แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Nesya
Loyang panas bersuhu 200 derajat itu menghantam lengan bawah Naretta dengan keras dan meninggalkan lepuhan merah membengkak yang menyakitkan.

"Ada apa?"

Mendengar keributan, Jenson melangkah masuk dengan cepat. Dia bahkan tidak melirik Naretta sedikit pun, melainkan langsung berjalan ke arah Keisha dengan wajah penuh kekhawatiran.

Keisha membelalakkan mata dan menggeleng polos. "Aku nggak tahu ...."

Jenson berbalik ke arah pengasuh. Melihat ekspresinya yang panik, alisnya sedikit berkerut. "Apa yang kamu sembunyikan di tanganmu?"

Pengasuh itu masih ingin menutupi, tetapi Keisha sudah berjalan mendekat dengan perut hamilnya yang menonjol. Dia merebut benda di tangan pengasuh itu. Begitu melihatnya, dia mundur beberapa langkah ketakutan dan menabrak dada Jenson yang kokoh.

"Ini obat aborsi! Kenapa kamu punya obat aborsi! Siapa yang menyuruhmu meracuniku!"

Pengasuh itu menutup mulutnya sambil menangis dan menggeleng, tetapi hanya dengan satu tatapan kejam dari Jenson, dia langsung berlutut.

"Bu Naretta! Dia menyuruhku mencampurkan obat aborsi ke dalam kue yang akan dimakan Bu Keisha! Dia bilang anak ini anak haram tanpa ayah, ancaman bagi hubungannya dengan Pak Jenson, harus disingkirkan!"

"Aku nggak tega, tapi dia mengancam akan menyakiti orang tuaku. Dia juga bilang Bu Keisha adalah wanita perusak rumah tangga yang pantas dihina dan melarangku mengatakan yang sebenarnya ...."

Keisha bersandar di dada Jenson dan menangis tersedu-sedu. "Jenson, Bu Naretta benar. Semua ini salahku. Aku seharusnya membawa anak ini pergi bersamaku."

Sambil berkata demikian, dia mendorong Jenson dan memukul perutnya sendiri dengan keras. "Semua salahku karena mengganggu Bu Naretta ...."

Naretta membuka mulut ingin membela diri, tetapi tatapan Jenson yang sedingin es membuatnya kehilangan suara.

Urat di pelipisnya menonjol. Jenson perlahan mendekat, tangannya yang besar telah mencengkeram leher Naretta. "Naretta, sudah kubilang, siapa pun yang berani menyentuh Keisha sedikit saja, nggak akan kubiarkan."

Keisha berdiri di belakangnya, sudut bibirnya terangkat dalam senyum menantang, tetapi tetap memegang lengan Jenson seolah menahannya sambil terisak lembut.

"Jenson, meskipun Bu Naretta membunuh Shiro, mengajari Hana memakiku, bahkan ... memberiku obat aborsi." Dia tersenyum pahit, lalu melanjutkan, "Tapi, bagaimanapun dia istrimu. Aku hanya pernah menyelamatkan nyawa nenekmu. Meski anak ini sangat berharga bagiku, aku nggak berani minta kamu menegakkan keadilan untukku."

Tangan Keisha mengelus perutnya, matanya dipenuhi kesedihan yang mendalam. Setelah kata-kata itu terucap, rasa bersalah di mata Jenson hampir meluap keluar.

Ruas-ruas jari Jenson mengencang sedikit demi sedikit. Saat dia kembali menatap Naretta, matanya memerah seolah dia adalah iblis dari neraka. "Pergi kembali ke negara asalmu. Jangan pernah muncul di hadapan Keisha lagi. Aku nggak sanggup menerima istri berhati kejam sepertimu."

Naretta diseret para pengawal dan dilempar keluar dari vila.

Hana berteriak serak, "Mama, jangan tinggalkan aku!"

Namun, diam-diam Keisha menendangnya dua kali. Tubuh kecil itu tersungkur ke tanah, perban tebalnya kembali merembeskan darah. Naretta panik dan berusaha melepaskan diri, tetapi para pengawal itu seakan sudah dibayar. Mereka menyerahkannya ke sekelompok pria.

Naretta diseret ke sebuah gang kecil. Dia berteriak dan meronta dengan putus asa, "Lepaskan aku! Suamiku Jenson! Kalian akan menyesal!"

Namun, mereka tidak gentar. Salah satu dari mereka menamparnya keras dan tersenyum mesum sambil merobek pakaiannya. "Kalau kamu Nyonya Hanifa, lalu yang menyewa kami hantu, ya?"

Kalimat itu membuat tangan Naretta terkulai lemas.

Benar. Dia bukan istri Jenson. Paling-paling hanya orang asing baginya.

