Share

Bab 5

Author: Anl
Dimas mengerutkan kening, dan bertanya, "Kau tahu aku membawanya pulang?"

"Iya." Sania mengangguk, dengan nada datar menjawab, "Aku melihatnya."

"Kau tidak marah?”

Jika dulu, dia pasti akan marah besar hingga menghancurkan semua barang di rumah, memaksanya mengusir Citra, bahkan mungkin memaksanya untuk bercerai.

Namun hari ini, reaksinya terlalu tenang.

"Aku tidak marah, asalkan kau bahagia." Sania mengangkat pandangan ke arah pria itu, lalu tiba-tiba bertanya, "Dimas, sebenarnya apa kau pernah menyesal rujuk denganku tiga tahun lalu? Aku bisa merasakan bahwa kau sangat menyukai Citra. Mungkin dialah yang benar-benar cocok untukmu."

"Sania, kau itu istriku.”

Dimas tiba-tiba berjalan mendekat dan memeluk Sania, menyandarkan dagunya di lekuk bahu wanita itu, lalu berkata dengan lembut, "Aku tahu kau mempublikasikan artikel itu untuk membuatku marah, dan aku juga tidak seharusnya marah begitu keras padamu demi Citra. Tapi percayalah padaku, sebesar apa pun aku menyukai Citra, itu cuma sekadar suka. Orang yang paling kucintai, selamanya adalah kau. Posisi Nyonya Muda Keluarga Aryatama, juga selamanya milikmu."

"Setelah menikah dengan Keluarga Aryatama selama bertahun-tahun, dan tahu begitu banyak kisah asmara para pemuda di sekitarku, kau seharusnya sudah belajar menerima semua ini seperti para istri lainnya, kan?"

Mendengar kata-katanya, tubuh Sania membeku.

Pada saat itu, dia bahkan tidak tahu harus berkata apa.

Dia benar-benar penasaran, bagaimana Dimas bisa membicarakan perselingkuhan dalam pernikahan dengan cara yang seolah begitu wajar dan tidak bersalah.

Seolah-olah jika Sania terus membuat keributan, justru dialah yang dianggap mencari gara-gara tanpa alasan.

Dimas mengira Sania bisa menerimanya, dia tidak tahu bahwa selama apa pun waktu berlalu, Sania tetaplah sosok yang dulu, yang tak bisa menoleransi sedikit pun pengkhianatan.

Setelah menarik napas dalam-dalam, dia mengangkat tangan dan mendorong pria itu menjauh.

"Iya, Dimas, teman-temanmu memang benar. Pria-pria dari keluarga kaya Kota Segara memang seperti ini, dan tentu saja kau juga termasuk di dalamnya."

Dimas tertegun, lalu bertanya memastikan, "Kau bisa menerimanya?"

"Aku bisa menerimanya."

Selama pria itu bukan suaminya sendiri, dia bisa menerima apa pun.

"Kalau sudah selesai bicara, aku mau kembali ke kamar."

Saat berbalik dan naik ke lantai atas, dia melihat sekilas sosok bayangan di sudut lorong.

Meskipun sosok itu segera menghilang, dia tetap mengenali bahwa itu adalah Citra.

Sania tidak terlalu memikirkannya dan langsung membereskan barang-barangnya setelah kembali ke kamar.

Saat perceraian pertamanya dulu, sebagian besar barang miliknya sudah dibuang.

Kali ini barang-barangnya tidak terlalu banyak, jadi dia bisa selesai berkemas dengan cepat.

Malam itu, Dimas tidak kembali ke kamar.

Sania tidak bisa tidur dan berniat turun ke halaman untuk menghirup udara malam.

Namun, dia melihat Dimas tertidur di sofa, sementara Citra sedang menyelimutinya dengan selimut.

Di meja ruang tamu terdapat banyak botol minuman keras.

Di televisi sedang diputar film romantis.

Sania tertegun sejenak, mengira kalau malam ini Dimas akan berhubungan intim dengan Citra.

Ternyata mereka hanya minum dan menonton film?

