Share

Bab 8

Author: Xaviera
Setelan jas Feri yang biasanya rapi kini penuh debu, bahkan ada darah di pelipisnya. Napasnya terengah-engah dan menyipitkan matanya saat melihat Jesica serta Dahlia.

Ini pertama kalinya Jesica melihat kondisi Feri seberantakan ini. Terlihat jelas, Feri langsung mengerahkan orang untuk mencari mereka setelah menyadari mereka menghilang saat kecelakaan dan datang ke sini secepat mungkin.

Waktu bom hanya tinggal satu menit sebelum meledak. Karena hanya cukup untuk menyelamatkan satu orang, Feri langsung memilih Dahlia tanpa ragu sedikit pun. Dia segera membongkar bom di tubuh Dahlia, lalu berkata tanpa mengangkat kepala, "Jesica, aku akan kembali untuk menyelamatkanmu setelah bawa dia keluar."

Jesica hanya tersenyum. Mungkin karena tidak mencintai Feri lagi, sehingga dia sudah tidak merasa sakit hati.

Setelah bom di tubuh Dahlia berhasil dilepas, hitungan mundur tinggal 20 detik.

Dahlia mencengkeram lengan Feri dengan erat dan berkata dengan suara bergetar, "Kak, cepat pergi! Sebentar lagi meledak!"

Untuk pertama kalinya, Feri mendorong Dahlia. Dia menyuruh Dahlia keluar terlebih dahulu, lalu berbalik dan hendak membongkar bom di tubuh Jesica.

Namun, Jesica malah menangkap tangan Feri dan mendorongnya menjauh, lalu berkata dengan tenang, "Feri, kamu bawa dia pergi saja. Ingat ini. Mulai hari ini, aku nggak butuh kamu lagi. Nyawaku juga nggak ada hubungannya sama kamu. Aku bukan orang yang nggak dicintai. Kalau kamu nggak mencintaiku, masih banyak orang yang mencintaiku."

Feri tertegun.

Dahlia yang berdiri di samping menangis histeris. "Kak, aku takut. Kalau kamu nggak pergi, aku juga nggak akan pergi."

Waktu terus berjalan. Jika tidak segera keluar, mereka bertiga akan mati di tempat ini. Di saat genting itu, Feri akhirnya tetap menggendong Dahlia dan berlari keluar.

Jesica memejamkan mata, lalu jemarinya bergerak cepat untuk meraba bom. Dia pernah mengambil kelas pilihan tentang bahan peledak saat kuliah.

Klik.

Di detik terakhir, Jesica berhasil memutuskan pemicu bomnya. Namun, ledakan tetap terjadi. Saat gelombang panas menghempasnya ke udara, dia seolah-olah melihat sosok Feri berbalik kembali saat kesadarannya kabur.

....

Rumah sakit.

Saat membuka mata, Jesica merasakan sakit yang menusuk dari lengannya.

Feri duduk di samping ranjang. Begitu melihat Jesica sadar, dia segera menahannya, "Jangan bergerak, kamu baru saja selesai mendonorkan kulit untuk Lili."

"Apa kamu bilang?" seru Jesica. Dalam keadaan setengah sadar, dia hampir mengira dirinya salah dengar.

Feri terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada yang merasa agak bersalah, "Lengan Lili terluka akibat ledakan, dia nggak mau ada bekas luka. Warna kulitmu paling mirip dengannya, jadi diambil sebagian untuk dicangkok ke tempatnya."

Jesica menatap Feri dengan tatapan tidak percaya. "Feri, kamu sudah tanya aku?"

Feri mencoba menenangkan dengan berkata, "Aku akan kasih kamu kompensasi. Bukannya kamu selalu ingin kencan denganku? Setelah keluar dari rumah sakit ...."

"Siapa yang peduli! Nggak ada orang yang sekejam kamu!" Jesica tiba-tiba mencabut jarum infus, hingga darah mengalir di punggung tangannya.

Feri tertegun.

Mata Jesica memerah, lalu berkata dengan suara bergetar, "Dahlia adalah permata di telapak tanganmu, aku ini cuma lumpur di bawah kakimu ya? Kamu begini hanya karena aku mencintaimu .... Kamu begini hanya karena aku ...."

Jesica tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.

Dada Feri terasa sesak, lalu teringat dengan kalimat yang diucapkan Jesica saat di gudang.

"Kamu nggak mencintaiku, masih ada banyak orang yang mencintaiku."

Feri baru saja hendak berbicara, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering.

Terdengar suara asisten yang panik dari seberang telepon. "Pak Feri, kalung edisi terbatas milik Putri Diana yang selama ini diinginkan Nona Dahlia akan dilelang malam ini di Negara Fercon. Apa kamu akan ke sana ...."

