Short
Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya

Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya

By:  SleepyheadCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tiga hari sebelum pernikahan, mantan pacar Rafi yang mengidap klaustrofobia memblokir mobilku di tepi jurang Jalan Bermera. Dengan kecepatan 100 km/jam, dia menabrak mobilku sebanyak 12 kali. Saat Rafi tiba bersama mobil polisi, aku sudah dikeluarkan oleh petugas pemadam dari kursi pengemudi yang ringsek. Namun, dia malah berjalan menuju mobil sport edisi terbatas yang hanya tergores sedikit catnya, lalu memeluk Nayla yang sekujur tubuhnya gemetaran. "Pak Rafi, dahi Kak Tika berdarah, harus segera dibawa ke rumah sakit untuk dijahit." Rafi mengangkat tangan menghentikan tandu yang mengangkatku, lalu melirik dahiku yang berdarah dan lenganku yang memar. "Cuma luka ringan. Nayla punya klaustrofobia, di tempat terpencil seperti ini kondisinya lebih berbahaya, bawa dia dulu ke rumah sakit." Saat ditinggalkan, aku mengerahkan sisa tenagaku untuk mencengkeram ujung celananya mati-matian. Dia mengerutkan kening dan melepaskan jari-jariku satu per satu, "Nayla nggak sengaja, dia cuma lagi kambuh. Kamu 'kan pengacara, harusnya paham apa itu keadaan kahar, jangan buat masalah." Setelah itu, dia mengambil sebuah perjanjian damai dari tangan asistennya. Dia menggenggam pergelangan tanganku yang sudah lemas, lalu menekan cap sidik jariku di atasnya. "Nanti ada mobil penyelamat lagi di belakang, tahan sebentar."

View More

Chapter 1

Bab 1

Tiga hari sebelum pernikahan, mantan pacar Rafi yang mengidap klaustrofobia memblokir mobilku di tepi jurang Jalan Bermera. Dengan kecepatan 100 km/jam, dia menabrak mobilku sebanyak 12 kali.

Saat Rafi tiba bersama mobil polisi, aku sudah dikeluarkan oleh petugas pemadam dari kursi pengemudi yang ringsek. Namun, dia malah berjalan menuju mobil sport edisi terbatas yang hanya tergores sedikit catnya, lalu memeluk Nayla yang sekujur tubuhnya gemetaran.

"Pak Rafi, dahi Kak Tika berdarah, harus segera dibawa ke rumah sakit untuk dijahit."

Rafi mengangkat tangan menghentikan tandu yang mengangkatku, lalu melirik dahiku yang berdarah dan lenganku yang memar. "Cuma luka ringan. Nayla punya klaustrofobia, di tempat terpencil seperti ini kondisinya lebih berbahaya, bawa dia dulu ke rumah sakit."

Saat ditinggalkan, aku mengerahkan sisa tenagaku untuk mencengkeram ujung celananya mati-matian.

Dia mengerutkan kening dan melepaskan jari-jariku satu per satu, "Nayla nggak sengaja, dia cuma lagi kambuh. Kamu 'kan pengacara, harusnya paham apa itu keadaan kahar, jangan buat masalah."

Setelah itu, dia mengambil sebuah perjanjian damai dari tangan asistennya. Dia menggenggam pergelangan tanganku yang sudah lemas, lalu menekan cap sidik jariku di atasnya.

"Nanti ada mobil penyelamat lagi di belakang, tahan sebentar."

....

Sejak kecil sampai dewasa, aku tidak pernah diperhatikan oleh keluargaku.

Terluka, tahan saja.

Sakit, tahan saja.

Tidur sebentar juga akan sembuh.

Namun saat membuka mata lagi, aku malah mendapati bahwa diriku melayang di udara.

Tubuhku tergeletak di samping mobil yang sudah hancur total. Wajah Shefi, asistenku, tampak pucat pasi. Dia sedang menekan lubang di dahiku dengan tisu, berusaha menghentikan darah yang terus mengalir.

Mata gadis itu memerah dan dia terus memanggilku dengan suara pelan, "Kak Tika, bangun ... kamu tahan sebentar lagi, jangan tidur."

Aku ingin menghapus air mata di wajahnya. Namun, jari-jariku malah menembusnya begitu saja ....

Melihat tubuh yang berwajah pucat di tanah dan napas yang sudah berhenti, aku baru sadar.

