ログイン"Kamu udah jebol dia? Wah...dia cewek murahan kalau gitu."
Aryo menatap tidak suka atas apa yang dikatakan Neni "Setidaknya aku mencintai dia." "Cinta nggak akan bisa buat pernikahan bahagia, modalnya hanya cinta. Nikah itu butuh uang dan banyak lainnya. Memang kamu yakin kalau dia tahu kamu begini dia akan tetap bertahan? Pastinya bertahan ya secara kamu udah jebol dia, cewek biasanya akan merasa gimana gitu kalau perawannya diambil. Kasihan banget dia karena yang jebol ternyata pemuasku." "Cinta memang nggak bikin nikah bahagia, makanya aku butuh uang biar bisa bahagiain dia." Neni menatap tidak suka pada Aryo saat mendengar jawabannya "Kasihan banget dia dapat cowok model kamu." "Ya...kalau kamu udah serius sama cewek itu artinya aku bisa sama Rio, adikmu." "Jangan sekali-sekali ajak Rio begini, tante. Dia nggak ikut apa-apa dengan apa yang kita jalani. Kalau kamu melakukannya secara otomatis aku akan membuka rahasia ini ke suamimu." Aryo menatap tajam pada Neni yang seketika terdiam "Tante ngomel begini karena semalam nggak puas, kan? Kita mau nelakukannya lagi?" "Kamu mau ketemu dia?" Neni memicingkan matanya. Aryo tidak menjawab dengan memilih melakukan hal yang menjadi pekerjaannya. Desahan keluar tidak lama kemudian, dalam pikiran Aryo adalah Syifa tentang apa yang terjadi saat liburan kemarin. Saat ini lebih baik segera menyelesaikan pekerjaan untuk memuaskan Neni, menyentuh titik sensitif dan mencoba untuk larut dalam permainan agar wanita ini puas. Klimaks mereka dapatkan dengan Neni yang napasnya tidak teratur, Aryo menarik penyatuan mereka dan membuang pengaman di tempatnya. Memilih berbaring disamping Neni yang masih mengatur napasnya, tangan Neni tiba-tiba memegang bagian bawahnya yang membuat Aryo seketika tegang. "Aku mau melakukan tanpa pengaman, Yo." "Perjanjiannya nggak begitu!" Aryo menarik tangan Neni. "Kenapa?" Neni menatap penuh harap. "Aku nggak mau tante hamil dengan benih nggak jelas." Aryo menggelengkan kepalanya "Lagian hubungan kita ini..." "Kalau aku hamil tetap suamiku sebagai ayahnya. Kamu tahu kalau aku belum hamil sampai sekarang, memang kamu nggak kasihan? Lagian pengaman nggak jamin nggak bocor." Neni memotong dengan nada suaranya yang sangat santai "Kita lanjut, rasanya sama kamu selalu kurang." Aryo menghela napas panjang, melakukan apa yang dikatakan Neni dengan melakukan kegiatan panas mereka berdua. Desahan demi desahan keluar dari bibir mereka, pagutan tanpa perasaan dilakukan dengan sentuhan agar wanita yang bersamanya puas. Bayangan Syifa menari-nari di kepala Aryo setiap kali gerakan dilakukannya, setidaknya pengaman yang dibeli bisa memuaskan wanita satu ini. "Kamu nggak istirahat?" Neni menatap Aryo yang masuk kamar mandi. "Aku pulang, tidur dirumah." Aryo masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Keinginannya saat ini adalah istirahat dirumah, tenaganya sudah sangat terkuras sejak kemarin. Meninggalkan Neni yang sudah masuk kedalam alam mimpi, menatap amplop yang ada diatas meja dan langsung mengambil tanpa menghitung terlebih dahulu. Langkah kakinya terhenti saat mendapati pria sedang duduk santai di salah satu kursi, hembusan napas dikeluarkan dengan melangkah kearahnya. "Langsung