Partager

Bab 7

Auteur: Xaviera
Beberapa hari berikutnya, untuk pertama kalinya Feri tetap tinggal di rumah. Sepertinya dia juga menyadari suasana hati Jesica sedang buruk. Kejadian langkanya, dia bahkan menyuruh Dahlia untuk meminta maaf pada Jesica.

Dahlia berdiri di depan Jesica, lalu berkata dengan nada sembarangan, "Kak Jesica, maaf, hari itu aku sudah terlalu impulsif."

Jesica hanya melirik Dahlia sekilas dengan dingin, bahkan bicara pun malas. Dia berbalik dan masuk ke kamar, lalu membanting pintu dengan keras.

Dahlia terkejut sampai gemetaran. Dia segera memeluk Feri dan berkata dengan suara bergetar, "Kak, dia nggak akan memukulku, 'kan?"

Feri menepuk punggung Dahlia dengan tenang. "Selama ada Kakak di sini, nggak ada orang yang akan menindasmu."

Begitu Feri selesai bicara, terdengar suara membongkar barang dari dalam kamar.

Feri mengernyitkan alis. Dia baru saja hendak mengetuk pintu, pintu tiba-tiba dibuka.

Jesica keluar sambil membawa sebuah kotak besar. Tanpa melirik Feri sama sekali, dia langsung berjalan ke tempat sampah di ruang tamu dan membuang semuanya.

Feri menyipitkan matanya. Isi di dalam kotak itu adalah semua barang yang selama ini disimpan Jesica dengan hati-hati dan semuanya berkaitan dengannya. Catatan kecil yang pernah ditulisnya, gelas yang pernah dipakainya, dan satu-satunya hadiah yang pernah diberikannya. Hadiah gelang tasbih itu bahkan didapatkan Jesica setelah memohon berkali-kali.

Namun sekarang, semua barang itu malah dibuang Jesica begitu saja seperti sampah.

"Apa maksudmu?" tanya Feri dengan suara dingin.

Jesica menepuk debu di tangannya, lalu berkata dengan santai, "Nggak bermaksud apa-apa. Sudah nggak mau."

Dalam hatinya, Jesica berpikir dia sudah tidak menginginkan lagi barang-barang milik Feri dan bahkan Feri sendiri. Setelah berkata demikian, dia langsung berbalik pergi dan tidak menatap Feri lagi.

Dahlia yang melihat jelas perubahan ekspresi Feri merasa agak cemburu, lalu sengaja berkata, "Kak, kamu nggak mau masuk dan menghibur Kakak Ipar?"

Feri terdiam sejenak. Setelah cukup lama, dia baru berkata, "Nggak perlu, dia akan mencerna semuanya sendiri. Sebentar lagi dia juga akan mengambil kembali barang-barang itu."

Dia merasa Jesica akan terus mengejarnya tanpa henti dan mencintainya seperti selama enam tahun ini. Mendengar kata-kata itu, Jesica yang berdiri di balik dinding dalam kamar hampir tertawa terbahak-bahak. Salah, kali ini Feri benar-benar salah.

Malam itu, Feri hendak membawa Jesica dan Dahlia menghadiri jamuan amal.

Jesica tidak ingin pergi, tetapi Feri berkata dengan nada datar, "Sahabatmu juga ada di sana. Kamu sudah mengurung diri di rumah selama itu, nggak mau keluar bertemu orang?"

Jesica terdiam sejenak, pada akhirnya tetap berganti pakaian. Apa yang terjadi belakangan ini terlalu menyesakkan, dia memang perlu keluar dan bersenang-senang. Dia sama sekali tidak berbicara dengan Feri ataupun Dahlia di sepanjang perjalanan itu, melainkan hanya memejamkan mata untuk beristirahat. Hingga di tengah jalan, tiba-tiba terdengar suara keras.

Brak!

Lampu mobil yang menyilaukan langsung menyorot ke arah Jesica dan yang lainnya. Dia hanya sempat melihat sebuah mobil yang tak terkendali menabrak ke arah mereka. Pada detik berikutnya, dunianya seperti berputar. Saat sadar kembali, bau besi yang dingin sudah memenuhi hidungnya.

Setelah berusaha keras membuka mata, Jesica menyadari dia dan Dahlia diikat di kursi dalam sebuah gudang terbengkalai. Kedua tangan mereka terikat di belakang dan terpasang bom di dada mereka.

Sebelum pingsan, Jesica samar-samar mengingat bahwa orang yang keluar dari mobil yang bertabrakan dengan mereka adalah musuh bebuyutan Grup Sardi, tuan muda kedua dari Keluarga Permata.

Apa dia menculik mereka untuk balas dendam pada Keluarga Sardi?

Dahlia yang diikat di samping terus menangis dan berteriak dengan suara yang memekakkan telinga, "Ada orang? Tolong! Selamatkan aku! Aku nggak mau mati!"

