共有

Apa itu cinta?

作者: iva dinata
last update 公開日: 2025-10-06 08:12:51

"Tante belanja ke warung depan sebentar, kamu di kamar aja," kata Tante Ratih, setelah meletakkan segelas air putih di atas meja samping tempat tidur dan mengambil duduk di sisi ranjang tepat di sebelahku yang sedang terbaring sejak kemarin sore.

"Kaki kamu masih sakit?" tanyanya sambil memeriksa pergelangan kakiku yang diperban.

Aku menggeleng. Setelah diurut semalam kaki kananku sudah tidak sesakit sebelumnya.

"Sudah mendingan kok Te, maaf jadi merepotkan semua orang," ucapku menyesal.

"Tante yang harus minta maaf, harusnya gak nyuruh kamu ke sawah." Tante Ratih terlihat menyesal. "Sebenarnya Tante ingin kamu ada kegiatan agar tidak melamun saja, tapi kamu malah jatuh ke sawah dan kakimu keseleo. Bagaimana kalau Mamamu tahu, pasti marah sama Tante."

Aku menggelengkan kepala. "Bukan salah Tante, aku aja yang gak hati-hati." Sedikitpun aku tidak menyalahkan Tante Ratih atas kejadian kemarin.

"Ya, sudah Tante tinggal sebentar ya. Kalau butuh apa-apa, panggil aja Dirga. Dia ada di ruang tengah."

Selesai bicara Tante Ratih berdiri, lalu melangkah pergi. Tinggalah aku seorang diri. Kuhela nafas panjang, rasanya bosan dan penat di dalam kamar.

Sendirian akan membuat teringat dengan hal-hal yang membuatku sakit hati. Kuputuskan untuk keluar saja. Duduk di halaman belakang sambil menikmati hamparan sawah dan semilir angin sepertinya lebih menenangkan.

Dengan hati-hati aku turun dari tempat tidur, lalu berjalan terpincang-pincang keluar kamar.

"Mau ke mana?"

Aku menoleh ke arah suara. Dirga duduk di sofa ruang tengah sambil memangku laptop.

"Mau cari angin, bosen di kamar," jawabku sambil melanjutkan langkah.

"Mau main ke sawah lagi? Jatuh lagi?" ejek Dirga yang membuatku menghentikan langkah. Kuhadiahi sepupu jailku itu dengan tatapan tajam.

Dan pria itu malah tertawa. Malas meladeni aku memilih melanjutkan langkahku.

"Aku bantu." Dirga menyusul dan langsung memegangi tanganku.

"Nggak usah. Aku bisa sendiri," tolakku, tapi pria kekeuh memegangi lenganku. Aku pun pasrah. Malas sekali berdebat.

"Sudah jangan membantah. Nanti kalau kamu jatuh aku yang dimarahin Bunda. Mau ke belakang rumah kan?" tebaknya yang kujawab dengan anggukan pasrah.

"Duduk melamun di atas dipan, meratapi orang yang bahkan tak mengingatmu. Sampai kapan menyiksa diri?" tambahnya dengan nada mengejek.

Sungguh, aku benar-benar lelah, tak punya energi untuk berdebat. Biarlah ini orang bicara sesukanya. Toh apa yang dikatakannya memang benar.

Sepatah hati apapun aku di sini, Mas Arka dan Papa tidak akan peduli.

"Pelan-pelan naiknya," kata Dirga membantu naik ke atas dipan. Setelahnya pria itu malah ikut duduk di sampingku.

"Kenapa masih di sini?" Aku menatapnya datar.

"Memangnya kenapa? Nggak boleh?" tanyanya balik dengan muka tak kalah datar.

Astaga... pria ini benar-benar menguji kesabaran.

Kuhela nafas panjang, mencoba untuk bersabar. "Maksudku, aku gak perlu ditungguin." Aku berbicara selembut dan sepelan mungkin.

"Siapa juga yang nungguin kamu. Aku juga mau di sini sambil melamun."

Astaga!

Sabar, sabar Kinara....

Aku menghela nafas panjang, fokus pada hamparan sawah di depanku agar tidak terbawa emosi.