pulang?" Aryo menganggukkan kepalanya "Benih kamu nggak masuk, kan?" "Aman, om." "Om nggak tahu kenapa dia lebih puas sama kamu, om paham kalau permainan yang om lakukan nggak bisa membuatnya puas. Uangnya bisa kamu ambil di tempat biasa. Kamu ingat perjanjian kita? Jangan buat dia hamil, aku yang akan menghamilinya bukan kamu." "Aku juga nggak ingin dia hamil dari benihku, aku sudah memiliki kekasih dan akan menikahinya." "Apa itu artinya selesai?" Aryo menganggukkan kepalanya "Dia nggak akan suka." "Aku tahu dan itu menjadi tugas om. Bukan aku." Aryo menghela napas panjang, pekerjaan yang sama sekali tidak ada dalam bayangan. Neni, wanita yang ditemuinya di tempat gym dan membuat semua ini terjadi. Memuaskan wanita yang telah bersuami, semua dilakukan demi melanjutkan hidup untuk membiayai kesehariannya. Pertemuannya dengan Syifa memang tidak sengaja, mendekati gadis polos sengaja dilakukan, bukan cinta melainkan perubahan hidup. Perjalanan menuju rumahnya tidak memakan waktu lama, mengerutkan kening saat melihat seseorang sedang bersama ibunya, jantungnya berdetak kencang melihatnya berada dirumah dan bercanda dengan sang ibu. Hal yang menjadi harapannya, tapi tidak bisa dilakukan setelah kedekatannya dengan Neni. "Kamu darimana aja?" Aryo mencium punggung tangan sang ibu, Evi. "Syifa nungguin kamu." Aryo menatap Syifa dengan tatapan dingin yang seketika terdiam "Kenapa kesini? Nggak bilang?" "Kamu ini ceweknya kesini malah dimarahin." Evi memukul lengan Aryo sambil berdiri "Ibu pergi dulu, jangan aneh-aneh di rumah. Sering main kesini, walaupun nggak ada Aryo." Menatap sang ibu yang sudah menjauh jalannya, Aryo memberi kode pada Syifa agar masuk kedalam. Tubuhnya memang lelah, tapi jika jujur melihat Syifa dengan sang ibu rasa lelah hilang. Sayangnya Aryo tidak ingin hal ini terjadi sekarang, semua harus sesuai dengan rencananya. "Maaf. Aku nggak bisa hubungi kamu, jadinya karena khawatir langsung kesini." Syifa membuka suaranya. Aryo duduk di sofa, memberi kode agar Syifa duduk di pangkuannya. Gadis polos itu melakukan apa yang dipinta Aryo, tubuhnya menegang merasakan aroma Syifa yang menggoda imannya. Menarik pinggangnya agar tubuh mereka semakin dekat, mendekati lehernya untuk menghidu aroma tubuhnya semakin dalam. "Aku nggak lihat mobilmu, sayang?" tanya Aryo dengan nada rendah. "Ahh...ehm..aku jalan kaki, mobilnya di parkiran kampus. Sayang...jangan begini...aku..." Syifs menggenggam tangannya satu sama lain. "Kamu tahu kan kalau aku selalu nggak bisa tahan diri setiap dekat kamu, sayang? Apalagi sekarang kita hanya berdua." Aryo menggigit leher Syifa setelah menjilatinya perlahan dengan tubuh gadis yang menegang, menarik tubuh Syifa agar semakin dekat. "Aku mau ajak keluar...oughh...sayang..." "Hotel aja ya, sayang?" Syifa seketika menggelengkan kepalanya "Kita udah pernah kemarin, masak nggak mau? Apa disini aja?" Aryo meletakkan tangan di bukit kembar miliknya dengan remasan lembut. Syifa menggelengkan kepalanya "Sayang...oughh...udah..." Menghentikan apa yang dilakukan, tangan Aryo memegang pipi Syifa membuat mereka saling menatap satu sama lain. Syifa, wanita pertama yang disentuhan dengan status jelas tidak seperti