Share

Bab 6

Author: Anl
"Begitukah?"

Sania melihat ambisi di balik tatapan mata Citra, dugaannya memang benar. Wanita yang mampu mengendalikan semua pria di Kota Segara dengan begitu tepat ini, jelas bukan orang yang bisa diremehkan.

"Kalau begitu, semoga keinginanmu segera terwujud. Oh iya Citra, perilakumu saat ini bagiku sama saja dengan wanita simpanan. Jadi, di mataku, kau memang wanita simpanan!"

Citra langsung berseru marah, "Kau bilang apa? Ulangi sekali lagi!"

"Aku bisa mengulanginya sepuluh kali atau seratus kali sekalipun, selingkuhan tetaplah selingkuhan. Meskipun sudah naik pangkat, kau tetap tidak bisa lepas dari status selingkuhan!"

"Diam kau!"

Citra marah, mengangkat tangannya, dan menampar wajah Sania.

Sania pun tidak mau kalah, dia langsung membalas dengan menampar balik.

Citra memegangi pipinya yang memerah dan bengkak, matanya dipenuhi kebencian, lalu berkata, "Kau berani memukulku?"

"Kau yang mulai duluan, masa aku tidak boleh membalas?" Sania menatapnya tajam, sambil berkata kata demi kata, "Citra, kuperingatkan kau, jangan cari-cari masalah. Kalau tidak, aku punya cara untuk memastikan kau, si ratu malam yang ingin pensiun ini, tidak akan pernah bisa menjadi Nyonya Dimas Aryatama! Dan ingat, meskipun aku benar-benar bercerai dengan Dimas, itu bukan karena kau berhasil merebutnya dariku, tapi karena aku yang meninggalkannya, barulah kau bisa punya kesempatan. Kalau tidak, kau selamanya hanya akan jadi selingkuhan!"

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Sania kehilangan minat untuk menikmati udara malam dan langsung naik ke lantai atas.

Sambil menatap punggung Sania yang menjauh, jari-jari Citra yang terkulai di sisi tubuhnya mengepal erat.

"Sania, aku akan ingat penghinaan yang kau berikan malam ini. Suatu hari nanti, aku pasti akan membuat hidupmu terasa lebih menyakitkan daripada kematian!"

Sania tidak bisa tidur sepanjang malam. Baru menjelang dini hari, dia akhirnya tertidur lelap.

Saat sedang tertidur lelap, tiba-tiba rasa sakit yang hebat menjalar dari belakang lehernya. Tubuh Sania diseret paksa dari atas tempat tidur dengan tenaga yang kasar.

Detik berikutnya, sepasang tangan itu sudah mencekik lehernya.

Rasa sakit yang hebat memaksanya untuk tersadar, dengan susah payah dia mengangkat pandangannya dan melihat wajah Dimas yang sangat muram.

"Sania, apa yang kau lakukan pada Citra tadi malam?"

Sorot mata Dimas dipenuhi amarah membunuh, sementara cengkeramannya semakin mengencang.

Wajah Sania memerah, dia merasa hampir tidak bisa bernapas.

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,"

"Aku kira kau benar-benar lapang dada, bersedia menerimanya, tapi ternyata kau malah memanfaatkan saat aku mabuk untuk mengancam Citra agar meninggalkan Keluarga Aryatama. Sania, kenapa aku tidak pernah menyadari kalau kau itu ternyata wanita yang sangat kejam!"

Dimas melepaskannya dengan kasar, lalu melemparkan ponselnya tepat di hadapan Sania.

Yang terlihat di layar adalah pesan singkat yang dikirim Citra.

[Tuan Dimas, terima kasih atas perasaan yang kau berikan padaku. Apa yang dikatakan Nyonya Sania benar, sekalipun aku benar-benar masuk ke Keluarga Aryatama, aku tetap akan menjadi selingkuhan. Jadi, hubungan kita berakhir di sini. Tolong jangan cari aku lagi. Aku juga sudah memutuskan untuk melelang diriku malam ini. Aku sudah menandatangani perjanjian hidup dan mati dengan Klub Cakrawala Malam. Malam ini tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkanku.]

Melihat isi pesan itu, pupil mata Sania tiba-tiba menyempit.

"Aku tidak tahu, aku sama sekali tidak pernah melakukan apa pun padanya!"