Sebelum mereka benar-benar bertindak, Keisha tiba-tiba muncul dan menatap Naretta yang tidak berdaya dengan puas.

"Bu Naretta, sebenarnya kamu sudah tahu, 'kan? Aku dan Jenson adalah pasangan yang sebenarnya. Sedangkan kamu itu malah orang ketiga yang sesungguhnya."

"Oh ya, kukasih tahu deh. Jenson memang sengaja suruh kamu ngelahirin Hana untukku. Semakin kulihat dia, aku semakin membencinya. Jadi, aku menyiksanya tanpa henti."

Kuku runcing Keisha menyapu wajah Naretta, lalu mencakar dengan keras.

Tiga bekas goresan yang merah langsung muncul. Rasa sakit membuat air mata Naretta mengalir deras. Padahal, dia sudah lama mengetahui kebenaran itu. Namun, mendengarnya lagi tetap terasa lebih menyakitkan.

Sebelum pergi, Keisha menyeka ujung jarinya dengan sapu tangan. "Beberapa bulan Jenson nggak bersamamu, kamu pasti kekurangan pria, 'kan? Nggak usah berterima kasih. Nikmati saja."

Naretta menutup mata dengan putus asa. Tiba-tiba, terdengar teriakan kesakitan dari para pria itu. Entah dari mana Hana muncul untuk menerjang dan menggigit lengan mereka dengan gigi kecilnya.

Para pria itu marah. Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau dan menusukkannya dengan keras ke tubuh Hana. Darah mengalir di tanah. Mereka kabur dengan ketakutan.

Saat itu juga, Hana berhenti bernapas.

Naretta merangkak dan memeluk tubuh kecil itu dengan erat. Dia duduk kaku di genangan darah sambil berulang kali menyanyikan lagu nina bobo, hingga akhirnya pingsan.

Di dalam hatinya dia berbisik pelan, "Jenson, aku nggak akan pernah memaafkanmu seumur hidup."

Saat kesadarannya benar-benar hilang, Naretta melihat samar-samar sosok seseorang membawa mereka pergi. Yang tersisa di tempat itu hanyalah genangan darah yang mencolok. Sejak saat itu, hidup mereka takkan pernah lagi bersinggungan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 17

    Memandang mobil polisi yang menjauh, Naretta tiba-tiba merasa seluruh tenaganya terkuras. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh, untung Baskara sigap menahannya."Terima kasih." Dia tersenyum penuh rasa syukur, tetapi kesedihan di matanya hampir menenggelamkannya.Sorot mata Baskara dipenuhi rasa pedih saat berkata, "Kita juga pulang saja."Saat Naretta mengangguk, tiba-tiba Jenson berlutut di hadapannya. Ketika tatapan mereka bertemu, matanya seketika memerah."Naretta, maafkan aku ...."Naretta memejamkan mata dengan lelah. Saat membukanya kembali, tatapannya hanya tersisa ketenangan. "Aku nggak akan menerima permintaan maafmu dan tolong jangan muncul lagi di hadapanku.""Hubungan kita satu-satunya adalah sebagai musuh."Setiap kata seolah menguras seluruh kekuatan Jenson. Isakan di tenggorokannya tak lagi bisa dia tahan. "Naretta, selama ini aku nggak pernah berhenti mencarimu. Aku sangat merindukanmu.""Aku juga sangat menyesal nggak lebih cepat melihat kebusukan Keisha, sampai kamu

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 16

    "Naretta ...." Jenson berbisik pelan menyebut namanya. Sudut matanya memerah.Dia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Dengan langkah lebar, dia berjalan ke arah Naretta. Kerinduan di matanya begitu kuat hingga hampir tak terkendali. Jenson menahannya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendali di depan umum."Naretta, aku tahu kamu baik-baik saja. Aku sudah mencarimu dengan susah payah."Pada saat itu, Jenson tidak peduli lagi pada segala gosip dan tuduhan. Dia hanya ingin memeluk Naretta dengan erat. Namun, Naretta hanya meliriknya dengan tatapan dingin, lalu menghindar ke samping. Dia melangkah ke depan kerumunan dan menekan tombol putar dengan senyum sinis.Layar besar langsung menyala, menampilkan rekaman Keisha yang menyiksa Hana."Bocah sialan, sama menjijikkannya seperti ibumu yang murahan. Percaya nggak, aku bisa mencungkil bola matamu!""Sekarang aku hamil. Kalau nggak menyingkirkan anak haram sepertimu, bagaimana kalau kamu berebut warisan sama anakku?"Keisha memaksa Ha

