Share

Bab 7

Author: Anl
Di dalam klub hiburan dengan kubah berlapis emas, sebuah acara lelang megah sedang berlangsung dengan meriah.

Saat Sania terpaksa masuk mengikuti Dimas, pandangannya langsung tertuju pada Citra yang berada di tengah panggung.

Dia mengenakan gaun tradisional berwarna putih bulan, duduk di sana dengan tenang dan anggun.

Sementara itu, para pengusaha kaya dan tokoh berpengaruh di bawah panggung sudah tak sabar untuk mendapatkannya.

"Sepuluh miliar!"

"Enam belas miliar! Aku bayar enam belas miliar!"

"Dua puluh miliar!"

"Enam puluh miliar!"

Di tengah gelombang teriakan penawaran yang bergema, sang mucikari itu tersenyum lebar.

Sania mengangkat pandangannya ke arah pria di sampingnya yang sudah dipenuhi amarah. Baru saja hendak berkata sesuatu, dia sudah mendengar Dimas mengajukan tawaran.

"Dua ratus miliar!”

"Dua ratus miliar? Tuan Dimas benar-benar menawar dua ratus miliar?"

"Semua orang bilang dia menyukai wanita ini, tak disangka ternyata benar!"

"Siapa wanita di sampingnya itu? Jangan-jangan itu istrinya, Nyonya Sania? Untuk apa dia membawanya ke sini?"

Seluruh ruangan menjadi riuh, hanya hati Sania yang terasa dingin.

Saat mengangkat pandangannya lagi, dia melihat Citra di atas panggung tersenyum.

"Maaf, Tuan Dimas, saya tidak menerima lelang dari pria yang sudah beristri."

Dimas tampak sangat marah, Sania bisa merasakan genggamannya semakin erat, seolah-olah ingin meremukkan tulang-tulang tangannya.

"Kau tidak berhak menolak. Siapa pun yang berani menawarnya hari ini, berarti menentangku, Dimas Aryatama."

Mendengar kata-kata itu, para pengusaha kaya di bawah panggung yang semula antusias langsung terdiam. Siapa yang berani menyinggung pria paling berkuasa di Kota Segara, pimpinan Aryatama Group?

Citra menatapnya, lalu kembali berkata dengan nada tegas, "Tuan Dimas, saya tahu Anda kaya, tapi saya sudah bilang, saya tidak akan menjual diri pada Anda."

Begitu dia selesai bicara, keributan pun meledak di bawah panggung.

Beberapa orang mulai bersorak, "Benar, Tuan Dimas! Jangan pakai uang untuk merusak aturan main di sini."

"Kami juga sudah mengeluarkan banyak uang untuk datang ke sini, jangan sampai pulang dengan sia-sia!"

Sania berdiri di samping Dimas, hampir bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Benar saja, seketika itu juga, Dimas mendorongnya ke depan.

"Agar kalian tidak datang sia-sia, biarkan istriku menari untuk menghibur kalian."

Dug!

Seolah-olah petir menggelegar di telinganya, pikiran Sania seketika kosong.

Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Darahnya seolah membeku pada saat itu juga, dan pandangan Sania mulai gelap.

Dia menatap Dimas, suaranya bergetar, "Apa katamu? Dimas, ulangi lagi! Aku sama sekali tidak bisa menari!"

Dimas menatapnya, dan berkata tanpa sedikit pun kehangatan di sorot matanya.

"Sania, jangan salahkan aku, semua ini adalah akibat perbuatanmu sendiri! Citra selalu menjual bakat, bukan tubuhnya. Kalau bukan karena kau yang memaksanya, dia tidak akan sampai sejauh ini!"

Sania merasa pria itu sudah gila. Dia hendak pergi, tetapi dihalangi oleh pengawal Cakrawala Malam.

"Tuan Dimas sudah berkata begitu. Nyonya Sania, silakan naik."

"Aku tidak mau. Dimas tidak berhak melakukan ini!"

Sania menggelengkan kepala, dia bahkan belum sempat meronta, lengan kirinya sudah dicengkeram erat-erat.

"Jangan, lepaskan aku! Dimas, kita akan segera bercerai, aku bukan istrimu lagi, kau tidak berhak melakukan ini. Dimas ...."

"Tolong! Dimas, aku tidak mau! Aku salah! Tolong aku ... Dimas...."

Tubuhnya diangkat ke atas panggung, sementara Dimas langsung pergi bersama Citra.