Dia ingin membela diri, tetapi Dimas sama sekali tidak mau mendengarkan. Dengan kasar menyeretnya masuk ke dalam mobil, lalu berkata, "Ikut aku ke Cakrawala Malam. Kalau Citra benar-benar disakiti seseorang, kau juga tidak akan bisa lolos."

Sania menatapnya dengan ketakutan, dan hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Apa katamu?"

Dimas tidak menjawab, hanya memasang wajah muram sambil menginjak dalam pedal gas.

Di tengah tatapan Sania yang ketakutan, mobil melaju dengan kecepatan penuh.

Tak lama kemudian, dia sudah membawa mobil sampai di depan Cakrawala Malam.

"Tuan Dimas, malam ini adalah malam penting bagi Cakrawala Malam, semua tamu harus menunjukkan surat undangan. Selain itu, Nona Citra mengatakan bahwa Anda tidak boleh datang malam ini, mohon Anda ...."

Dimas meliriknya dengan tatapan tajam. Orang itu langsung bungkam dan dengan penuh hormat mempersilakannya masuk.

Begitu keduanya masuk, pintu besi di belakang mereka langsung tertutup rapat dengan suara "bam".

Di malam yang berbahaya ini, Sania ditakdirkan tidak akan mendapatkan pertolongan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 18

    "Rendra!"Saat itu, Sania panik dan menatapnya tak percaya, lalu berkata, "Kau gila? Kenapa kau harus menahan pisau itu untukku, apa kau tidak takut mati?""Karena kau juga pernah menyelamatkanku ...."Rendra menatapnya, mata hitam legamnya dipenuhi emosi yang tak bisa dipahami Sania."Sania, ternyata kau sudah mendekati Tuan Rendra! Kenapa nasibmu seberuntung itu? Aku akan membunuhmu. Kau harus mati!"Suara tajam Citra bergema di telinganya, barulah Sania bisa melihat dengan jelas siapa orang yang datang itu."Citra, ternyata itu kau! Kau berani membunuh, apa kau sudah gila?""Iya, aku sudah gila! Sejak saat Dimas mengantarku kembali ke Cakrawala Malam, dan membiarkanku diperlakukan semena-mena, aku sudah gila."Citra mengacungkan pisau, hendak menikam Sania, namun langsung ditahan erat oleh pengawal yang bergegas datang."Tuan Rendra!""Tuan Rendra, apa Anda baik-baik saja? Saya akan segera membawa Anda ke rumah sakit!"Para pengawal membawa Rendra masuk ke mobil dan langsung melaju

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 17

    Di sebuah restoran masakan barat dengan suasana elegan, Sania dengan serius memotong steak di piringnya.Setelah beberapa saat, barulah dia menyadari bahwa steak di piring Rendra hampir tidak disentuh. Sebaliknya, pria itu terus menatapnya.Tatapannya begitu intens hingga pipi Sania tanpa sadar memerah."Tuan Rendra, sepertinya Anda tidak lapar?"Baru saat itu Rendra tersenyum dan mulai memotong steaknya, "Aku hanya sedang menunggu.""Menunggu apa?""Menunggu seseorang mengingat sedikit tentangku.""Mengingat apa?"Sania mengernyitkan kening, samar-samar merasa ada firasat buruk."Bagaimana kalau kukatakan, aku tahu ada tanda lahir berbentuk kupu-kupu di pinggangmu?"Kalimat sederhana itu seketika membuat Sania murka.Dia sontak berdiri dari kursinya dan nyaris membalikkan meja di hadapannya."Pria malam itu adalah kau!"Tak heran pria di hadapannya ini, baik dari postur tubuh maupun aroma tubuhnya, terasa akrab bagi Sania.Ternyata dialah pria yang memaksanya malam itu!Tanpa ragu sed

