Share

7

Author: nura0484
last update publish date: 2026-01-07 18:30:08

"Kamu udah jebol dia? Wah...dia cewek murahan kalau gitu."

Aryo menatap tidak suka atas apa yang dikatakan Neni "Setidaknya aku mencintai dia."

"Cinta nggak akan bisa buat pernikahan bahagia, modalnya hanya cinta. Nikah itu butuh uang dan banyak lainnya. Memang kamu yakin kalau dia tahu kamu begini dia akan tetap bertahan? Pastinya bertahan ya secara kamu udah jebol dia, cewek biasanya akan merasa gimana gitu kalau perawannya diambil. Kasihan banget dia karena yang jebol ternyata pemuasku."

"Cinta memang nggak bikin nikah bahagia, makanya aku butuh uang biar bisa bahagiain dia."

Neni menatap tidak suka pada Aryo saat mendengar jawabannya "Kasihan banget dia dapat cowok model kamu."

"Ya...kalau kamu udah serius sama cewek itu artinya aku bisa sama Rio, adikmu."

"Jangan sekali-sekali ajak Rio begini, tante. Dia nggak ikut apa-apa dengan apa yang kita jalani. Kalau kamu melakukannya secara otomatis aku akan membuka rahasia ini ke suamimu." Aryo menatap tajam pada Neni yang seketika terdiam "Tante ngomel begini karena semalam nggak puas, kan? Kita mau nelakukannya lagi?"

"Kamu mau ketemu dia?" Neni memicingkan matanya.

Aryo tidak menjawab dengan memilih melakukan hal yang menjadi pekerjaannya. Desahan keluar tidak lama kemudian, dalam pikiran Aryo adalah Syifa tentang apa yang terjadi saat liburan kemarin. Saat ini lebih baik segera menyelesaikan pekerjaan untuk memuaskan Neni, menyentuh titik sensitif dan mencoba untuk larut dalam permainan agar wanita ini puas.

Klimaks mereka dapatkan dengan Neni yang napasnya tidak teratur, Aryo menarik penyatuan mereka dan membuang pengaman di tempatnya. Memilih berbaring disamping Neni yang masih mengatur napasnya, tangan Neni tiba-tiba memegang bagian bawahnya yang membuat Aryo seketika tegang.

"Aku mau melakukan tanpa pengaman, Yo."

"Perjanjiannya nggak begitu!" Aryo menarik tangan Neni.

"Kenapa?" Neni menatap penuh harap.

"Aku nggak mau tante hamil dengan benih nggak jelas." Aryo menggelengkan kepalanya "Lagian hubungan kita ini..."

"Kalau aku hamil tetap suamiku sebagai ayahnya. Kamu tahu kalau aku belum hamil sampai sekarang, memang kamu nggak kasihan? Lagian pengaman nggak jamin nggak bocor." Neni memotong dengan nada suaranya yang sangat santai "Kita lanjut, rasanya sama kamu selalu kurang."

Aryo menghela napas panjang, melakukan apa yang dikatakan Neni dengan melakukan kegiatan panas mereka berdua. Desahan demi desahan keluar dari bibir mereka, pagutan tanpa perasaan dilakukan dengan sentuhan agar wanita yang bersamanya puas. Bayangan Syifa menari-nari di kepala Aryo setiap kali gerakan dilakukannya, setidaknya pengaman yang dibeli bisa memuaskan wanita satu ini.

"Kamu nggak istirahat?" Neni menatap Aryo yang masuk kamar mandi.

"Aku pulang, tidur dirumah." Aryo masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Keinginannya saat ini adalah istirahat dirumah, tenaganya sudah sangat terkuras sejak kemarin. Meninggalkan Neni yang sudah masuk kedalam alam mimpi, menatap amplop yang ada diatas meja dan langsung mengambil tanpa menghitung terlebih dahulu. Langkah kakinya terhenti saat mendapati pria sedang duduk santai di salah satu kursi, hembusan napas dikeluarkan dengan melangkah kearahnya.

"Langsung pulang?" Aryo menganggukkan kepalanya "Benih kamu nggak masuk, kan?"

"Aman, om."

"Om nggak tahu kenapa dia lebih puas sama kamu, om paham kalau permainan yang om lakukan nggak bisa membuatnya puas. Uangnya bisa kamu ambil di tempat biasa. Kamu ingat perjanjian kita? Jangan buat dia hamil, aku yang akan menghamilinya bukan kamu."