Sekeras apa pun dia berteriak dan meminta pertolongan, Dimas bahkan tidak pernah menoleh sedikit pun.

Sania tahu, malam ini, dia tidak akan bisa melarikan diri!

Saat naik ke panggung, pandangan Sania mendadak gelap, dan langsung jatuh pingsan.

Saat terbangun kembali, hari sudah berganti.

Dia terbaring di sebuah kamar, dan apa yang terjadi sudah jelas tanpa perlu dijelaskan.

Setelah meninggalkan tempat itu melalui pintu belakang, dia menaiki sebuah taksi.

Sania akhirnya menerima pesan singkat dari Ratih.

[Surat cerai sudah keluar, aku akan mengirimkan orang untuk mengantarkannya padamu. Pihak Stasiun Televisi Kota Segara juga sudah diberitahu, kau bisa mulai bekerja kapan saja. Sania, semoga masa depanmu cerah.]

"Nona, mau pergi ke mana?"

"Ke Nusa Jaya."

Saat mobil mulai melaju, ponsel Sania kembali berdering.

Itu panggilan dari Dimas.

Berulang kali, Sania tetap tidak menjawabnya.

Dengan ekspresi datar, dia menekan tombol matikan, lalu mengeluarkan kartu telepon, mematahkannya, dan membuangnya ke luar jendela.

Dimas, kali ini hubungan kita benar-benar berakhir.

Aku tidak ingin melihatmu lagi!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 18

    "Rendra!"Saat itu, Sania panik dan menatapnya tak percaya, lalu berkata, "Kau gila? Kenapa kau harus menahan pisau itu untukku, apa kau tidak takut mati?""Karena kau juga pernah menyelamatkanku ...."Rendra menatapnya, mata hitam legamnya dipenuhi emosi yang tak bisa dipahami Sania."Sania, ternyata kau sudah mendekati Tuan Rendra! Kenapa nasibmu seberuntung itu? Aku akan membunuhmu. Kau harus mati!"Suara tajam Citra bergema di telinganya, barulah Sania bisa melihat dengan jelas siapa orang yang datang itu."Citra, ternyata itu kau! Kau berani membunuh, apa kau sudah gila?""Iya, aku sudah gila! Sejak saat Dimas mengantarku kembali ke Cakrawala Malam, dan membiarkanku diperlakukan semena-mena, aku sudah gila."Citra mengacungkan pisau, hendak menikam Sania, namun langsung ditahan erat oleh pengawal yang bergegas datang."Tuan Rendra!""Tuan Rendra, apa Anda baik-baik saja? Saya akan segera membawa Anda ke rumah sakit!"Para pengawal membawa Rendra masuk ke mobil dan langsung melaju

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 17

    Di sebuah restoran masakan barat dengan suasana elegan, Sania dengan serius memotong steak di piringnya.Setelah beberapa saat, barulah dia menyadari bahwa steak di piring Rendra hampir tidak disentuh. Sebaliknya, pria itu terus menatapnya.Tatapannya begitu intens hingga pipi Sania tanpa sadar memerah."Tuan Rendra, sepertinya Anda tidak lapar?"Baru saat itu Rendra tersenyum dan mulai memotong steaknya, "Aku hanya sedang menunggu.""Menunggu apa?""Menunggu seseorang mengingat sedikit tentangku.""Mengingat apa?"Sania mengernyitkan kening, samar-samar merasa ada firasat buruk."Bagaimana kalau kukatakan, aku tahu ada tanda lahir berbentuk kupu-kupu di pinggangmu?"Kalimat sederhana itu seketika membuat Sania murka.Dia sontak berdiri dari kursinya dan nyaris membalikkan meja di hadapannya."Pria malam itu adalah kau!"Tak heran pria di hadapannya ini, baik dari postur tubuh maupun aroma tubuhnya, terasa akrab bagi Sania.Ternyata dialah pria yang memaksanya malam itu!Tanpa ragu sed