Feri mengiakan, lalu menutup telepon. Dia menyimpan ponselnya, lalu menatap Jesica. "Beberapa hari ini aku akan ke luar negeri. Nanti aku bawakan hadiah untukmu."

Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Tenang saja. Aku juga akan tepati janji soal kencan itu, aku nggak akan ingkar janji."

Usai bicara, Feri membuka pintu dan segera pergi.

Saat pintu tertutup, Jesica akhirnya tidak bisa menahan dirinya lagi. Tubuhnya perlahan-lahan meringkuk, lalu memeluk dirinya sendiri dan air matanya mengalir deras.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 24

    Suasana di taman itu tiba-tiba menjadi hening.Feri berdiri di batas persilangan antara cahaya dan bayangan dengan jas kusut yang ternoda kopi dari pesawat dan rambut yang biasanya rapi pun kini jatuh berantakan di keningnya."Pak Feri mau merebut pengantin?" kata Michael sambil menyipitkan mata.Feri tidak memedulikan Michael, melainkan langsung berjalan ke depan Jesica dan berlutut. Dia berkata dengan suara yang serak, "Aku tahu aku pantas mati, tapi tolong lihat aku sekali lagi ...."Para tamu langsung gempar. Pemimpin Keluarga Sardi di Jardonia yang merupakan pria dingin dan anggun itu kini malah berlutut di hadapan semua orang.Jesica mundur setengah langkah. "Feri, jangan begitu.""Aku sudah menulis 300 surat cinta. Mulai dari saat kita baru bertemu, menikah, sampai ...."Tenggorokan Feri bergerak, lalu melanjutkan, "Sampai hari-hari saat aku mencintaimu, tapi nggak berani mengakuinya."Tangan Feri gemetar saat membuka kotak itu, sehingga lembaran surat yang putih itu beterbangan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 23

    Dahlia terpaku di tempat. "Apa?""Karena kamu sudah menikah dengannya, jalani saja dengan baik."Nada bicara Feri terdengar tenang saat mengatakan itu, lalu menatap pria tua di depannya. "Nggak boleh sakiti dia. Kalau nggak, kamu tahu akibatnya."Pria tua itu terus menganggukkan kepala, lalu melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Dahlia. "Sayang, ayo pulang. Aku akan perlakukan kamu dengan baik."Dia berpikir meskipun tidak memukul Jesica, dia juga masih memiliki banyak cara untuk menyiksa Jesica. Apalagi penampilannya jelek dan tua, sedangkan Jesica cantik seperti bunga.Jesica berusaha memberontak seperti orang gila. "Feri, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kamu pernah bilang akan selalu melindungiku! Kamu bilang aku orang terpenting bagimu! Kak ... aku salah .... Kak ...."Tangisan histeris Jesica terdengar makin menjauh, tetapi Feri tidak menoleh dan masuk ke ruang kerja.Di ruang meditasi, Feri yang turun tangan sendiri membakar semua barang yang berhubungan dengan Da

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 22

    Di kafe, Michael mengaduk kopinya dengan tenang. Namun, kalimat pertama Feri membuat gerakannya terhenti."Kembalikan dia padaku, aku bisa menukar dengan apa pun," kata Feri.Michael mengernyitkan alis. "Apa pun?"Feri berkata dengan suara serak, "Ya. Saham Grup Sardi, tanah di Jardonia, asetku di luar negeri. Bahkan ...."Dia menutup mata sejenak, lalu melanjutkan, "Aku bisa membawa kembali Lili, biar dia sendiri yang meminta maaf pada Jes."Michael tiba-tiba tersenyum, lalu meletakkan cangkir kopi dan mata birunya menyiratkan sindiran. "Feri, sampai sekarang pun kamu masih belum paham ya? Jesica bukan barang dagangan. Dia itu seorang manusia yang punya darah, jiwa, dan bisa merasakan sakit serta menangis. Kamu pernah memiliki seluruh hatinya, tapi kamu yang hancurkan semuanya dengan tanganmu sendiri."Setelah mengatakan itu, Michael berdiri dan menatap Feri dari atas. "Sekarang giliranku yang mencintainya. Sedangkan kamu ...."Michael tersenyum dengan pelan. "Hanya bisa menjalani sis

