Share

Bertemu orang baru

Author: iva dinata
last update Last Updated: 2025-10-01 11:35:24

Mendadak lidahku kelu, tatapan pria itu sangat tajam dan dingin.

Namun detik berikutnya, wajah dingin itu tiba-tiba mengulum bibir menahan tawa. Membuatku mengernyit.

"Sudah gede, tapi tingkahnya kayak anak kecil." Pria itu mencibir.

Mataku sontak melebar. Mendadak aku jadi kesal. Tatapan matanya itu seperti mengejekku.

"Kamu siapa sih? Maksudnya apa bicara seperti itu?" tanyaku sambil mengangkat dagu.

"Harusnya aku yang tanya, kamu siapa? Berani sekali bermain di sawah milikku?"

Aku mengerutkan dahi, lalu menoleh pada Lestari. "Bukannya ini sawah Om Dimas?" bisikku.

"Bukan, Mbak Nara. Sawah Pak Dimas di sebelah sana. Yang sini milik Bu Rosidah. Neneknya Pak Tristan Elgara," jawab Lestari tak kalah lirih sambil melirik pria yang berdiri sambil berkacak pinggang.

"Oh…." Mengangguk agak malu tapi kucoba tetap bersikap angkuh. "Baru punya sawah aja sombong," gumamku yang mungkin terdengar oleh pria itu, terlihat wajahnya makin masam.

"Maaf, tadi aku nggak sengaja terjatuh." Aku meminta maaf dengan setengah hati.

Pria itu tersenyum sinis, "Sudah salah, sombong. Saudaranya Pak Dimas, pantes."

Apa maksudnya? Aku hendak menyahut tapi Lestari kembali berbisik. "Mbak gak usah diladenin, kita pergi aja. Masih harus antar makan siang buat yang kerja di sawah."

Aku membuang nafas kasar. "Ya sudah, kamu bantu aku berdiri." Kuulurkan tangan dan langsung disambut oleh Lestari. Namun, begitu aku coba berdiri tiba-tiba kaki kananku terasa sakit. "Aww..... kakiku!"

Rasanya, aku tidak kuat untuk berdiri.

"Kenapa Mbak? Kaki Mbak Nara terluka?" tanyanya Lestari panik.

Aku meringis sambil memegangi kaki. "Mungkin keseleo.

Lestari tampak bingung. "Aku gimana ini?" Mungkin dia takut dimarahi Tante Ratih.

Sementara, pria yang baru saja aku tahu namanya Tristan itu hanya memandang dengan dua kedua tangan di depan dada angkuhnya.

"Mbak, tunggu sebentar ya aku cari bantuan dulu." Lestari bergegas pergi.

Aku mencoba bersabar, menahan panas yang menyengat di kepala.

Tiba-tiba pria itu mendesah berat. Seolah merasa jengah dengan keberadaanku. Ya... mau bagaimana lagi. Kaki ini tidak bisa diajak kompromi.

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Tristan, sadar aku sedang menatapnya.

"Suka-suka aku, ini mata aku?" Terlanjur kesal, aku nyolot sekalian.

Ya… inilah aku. Sama sekali bukan gadis lemah lembut dan anggun seperti mbak Aluna. Mungkin karena itu Mas Arka lebih memilih Mbak Aluna.

Pria itu malah tersenyum. "Kamu pasti bukan warga asli desa ini?"

"Iya, aku dari Jakarta. Ada masalah?"

"Oh... pantes. Kamu pasti nggak tahu, di dalam sawah banyak binatang melata dan serangga," katanya dengan pandangan terarah pada sekitarku.

Astaga... yang benar? Reflek kuamati sekitar. Sepertinya memang benar. Hewan melata suka bersembunyi di balik rerumputan.

"Ular, belut, cacing dan kalajengking biasanya bersembunyi di dalam sawah," katanya sambil memegangi dagu.

"Stop!" Aku melotot padanya. "Jangan menakutiku!" Mendaadak aku jadi takut dan geli.

"Tolong bantu aku naik ke atas, kumohon...," rengekku tak peduli lagi dengan harga diri.

"Kenapa aku harus menolongmu?"

"Untuk kemanusiaan?" kataku sekenanya. "Aku manusia, kamu juga manusia, jadi harus saling menolong."

Pria itu tertawa, apa menurutnya ini lucu? Seandainya aku bisa jalan sendiri aku tidak akan meminta bantuannya.

"Kamu pasti pandai berbohong, pintar sekali mencari alasan."

Terserahlah dia mau bicara apa, yang penting aku harus keluar dari kubangan lumpur ini.

"Iya, kamu benar. Please, tolong aku."

Meski terlihat enggan, Tristan melepas sandalnya lalu turun ke area sawah. "Jangan bergerak!"

"Aah!" Aku memekik, kaget. Tak menyangka dia akan menggendongku. Takut jatuh, aku langsung melingkarkan tangan di lehernya.

"Jangan gerak-gerak! Kamu mau jatuh lagi?" Wajah Tristan terlihat tegang.