Neni. Mendekatkan bibir mereka, memagutnya lembut yang dibalas Syifa dengan perasaan dimana Aryo bisa merasakannya. Pagutan mereka semakin dalam, Aryo sudah tidak bisa menahan dirinya begitu dengan Syifa yang bergerak tidak menentu di pangkuannya. Membaringkan Syifa di sofa tanpa melepaskan ciuman mereka, tangan Aryo bergerak kearah bukit kembarnya dengan remasan lembut, desahan tertahan keluar dari bibir Syifa atas apa yang dilakukannya. Melepaskan pagutan bibir mereka dengan saliva yang menjadi satu, tatapan gairah terlihat jelas di mata mereka. "Kamu mau melakukannya sekarang atau nggak? Kalau nggak lebih baik kamu keluar dari sini!" "Kamu ngusir aku?" Syifa menatap tidak percaya. "Keluar! Aku mau istirahat!""Aku mau ambil hak asuh Tania, sayang. Kamu keberatan?" "Memang kenapa sama Stella?" Syifa mengernyitkan kening mendengar informasi yang Aryo berikan."Kamu keberatan?" Aryo menatap penuh rasa ingin tahu.Syifa menggelengkan kepalanya "Bukan keberatan. Aku tanya memang kenapa dengan Stella? Apa dia nggak masalah?""Menurut hukum dia nggak bisa mengasuh Tania, Stella secara materi kurang dan dia selingkuh selama kita menikah." "Kamu juga selingkuh." Syifa mengingatkan "Kamu berhubungan intim sama aku, menikahi Neni secara siri, jadi apa bedanya? Jangan pakai dasar poligami, apa yang kamu lakukan juga salah jadi jangan menyalahkan Stella saja. Aku nggak masalah kamu ambil hak asuh Tania, tapi pertimbangkan Stella juga. Apa yang buat kamu keberatan? Kamu nggak mau kasih nafkah Stella?" "Salah satunya." Aryo menganggukkan kepalanya "Utamanya adalah aku nggak mau hubungan sama Stella, meskipun tentang anak. Aku berpikir kalau Tania
"Ibu yakin kamu pasti kembali." Syifa tersenyum kearah mantan calon mertua atau mungkin calon mertua, tapi yang pasti Syifa sudah menganggap wanita dihadapannya adalah ibunya sendiri dan kedudukannya tidak jauh berbeda dengan mama yang sekarang memilih tinggal di panti jompo. "Ibu kapan itu lihat mama kamu, dia happy banget disana. Ibu jadi pengen tinggal disana, banyak teman. Sayangnya anak Aryo dari wanita itu butuh pengawasan, mau nggak mau bantuin." Evi mengerucutkan bibirnya."Ibu bisa tinggal disana sekarang." Aryo mengatakan tanpa beban dengan tangannya yang menggendong Akbar "Aww...kok malah dipukul? Aku bilang sebenarnya. Aku sudah ada Syifa, kami akan tinggal bersama dan akan menikah setelah masa iddah selesai.""Kamu langsung buang ibumu setelah pemilik hatimu kembali?" Evi memegang dadanya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat "Kamu lihat, kan? Dia akan melupakan semua kalau sudah ada kamu." Syifa hanya bisa tersenyum meli
Enam tahun lalu (masih dengan Teddy)"Aku kira kalian nggak akan jadi." "Wanita berharga sulit didapat." Teddy melingkarkan tangan di pinggang Syifa."Jadi, kalian sudah menikah?" Teddy mengangguk dengan senyum lebarnya "Syukurlah, semoga cepat hamil.""Semoga." Menghadiri acara yang membosankan, bukan hanya bagi Syifa tapi juga Teddy. Apabila harus memilih, pasti pilihannya adalah ranjang. Mereka tidak bertemu hampir satu minggu, pekerjaan Teddy yang tidak bisa ditinggal dan Syifa yang juga tidak kalah sibuknya. Syifa yang pulang ke kota asalnya, dirinya datang kemarin pagi dan pastinya Teddy tidak akan melepaskannya dan memilih didalam kamar. Sekarang yang mereka lakukan adalah olahraga bersama teman-teman Teddy dulu, Syifa menyetujui ajakan mereka karena sudah lama tidak bertemu dan nostalgia."Aku bosan, sayang." Teddy berbisik tepat di telinga Syifa."Habis ini juga pulang, mas." Syifa membelai paha Teddy perlahan "Sab