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 21

    Tangisan di ujung telepon tiba-tiba berhenti, lalu Dahlia berkata dengan suara bergetar dan sangat tajam, "Kak ... apa maksudmu?"Feri memejamkan mata, lalu berkata dengan suara rendah dan lelah, "Dulu aku yang terlalu memanjakanmu. Karena sudah menikah, kamu jalani saja hidupmu dengan baik. Kalau benar-benar nggak tahan lagi ...."Dia terhenti sejenak, "Bilang sama Ayah Ibu. Sekarang aku nggak punya waktu untuk mengurus hal ini. Selain itu ...."Feri tersenyum pahit, lalu melanjutkan, "Kalau aku ikut campur, takutnya Jes lebih nggak akan memaafkanku."Napas Dahlia menjadi terengah-engah, lalu teriakan histeris pun pecah, "Kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada Jesica?"Feri terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata dengan pelan, "Ya."Kata itu seperti pisau yang memutuskan sisa akal sehat Dahlia. Dia berteriak dengan suara yang hampir menembus gendang telinga, "Nggak mungkin! Jelas-jelas yang kamu cintai itu aku, mana mungkin bisa menyukai dia! Kamu bohong! Kamu pasti menipuku!"Dengan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 20

    Saat bau cairan disinfektan menusuk hidungnya hingga terasa sakit, Feri membuka mata dan melihat langit-langit berwarna putih. Dia mencoba menggerakkan jarinya, tetapi seluruh tulangnya terasa sakit."Sudah bangun?"Lukman yang duduk di tepi ranjang sedang mengupas apel dengan tenang dan cahaya dingin dari pisau memantul di matanya. "Beruntung sekali. Sudah sampai segininya saja masih belum mati."Tenggorokan Feri terasa kering. "Mana Jes?"Lukman tersenyum sinis. "Di ruang sebelah, merawat Michael. Aku sengaja bakar rumah dan memberi kalian obat, membuat kalian lemas dan nggak bisa lari. Tapi, orang pertama yang diselamatkan Jes adalah Michael."Setelah berkata demikian, kulit apel yang sedang dikupas Lukman langsung lepas dan jatuh ke tempat sampah. "Kamu nggak lihat ekspresinya yang cemas itu. Dia sudah menjaga semalaman, mata pun sudah bengkak karena menangis."Setiap kata Lukman seperti pisau tumpul yang perlahan-lahan menyayat hati Feri. Dia teringat dengan tatapan dingin Jesica

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 19

    Saat terdengar ketukan pintu, Feri sedang berdiri di depan jendela dan rokok di antara jarinya sudah hampir habis. Saat dia membuka pintu, Lukman bersandar di kusen dan memegang segelas wiski berwarna amber."Kamu mukul Michael?" tanya Lukman sambil mengernyitkan alis dan menyerahkan gelas itu.Feri tidak suka minum alkohol dan biasanya hanya minum teh, tetapi kini dia butuh sesuatu untuk membius perasaan yang bergolak di dadanya. Dia menerima gelas itu dan menenggak habis. Sensasi panas dari minuman keras langsung membakar tenggorokannya, sama seperti sensasi sesak napas saat melihat Jesica dan Michael berpelukan dengan mesra."Dia dan Jes sedang di ranjang, aku nggak tahan melihat itu," kata Feri dengan suara yang sangat serak."Jes?"Lukman tiba-tiba tertawa, tetapi tatapannya sangat dingin. "Sungguh luar biasa. Sudah enam tahun, aku baru kali ini dengar kamu panggil adikku seperti itu."Karena efek alkohol sudah mulai terasa, Feri bersandar pada kusen dan semua emosi yang tertahan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 16

    Feri langsung tampak tegang. "Kamu tahu nggak kalau Jesica itu istriku?"Michael berpura-pura terkejut sambil menatap Jesica. "Benarkah? Tapi, kenapa aku dengar kamu dan Jes sudah cerai?"Dia menunduk dan mencium puncak kepala Jesica, lalu berkata dengan nada penuh kasih, "Jes, mantan suamimu datang

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 9

    Jesica dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Saat keluar rumah sakit, dia menerima telepon dari kedutaan yang mengabarkan izin tinggal permanen di Negara Jumania sudah disetujui. Itu satu-satunya kabar baik yang didengarnya belakangan ini.Saat Jesica berdiri di depan kedutaan, sinar matahari beg

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 7

    Beberapa hari berikutnya, untuk pertama kalinya Feri tetap tinggal di rumah. Sepertinya dia juga menyadari suasana hati Jesica sedang buruk. Kejadian langkanya, dia bahkan menyuruh Dahlia untuk meminta maaf pada Jesica.Dahlia berdiri di depan Jesica, lalu berkata dengan nada sembarangan, "Kak Jesic

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 1

    "Ya, tunggu sampai aku selesaikan prosedurnya," kata Jesica dengan pelan.Setelah menutup telepon, Jesica menarik napas dalam-dalam. Saat melewati ruang meditasi di ujung lorong, dia tiba-tiba mendengar suara erangan tertahan dari dalamnya. Sebuah cahaya terpancar dari celahnya karena pintunya tidak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status