"Nara," panggil Dirga tiba-tiba.

Enggan aku menjawab dengan gumaman. "Hmm?"

"Menurutmu apa itu cinta?"

Aku menoleh, kulihat Dirga menatap lurus ke depan. Tidak kusangka ia akan tiba-tiba mengangkat topik semelankolis ini.

Namun, entah kenapa, aku memikirkan pertanyaannya itu.

"Entahlah, aku juga belum bisa memahami apa itu cinta. Kalau menurutmu?"

Dirga tersenyum, tatapannya menerawang jauh. "Menurutku… cinta itu, saat bahagiaku melihatmu bahagia."

Aku terdiam, menoleh ke arah pria itu, menunggu tawanya pecah. Tapi sampai hampir semenit, Dirga tidak tertawa.

Mendadak hatiku berdenyut nyeri. Kalimat itu seperti sebilah pisau yang menembus dada.

Sepertinya Dirga sedang berusaha menghiburku.

"Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, Nara. Meski itu melukaiku, akan kulakukan dengan senang hati."

Ucapan Dirga membuatku terkekeh getir, "Itu cinta apa bodoh?"

"Coba tanyakan pada hatimu. Bukankah itu yang selama ini kamu lakukan?" Dirga menoleh, menatapku.

Entah kenapa aku tak bisa membantah. Kalimat itu memaksaku mengingat semua perjuangan yang telah kulakukan untuk menjadi kekasih Mas Arka Mahesa.

Demi Mas Arka, aku melakukan segalanya. Aku mengikuti banyak les, demi menjadi wanita pintar dan anggun seperti keinginannya. Mulai les bimbingan belajar, les piano, les biola sampai les kepribadian. Semua kulakukan meski aku tak suka.

Bahkan aku sembunyi-sembunyi saat mengikuti ekstra bela diri sewaktu masih SMA karena Mas Arka tidak suka. Jadi aku tidak boleh melakukannya.

Setelah semua yang kulakukan, apa yang aku dapatkan? Mas Arka mengkhianatiku. Pria itu malah menikahi kakak kandungku sendiri. Padahal Mas Arka sudah berjanji akan menikahiku setelah aku lulus kuliah.

Lamunanku buyar saat terasa lelehan bening merembes membasahi pipiku. Cepat-cepat kuusap. Tak ingin Dirga melihatnya.

"Kau tahu, Nara? Kadang cinta bukan hanya tentang kebahagian, tapi juga luka yang harus ditanggung seumur hidup."

Apa? Aku tergelak. "Hah… jadi sebodoh itukah aku?" Ada rasa tidak terima di hatiku. Bagaimana mungkin semua pengorbananku dibalas dengan luka yang harus kutanggung seumur hidup?

"Ini tidak adil," kataku kemudian.

"Kamu pernah dengar kalimat, mencintaimu ibarat menikam jantung sendiri, sekarat di setiap detiknya tapi tak kunjung menemui ajal."

Mendengar kalimat itu, air mataku meluruh. Aku menunduk, mencoba menyembunyikan tangisku yang sudah tak bisa kutahan.

Ternyata aku sebodoh itu? Menyiksa diri sendiri untuk seseorang yang bahkan tidak peduli padaku.

Aku merasakan telapak tangan hangat Dirga menyentuh puncak kepalaku. "Apapun makna cinta yang Tuhan berikan, terimalah dengan ikhlas. Mungkin sekarang sakit, tapi seiring berjalannya waktu kamu akan terbiasa," kata pria itu lembut.

Aku mengangguk. "Hmm... akan aku coba."

Di balik sikap jahilnya, ternyata Dirga bijaksana juga seperti Om Dimas.

"Sudah jangan nangis, jelek," Dirga mengacak rambutku gemas.

Huft, dia sudah kembali ke mode dirinya yang biasa. Secepat itu!

"Ih... apa sih?" Kutepis tangan tangannya dari kepalaku.

Tiba-tiba dari arah dapur terdengar derap langkah orang berlari dan memanggil namaku.

Itu suara Tante Ratih.