Melihat Sania, sudut bibir Citra melengkung membentuk senyuman sinis.

"Nyonya Sania belum tidur selarut ini, apa kau kesepian sampai tidak bisa tidur?"

Sania mengabaikannya dan berbalik hendak pergi, namun Citra tiba-tiba mencengkeram lengan Sania dengan keras.

"Semua yang dibilang Dimas padamu tadi sore, aku sudah mendengarnya dengan jelas. Aku tahu dia sangat mencintaimu dan tidak akan menceraikanmu. Tapi kukatakan padamu, aku bukanlah wanita yang mudah menyerah. Aku tidak akan pernah menjadi wanita simpanan, aku hanya akan menjadi istri sah. Aku pasti akan membuatmu bercerai dari Dimas! Aku harus menjadi Nyonya Dimas Aryatama yang sesungguhnya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 18

    "Rendra!"Saat itu, Sania panik dan menatapnya tak percaya, lalu berkata, "Kau gila? Kenapa kau harus menahan pisau itu untukku, apa kau tidak takut mati?""Karena kau juga pernah menyelamatkanku ...."Rendra menatapnya, mata hitam legamnya dipenuhi emosi yang tak bisa dipahami Sania."Sania, ternyata kau sudah mendekati Tuan Rendra! Kenapa nasibmu seberuntung itu? Aku akan membunuhmu. Kau harus mati!"Suara tajam Citra bergema di telinganya, barulah Sania bisa melihat dengan jelas siapa orang yang datang itu."Citra, ternyata itu kau! Kau berani membunuh, apa kau sudah gila?""Iya, aku sudah gila! Sejak saat Dimas mengantarku kembali ke Cakrawala Malam, dan membiarkanku diperlakukan semena-mena, aku sudah gila."Citra mengacungkan pisau, hendak menikam Sania, namun langsung ditahan erat oleh pengawal yang bergegas datang."Tuan Rendra!""Tuan Rendra, apa Anda baik-baik saja? Saya akan segera membawa Anda ke rumah sakit!"Para pengawal membawa Rendra masuk ke mobil dan langsung melaju

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 17

    Di sebuah restoran masakan barat dengan suasana elegan, Sania dengan serius memotong steak di piringnya.Setelah beberapa saat, barulah dia menyadari bahwa steak di piring Rendra hampir tidak disentuh. Sebaliknya, pria itu terus menatapnya.Tatapannya begitu intens hingga pipi Sania tanpa sadar memerah."Tuan Rendra, sepertinya Anda tidak lapar?"Baru saat itu Rendra tersenyum dan mulai memotong steaknya, "Aku hanya sedang menunggu.""Menunggu apa?""Menunggu seseorang mengingat sedikit tentangku.""Mengingat apa?"Sania mengernyitkan kening, samar-samar merasa ada firasat buruk."Bagaimana kalau kukatakan, aku tahu ada tanda lahir berbentuk kupu-kupu di pinggangmu?"Kalimat sederhana itu seketika membuat Sania murka.Dia sontak berdiri dari kursinya dan nyaris membalikkan meja di hadapannya."Pria malam itu adalah kau!"Tak heran pria di hadapannya ini, baik dari postur tubuh maupun aroma tubuhnya, terasa akrab bagi Sania.Ternyata dialah pria yang memaksanya malam itu!Tanpa ragu sed

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 16

    "Apa dia wanita malam itu?""Iya, Tuan Rendra, dialah orangnya. Selain itu, kami juga menemukan kalau dia adalah wanita yang selama ini Anda cari.""Hmm."Setelah menutup dokumen di tangannya, pria itu mengangguk dan berkata dengan suara berat, "Setelah ini selesai, kalian boleh pergi dulu.""Tapi, Tuan Rendra ...."Identitasnya Istimewa. Jelas tidak aman jika tanpa pengawal di sisinya, hal itu tentu tidak mungkin.Pengawal itu hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi begitu pria itu meliriknya, dia langsung mengangguk dan tidak berani berkata apa-apa lagi.Melihat wanita itu tampil penuh percaya diri saat melakukan wawancara, sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum penuh arti.Dia benar-benar mengira wanita yang bersamanya malam itu adalah seorang pelacur kelas atas, padahal hanyalah seorang pembawa acara.Jakunnya bergerak, teringat malam itu, saat dirinya larut dalam gairah, teringat suara napasnya yang lirih ....Setelah begitu lama melajang, mungkin sudah waktunya dia menjal

