Teilen

88. Diculik

last update Veröffentlichungsdatum: 25.08.2026 06:43:57

"Dia.. tidak mungkin!"

Lila menatap tak percaya. Wanita yang memakai gaun merah muda yang sedang berjalan di belakang suaminya adalah Larissa.

"Sial! Sedang apa wanita itu?" Lila terkepal marah.

Apalagi suaminya itu! Apa yang sedang ia lakukan, hah?

Paskal tampak menggendong seorang bayi yang memakai baju merah muda. Bayi perempuan dimana Paskal terlihat sangat menyayanginya.

Beberapa kali Paskal mencium dahi dan pipi bayi tersebut. Pria itu juga
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Puput Oktaria
aku udh deg2an tk pkir yg mau diculik Chiara. trnyata Lila. y udh lanjutkan thor. culik trus sklian dibunbun aja gpp. hehehe
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   89. Bekerja Sama

    "Ka-kamu??"Tubuh Lila menegang seketika. Raut wajahnya berubah panik. Matanya menggelepar hebat.Pria yang ada di hadapannya telah bangkit dari kematian. Kebakaran besar itu tak membunuh Bram. Tidak! Pria itu muncul kembali setelah memberikan banyak ancaman. Separuh wajah Bram terluka parah. Seakan menjadi saksi dia bisa menyelamatkan diri dari musibah yang ingin merenggut nyawanya."Apa kabar, Nyonya Alvaro?" Bram memandang sinis.Pria ini bergerak dan menampar Lila.Plak!Lila menjerit memalingkan wajahnya. Tercetak lima jari pada pipi kiri Lila."Bram.. kamu?""Terkejut karena aku masih hidup, huh? Pasti." Bram terkekeh. "Satu bulan ini anak buahmu mencariku. Sepertinya mereka belum yakin jika aku sudah mati. Jadi daripada membuat mereka penasaran, lebih baik aku muncul dan mencekik langsung otak dari mereka.""Jangan, Bram!" Jerit Lila ketakutan. "Kumohon jangan bunuh aku.. kasihanilah putramu."

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   88. Diculik

    "Dia.. tidak mungkin!" Lila menatap tak percaya. Wanita yang memakai gaun merah muda yang sedang berjalan di belakang suaminya adalah Larissa."Sial! Sedang apa wanita itu?" Lila terkepal marah. Apalagi suaminya itu! Apa yang sedang ia lakukan, hah?Paskal tampak menggendong seorang bayi yang memakai baju merah muda. Bayi perempuan dimana Paskal terlihat sangat menyayanginya.Beberapa kali Paskal mencium dahi dan pipi bayi tersebut. Pria itu juga tersenyum. Sebuah kasih sayang yang bahkan Azka tak pernah dapatkan."Apa mungkin anak itu adalah anak dari Paskal dan Larissa? Oh, bajingan kamu, Pas!" Lila menggertak marah.Lupakan dulu ke toilet, Lila mengejar tiga orang itu yang berjalan ke arah luar rumah sakit.Sialan! Padahal Lila sangat senang saat mengetahui bi Ira mengundurkan diri bekerja di rumahnya. Tapi rupanya, dia malah menjadi pelayan setia Larissa.Tak diragukan lagi. Ini adalah alasan kena

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   87. Ketahuan

    Pagi ini, Chia sudah cantik memakai baju berwarna pink dengan sepatu dan topi senada. Ucapkan terima kasih pada Paskal karena memberikan oleh-oleh pakaian bayi dari desainer termahal."Nona Chiara sudah siap? Aduh lucunya.. kamu cantik sekali seperti mamamu.." puji bi Ira tersenyum lebar.Larissa tertawa pelan. "Bi Ira pandai memuji. Kalau begitu kita pergi sekarang saja. Aku sudah memesan taksi online."Sama dengan Chiara, Larissa juga memakai gaun berwarna merah muda yang dibelikan oleh Paskal. Kedua bidadari ini sangat serasi dalam balutan yang sama."Nona. Sepertinya taksinya sudah tiba." Seru bi Ira saat mendengar suara deru mobil dari luar."Oh, iya. Kemari sayangku.."Larissa menggendong Chiara dalam pelukannya. Bi Ira bertugas membawa tas ransel berisi perlengkapan nona muda.Saat menuju pintu depan, bi Ira terkejut. Bukan taksi yang datang melainkan Paskal."Pagi, tuan." Sapa bi Ira."Pagi. Kal