"Iya Te, aku di sini." Kinara setengah berteriak.

"Astaga kamu di sini, Tante cari kamu di kamar." Tante Ratih terlihat panik.

"Ada apa, Bun? Kenapa panik begitu?" Dirga yang bertanya.

Wanita yang masih membawa belanjanya itu mendengus kasar. "Di luar ada Aluna. Dia mencari Kinara."

Apa? Untuk apa dia ke sini?

"Kamu mau menemuinya, atau Tante perlu membuat alasan?"

"Biar saya temui Tante, saya juga penasaran tujuannya ke sini."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   kembali pulang.

    Nara masih terpaku pada layar ponselnya ketika jendela mobilnya tiba-tiba diketuk dari luar. Dok… dok… “Nara! Buka pintunya!” Suara itu terdengar keras dan tergesa. Nara tersentak. Perlahan ia menoleh ke arah jendela. Di balik kaca, seorang pria berdiri sambil terus mengetuk pintu mobil. “Nara! Buka pintunya!” Jantung Nara berdetak tidak karuan. Tangannya gemetar ketika meraih handle pintu. Pintu mobil terbuka. “Dirga…?” suaranya nyaris tak terdengar. Ia menatap wajah pria itu dengan mata membesar. “Kamu… Dirga kan?” Wajahnya pucat pasi. Kaget, bingung, haru, semuanya bercampur menjadi satu. Pria itu langsung menariknya ke dalam pelukan. “Iya. Ini aku.” Pelukan itu hangat. Terlalu nyata untuk dianggap mimpi. Tangis Nara langsung pecah. “Akhirnya kamu pulang…Hiks… hiks…” isak tangisnya. Dirga mengeratkan pelukannya. “Maaf… sudah membuatmu khawatir.” Ia menghela napas panjang, seolah menahan banyak hal di dadanya. “Kita pulang sekarang.” Tanpa banyak bicara, Dirga mengg

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Memastikan kebenaran.

    “Nara… kamu benar-benar mau pergi sendirian?”Veronika menahan tangan Nara yang sudah hampir mencapai gagang pintu kamar.“Iya,” jawab Nara singkat sambil melepaskan genggaman sahabatnya. “Aku harus pergi… untuk Dirga.”“Kamu yakin itu benar Dirga?” Veronika menggeleng gelisah. “Jangan ambil risiko, Ra. Ingat, kamu lagi hamil.”Ia kini merentangkan kedua tangan, menghadang Nara keluar dari kamar.Nara mendengus kasar. Ia tahu Veronika hanya khawatir. Namun kesempatan ini terlalu penting untuk dilewatkan.Ini satu-satunya kesempatan memastikan apakah Dirga benar masih hidup.“Itu Dirga,” tegas Nara. “Ada fotonya. Kamu juga lihat sendiri, kan?”Veronika terdiam sesaat. Gambar yang mereka lihat tadi memang jelas foto Dirga. Sangat jelas untuk dianggap kebetulan. Namun tetap saja ada sesuatu yang terasa aneh. "Minggirlah!" Dengan terpaksa Nara mendorong bahu Veronika agar menyingkir dari hadapannya. Setelah itu ia melangkah keluar kamar dan menuruni tangga dengan cepat.“Kamu jangan geg

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Permintaan Rosidah dan perlawanan Nara

    “Saya tahu kamu yang menyebarkan rumor itu.” Tatapan Rosidah mengeras. “Tolong hentikan. Setidaknya ingat budi baik kami dulu.” Ruangan seketika sunyi. Beberapa detik Nara hanya menatap wanita tua di depannya. Tatapan itu tenang, terlalu tenang hingga justru terasa menekan. Lalu perlahan ia menyandarkan tubuhnya ke sofa. Senyum tipis menghiaai wajahnya. “Budi baik?” ulang Nara pelan, dahinya berkerut seolah merasa bingung dengan dua kata itu. Ia menggeleng kecil, lalu terkekeh lirih. “Boleh jelaskan? Saya agak lupa… budi baik yang mana, yang Anda maksud?” Alis Rosidah langsung berkerut tajam. Nafasnya memburu. "Saya tidak menyangka kamu bisa bersikap sesombong ini kepada saya," cibirnya. "Jangan lupa, dulu kalau bukan karena bantuan dari Tristan perusahaan Papamu sudah jatuh ke tangan keluarga Arka. Dan pabrik milik mamamu itu, saya-lah yang membantu sampai bisa sebesar sekarang," Nara mendesah berat. Ternyata umur tak menjamin kebijaksanaan seseorang. Rosidah tak me