"Aku akan pelan-pelan, sayang. Kalau sakit kamu bisa mencakar punggungku, sayang. Aku berusaha tidak menyakitimu." Aryo mencium kening Syifa dengan penuh cinta, mendorong miliknya memasuki rumah yang diharapkan dari dulu. Aryo memejamkan matanya merasakan miliknya masuk perlahan, membuka mata menatap Syifa penuh cinta dimana mantan kekasihnya ini menutup mata, melumat bibir Syifa agar tidak terlalu tegang dan takut. Mendorong sekali lagi, seketika terhenti ketika merasakan sesuatu yang tidak pernah dialami selama ini. Mendorong sekali lagi dengan memagut bibir Syifa dalam, dorongan perlahan dan pasti ketika merasakan sesuatu dibawah dan didalam sana terasa robek, tangan Syifa mencakar punggung Aryo, pagutan bibir mereka tidak terlepas tapi semakin dalam.Mendiamkannya didalam ketika merasa jika miliknya masuk semua, pagutan bibir mereka terlepas dan saling memandang, tatapan cinta tidak pernah hilang dari Aryo pada Syifa. Mengulurkan tangan membelai wajah Aryo per
Satu Tahun setelah kepergian Syifa"Kenapa aku belum hamil ya?""Belum dikasih." Aryo menjawab Stella dengan nada santainya "Memang kamu sudah siap merawat anak?""Kalau aku berharap artinya sudah siap." Stella melingkarkan tangannya di lengan Aryo "Kamu jadi ke ibukota? Apa ketemu...""Nggak. Aku sibuk." Aryo mencium puncak kepala Stella "Kamu tahu kalau hubunganku sama dia berakhir, aku nggak mungkin menemui dia bukan karena dia nggak mau bertemu tapi aku juga. Kamu nggak usah mengkhawatirkan apapun." Ketakutan Stella bisa saja terjadi, menerima tugas di ibukota dengan tujuan melihat Syifa. Perasaan rindu harus segera di obati, menatap dari jauh sudah sangat puas dan mengobati semuanya. Aryo jelas tidak mungkin mengatakan sebenarnya pada Stella, menjaga perasaan wanita yang menjadi istrinya.Perjalanan menggunakan pesawat, begitu sampai tujuannya adalah rumah Syifa. Aryo sangat yakin pemilik hatinya sudah dirumah, jarak bandara den
Enam Tahun Lalu "Aku kira nggak akan jemput." Syifa mengerucutkan bibir mendengar kalimat yang keluar dari bibir Teddy "Kalau nggak jemput memang nggak marah? Udah makin tua masih aja cepat marah." Teddy menarik Syifa kedalam pelukan, mencium puncak kepalanya "Gimana kerjaanmu? Banyak yang harus diurus?" "Pulang sekarang, aku lapar dan malas bahas kerjaan." Syifa meletakkan tangannya di lengan Teddy tampak malas membahas pekerjaan "Jangan lupa ada undangan nikah di Bandung besok." "Kamu sudah pesan tiket keretanya?" Syifa menganggukkan kepalanya "Ok, kita cari makan baru istirahat." Hubungan mereka memang sudah berakhir sebelum Syifa memutuskan ke ibukota, tapi pekerjaan Teddy yang harus bertemu orang dan melebarkan usahanya membuat mereka kembali bertemu. Jarak yang tercipta dulu sudah hilang, tidak tahu siapa yang memulai tapi mereka sudah selayaknya pasangan. Perubahan diantara mereka adalah sta







