Share

Bab 4

Author: Anl
"Jangan banyak tanya, tandatangani saja. Setelah itu, Citra bisa masuk ke keluarga ini."

Dimas tidak ragu sedikit pun dan langsung membubuhkan tanda tangan.

Kepala pelayan tampak bingung, lalu bertanya, "Nyonya, apa masih perlu dicambuk?"

Melihat surat perjanjian cerai di hadapannya, Ratih merasa murka, "Dia sendiri yang berani memintaku untuk mencambuk, bagaimana mungkin tidak jadi? Cambuk! Cambuk dengan keras!"

Kepala pelayan tidak punya pilihan selain mengangkat cambuk dan mengayunkannya.

"Satu cambuk, dua cambuk, tiga cambuk ...."

Di ruang tamu, yang terdengar hanyalah suara cambuk yang terayun, lalu jatuh mengenai kulit dan daging.

Setelah lima puluh cambukan, dia akhirnya tak tahan lagi dan memuntahkan seteguk darah segar.

"Jangan, hentikan! Tuan Dimas, aku tidak pantas kau perlakukan seperti ini!" Citra langsung menerjang, melindungi tubuh pria itu, dan berkata, "Kalau mau mencambuk, cambuk kami berdua!"

Terdengar suara cambuk terayun dan begitu menghantam punggung Citra, tubuhnya langsung jatuh pingsan.

"Citra!"

Melihatnya pingsan, Dimas panik setengah mati.

Dia menggendong Citra dan berlari ke lantai atas. Saat melewati Sania, pria itu melemparkan tatapan tajam ke arahnya.

"Sania, kalau sampai terjadi sesuatu pada Citra, hubungan kita juga berakhir!"

Pemandangan ini sangat mirip dengan yang terjadi delapan tahun lalu.

Setelah Sania dipukul hingga pingsan, Dimas juga melakukan hal yang sama. Dengan mata memerah, dia menggendong Sania ke sana kemari mencari dokter, "Sania, kau tidak boleh mati. Sania, kau sebentar lagi akan menjadi istriku, aku tidak mengizinkanmu mati!"

"Bu, kenapa kau harus mencambuk Sania sembilan puluh sembilan kali? Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sania, aku tidak akan pernah memaafkan Ibu!"

Namun sekarang, dia justru telah jatuh cinta pada orang lain.

"Sania, ini surat perjanjian cerai yang kau minta."

Setelah ruang tamu kembali hening, Ratih menyerahkan berkas di tangannya kepada Sania, dan berkata, "Aku sudah berusaha semampuku. Kuharap setelah bercerai, kau tidak membenci Dimas. Aku sangat mengenalnya, Citra tidak akan menjadi yang terakhir."

"Terima kasih, Ibu." Setelah menerima berkas itu, Sania segera mengubah sapaan, "Tidak, Nyonya Ratih. Terima kasih, aku pergi dulu."

"Tiga hari lagi, surat cerai akan keluar. Saat itu, aku akan membantumu masuk ke Stasiun Televisi Kota Segara. Sania, kalau ada waktu, mampirlah untuk menjengukku."

Setelah menyerahkan surat perjanjian itu ke firma hukum yang khusus menangani urusan Keluarga Aryatama, barulah Sania pulang ke rumah.

Begitu masuk ke rumah, dia langsung melihat raut wajah panik para pelayan.

"Nyonya, Anda sudah pulang?"

Mereka saling bertukar pandang, lalu dengan cemas menatap ke arah lantai atas.

Sania seketika mengerti apa yang terjadi.

Dimas telah membawa Citra pulang.

Di depan pintu kamar tamu, dia melihat Citra berbaring tengkurap dengan punggung terbuka. Dimas duduk di sampingnya dan dengan hati-hati mengoleskan obat pada lukanya.

Di punggung putih wanita itu tampak bekas cambukan yang mengerikan.

Setiap kali Dimas mengoleskan obat, wanita itu meringis kesakitan.

Pada akhirnya, dia menangis.

Dimas merasa sangat iba, lalu berkata, "Maaf, Citra, karena sudah membuatmu menderita seperti ini."

Air mata wanita itu mengalir dari sudut matanya, berkata dengan nada yang penuh kasih sayang dan lembut, "Tidak apa-apa, aku tahu statusku. Kalau sepuluh cambukan bisa membuat Nyonya Ratih menerimaku, aku bersedia."