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Tapi dia menghilang

    “Sekarang jelaskan semuanya. Kamu punya kesepakatan apa dengan suamiku? Bagaimana kamu bisa kenal Alex? Dan untuk apa kamu bertemu Tristan?” Begitu Arjuna tiba di rumahnya, Nara langsung memberondongnya dengan pertanyaan. Pria itu bahkan baru saja menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu ketika suara Nara menuntut jawaban tanpa jeda. Arjuna mengangkat wajahnya yang terlihat lelah. “Boleh ambil napas dulu, nggak?” keluhnya. “Minimal kasih minum dulu,” tambahnya sambil menyandarkan punggung. Nara mendengus kasar. Ia menoleh pada Veronika. “Ambilin minum.” Tanpa banyak bicara, Veronika segera berbalik menuju dapur. “Sekarang jawab!” desak Nara tak sabar. “Belum minum, Ra,” protes Arjuna. “Sudah napas, kan?” “Ya… sudah sih.” “Ya sudah. Sambil nunggu minumnya datang, kamu bisa jawab dulu.” Arjuna menghela napas panjang. Selain cerewet, Nara juga terkenal tidak sabaran—dan itu sudah sangat ia pahami sejak dulu. “Iya… aku jelasin.” Ia mengusap wajahnya sebentar sebelum mulai be

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Sebuah harapan.

    "---- malam ini juga habisi dia!” “Hah?” “Siapa?” Tristan yang sedang berdiri di dekat mobilnya mendadak menoleh tajam. Telinganya menangkap suara langkah terburu-buru dan pekikan pelan. Alisnya langsung berkerut. Perlahan ia membalikkan tubuhnya, menatap sekeliling area parkir dengan sorot mata penuh kecurigaan. Sunyi. Namun instingnya mengatakan ada seseorang di sekitarnya. Langkahnya bergerak perlahan, mendekati sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mobilnya. Di balik mobil itu.... Nara dan Veronika bersembunyi. Keduanya menahan napas. Jantung mereka berdegup begitu keras hingga rasanya bisa terdengar dari luar. Di depan mereka berdiri Arjuna. Pria itu mengangkat jari telunjuknya ke bibir. Memberi isyarat agar mereka diam. Jangan bersuara sedikit pun. Langkah Tristan semakin mendekat. Suara sepatunya bergema pelan di lantai parkiran. Nara mengepalkan tangannya erat. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala oleh kemarahan. Beberapa langkah lagi… Tristan akan menemukan

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Membalas dendam.

    “Nara, mulai besok kamu harus pulang lebih cepat.” Ucapan Rendy memecah suasana meja makan yang sebelumnya tenang. Nada suaranya terdengar tegas, tetapi terselip kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan. Nara yang sedang menyuap nasi ke mulutnya berhenti sejenak. Ia melirik sekilas ke arah ayahnya. “Di kantor lagi banyak kerjaan, Pah,” jawabnya santai, lalu kembali melanjutkan makan. Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Baru pada jam itu keluarga mereka bisa makan bersama, karena sejak beberapa hari terakhir mereka selalu menunggu Nara pulang dari kantor. “Papa nggak mau tahu.” Suara Rendy kali ini lebih keras. “Ada kerjaan atau tidak, jam empat sore kamu sudah harus di rumah.” Amelia menghela napas panjang. Ia sangat mengerti kegelisahan suaminya. Sejak serangan jantung beberapa waktu lalu, Rendy dipaksa beristirahat total di rumah. Pria yang biasanya berdiri paling depan mengurus perusahaan, kini hanya bisa memantau semuanya dari jauh. Yang membuatnya gelisah b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status