Jenson, perutku sakit sekali." Keisha tiba-tiba membungkuk sambil memegangi perutnya, wajahnya meringis kesakitan. "Bu Naretta hampir mendorongku jatuh. Bayiku nggak apa-apa, 'kan?"

Mata Naretta memerah. Dia terus menggeleng.

Namun detik berikutnya, Jenson mendorongnya dengan keras, lalu bergegas ke sisi Keisha dan mengangkatnya dalam gendongan.

"Siapkan mobil. Kita ke rumah sakit," perintahnya dengan suara berat kepada asistennya.

Untuk melindungi Hana dalam pelukannya, tubuh Naretta terjatuh ke samping. Siku tangannya membentur lantai dan darah dari bagian belakang kepalanya mengalir turun ke leher.

Dia tiba-tiba teringat hari ketika melahirkan Hana. Jenson berlutut di luar ruang bersalin. Pria yang atheis itu malah terus berdoa berulang kali.

"Naretta, aku hanya ingin kamu dan anak kita selamat."

Sebelum pingsan karena kesakitan, dia melihat Jenson menggendong Keisha menjauh dengan penuh kehati-hatian, tatapannya dipenuhi kekhawatiran.

Kini, dia meringkuk di lantai. Ujung jarinya gemetar saat menyentuh napas Hana. Aliran udara yang lemah itu hampir menghilang. Pupil Naretta langsung memicing.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 17

    Memandang mobil polisi yang menjauh, Naretta tiba-tiba merasa seluruh tenaganya terkuras. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh, untung Baskara sigap menahannya."Terima kasih." Dia tersenyum penuh rasa syukur, tetapi kesedihan di matanya hampir menenggelamkannya.Sorot mata Baskara dipenuhi rasa pedih saat berkata, "Kita juga pulang saja."Saat Naretta mengangguk, tiba-tiba Jenson berlutut di hadapannya. Ketika tatapan mereka bertemu, matanya seketika memerah."Naretta, maafkan aku ...."Naretta memejamkan mata dengan lelah. Saat membukanya kembali, tatapannya hanya tersisa ketenangan. "Aku nggak akan menerima permintaan maafmu dan tolong jangan muncul lagi di hadapanku.""Hubungan kita satu-satunya adalah sebagai musuh."Setiap kata seolah menguras seluruh kekuatan Jenson. Isakan di tenggorokannya tak lagi bisa dia tahan. "Naretta, selama ini aku nggak pernah berhenti mencarimu. Aku sangat merindukanmu.""Aku juga sangat menyesal nggak lebih cepat melihat kebusukan Keisha, sampai kamu

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 16

    "Naretta ...." Jenson berbisik pelan menyebut namanya. Sudut matanya memerah.Dia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Dengan langkah lebar, dia berjalan ke arah Naretta. Kerinduan di matanya begitu kuat hingga hampir tak terkendali. Jenson menahannya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendali di depan umum."Naretta, aku tahu kamu baik-baik saja. Aku sudah mencarimu dengan susah payah."Pada saat itu, Jenson tidak peduli lagi pada segala gosip dan tuduhan. Dia hanya ingin memeluk Naretta dengan erat. Namun, Naretta hanya meliriknya dengan tatapan dingin, lalu menghindar ke samping. Dia melangkah ke depan kerumunan dan menekan tombol putar dengan senyum sinis.Layar besar langsung menyala, menampilkan rekaman Keisha yang menyiksa Hana."Bocah sialan, sama menjijikkannya seperti ibumu yang murahan. Percaya nggak, aku bisa mencungkil bola matamu!""Sekarang aku hamil. Kalau nggak menyingkirkan anak haram sepertimu, bagaimana kalau kamu berebut warisan sama anakku?"Keisha memaksa Ha