"Citra ...."

Dimas menundukkan kepala dan mengecup luka-luka di punggung wanita itu dengan bibir tipisnya.

Satu kali, dua kali, tiga kali ....

Gerakannya penuh kasih sayang, tatapannya dipenuhi rasa sayang dan penghargaan.

Seolah-olah dia telah memiliki seluruh dunia ini.

Sania tidak masuk untuk mengganggu, dia hanya diam-diam berbalik dan turun ke lantai bawah untuk menyeduh secangkir kopi.

Sambil menyeruput kopi, dia teringat bahwa tiga hari lagi bisa bercerai dengan Dimas, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

Semuanya akhirnya akan berakhir.

Dia sama sekali tidak merasa sedih atau terluka, justru ada perasaan lega di dalam hatinya.

"Kau sudah pulang."

Saat Dimas turun ke lantai bawah, dia kebetulan melihat senyuman di sudut bibir Sania.

"Kenapa kau tersenyum?"

"Oh, tidak apa-apa." Sania memegang cangkir kopi, lalu mengangkat pandangannya dan meliriknya sekilas sambil bertanya, "Bagaimana keadaan Citra, dia baik-baik saja, kan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 18

    "Rendra!"Saat itu, Sania panik dan menatapnya tak percaya, lalu berkata, "Kau gila? Kenapa kau harus menahan pisau itu untukku, apa kau tidak takut mati?""Karena kau juga pernah menyelamatkanku ...."Rendra menatapnya, mata hitam legamnya dipenuhi emosi yang tak bisa dipahami Sania."Sania, ternyata kau sudah mendekati Tuan Rendra! Kenapa nasibmu seberuntung itu? Aku akan membunuhmu. Kau harus mati!"Suara tajam Citra bergema di telinganya, barulah Sania bisa melihat dengan jelas siapa orang yang datang itu."Citra, ternyata itu kau! Kau berani membunuh, apa kau sudah gila?""Iya, aku sudah gila! Sejak saat Dimas mengantarku kembali ke Cakrawala Malam, dan membiarkanku diperlakukan semena-mena, aku sudah gila."Citra mengacungkan pisau, hendak menikam Sania, namun langsung ditahan erat oleh pengawal yang bergegas datang."Tuan Rendra!""Tuan Rendra, apa Anda baik-baik saja? Saya akan segera membawa Anda ke rumah sakit!"Para pengawal membawa Rendra masuk ke mobil dan langsung melaju

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 17

    Di sebuah restoran masakan barat dengan suasana elegan, Sania dengan serius memotong steak di piringnya.Setelah beberapa saat, barulah dia menyadari bahwa steak di piring Rendra hampir tidak disentuh. Sebaliknya, pria itu terus menatapnya.Tatapannya begitu intens hingga pipi Sania tanpa sadar memerah."Tuan Rendra, sepertinya Anda tidak lapar?"Baru saat itu Rendra tersenyum dan mulai memotong steaknya, "Aku hanya sedang menunggu.""Menunggu apa?""Menunggu seseorang mengingat sedikit tentangku.""Mengingat apa?"Sania mengernyitkan kening, samar-samar merasa ada firasat buruk."Bagaimana kalau kukatakan, aku tahu ada tanda lahir berbentuk kupu-kupu di pinggangmu?"Kalimat sederhana itu seketika membuat Sania murka.Dia sontak berdiri dari kursinya dan nyaris membalikkan meja di hadapannya."Pria malam itu adalah kau!"Tak heran pria di hadapannya ini, baik dari postur tubuh maupun aroma tubuhnya, terasa akrab bagi Sania.Ternyata dialah pria yang memaksanya malam itu!Tanpa ragu sed