Melihat waktu bom yang tinggal beberapa menit lagi, Jesica memaksa dirinya tetap tenang dan mulai mencoba membongkar bom di tubuhnya. Namun, teriakan Dahlia membuat kepalanya sakit, sehingga dia berkata dengan dingin, "Nangis apaan sih? Kalau nggak mau mati, cepat bongkar bomnya."

Dahlia menangis makin keras. "Kenapa kamu bentak aku? Aku nggak bisa bongkar. Kak, di mana kamu? Aku takut sekali .... Kak ...."

Sebelum Dahlia selesai berbicara, pintu gudang tiba-tiba ditendang terbuka dan Feri bergegas masuk.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 24

    Suasana di taman itu tiba-tiba menjadi hening.Feri berdiri di batas persilangan antara cahaya dan bayangan dengan jas kusut yang ternoda kopi dari pesawat dan rambut yang biasanya rapi pun kini jatuh berantakan di keningnya."Pak Feri mau merebut pengantin?" kata Michael sambil menyipitkan mata.Feri tidak memedulikan Michael, melainkan langsung berjalan ke depan Jesica dan berlutut. Dia berkata dengan suara yang serak, "Aku tahu aku pantas mati, tapi tolong lihat aku sekali lagi ...."Para tamu langsung gempar. Pemimpin Keluarga Sardi di Jardonia yang merupakan pria dingin dan anggun itu kini malah berlutut di hadapan semua orang.Jesica mundur setengah langkah. "Feri, jangan begitu.""Aku sudah menulis 300 surat cinta. Mulai dari saat kita baru bertemu, menikah, sampai ...."Tenggorokan Feri bergerak, lalu melanjutkan, "Sampai hari-hari saat aku mencintaimu, tapi nggak berani mengakuinya."Tangan Feri gemetar saat membuka kotak itu, sehingga lembaran surat yang putih itu beterbangan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 23

    Dahlia terpaku di tempat. "Apa?""Karena kamu sudah menikah dengannya, jalani saja dengan baik."Nada bicara Feri terdengar tenang saat mengatakan itu, lalu menatap pria tua di depannya. "Nggak boleh sakiti dia. Kalau nggak, kamu tahu akibatnya."Pria tua itu terus menganggukkan kepala, lalu melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Dahlia. "Sayang, ayo pulang. Aku akan perlakukan kamu dengan baik."Dia berpikir meskipun tidak memukul Jesica, dia juga masih memiliki banyak cara untuk menyiksa Jesica. Apalagi penampilannya jelek dan tua, sedangkan Jesica cantik seperti bunga.Jesica berusaha memberontak seperti orang gila. "Feri, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kamu pernah bilang akan selalu melindungiku! Kamu bilang aku orang terpenting bagimu! Kak ... aku salah .... Kak ...."Tangisan histeris Jesica terdengar makin menjauh, tetapi Feri tidak menoleh dan masuk ke ruang kerja.Di ruang meditasi, Feri yang turun tangan sendiri membakar semua barang yang berhubungan dengan Da

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 22

    Di kafe, Michael mengaduk kopinya dengan tenang. Namun, kalimat pertama Feri membuat gerakannya terhenti."Kembalikan dia padaku, aku bisa menukar dengan apa pun," kata Feri.Michael mengernyitkan alis. "Apa pun?"Feri berkata dengan suara serak, "Ya. Saham Grup Sardi, tanah di Jardonia, asetku di luar negeri. Bahkan ...."Dia menutup mata sejenak, lalu melanjutkan, "Aku bisa membawa kembali Lili, biar dia sendiri yang meminta maaf pada Jes."Michael tiba-tiba tersenyum, lalu meletakkan cangkir kopi dan mata birunya menyiratkan sindiran. "Feri, sampai sekarang pun kamu masih belum paham ya? Jesica bukan barang dagangan. Dia itu seorang manusia yang punya darah, jiwa, dan bisa merasakan sakit serta menangis. Kamu pernah memiliki seluruh hatinya, tapi kamu yang hancurkan semuanya dengan tanganmu sendiri."Setelah mengatakan itu, Michael berdiri dan menatap Feri dari atas. "Sekarang giliranku yang mencintainya. Sedangkan kamu ...."Michael tersenyum dengan pelan. "Hanya bisa menjalani sis