Aku menahan nafas, berusaha untuk tidak bergerak seperti perintahnya. Tapi….

"Kakiku gak bisa keluar," kata Tristan dengan tubuh miring-miring. Sepertinya kakinya masuk terlalu dalam.

"Astaga... apa yang kulakukan ini? Kenapa aku harus peduli sih," gerutunya tiba-tiba.

"Ke-ma-nu-si-a-an," kataku tegang.

Tubuhnya tiba-tiba oleng dan aku reflek mengeratkan peganganku di lehernya.

"Longgarkan sedikit tanganmu. Kamu mencekikku..."

Bruk!

Oh... tidak…

Kami terjatuh dengan tubuhku menindih tubuh pria bernama Tristan itu.

"Ugh, kamu berat sekali. Cepat bangun! Pinggangku bisa patah karena kamu." Tristan mengeram.

"Iya, iya maaf." Ingin marah, tapi tak tega juga melihatnya kesakitan.

Buru-buru aku bangun, tapi karena tubuh kamu penuh lumpur, aku kembali jatuh dan kali ini kepalaku membentur kepala Tristan.

Kami saling menatap untuk sepersekian detik.

"Astaghfirullah.... Nara! Kalian sedang apa?"

Aku menoleh, Om Dimas dan beberapa orang memandang ke arah kami.

"Loh... kenapa Mbak Nara jadi sama Mas Tristan jatuhnya?" Dengan polosnya, Lestari ikut bertanya.

"Ah.... itu... tadi...." Buru-buru aku bangun dan menggelengkan kepala. Anehnya pria itu malah diam saja. Bukannya ikut menjelaskan, dia malah tersenyum tipis.

"Sudah...sudah, ayo naik dulu." Om Dimas langsung turun membantuku berdiri. "Bisa jalan?" tanyanya.

Aku menggeleng, lalu menundukkan wajah, malu dilihat banyak orang.

"Ya sudah kita pulang." Om Dimas langsung menggendongku.

"Saya minta maaf atas kelalaian Nara. Nanti saya akan kirim orang untuk menanam ulang bibit padi yang rusak," kata Om Dimaa pada Tristan.

Kulirik pria itu mengangguk. "Iya, Pak Dimas."

"Dia itu Tristan Elgara, cucunya Nyonya Rosidah. Orang yang mengincar sawah warisan Eyang Uti." Tiba-tiba Om Dimas berbicara. "Sudah bertahun-tahun keluarganya berniat membeli sawah peninggalan Eyang Uti, tapi Om tidak mau menjualnya."

Kembali Om Dimas menjelaskan sesuatu yang menurutku tidak perlu aku ketahui. Jadi aku hanya mengangguk saja.

"Jangan dekat-dekat dengannya!" kata Om Dimas lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Sebuah harapan.

    "---- malam ini juga habisi dia!” “Hah?” “Siapa?” Tristan yang sedang berdiri di dekat mobilnya mendadak menoleh tajam. Telinganya menangkap suara langkah terburu-buru dan pekikan pelan. Alisnya langsung berkerut. Perlahan ia membalikkan tubuhnya, menatap sekeliling area parkir dengan sorot mata penuh kecurigaan. Sunyi. Namun instingnya mengatakan ada seseorang di sekitarnya. Langkahnya bergerak perlahan, mendekati sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mobilnya. Di balik mobil itu.... Nara dan Veronika bersembunyi. Keduanya menahan napas. Jantung mereka berdegup begitu keras hingga rasanya bisa terdengar dari luar. Di depan mereka berdiri Arjuna. Pria itu mengangkat jari telunjuknya ke bibir. Memberi isyarat agar mereka diam. Jangan bersuara sedikit pun. Langkah Tristan semakin mendekat. Suara sepatunya bergema pelan di lantai parkiran. Nara mengepalkan tangannya erat. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala oleh kemarahan. Beberapa langkah lagi… Tristan akan menemukan

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Membalas dendam.

    “Nara, mulai besok kamu harus pulang lebih cepat.” Ucapan Rendy memecah suasana meja makan yang sebelumnya tenang. Nada suaranya terdengar tegas, tetapi terselip kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan. Nara yang sedang menyuap nasi ke mulutnya berhenti sejenak. Ia melirik sekilas ke arah ayahnya. “Di kantor lagi banyak kerjaan, Pah,” jawabnya santai, lalu kembali melanjutkan makan. Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Baru pada jam itu keluarga mereka bisa makan bersama, karena sejak beberapa hari terakhir mereka selalu menunggu Nara pulang dari kantor. “Papa nggak mau tahu.” Suara Rendy kali ini lebih keras. “Ada kerjaan atau tidak, jam empat sore kamu sudah harus di rumah.” Amelia menghela napas panjang. Ia sangat mengerti kegelisahan suaminya. Sejak serangan jantung beberapa waktu lalu, Rendy dipaksa beristirahat total di rumah. Pria yang biasanya berdiri paling depan mengurus perusahaan, kini hanya bisa memantau semuanya dari jauh. Yang membuatnya gelisah b