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 16

    "Apa dia wanita malam itu?""Iya, Tuan Rendra, dialah orangnya. Selain itu, kami juga menemukan kalau dia adalah wanita yang selama ini Anda cari.""Hmm."Setelah menutup dokumen di tangannya, pria itu mengangguk dan berkata dengan suara berat, "Setelah ini selesai, kalian boleh pergi dulu.""Tapi, Tuan Rendra ...."Identitasnya Istimewa. Jelas tidak aman jika tanpa pengawal di sisinya, hal itu tentu tidak mungkin.Pengawal itu hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi begitu pria itu meliriknya, dia langsung mengangguk dan tidak berani berkata apa-apa lagi.Melihat wanita itu tampil penuh percaya diri saat melakukan wawancara, sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum penuh arti.Dia benar-benar mengira wanita yang bersamanya malam itu adalah seorang pelacur kelas atas, padahal hanyalah seorang pembawa acara.Jakunnya bergerak, teringat malam itu, saat dirinya larut dalam gairah, teringat suara napasnya yang lirih ....Setelah begitu lama melajang, mungkin sudah waktunya dia menjal

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 15

    Begitu hal itu disebut, tubuh Sania tak bisa menahan diri untuk gemetar.Dia akhirnya tak mampu lagi bersikap tenang, lalu bangkit dan menampar keras wajah Dimas."Kau masih berani membahasnya! Dimas, kalau bukan karena kau, aku tidak akan pernah diperlakukan seperti ini. Aku membencimu, aku sangat membencimu, kau tahu?"Tamparan itu membuat Dimas benar-benar tercengang.Dia mengangkat pandangannya dan hendak menjelaskan, tetapi justru melihat Sania menangis."Sania … kau … kau telah ….""Iya, bukannya itu yang kau inginkan, Dimas? Menyerahkan istrimu ke pelukan pria lain dengan tanganmu sendiri demi mendapatkan kesucian seorang primadona, tapi tidak menyangka bahwa pelacur itu ternyata sudah tidak perawan sejak lama! Lucu, kan? Menurutku ini benar-benar konyol."Sania mengangkat kepala, menyeka air mata di sudut matanya, lalu mencibir, "Kalau bukan karena ibumu, aku sama sekali tidak mau bicara sepatah kata pun denganmu! Waktumu tinggal tiga menit lagi, kalau ada yang ingin kau kataka

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 14

    Dulu, kalau melihat Citra menangis sedih seperti ini, Dimas pasti sudah luluh.Tetapi saat ini, dia hanya merasa wanita ini mengerikan dan menjijikkan!"Pengawal!"Dia menggeram pelan, dan dua pengawal langsung menerobos masuk dari luar pintu."Tuan Dimas.""Wawancara hari ini dibatalkan. Bawa Citra pergi, kembalikan ke Cakrawala Malam! Karena dia sangat suka berakting, biarkan saja dia di sana menemani para pria itu berakting seumur hidup!"Citra sudah kehilangan keanggunan dan wibawa seperti biasanya. Riasannya sudah luntur karena menangis, dan wajahnya tampak buruk.Dia meronta-ronta dengan gila, penampilannya benar-benar berantakan."Tidak! Dimas, kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini. Kau sudah berjanji akan menikahiku. Kau tidak boleh mengingkari janji. Kau bilang akan melindungiku seumur hidup. Dimas ....""Memalukan sekali! Semua orang bilang kalau Nona Citra dari Cakrawala Malam adalah wanita paling bersih di tempat hiburan itu. Walaupun sudah lima tahun berkecimpung di

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 13

    "Brak!" Kepala Sania terbentur cermin.Cermin itu seketika retak, dan darah mulai mengalir dari dahinya.Amarah yang semula dia pendam di dalam hati pun meluap sepenuhnya akibat tindakan Citra.Sania menoleh, lalu menerjang dengan penuh amarah, mencengkeram leher Citra, dan mendorong tubuhnya hingga terpojok ke sudut dinding."Kau tidak dengar apa yang baru saja kukatakan, ya? Citra, aku peringatkan kau, semua yang baru saja kau katakan sudah kurekam. Kalau kau berani menggangguku lagi, aku akan mengirimkan rekaman itu ke Dimas! Kau ingin menjadi istri sahnya Dimas? Mimpi saja!""Kau berani merekam? Kembalikan rekamannya padaku! Dasar wanita murahan!"Kepalanya terasa pusing karena diguncang, Citra mengangkat pergelangan tangannya hendak menampar Sania, tetapi dengan sigap Sania menepisnya."Masih mau membalas?"Tanpa ragu sedikit pun, Sania mengangkat kaki kanannya, lalu dengan keras menendang dada Citra menggunakan lututnya."Ah!"Citra berlutut di lantai dengan wajah pucat, keringat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status