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 21

    Tangisan di ujung telepon tiba-tiba berhenti, lalu Dahlia berkata dengan suara bergetar dan sangat tajam, "Kak ... apa maksudmu?"Feri memejamkan mata, lalu berkata dengan suara rendah dan lelah, "Dulu aku yang terlalu memanjakanmu. Karena sudah menikah, kamu jalani saja hidupmu dengan baik. Kalau benar-benar nggak tahan lagi ...."Dia terhenti sejenak, "Bilang sama Ayah Ibu. Sekarang aku nggak punya waktu untuk mengurus hal ini. Selain itu ...."Feri tersenyum pahit, lalu melanjutkan, "Kalau aku ikut campur, takutnya Jes lebih nggak akan memaafkanku."Napas Dahlia menjadi terengah-engah, lalu teriakan histeris pun pecah, "Kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada Jesica?"Feri terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata dengan pelan, "Ya."Kata itu seperti pisau yang memutuskan sisa akal sehat Dahlia. Dia berteriak dengan suara yang hampir menembus gendang telinga, "Nggak mungkin! Jelas-jelas yang kamu cintai itu aku, mana mungkin bisa menyukai dia! Kamu bohong! Kamu pasti menipuku!"Dengan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 20

    Saat bau cairan disinfektan menusuk hidungnya hingga terasa sakit, Feri membuka mata dan melihat langit-langit berwarna putih. Dia mencoba menggerakkan jarinya, tetapi seluruh tulangnya terasa sakit."Sudah bangun?"Lukman yang duduk di tepi ranjang sedang mengupas apel dengan tenang dan cahaya dingin dari pisau memantul di matanya. "Beruntung sekali. Sudah sampai segininya saja masih belum mati."Tenggorokan Feri terasa kering. "Mana Jes?"Lukman tersenyum sinis. "Di ruang sebelah, merawat Michael. Aku sengaja bakar rumah dan memberi kalian obat, membuat kalian lemas dan nggak bisa lari. Tapi, orang pertama yang diselamatkan Jes adalah Michael."Setelah berkata demikian, kulit apel yang sedang dikupas Lukman langsung lepas dan jatuh ke tempat sampah. "Kamu nggak lihat ekspresinya yang cemas itu. Dia sudah menjaga semalaman, mata pun sudah bengkak karena menangis."Setiap kata Lukman seperti pisau tumpul yang perlahan-lahan menyayat hati Feri. Dia teringat dengan tatapan dingin Jesica

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 19

    Saat terdengar ketukan pintu, Feri sedang berdiri di depan jendela dan rokok di antara jarinya sudah hampir habis. Saat dia membuka pintu, Lukman bersandar di kusen dan memegang segelas wiski berwarna amber."Kamu mukul Michael?" tanya Lukman sambil mengernyitkan alis dan menyerahkan gelas itu.Feri tidak suka minum alkohol dan biasanya hanya minum teh, tetapi kini dia butuh sesuatu untuk membius perasaan yang bergolak di dadanya. Dia menerima gelas itu dan menenggak habis. Sensasi panas dari minuman keras langsung membakar tenggorokannya, sama seperti sensasi sesak napas saat melihat Jesica dan Michael berpelukan dengan mesra."Dia dan Jes sedang di ranjang, aku nggak tahan melihat itu," kata Feri dengan suara yang sangat serak."Jes?"Lukman tiba-tiba tertawa, tetapi tatapannya sangat dingin. "Sungguh luar biasa. Sudah enam tahun, aku baru kali ini dengar kamu panggil adikku seperti itu."Karena efek alkohol sudah mulai terasa, Feri bersandar pada kusen dan semua emosi yang tertahan

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 16

    Feri langsung tampak tegang. "Kamu tahu nggak kalau Jesica itu istriku?"Michael berpura-pura terkejut sambil menatap Jesica. "Benarkah? Tapi, kenapa aku dengar kamu dan Jes sudah cerai?"Dia menunduk dan mencium puncak kepala Jesica, lalu berkata dengan nada penuh kasih, "Jes, mantan suamimu datang

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 9

    Jesica dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Saat keluar rumah sakit, dia menerima telepon dari kedutaan yang mengabarkan izin tinggal permanen di Negara Jumania sudah disetujui. Itu satu-satunya kabar baik yang didengarnya belakangan ini.Saat Jesica berdiri di depan kedutaan, sinar matahari beg

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 8

    Setelan jas Feri yang biasanya rapi kini penuh debu, bahkan ada darah di pelipisnya. Napasnya terengah-engah dan menyipitkan matanya saat melihat Jesica serta Dahlia.Ini pertama kalinya Jesica melihat kondisi Feri seberantakan ini. Terlihat jelas, Feri langsung mengerahkan orang untuk mencari merek

  • Cinta Tak Terungkap Berujung Penyesalan   Bab 6

    Suara tamparan yang nyaring bergema di ruang tamu.Dahlia memegang wajahnya, lalu tatapannya tiba-tiba menjadi dingin. "Kamu berani mukul aku? Sejak kecil, kakakku sayang sekali sama aku. Dia bahkan nggak pernah menyentuhku sedikit pun. Memangnya kamu ini apaan?"Dia langsung memanggil para pengawal

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status