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 16

    "Apa dia wanita malam itu?""Iya, Tuan Rendra, dialah orangnya. Selain itu, kami juga menemukan kalau dia adalah wanita yang selama ini Anda cari.""Hmm."Setelah menutup dokumen di tangannya, pria itu mengangguk dan berkata dengan suara berat, "Setelah ini selesai, kalian boleh pergi dulu.""Tapi, Tuan Rendra ...."Identitasnya Istimewa. Jelas tidak aman jika tanpa pengawal di sisinya, hal itu tentu tidak mungkin.Pengawal itu hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi begitu pria itu meliriknya, dia langsung mengangguk dan tidak berani berkata apa-apa lagi.Melihat wanita itu tampil penuh percaya diri saat melakukan wawancara, sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum penuh arti.Dia benar-benar mengira wanita yang bersamanya malam itu adalah seorang pelacur kelas atas, padahal hanyalah seorang pembawa acara.Jakunnya bergerak, teringat malam itu, saat dirinya larut dalam gairah, teringat suara napasnya yang lirih ....Setelah begitu lama melajang, mungkin sudah waktunya dia menjal

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 15

    Begitu hal itu disebut, tubuh Sania tak bisa menahan diri untuk gemetar.Dia akhirnya tak mampu lagi bersikap tenang, lalu bangkit dan menampar keras wajah Dimas."Kau masih berani membahasnya! Dimas, kalau bukan karena kau, aku tidak akan pernah diperlakukan seperti ini. Aku membencimu, aku sangat membencimu, kau tahu?"Tamparan itu membuat Dimas benar-benar tercengang.Dia mengangkat pandangannya dan hendak menjelaskan, tetapi justru melihat Sania menangis."Sania … kau … kau telah ….""Iya, bukannya itu yang kau inginkan, Dimas? Menyerahkan istrimu ke pelukan pria lain dengan tanganmu sendiri demi mendapatkan kesucian seorang primadona, tapi tidak menyangka bahwa pelacur itu ternyata sudah tidak perawan sejak lama! Lucu, kan? Menurutku ini benar-benar konyol."Sania mengangkat kepala, menyeka air mata di sudut matanya, lalu mencibir, "Kalau bukan karena ibumu, aku sama sekali tidak mau bicara sepatah kata pun denganmu! Waktumu tinggal tiga menit lagi, kalau ada yang ingin kau kataka

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 14

    Dulu, kalau melihat Citra menangis sedih seperti ini, Dimas pasti sudah luluh.Tetapi saat ini, dia hanya merasa wanita ini mengerikan dan menjijikkan!"Pengawal!"Dia menggeram pelan, dan dua pengawal langsung menerobos masuk dari luar pintu."Tuan Dimas.""Wawancara hari ini dibatalkan. Bawa Citra pergi, kembalikan ke Cakrawala Malam! Karena dia sangat suka berakting, biarkan saja dia di sana menemani para pria itu berakting seumur hidup!"Citra sudah kehilangan keanggunan dan wibawa seperti biasanya. Riasannya sudah luntur karena menangis, dan wajahnya tampak buruk.Dia meronta-ronta dengan gila, penampilannya benar-benar berantakan."Tidak! Dimas, kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini. Kau sudah berjanji akan menikahiku. Kau tidak boleh mengingkari janji. Kau bilang akan melindungiku seumur hidup. Dimas ....""Memalukan sekali! Semua orang bilang kalau Nona Citra dari Cakrawala Malam adalah wanita paling bersih di tempat hiburan itu. Walaupun sudah lima tahun berkecimpung di

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 13

    "Brak!" Kepala Sania terbentur cermin.Cermin itu seketika retak, dan darah mulai mengalir dari dahinya.Amarah yang semula dia pendam di dalam hati pun meluap sepenuhnya akibat tindakan Citra.Sania menoleh, lalu menerjang dengan penuh amarah, mencengkeram leher Citra, dan mendorong tubuhnya hingga terpojok ke sudut dinding."Kau tidak dengar apa yang baru saja kukatakan, ya? Citra, aku peringatkan kau, semua yang baru saja kau katakan sudah kurekam. Kalau kau berani menggangguku lagi, aku akan mengirimkan rekaman itu ke Dimas! Kau ingin menjadi istri sahnya Dimas? Mimpi saja!""Kau berani merekam? Kembalikan rekamannya padaku! Dasar wanita murahan!"Kepalanya terasa pusing karena diguncang, Citra mengangkat pergelangan tangannya hendak menampar Sania, tetapi dengan sigap Sania menepisnya."Masih mau membalas?"Tanpa ragu sedikit pun, Sania mengangkat kaki kanannya, lalu dengan keras menendang dada Citra menggunakan lututnya."Ah!"Citra berlutut di lantai dengan wajah pucat, keringat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status