Ternyata aku sudah meninggal.

Aku menatap Shefi dengan perasaan bersalah. Dia baru saja lulus kuliah. Dia dibesarkan dengan penuh kasih oleh keluarganya, tapi sekarang harus menghadapi kematian, bahkan berada di samping jasadku. Dia begitu ketakutan sampai jari-jarinya gemetar.

Kecepatan 100 km/jam. Ditabrak 12 kali.

Siapa pun yang punya akal sehat pasti tahu, orang yang ditabrak dalam kondisi seperti itu sangat berbahaya. Namun, di hati dan mata Rafi hanya ada Nayla. Dia takut aku nanti akan mencari masalah dengan Nayla. Dia tidak ingin Nayla terluka sedikit pun, sehingga dia mengabaikan luka-lukaku dan memaksaku menekan cap sidik jari.

Seharusnya dari dulu aku sudah mengerti.

Bagi Rafi, Nayla tak tergantikan oleh siapa pun. Bahkan nyawa seseorang pun tidak sebanding.

Aku mendengar suara sirene dari kejauhan.

Shefi juga mendengarnya, dia menangis karena senang, "Kak Tika, ambulans datang, ambulans datang ...."

Lampu ambulans menembus kabut dan berhenti tidak jauh dari sana. Dokter dan perawat bergegas turun dengan wajah yang tampak tegang.

Shefi menangis hingga wajahnya dibasahi air mata sambil berdiri dengan patuh di samping.

Melihat tubuhku diangkat ke dalam ambulans, dia mengatupkan tangan dan mulutnya terus bergumam, "Ya Tuhan, Santa Maria, Buddha, Kaisar Langit, Dewi Kwan Im ...."

Dia menyebut nama segala jenis dewa dari segala penjuru. "Tolong lindungi Kak Tika, biarkan dia selamat dari bahaya. Aku rela makan vegetarian selama setahun ...."

Di tengah teriakan dokter, air mata Shefi kembali jatuh.

Pandangannya tertuju pada tas yang kutinggalkan di kursi penumpang depan.

"Eh, apa ini ...."

Di dalam ambulans, perawat sedang melakukan berbagai tindakan darurat padaku. Namun, tetap saja tak mampu menghentikan detak jantungku yang perlahan melemah.

Mata perawat memerah, dia terus berkata padaku, "Tahan sedikit lagi, rumah sakit sebentar lagi sampai."

Dokter menelepon pihak rumah sakit, "Kondisi pasien kritis, harus segera operasi. Kasih tahu ruang IGD, segera siapkan semuanya."

Belum selesai bicara, pandangannya tertuju pada kemacetan di luar jendela. Arus kendaraan yang tersendat membuatnya semakin gelisah. "Cepat hubungi polisi lalu lintas, minta mereka buka jalur di depan."

Perawat yang baru selesai menelepon tampak kesal. "Di depan, tuan muda dari Grup Agastya sedang menutup jalan. Katanya mau ngasih kejutan untuk temannya, jadi mereka membuat lautan bunga besar, jalannya jadi tertutup."

"Polisi masih bernegosiasi dengan mereka, bahkan kalau mau dibersihkan ... juga butuh waktu."

"Ini keterlaluan!"

"Benar-benar keterlaluan! Ini jalur utama, mana bisa mereka menutup jalan seenaknya!"

Mata perawat semakin merah, "Pasien sudah nggak tertolong lagi."

Seisi ambulans itu pun terdiam.

Aku juga ikut terdiam.

Mungkin karena kepalaku mengalami benturan hebat sebelum mati, aku merasa banyak ingatanku hilang. Mendengar percakapan dokter dan perawat, akhirnya aku teringat.

Sebenarnya hari ini adalah hari kami mendaftarkan pernikahan, tapi Rafi meninggalkanku begitu saja demi Nayla. Bukan hanya itu, dia bahkan menyiapkan lautan bunga untuk menyenangkan Nayla.

Dalam kemarahanku, aku memutuskan untuk membatalkan pertunangan. Namun dengan alasan ingin memberi penjelasan, Nayla malah menjebakku di Jalan Bermera dan menabrakku sampai tewas.

Sisanya, aku sudah tidak bisa mengingat apa pun lagi.

Jiwaku juga tak terkendali. Aku melayang keluar dari ambulans dan menembus kerumunan orang, menuju ke sisi Rafi.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status