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   86. Curiga

    Larissa meringankan langkah kakinya menuju sofa tidur Paskal dan Chiara. Dengan perlahan, ia mengambil Chia yang sedang tertidur tengkurap di atas Paskal. Larissa tersenyum saat bayi manis itu menggeliat. Chia seperti menemukan kenyamanan saat tertidur dalam dekapan Paskal. Dalam satu pegangan, Larissa berhasil menyentuh punggung putrinya. Namun saat wanita ini ingin menggendong Chiara, Larissa jadi terkesiap saat Paskal menahan tangannya. "Larissa!" Paskal terkejut. Tangan pria ini berada di atas tangan Larissa yang tengah memegang punggung putrinya. "Ma-maf.." Larissa lekas menarik tangannya. "Aku cuma ingin mengambil Chia. Dia sudah tertidur." "Oh.." Paskal ikut tersadar jika sudah tertidur bersama bayi ini. Ia pun menggendong Chiara lagi dan menyerahkannya pada Larissa. "Kamu ketiduran, sayang. Maaf mama terlalu lama." Larissa mencium pipi anaknya. "Bagaimana k

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   85. Teror

    Brakk!! Lila membanting satu kardus itu ke taman samping rumah. Dengan percikan korek api, kardus itu terbakar bersama dengan hal yang ada di dalamnya. Wajah wanita itu memerah. Hampir sama dengan kobaran api yang terpantul di manik matanya. Tangan Lila mengepal dengan erat. Berani sekali orang tersebut meneror Lila, hah? Sudah lebih dari satu bulan. Ada empat paket yang datang dan menerornya. Mulai dari bangkai, gaun tidur, foto-foto dan yang terakhir.. transkrip pembicaraan mesra Lila dengan seseorang. Sial! Siapa yang berani melakukan ini padanya? Sambil menekan nomor di ponselnya. Lila memaki lagi. Kali ini lebih keras. "Mau sampai kapan ini terjadi, huh?? Aku tidak mau dengar cerita kalian tak bisa mendapatkan pelakunya! Singkirkan orang-orang yang mengancamku!" Tut. Sambungan dimatikan secara sepihak. Giliran penjaga yang terkena kemarahan Lila. Wanita ini pe

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   84. Perhatian

    Pelan-pelan Larissa membuka matanya. Tangan kanan itu dibuat mengusap ke pembaringan. Aman. Artinya Larissa tengah tertidur di atas ranjang yang empuk. Tangan satu lagi ia angkat ke atas. Mengusap wajahnya yang lekat karena mengantuk. Namun seperkian detik Larissa membuka bulat matanya. Ternyata ada satu selang infus yang terikat di tangan kirinya. Sontak Larissa memandang itu dengan terkejut. "Nona sudah sadar?" Larissa menoleh ke samping saat mendengar suara wanita menyapa. "Saya dokter Andrea." Ucap dokter wanita berambut coklat ini tersenyum. "Tadi nona pingsan dan terjatuh di tangga. Tuan Paskal memanggil saya untuk mengobati nona." Larissa terdiam. Wanita ini mengingat. Rupanya kejadian jatuh tadi bukanlah mimpi semata. "Anda mengalami demam tinggi. Sebab itulah saya memberikan obat lewat cairan infus. Syukurlah sekarang demam nona sudah turun." Sambungnya. "Terima kasih, d

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status