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 16

    "Apa dia wanita malam itu?""Iya, Tuan Rendra, dialah orangnya. Selain itu, kami juga menemukan kalau dia adalah wanita yang selama ini Anda cari.""Hmm."Setelah menutup dokumen di tangannya, pria itu mengangguk dan berkata dengan suara berat, "Setelah ini selesai, kalian boleh pergi dulu.""Tapi, Tuan Rendra ...."Identitasnya Istimewa. Jelas tidak aman jika tanpa pengawal di sisinya, hal itu tentu tidak mungkin.Pengawal itu hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi begitu pria itu meliriknya, dia langsung mengangguk dan tidak berani berkata apa-apa lagi.Melihat wanita itu tampil penuh percaya diri saat melakukan wawancara, sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum penuh arti.Dia benar-benar mengira wanita yang bersamanya malam itu adalah seorang pelacur kelas atas, padahal hanyalah seorang pembawa acara.Jakunnya bergerak, teringat malam itu, saat dirinya larut dalam gairah, teringat suara napasnya yang lirih ....Setelah begitu lama melajang, mungkin sudah waktunya dia menjal

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 15

    Begitu hal itu disebut, tubuh Sania tak bisa menahan diri untuk gemetar.Dia akhirnya tak mampu lagi bersikap tenang, lalu bangkit dan menampar keras wajah Dimas."Kau masih berani membahasnya! Dimas, kalau bukan karena kau, aku tidak akan pernah diperlakukan seperti ini. Aku membencimu, aku sangat membencimu, kau tahu?"Tamparan itu membuat Dimas benar-benar tercengang.Dia mengangkat pandangannya dan hendak menjelaskan, tetapi justru melihat Sania menangis."Sania … kau … kau telah ….""Iya, bukannya itu yang kau inginkan, Dimas? Menyerahkan istrimu ke pelukan pria lain dengan tanganmu sendiri demi mendapatkan kesucian seorang primadona, tapi tidak menyangka bahwa pelacur itu ternyata sudah tidak perawan sejak lama! Lucu, kan? Menurutku ini benar-benar konyol."Sania mengangkat kepala, menyeka air mata di sudut matanya, lalu mencibir, "Kalau bukan karena ibumu, aku sama sekali tidak mau bicara sepatah kata pun denganmu! Waktumu tinggal tiga menit lagi, kalau ada yang ingin kau kataka

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 14

    Dulu, kalau melihat Citra menangis sedih seperti ini, Dimas pasti sudah luluh.Tetapi saat ini, dia hanya merasa wanita ini mengerikan dan menjijikkan!"Pengawal!"Dia menggeram pelan, dan dua pengawal langsung menerobos masuk dari luar pintu."Tuan Dimas.""Wawancara hari ini dibatalkan. Bawa Citra pergi, kembalikan ke Cakrawala Malam! Karena dia sangat suka berakting, biarkan saja dia di sana menemani para pria itu berakting seumur hidup!"Citra sudah kehilangan keanggunan dan wibawa seperti biasanya. Riasannya sudah luntur karena menangis, dan wajahnya tampak buruk.Dia meronta-ronta dengan gila, penampilannya benar-benar berantakan."Tidak! Dimas, kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini. Kau sudah berjanji akan menikahiku. Kau tidak boleh mengingkari janji. Kau bilang akan melindungiku seumur hidup. Dimas ....""Memalukan sekali! Semua orang bilang kalau Nona Citra dari Cakrawala Malam adalah wanita paling bersih di tempat hiburan itu. Walaupun sudah lima tahun berkecimpung di

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 13

    "Brak!" Kepala Sania terbentur cermin.Cermin itu seketika retak, dan darah mulai mengalir dari dahinya.Amarah yang semula dia pendam di dalam hati pun meluap sepenuhnya akibat tindakan Citra.Sania menoleh, lalu menerjang dengan penuh amarah, mencengkeram leher Citra, dan mendorong tubuhnya hingga terpojok ke sudut dinding."Kau tidak dengar apa yang baru saja kukatakan, ya? Citra, aku peringatkan kau, semua yang baru saja kau katakan sudah kurekam. Kalau kau berani menggangguku lagi, aku akan mengirimkan rekaman itu ke Dimas! Kau ingin menjadi istri sahnya Dimas? Mimpi saja!""Kau berani merekam? Kembalikan rekamannya padaku! Dasar wanita murahan!"Kepalanya terasa pusing karena diguncang, Citra mengangkat pergelangan tangannya hendak menampar Sania, tetapi dengan sigap Sania menepisnya."Masih mau membalas?"Tanpa ragu sedikit pun, Sania mengangkat kaki kanannya, lalu dengan keras menendang dada Citra menggunakan lututnya."Ah!"Citra berlutut di lantai dengan wajah pucat, keringat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status