Mag-log inSebuah villa mewah berdiri di gagah di atas perbukitan. Bangunan dua tingkat dengan banyak jendela. Dikelilingi oleh tumbuhan hijau dan pohon besar.
Larissa turun dari mobil dan meresapi kesejukan. Udara ini menerpa tubuhnya. Angin meniupkan rambutnya yang membelai wajahnya. Larissa tersenyum. Ia sungguh menyukai tempat ini."Kemarilah, sayang. Kita masuk ke dalam." Ajak Paskal mengulurkan tangan.Sambil bergandengan, keduanya masuk ke dalam villa yang besar ini. P"Tepat sekali!" Sahut Farhan saat Paskal menyebutkan nama seorang wanita.Paskal tersenyum. Ia lalu melihat lagi nama pemilik nomor ponsel anonim itu beserta dengan alamat rumahnya. Pas sekali. Paskal sudah menduga jika wanita itu memang adalah dalang dari semua kekacauan."Jangan lupakan jika dia pernah menyebarkan berita perselingkuhan tuan dan juga nyonya Lila." Sambung Farhan. Sontak pria ini langsung berdeham saat mendapatkan tatapan tajam pria itu. "Maaf, maksud saya Lila."Mendengar itu, kepala Paskal jadi sakit. Jejak digital memang sulit dihilangkan. Tapi yang paling membuatnya mengelus dada adalah perilaku gilanya di masa lalu.Astaga.. jangan sampai citra Paskal memburuk di depan publik. Terlebih dia akan mencalonkan diri sebagai anggota dewan sekarang."Pak Farhan. Saya ingin anda melakukan sesuatu." Ucap Paskal."Akan saya lakukan, tuan."Paskal menyuruh pria itu mendekat dengan jentikkan jarinya. Farhan lal
Larissa menekan nomor pengirim pesan tersebut. Tak aktif. Wanita ini kembali memasat kiriman foto yang ada di ponselnya.Paskal dan wanita asing tampak berciuman di sebuah ruangan. Lampu yang remang dan ada tulisan di dinding ruangan tersebut. "Neptunus.""Sepertinya aku pernah mendengar itu. Tapi nama apa? Apakah itu nama restoran?" Kemarahan Larissa berubah menjadi penasaran.Ia lalu mengetik nama Neptunus di pencarian internet. Ternyata sebuah klub malam."Klub malam? Apa mas Paskal masih sering kesana?" Larissa mengingat-ingat.Rasanya setelah Paskal menduduki jabatan CEO, pria itu tak pernah lagi keluyuran. Pria itu sibuk bekerja dan mengembangkan perusahaan.Dan itu artinya.. foto yang dikirimkan ini adalah foto yang lama. Ya, Larissa mengerti. Pesan-pesan ini dikirimkan hanya untuk membuatnya panas. "Tapi aku tidak boleh gegagah. Ada maksud dari orang ini mengirimkan pesan." Gumam Larissa pelan.Paginya,
Pesan misterius masuk ke ponsel Larissa. Video itu dibuka, mata Larissa terbelalak. Dia lalu mengatup mulutnya karena terkejut. Adegan di dalam video tersebut membuatnya ingin muntah.Ponsel itu terlepas begitu saja dari tangannya."Tunggu saja. Aku sudah menyuruh penjaga membeli makanan." Seru Paskal berjalan dari luar. Ia lalu keheranan setelah melihat Larissa berdiri mematung. "Ada apa, sayang?"Tak ada jawaban dari Larissa membuat Paskal keheranan. Ia lalu tak sengaja melihat ponsel Larissa yang tergeletak di bawah."Ada apa?"Paskal mengambil ponsel tersebut dan mendengar suara aneh dari dalam sana. Telinga Paskal melesat. Suara itu tampak familiar.Ia lalu membalik ponsel Larissa dan menegang. Di layar tersebut sedang terputar video yang menunjukkan aktivitas hubungan dewasa.Paskal lalu melotot. Disana ada seorang pria yang tengah bercinta dengan wanita. Dalam posisi duduk, dimana wanita itu tengah membelakangi ka
Sebuah villa mewah berdiri di gagah di atas perbukitan. Bangunan dua tingkat dengan banyak jendela. Dikelilingi oleh tumbuhan hijau dan pohon besar.Larissa turun dari mobil dan meresapi kesejukan. Udara ini menerpa tubuhnya. Angin meniupkan rambutnya yang membelai wajahnya. Larissa tersenyum. Ia sungguh menyukai tempat ini."Kemarilah, sayang. Kita masuk ke dalam." Ajak Paskal mengulurkan tangan.Sambil bergandengan, keduanya masuk ke dalam villa yang besar ini. Pintu yang dibuka oleh Paskal membuat Larissa takjub akan penampakan villanya.Ruangan ini begitu luas dan lapang tanpa banyak perabotan. Larissa berjalan mengelili sudut villa ini. Menyentuh jendela, meja hingga kursi.. matanya menyapu pemandangan luar saat jendela itu terbuka.Di depan sana ada hamparan lereng bukit yang hijau. Larissa yakin pemandangan akan lebih menakjubkan pada malam hari."Kamu suka tempat ini?"Paskal mendekatkan dirinya dan memeluk Lari
Larissa disibukkan dengan sidang akhir. Ia menyelesaikan sidang akhir dengan nilai memuaskan. Sekarang tinggal menunggu wisuda saja. Rencananya pesta kelulusan itu akan dirayakan satu bulan dari sekarang.Sembari menunggu wisuda, Larissa juga sibuk meeting dengan wedding organizer. Tak ada permintaan berlebihan dari calon istri Alvaro ini. Maklum saja. Ini pernikahannya yang ketiga dan kedua kalinya pada pria yang sama. Larissa ingin pernikahan yang sederhana tapi penuh khidmat. Paskal pun tak mempermasalahkannya. Yang terpenting adalah kebahagiaan Larissa dan juga putrinya Chiara."Setiap weekend aku akan menginap disini." Paskal menjentikkan jarinya. Itu ide bagus sekali.Larissa sampai geleng-geleng kepala. Terserah saja apa maunya. Asal tidak mencuri kesempatan."Kamu sudah memilih gaun pengantinmu?"Sudah Larissa duga. Pria ini memepet jarak duduknya pada Larissa. Pintar sekali. Padahal ada Chiara di sisinya, tapi Paskal le
Tangan Larissa gemetaran. Entah kekuatan dari mana ia dapatkan, Larissa bisa mengangkat pot bunga yang berhias di trotoar.Pot bunga keramik yang besar dan berat itu ia hantamkan ke kepala pria tambun yang menyerang Paskal.Sontak pria itu terjatuh dengan kepala berlumuran darah. Sementara, Larissa jatuh terduduk gemetaran."Larissa!" Paskal bangkit dari posisinya dan membantu wanitanya berdiri."Tanganmu.." kekuatan Larissa bangkit lagi saat melihat noda darah mengaliri telapak tangan Paskal. "Terluka sedikit."Paskal mengambil sapu tangan yang ada di sakunya dan membalut telapak tangannya."Kita pergi sekarang sebelum mereka sadar." Ajak Paskal.Larissa mengangguk. Keduanya berjalan menuju mobil dan pergi dari lokasi kejadian.Tujuan utama adalah rumah sakit. Luka Paskal diobati. Tangan itu dipasang oleh perban. Setelah itu, Paskal mengantar Larissa pulang ke rumah."Sudah malam, menginaplah