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 15

    Begitu hal itu disebut, tubuh Sania tak bisa menahan diri untuk gemetar.Dia akhirnya tak mampu lagi bersikap tenang, lalu bangkit dan menampar keras wajah Dimas."Kau masih berani membahasnya! Dimas, kalau bukan karena kau, aku tidak akan pernah diperlakukan seperti ini. Aku membencimu, aku sangat membencimu, kau tahu?"Tamparan itu membuat Dimas benar-benar tercengang.Dia mengangkat pandangannya dan hendak menjelaskan, tetapi justru melihat Sania menangis."Sania … kau … kau telah ….""Iya, bukannya itu yang kau inginkan, Dimas? Menyerahkan istrimu ke pelukan pria lain dengan tanganmu sendiri demi mendapatkan kesucian seorang primadona, tapi tidak menyangka bahwa pelacur itu ternyata sudah tidak perawan sejak lama! Lucu, kan? Menurutku ini benar-benar konyol."Sania mengangkat kepala, menyeka air mata di sudut matanya, lalu mencibir, "Kalau bukan karena ibumu, aku sama sekali tidak mau bicara sepatah kata pun denganmu! Waktumu tinggal tiga menit lagi, kalau ada yang ingin kau kataka

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 14

    Dulu, kalau melihat Citra menangis sedih seperti ini, Dimas pasti sudah luluh.Tetapi saat ini, dia hanya merasa wanita ini mengerikan dan menjijikkan!"Pengawal!"Dia menggeram pelan, dan dua pengawal langsung menerobos masuk dari luar pintu."Tuan Dimas.""Wawancara hari ini dibatalkan. Bawa Citra pergi, kembalikan ke Cakrawala Malam! Karena dia sangat suka berakting, biarkan saja dia di sana menemani para pria itu berakting seumur hidup!"Citra sudah kehilangan keanggunan dan wibawa seperti biasanya. Riasannya sudah luntur karena menangis, dan wajahnya tampak buruk.Dia meronta-ronta dengan gila, penampilannya benar-benar berantakan."Tidak! Dimas, kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini. Kau sudah berjanji akan menikahiku. Kau tidak boleh mengingkari janji. Kau bilang akan melindungiku seumur hidup. Dimas ....""Memalukan sekali! Semua orang bilang kalau Nona Citra dari Cakrawala Malam adalah wanita paling bersih di tempat hiburan itu. Walaupun sudah lima tahun berkecimpung di

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 13

    "Brak!" Kepala Sania terbentur cermin.Cermin itu seketika retak, dan darah mulai mengalir dari dahinya.Amarah yang semula dia pendam di dalam hati pun meluap sepenuhnya akibat tindakan Citra.Sania menoleh, lalu menerjang dengan penuh amarah, mencengkeram leher Citra, dan mendorong tubuhnya hingga terpojok ke sudut dinding."Kau tidak dengar apa yang baru saja kukatakan, ya? Citra, aku peringatkan kau, semua yang baru saja kau katakan sudah kurekam. Kalau kau berani menggangguku lagi, aku akan mengirimkan rekaman itu ke Dimas! Kau ingin menjadi istri sahnya Dimas? Mimpi saja!""Kau berani merekam? Kembalikan rekamannya padaku! Dasar wanita murahan!"Kepalanya terasa pusing karena diguncang, Citra mengangkat pergelangan tangannya hendak menampar Sania, tetapi dengan sigap Sania menepisnya."Masih mau membalas?"Tanpa ragu sedikit pun, Sania mengangkat kaki kanannya, lalu dengan keras menendang dada Citra menggunakan lututnya."Ah!"Citra berlutut di lantai dengan wajah pucat, keringat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status