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Menjadi wanit tangguh

    Kematian Dirga menjadi pukulan paling telak dalam hidup Nara. Lebih menyakitkan lagi, jasad suaminya tak pernah ditemukan. Pesawat itu jatuh di atas pegunungan terjal, tertutup kabut dan jurang curam. Tim evakuasi kesulitan menjangkau lokasi. Setiap berita yang muncul hanya berisi kalimat yang sama: proses pencarian masih berlangsung. Seminggu berlalu, namun bagi Nara, rasanya seperti setahun. Setiap hari ia memantau media sosial resmi maskapai. Duduk diam dengan ponsel di tangan, menatap layar seolah dari sana keajaiban bisa muncul. Hanya itu yang mampu ia lakukan, sementara tubuhnya semakin melemah karena kehamilan yang rapuh. Dokter sudah berulang kali mengingatkan. “Usahakan tetap tenang. Jangan stres, jangan terlalu lelah. Kandungan Anda lemah,” ucap dokter siang itu dengan nada serius. Nara hanya mengangguk. Bibirnya pucat, matanya kosong. Meski hatinya hancur, ia memaksa dirinya untuk percaya—Dirga akan pulang. Setiap malam ia berdoa, memohon pada Tuhan agar suaminya dij

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Berita buruk.

    “Nara…”Suara lembut itu menyusup ke dalam kesadarannya yang masih samar. Pelan, sangat pelan, Nara membuka mata. Langit-langit putih menyambut pandangannya. Aroma disinfektan yang tajam merayap masuk ke indra penciumannya. Dan ia yakin kini dirinya berada di rumah sakit. “Sayang… kamu sudah sadar?” Suara yang sama kembali terdengar. “Alhamdulillah… akhirnya setelah empat jam kamu sadar juga.”Empat jam? batinnya. Kelopak mata Nara yang sayu perlahan terbuka sempurna. Pandangannya masih buram, namun sosok wanita di samping ranjang mulai terlihat jelas.“Bunda…” lirihnya pelan. Kepalanya terasa berat, seperti dipenuhi kabut tebal yang belum sepenuhnya tersibak.“Iya, sayang… ini Bunda.” Ratih mengusap pipi Nara dengan telapak tangan yang hangat. Jemarinya lembut, tetapi di balik sentuhan itu ada getar yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.Hati Ratih serasa teriris melihat wajah polos menantunya. Wajah yang biasanya cerah kini pucat, bibirnya kering, dan matanya masih menyimpan si

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   Murka nenek Rosidah.

    Plak! Suara tamparan itu menggema keras di ruang tengah rumah mewah kediaman keluarga Anggada. Udara seolah membeku, menyisakan ketegangan yang menggantung di antara dinding-dinding tinggi berlapis marmer. “Masih belum sadar apa kesalahanmu?” suara Rosidah bergetar menahan amarah setelah telapak tangannya mendarat di wajah tegas Tristan. Sudah lebih dari setengah jam wanita sepuh itu menasihati, bahkan menghardik. Namun Tristan tetap berdiri kaku, tak bergeming, tak mau mengakui kesalahannya. “Aku tidak salah.” Kalimat yang sama kembali meluncur dari bibirnya, keras kepala. “Aku hanya membantu Tuan Abimanyu yang ditipu Dirga.” Rosidah mengembuskan napas panjang, berat. Kesabarannya benar-benar diuji. Di usia senjanya, ia tak menyangka cucunya yang sudah tiga puluh tahun masih bersikap seperti anak kecil, menutup mata pada kesalahan sendiri. “Apa kamu bilang? Abimanyu ditipu?” ulang Rosidah dengan tawa pendek penuh sindiran. “Apa kamu bodoh? Sepolos itu kamu sampai percaya keboh

  • Terjerat Cinta Terlarang Sepupuku   pembalasan

    “Lalu sekarang kamu mau mengundurkan diri?” Suara Rendy terdengar datar, tapi tatapannya tajam menembus gadis yang berdiri dengan kepala tertunduk di hadapannya. “Maafkan saya, Pak…” Veronika menunduk lebih dalam. Siang itu ia menerima kabar bahwa perwakilan perusahaan Kertaradjasa membatalkan kerja sama tanpa alasan yang jelas. Dan tiba-tiba, sekertarisnya datang membawa surat pengunduran diri. “Jadi kamu mau menyerah?” sahut Amelia pelan sambil mengupas jeruk untuk suaminya. Ada sedikit raut kecewa di wajah wanita itu. Ia tidak menyangka mental Veronika selemah itu. Sama sekali tidak sekuat yang Nara katakan.“Kami mau mengorbankan masa depan adikmu hanya karena hinaan mereka?” tambahnya. Veronika menggigit bibirnya, hatinta menolak. keputusannya tapi ia juga tak punya pilihan. “Saya tidak ingin masalah pribadi saya berdampak pada perusahaan. Saya sangat menyesal… karena gara-gara saya, proyek itu gagal.” “Mereka yang tidak profesional, mencampur adukan masalah pribadi dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status