"Aku juga nggak ingin dia hamil dari benihku, aku sudah memiliki kekasih dan akan menikahinya."

"Apa itu artinya selesai?" Aryo menganggukkan kepalanya "Dia nggak akan suka."

"Aku tahu dan itu menjadi tugas om. Bukan aku."

Aryo menghela napas panjang, pekerjaan yang sama sekali tidak ada dalam bayangan. Neni, wanita yang ditemuinya di tempat gym dan membuat semua ini terjadi. Memuaskan wanita yang telah bersuami, semua dilakukan demi melanjutkan hidup untuk membiayai kesehariannya. Pertemuannya dengan Syifa memang tidak sengaja, mendekati gadis polos sengaja dilakukan, bukan cinta melainkan perubahan hidup.

Perjalanan menuju rumahnya tidak memakan waktu lama, mengerutkan kening saat melihat seseorang sedang bersama ibunya, jantungnya berdetak kencang melihatnya berada dirumah dan bercanda dengan sang ibu. Hal yang menjadi harapannya, tapi tidak bisa dilakukan setelah kedekatannya dengan Neni.

"Kamu darimana aja?" Aryo mencium punggung tangan sang ibu, Evi. "Syifa nungguin kamu."

Aryo menatap Syifa dengan tatapan dingin yang seketika terdiam "Kenapa kesini? Nggak bilang?"

"Kamu ini ceweknya kesini malah dimarahin." Evi memukul lengan Aryo sambil berdiri "Ibu pergi dulu, jangan aneh-aneh di rumah. Sering main kesini, walaupun nggak ada Aryo."

Menatap sang ibu yang sudah menjauh jalannya, Aryo memberi kode pada Syifa agar masuk kedalam. Tubuhnya memang lelah, tapi jika jujur melihat Syifa dengan sang ibu rasa lelah hilang. Sayangnya Aryo tidak ingin hal ini terjadi sekarang, semua harus sesuai dengan rencananya.

"Maaf. Aku nggak bisa hubungi kamu, jadinya karena khawatir langsung kesini." Syifa membuka suaranya.

Aryo duduk di sofa, memberi kode agar Syifa duduk di pangkuannya. Gadis polos itu melakukan apa yang dipinta Aryo, tubuhnya menegang merasakan aroma Syifa yang menggoda imannya. Menarik pinggangnya agar tubuh mereka semakin dekat, mendekati lehernya untuk menghidu aroma tubuhnya semakin dalam.

"Aku nggak lihat mobilmu, sayang?" tanya Aryo dengan nada rendah.

"Ahh...ehm..aku jalan kaki, mobilnya di parkiran kampus. Sayang...jangan begini...aku..." Syifs menggenggam tangannya satu sama lain.

"Kamu tahu kan kalau aku selalu nggak bisa tahan diri setiap dekat kamu, sayang? Apalagi sekarang kita hanya berdua." Aryo menggigit leher Syifa setelah menjilatinya perlahan dengan tubuh gadis yang menegang, menarik tubuh Syifa agar semakin dekat.

"Aku mau ajak keluar...oughh...sayang..."

"Hotel aja ya, sayang?" Syifa seketika menggelengkan kepalanya "Kita udah pernah kemarin, masak nggak mau? Apa disini aja?" Aryo meletakkan tangan di bukit kembar miliknya dengan remasan lembut.

Syifa menggelengkan kepalanya "Sayang...oughh...udah..."

Menghentikan apa yang dilakukan, tangan Aryo memegang pipi Syifa membuat mereka saling menatap satu sama lain. Syifa, wanita pertama yang disentuhan dengan status jelas tidak seperti Neni. Mendekatkan bibir mereka, memagutnya lembut yang dibalas Syifa dengan perasaan dimana Aryo bisa merasakannya. Pagutan mereka semakin dalam, Aryo sudah tidak bisa menahan dirinya begitu dengan Syifa yang bergerak tidak menentu di pangkuannya.

Membaringkan Syifa di sofa tanpa melepaskan ciuman mereka, tangan Aryo bergerak kearah bukit kembarnya dengan remasan lembut, desahan tertahan keluar dari bibir Syifa atas apa yang dilakukannya. Melepaskan pagutan bibir mereka dengan saliva yang menjadi satu, tatapan gairah terlihat jelas di mata mereka.