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 15

    Jenson hampir mengerahkan seluruh sumber daya dan koneksinya, tetapi tetap tidak bisa menemukan jejak Naretta. Dia terus menjelajahi tujuh benua dan empat samudra. Setiap kali merasa lelah, hanya dengan kembali ke rumah yang pernah dia tinggali bersama Naretta dan menghirup sisa aroma tubuhnya di seprai, dia baru bisa tertidur dengan susah payah.Sejak memutus kerja sama dengan keluarga Keisha, internal Keluarga Hanifa dilanda kekacauan. Hati semua orang pun diliputi kecemasan. Dulu dia sangat memanjakan Keisha, sehingga membuat kepentingan kedua keluarga terikat sangat dalam.Kini, keluarga Keisha bangkrut dalam semalam. Dampaknya juga pasti menyeret bisnis inti Keluarga Hanifa. Sebagian besar klien jangka panjang hilang, harga saham pun hampir menembus batas aman.Di depan meja kerja, Jenson sedang menangani setumpuk dokumen. Samar-samar terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.Sesekali, dia melirik foto di sudut meja. Foto dirinya dan Naretta saat pertama kali bertemu di Kenya. It

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 14

    Jenson menendang pintu hingga terbuka. Wajahnya tampak begitu suram hingga terasa menakutkan.Ponsel Keisha terjatuh ke lantai. Matanya pun membelalak. "Jenson? Bukannya kamu ada kerjaan ....""Selama ini kamu terus membohongiku." Tangan dengan ruas-ruas jari tegas itu perlahan merayap ke lehernya. Ujung jari Jenson semakin mengencang, seolah hendak mematahkan lehernya.Keisha mundur dengan ketakutan hingga punggungnya menempel ke dinding yang dingin. Tubuhnya gemetar. "Kamu, kamu bicara apa? Aku nggak mengerti ....""Anak itu bukan milikku. Nenek menjadi koma karena kamu. Hana nggak pernah kamu perlakukan dengan tulus." Suara Jenson serak dan mengerikan. "Bahkan Naretta pun nggak luput dari perbuatan kejimu."Bibir Keisha bergetar, tubuhnya gemetar hebat. "Jenson, dengarkan penjelasanku ...."Mata Jenson memerah. Cengkeramannya begitu kuat hingga hampir meremukkan tulangnya. "Bicara!""Aku ... aku hanya khilaf sesaat ...." Wajahnya pucat pasi dan air matanya menggenang. "Semua ini kar

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 13

    Asisten itu menjawab dengan gemetar, "Setelah Bapak mengusir Bu Naretta, dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Saya sebenarnya ingin memberi tahu Bapak, tetapi Bu Keisha berpesan agar tidak menyebut kabarnya, supaya nggak membuat Bapak kesal.""Lalu bagaimana dengan Hana?" Jenson menggenggam ponselnya dengan erat dan wajahnya makin suram."Saya ... saya tidak tahu ...," jawab asisten itu terbata-bata.Sorot mata Jenson mengeras. Dengan suara rendah yang menahan amarah, dia berkata, "Terus kenapa nggak cepat diselidiki?"Setelah menutup telepon, Jenson menendang kursi dengan keras, seolah melampiaskan amarahnya. Dia tidak menyangka campur tangan Keisha sudah sejauh itu, sampai bisa melewatinya dan langsung memberi keputusan pada anak buahnya.Tenaganya terlalu besar hingga kotak brokat di atas meja terjatuh. Jimat keselamatan yang diikat dengan simpul sepasang hati pun terlempar.Jenson tertegun. Dia membungkuk mengambilnya dan mengenali bahwa jimat itu adalah hadiah ulang tahun pernika

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 12

    Melihat panggilan dari rumah lama Keluarga Hanifa, sebersit kekecewaan melintas di mata Jenson. Dia menggeser layar untuk menjawab, lalu suara kepala pelayan terdengar penuh emosi. "Tuan Muda, Nyonya Rania sudah sadar!"Seketika itu juga, Jenson terbang kembali ke tanah air.Di dalam jet pribadinya, ingatannya kembali ke enam tahun lalu saat neneknya menjadi vegetatif. Kalangan elite Kota Jiran hampir sepakat bahwa Jenson dan Keisha akan menikah.Saat Rania mengajak Keisha ke vila pemandian air panas, semua orang mengira itu adalah bentuk pengakuan terhadap calon cucu menantunya.Namun, nasib berkata lain. Saat melewati jalan pegunungan dalam hujan deras, mobil mereka mengalami kecelakaan.Demi melindungi Rania, Keisha patah tiga tulang rusuk dan mengalami kerusakan serius pada organ reproduksinya.Sementara itu, Rania selamat. Akan tetapi, pendarahan di otak menekan sarafnya dan membuatnya sepenuhnya kehilangan kemampuan merawat diri. Tubuhnya dipenuhi selang dan sepertinya kemungkina

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status