LOGINNayara Adeline, seorang wanita sosialita kaya raya, hidupnya berubah drastis ketika perusahaan keluarganya bangkrut. Semua harta disita, teman-teman sosialitanya menjauh, bahkan tunangannya pergi begitu saja. Tanpa pilihan lain, Nayara pergi ke sebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk kota, berharap bisa menenangkan diri sekaligus mencari tempat tinggal murah. Di desa itu, Nayara bertemu dengan Arga Dirgantara, seorang pria misterius yang ternyata adalah CEO muda perusahaan raksasa. Namun, Arga sengaja bersembunyi di desa untuk menghindari media dan tekanan bisnis. Pertemuan mereka justru terjadi dengan cara memalukan—Nayara yang baru belajar hidup sederhana terjatuh ke sawah saat membawa belanjaan, dan menimpa Arga yang kebetulan lewat dengan sepeda tuanya. Sejak saat itu, hubungan keduanya penuh dengan kesalahpahaman kocak, perdebatan konyol, dan momen romantis tak terduga. Perlahan, Arga melihat sisi tulus Nayara yang tersembunyi di balik sifat manja dan gengsi. Sementara Nayara belajar arti kehidupan, persahabatan, dan cinta sejati dari sosok pria yang selama ini hanya dikenal dunia sebagai "bos besar" dingin tanpa hati.
View MorePagi itu, udara di Desa Sembada terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Awan mendung menggantung rendah, menutupi sinar matahari yang biasanya hangat menembus pepohonan. Burung-burung yang biasa berkicau di atap rumah kayu Arga pun seolah enggan bernyanyi hari itu.Nayara membuka jendela kamarnya, membiarkan embusan angin dingin masuk dan membuat tirai putih berayun pelan. Ia berdiri di sana cukup lama, memandangi sawah yang mulai menguning di kejauhan, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi entah kenapa, pagi itu hatinya terasa gelisah — seperti ada sesuatu yang tidak beres.Ia menatap ke arah halaman rumah, dan melihat Arga sedang duduk di bangku kayu sambil mengetik sesuatu di laptopnya. Wajahnya terlihat serius, nyaris tegang. Biasanya Arga selalu terlihat tenang dan santai, tapi hari ini ada sesuatu yang lain dari sorot matanya.Nayara menuruni tangga dengan langkah pelan, rambutnya dibiarkan terurai alami, mengenakan kaus lengan panjang dan celana training sederhana. Aroma kopi
Suasana pagi di desa itu tampak menenangkan seperti biasa—embun masih menggantung di ujung dedaunan, ayam berkokok dari kejauhan, dan sinar matahari menembus sela pepohonan bambu di belakang rumah Nayara. Namun di dalam rumah itu, suasana jauh dari kata tenang.Nayara duduk diam di kursi kayu ruang tengah, menatap kosong ke arah pintu. Cangkir tehnya sudah dingin, uapnya lenyap sejak tadi. Sejak semalam, setelah pembicaraannya dengan Arga yang cukup menegangkan, pikirannya tidak berhenti berputar. Kata-kata Arga terus terngiang di kepalanya.“Nayara, aku rasa ada orang yang sengaja menjatuhkan keluargamu.”Kalimat itu seperti menghujam ke dalam dada. Nayara tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi wajah serius Arga malam itu, nada suaranya yang berat dan yakin, membuat Nayara sadar—ini bukan sekadar dugaan kosong.Pintu terbuka pelan. Arga muncul sambil mengenakan kemeja hitam yang lengan kirinya masih digulung, rambutnya sedikit acak-acakan, dan wajahnya terlihat lelah tapi tetap me
Udara desa yang biasanya damai kini berganti dengan hiruk-pikuk pertarungan sengit. Fajar baru saja merekah, namun halaman kecil rumah kayu tempat Arga dan Nayara tinggal sudah dipenuhi suara pukulan, teriakan, dan desah nafas berat. Arga bergerak lincah, menangkis serangan dari tiga pria sekaligus. Pukulan deras menghantam udara, tendangan cepat nyaris mengenai kepalanya, namun ia selalu berhasil menghindar pada detik terakhir. Mata elangnya terus fokus, tubuhnya berputar dan bergeser seperti penari yang terbiasa dengan medan keras. Pria pertama—yang sebelumnya lengannya dipelintir Arga—masih terlihat kesakitan, tapi dipaksa ikut menyerang lagi. Sementara pria kedua, dengan tubuh lebih kecil namun gesit, terus mencari celah. Pemimpin mereka, yang jelas lebih berpengalaman, menjadi ancaman utama dengan serangan yang terukur dan mematikan. “Serahkan wanita itu! Kamu tidak tahu apa yang kamu hadapi, Arga!” teriak pemimpin itu sambil melayangkan pukulan lurus ke arah dada. Arga menep
Fajar baru saja merekah. Cahaya oranye muda menembus celah-celah jendela bambu, menyingkap debu tipis yang berterbangan di udara. Suara ayam jantan dari kejauhan bersahut-sahutan, menandakan hari baru dimulai. Namun bagi Arga, pagi ini bukan sekadar awal biasa. Ia sudah terbangun sejak sebelum adzan Subuh. Tubuhnya tegap berdiri di teras rumah, kedua matanya menyapu ke arah jalan setapak yang masih sepi. Dari wajahnya, jelas terlihat kewaspadaan penuh. Semalam, setelah kejadian dua pria berjas itu, ia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Arga menegakkan punggungnya, lalu menghela napas panjang. Tangannya refleks meraih secangkir kopi hitam yang sudah dingin di meja bambu. “Mereka pasti balik,” gumamnya pelan. “Pertanyaannya… kapan?” --- Dari dalam kamar, Nayara baru saja bangun. Rambutnya masih kusut, matanya bengkak karena tangis semalam. Ia berjalan pelan keluar kamar, mengenakan cardigan tipis untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan. Ia mendapati Arga masih berdiri di teras d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.