"Kamu mau melakukannya sekarang atau nggak? Kalau nggak lebih baik kamu keluar dari sini!"

"Kamu ngusir aku?" Syifa menatap tidak percaya.

"Keluar! Aku mau istirahat!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Pria Panggilan   44

    "Kamu baik-baik saja?" "Ya. Hubungan kami sudah selesai." Teddy memicingkan mata mendengar jawaban Syifa "Selesai? Putus? Yakin?" Syifa menganggukkan kepalanya penuh keyakinan "Ya, om. Maaf kemarin nggak jadi ketemu. Om padahal sudah datang, tapi aku nggak mau Aryo berpikir yang tidak-tidak." "Nggak masalah. Kenapa putus? Kita bertemu setelah kamu luar kota nggak ada pembicaraan itu, apa dia milih cewek itu?" Teddy masih fokus dengan jawaban Syifa yang mengatakan hubungannya dengan Aryo berakhir. "Memang aku belum bilang karena aku ingin bicara lebih dulu sama papa dan mama. Aku butuh support mereka saat mengambil keputusan apapun, bagaimanapun aku masih tanggung jawab mereka berdua terutama papa. Maafkan kalau selama ini...nggak percaya sama apa yang om bilang...mungkin bukan nggak percaya tapi dibutakan cinta." Syifa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak masalah! Penting sekarang

  • Cinta Pria Panggilan   43

    "Mengakhiri hubungan kita? Rencana pernikahan? Apa ini ada hubungannya sama pertemuan kemarin?" "Seharusnya kejadian Neni saat itu memang hubungan kita berakhir, tapi aku memberi kesempatan..." "Kamu tahu kalau aku sudah nggak hubungan sama dia, kalaupun sekarang hubungan sama dia murni masalah trading. Sayang, kamu nggak lagi bercanda, kan? Pernikahan kita beberapa bulan lagi, masa kamu tega batalin gitu aja?" Aryo menatap penuh ketakutan pada Syifa yang memilih diam "Kamu tahu kalau aku sayang sama kamu. Kamu mau kita nggak ngapa-ngapain pas ketemu? Kamu pengen..." "Kamu memang nggak melakukan sama aku dan Neni, tapi melakukannya sama wanita lain." Syifa memotong kalimat Aryo yang seketika membelalakkan matanya "Bukan Gary yang memberitahu aku, bukan juga teman-temanmu yang di tempat gym. Aku tahu sendiri, bahkan apartemen itu juga ada wanita itu disana." Syifa menarik dan menghembuskan napas panjang "Kamu menempati janji dengan Neni, w

  • Cinta Pria Panggilan   42

    "Om nggak lagi bercanda, kan? Om bilang gini bukan karena...""Buat kamu sama aku? Aku bukan orang begitu! Apa pernah aku berbuat sesuatu sama kamu? Aku menahan diri selama ini!"Syifa membenarkan kalimat Teddy, kedekatan mereka selama ini hanya saling berbicara tidak lainnya, walaupun Syifa menyadarinya tapi berpura-pura tidak sadar dengan perasaan pria dihadapannya. Menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan memejamkan matanya. "Kamu boleh tidak percaya. Semua pilihan yang kamu ambil." Teddy membuka suaranya memecah keheningan, tanpa melepaskan tatapan pada Syifa."Om, aku mau tidur sini. Om pulang aja, aku baik-baik saja disini." Syifa beranjak dari tempat duduknya.Langkah kakinya menuju kamar yang selama ini dipakai untuk istirahat, membaringkan tubuhnya setelah menutup pintu. Semua kalimat mereka masuk dalam pikiran Syifa, bukan hanya Miko dan Teddy saja tapi kedua pria yang mengingatkannya dulu. Satu pertanyaan

  • Cinta Pria Panggilan   41

    "Aku nggak nyangka kalau kamu kuat." Syifa menatap kesal kearah Miko yang tertawa melihat ekspresinya "Maksudnya apa ya, mas? Aku memang kelihatan manja?" Miko mengangkat bahunya "Kamu itu polos tapi ternyata...nggak sepolos apa yang ada dalam pikiranku. Aku sama sekali nggak menyangka kalau berani dalam kamar berduaan dengan cowok, kenapa sekarang nggak berani dikamar sama aku saja?" "Nggak usah aneh-aneh, mas! Mas itu orangnya lurus, datar dan menjengkelkan." Syifa masih memberikan tatapan kesalnya "Tapi aku salah...mas ini perhatian. Ceweknya mas pasti senang dapat perhatian dan perlakuan mas ini." "Cowok kamu nggak begitu?" Miko menatap penasaran "Apa dia perhatian kalau lagi pengen aja?" "Nggak! Dia memang perhatian dan memperlakukan aku selayaknya putri." Syifa semakin tidak terima dengan tuduhan Miko. "Kamu percaya sama cowok kamu?" Syifa mengerutkan kening mendengar pertanyaan Miko