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 15

    Jenson hampir mengerahkan seluruh sumber daya dan koneksinya, tetapi tetap tidak bisa menemukan jejak Naretta. Dia terus menjelajahi tujuh benua dan empat samudra. Setiap kali merasa lelah, hanya dengan kembali ke rumah yang pernah dia tinggali bersama Naretta dan menghirup sisa aroma tubuhnya di seprai, dia baru bisa tertidur dengan susah payah.Sejak memutus kerja sama dengan keluarga Keisha, internal Keluarga Hanifa dilanda kekacauan. Hati semua orang pun diliputi kecemasan. Dulu dia sangat memanjakan Keisha, sehingga membuat kepentingan kedua keluarga terikat sangat dalam.Kini, keluarga Keisha bangkrut dalam semalam. Dampaknya juga pasti menyeret bisnis inti Keluarga Hanifa. Sebagian besar klien jangka panjang hilang, harga saham pun hampir menembus batas aman.Di depan meja kerja, Jenson sedang menangani setumpuk dokumen. Samar-samar terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.Sesekali, dia melirik foto di sudut meja. Foto dirinya dan Naretta saat pertama kali bertemu di Kenya. It

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 14

    Jenson menendang pintu hingga terbuka. Wajahnya tampak begitu suram hingga terasa menakutkan.Ponsel Keisha terjatuh ke lantai. Matanya pun membelalak. "Jenson? Bukannya kamu ada kerjaan ....""Selama ini kamu terus membohongiku." Tangan dengan ruas-ruas jari tegas itu perlahan merayap ke lehernya. Ujung jari Jenson semakin mengencang, seolah hendak mematahkan lehernya.Keisha mundur dengan ketakutan hingga punggungnya menempel ke dinding yang dingin. Tubuhnya gemetar. "Kamu, kamu bicara apa? Aku nggak mengerti ....""Anak itu bukan milikku. Nenek menjadi koma karena kamu. Hana nggak pernah kamu perlakukan dengan tulus." Suara Jenson serak dan mengerikan. "Bahkan Naretta pun nggak luput dari perbuatan kejimu."Bibir Keisha bergetar, tubuhnya gemetar hebat. "Jenson, dengarkan penjelasanku ...."Mata Jenson memerah. Cengkeramannya begitu kuat hingga hampir meremukkan tulangnya. "Bicara!""Aku ... aku hanya khilaf sesaat ...." Wajahnya pucat pasi dan air matanya menggenang. "Semua ini kar

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 13

    Asisten itu menjawab dengan gemetar, "Setelah Bapak mengusir Bu Naretta, dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Saya sebenarnya ingin memberi tahu Bapak, tetapi Bu Keisha berpesan agar tidak menyebut kabarnya, supaya nggak membuat Bapak kesal.""Lalu bagaimana dengan Hana?" Jenson menggenggam ponselnya dengan erat dan wajahnya makin suram."Saya ... saya tidak tahu ...," jawab asisten itu terbata-bata.Sorot mata Jenson mengeras. Dengan suara rendah yang menahan amarah, dia berkata, "Terus kenapa nggak cepat diselidiki?"Setelah menutup telepon, Jenson menendang kursi dengan keras, seolah melampiaskan amarahnya. Dia tidak menyangka campur tangan Keisha sudah sejauh itu, sampai bisa melewatinya dan langsung memberi keputusan pada anak buahnya.Tenaganya terlalu besar hingga kotak brokat di atas meja terjatuh. Jimat keselamatan yang diikat dengan simpul sepasang hati pun terlempar.Jenson tertegun. Dia membungkuk mengambilnya dan mengenali bahwa jimat itu adalah hadiah ulang tahun pernika

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 12

    Melihat panggilan dari rumah lama Keluarga Hanifa, sebersit kekecewaan melintas di mata Jenson. Dia menggeser layar untuk menjawab, lalu suara kepala pelayan terdengar penuh emosi. "Tuan Muda, Nyonya Rania sudah sadar!"Seketika itu juga, Jenson terbang kembali ke tanah air.Di dalam jet pribadinya, ingatannya kembali ke enam tahun lalu saat neneknya menjadi vegetatif. Kalangan elite Kota Jiran hampir sepakat bahwa Jenson dan Keisha akan menikah.Saat Rania mengajak Keisha ke vila pemandian air panas, semua orang mengira itu adalah bentuk pengakuan terhadap calon cucu menantunya.Namun, nasib berkata lain. Saat melewati jalan pegunungan dalam hujan deras, mobil mereka mengalami kecelakaan.Demi melindungi Rania, Keisha patah tiga tulang rusuk dan mengalami kerusakan serius pada organ reproduksinya.Sementara itu, Rania selamat. Akan tetapi, pendarahan di otak menekan sarafnya dan membuatnya sepenuhnya kehilangan kemampuan merawat diri. Tubuhnya dipenuhi selang dan sepertinya kemungkina

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status