  • Cinta Pria Panggilan   40

    "Perjanjian kita sudah jelas..." "Mereka berdua nggak ada disini, perjanjian itu nggak berlaku." Neni memotong kalimat Aryo dengan berjalan mendekatinya "Rumah ini aku beli buat kita, tanpa uang dari Teddy. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tidak akan peduli dengan apa yang kita lakukan." "Mereka memang tidak ada disini, tapi aku tetap nggak mau." "Kamu yakin dia setia?" Neni mengangkat sudut bibirnya. "Kalaupun Syifa nggak setia aku akan tetap bersama dia, kamu tahu perasaanku ke dia. Tapi...tampaknya kamu yang nggak mendapatkan sentuhan dari Teddy, benar? Bukankah lebih baik kalian memperjelas hubungan?" Aryo menyingkir dari hadapan Neni "Aku nggak bisa menjadi instruktur pribadimu, kamu bisa mencari orang lain." "Aku lebih percaya sama kamu." Neni menyentuh lengan Aryo kembali "Aku akan bayar berapapun yang kamu minta." Aryo menggelengkan kepalanya "Aku nggak mau kedekatan ini membuat

  • Cinta Pria Panggilan   39

    "Syifa tahu tentang ini?" "Syifa akan tahu setelah kamu menyetujuinya. Kamu pasti tahu jika saya belum percaya sepenuhnya sama kamu. Tantangan melamar itu ingin melihat keseriusan kamu pada Syifa, jangan dikira saya tidak tahu apa yang kamu lakukan bahkan mengubah Syifa." Rahmad mengatakan dengan nada datar "Saya diam karena saya lihat Syifa cinta sama kamu, sedangkan kamu? Memang terlihat kamu sayang sama Syifa, tapi sayang saja tidak cukup. Orang tua kamu orang baik-baik, saya tidak meragukan mereka yang menyayangi Syifa dan akan menganggap sebagai anak sendiri, saya malah meragukan kamu yang bisa setia dengan Syifa." Aryo sedikit terkejut dengan semua yang dikatakan pria dihadapannya, tidak lain adalah papanya Syifa "Om menyelidiki saya?" Rahmad menggeleng dan menganggukkan kepalanya bergantian "Kamu akan tahu kalau punya anak perempuan. Saya mengetahuinya secara tidak langsung. Kalian sudah bertindak terlalu jauh dan saya tidak mau

  • Cinta Pria Panggilan   18

    "Semakin bagus kamu, banyak perkembangan dibandingkan awal.""Siapa lagi instrukturnya. Kamu itu perhatian banget, bahkan selalu ngingetin hal paling kecil sekalipun." Stella menatap bangga kearah Aryo."Memang harus ada yang ingetin dan tegas." "Kamu nggak kencan?" Ar

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Cinta Pria Panggilan   17

    "Teman yang baik bawa oleh-oleh dari setiap tempat pemberhentian." Maya memutar bola matanya saat melihat Syifa membongkar barang yang dibawanya dari penerbangan setiap kota, makanan ringan sampai berat, tidak lupa makanan yang sedang viral. Syifa sangat menyukai makan dan mencoba

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Cinta Pria Panggilan   16

    "Gimana di kantor papa?" "Dikasih kerjaan banyak, aku lelah." Syifa menyandarkan tubuhnya di sofa dengan tatapan lelah "Kamu bayangin aja, sayang. Pegawai papa suruh aku baca berkas tapi belum selesai berkas itu udah dibawa sama papa, aku protes dikasih data karyawan dan aku disuruh mem

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Cinta Pria Panggilan   19

    "Mau kemana pagi begini?" "GOR, ma. Mumpung libur, daripada aku dirumah." Syifa menatap sang mama yang sedang memberi instruksi pada asisten."Sama siapa? Maya?" Syifa menggelengkan kepalanya "Naik mobil?" "Kendaraan online." Syifa memakai sepatunya tanpa menatap sang

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status