Share

Cinta Tanpa Isyarat
Cinta Tanpa Isyarat
Penulis: Zafar_Zahra

00. Prolog

Penulis: Zafar_Zahra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-12 21:22:16

Suara bentakan nyaring memecah kesunyian pagi, menggema dari dalam dapur, yang berada di ujung rumah. Seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh amarah sedang berdiri di depan kran air. Kedua tangannya mengepal, matanya menatap tajam orang yang ada di hadapannya.

"Bisa nggak sih? Kalau buka kran air, itu jangan bolak-balik terus?! Ini keran air punyaku, aku yang bayar! Jadi, jangan terlalu boros!" katanya dengan suara yang menggelegar, membuat suasana pagi yang tadinya tenang, seketika berubah menjadi tegang.

Di depannya, seorang wanita yang jauh lebih muda, dengan apron yang masih basah karena baru saja mencuci sayuran. Wanita itu membalas dengan nada datar. Namun, terdengar jelas kalau nada yang dikeluarkan oleh kakak iparnya sangat melukai hatinya.

"Aku cuma cuci sayuran, mba! Bukan buang-buang air! Kamu juga sering mandi di kamar mandi itu, tapi aku nggak pernah mempermasalahkannya! Sekarang aku pakai air dari kran ini, kamu malah marah?"

Wanita yang menjadi kakak iparnya, atau Tante dari anaknya. Ia sedang mengerutkan kening, matanya menyipit tajam menatap adik iparnya yang sudah berani melawannya. Kedua tangannya yang awalnya mengepal, kini disilangkan di depan dada. Dagunya sedikit terangkat, wajahnya menunjukkan amarah dan arogan yang sengaja ia tunjukkan.

"Oh, jadi kamu mulai ungkit-ungkit soal kamar mandi itu?" katanya senyumannya menyeringai, menatap nyalang adik iparnya. "Dengar baik-baik, wahai adik ipar! Ini rumah milik orang tuaku! Aku sudah tinggal di sini dari kecil! Wajar saja kalau aku gunakan kamar mandi itu! Seharusnya kamu yang tahu diri! Kamu cuma numpang, cuma beban di keluarga ini!" bentaknya sambil sedikit berteriak. Dengan kesadaran penuh, dan emosi yang begitu memuncak, ia pun mendorong tubuh adik iparnya ke belakang.

Tubuh Fatim terhuyung mundur, hampir saja terjatuh. Namun beruntungnya, ada seorang gadis remaja dengan rambut panjang yang tergerai, gadis itu segera melangkah cepat dan menangkap tubuh ibunya. Nafas gadis itu memburu saat melihat sang ibu diperlakukan semena-mena oleh Tantenya sendiri.

"Ibu nggak apa-apa?" tanyanya khawatir. Suaranya sedikit gemetar, bukan cuma cemas, tetapi ada kemarahan yang begitu membara di dalam hatinya.

Fatim, wanita yang menjadi ibunya, kini menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menenangkan dirinya sendiri dan menyakinkan sang anak, kalau dirinya baik-baik saja. "Ibu nggak apa-apa kok, Nak," jawabnya lirih, sambil berusaha menyembunyikan rasa ketakutannya.

Zahra, gadis itu kini berdiri tegak menatap Tantenya dengan tatapan tajam. Wajahnya berubah menjadi tegang, sorot matanya begitu dingin dan menusuk. Ia berusaha untuk menahan gejolak amarahnya yang bisa saja meledak.

"Ada masalah apa Tante sama ibu? Sampai-sampai Tante dorong-dorong ibu?"

Sinta, Tantenya Zahra hanya mengendus kesal. Matanya menatap Zahra dengan tatapan tajam, seakan tak terima dengan pertanyaan yang keluar dari mulut keponakannya sendiri.

"Ibumu itu orangnya boros! Masa iya dia buka tutup kran air terus? Ya saya kesal lah sama sikap ibumu itu!" katanya dengan nada ketus.

Zahra menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk bersikap lebih tenang. Meskipun darahnya begitu mendidih. Zahra tahu, kalau wanita yang ada di hadapannya itu lebih tua darinya. Namun, tak dapat dipungkiri kalau kesabarannya semakin menipis.

"Kalau ibu salah, coba bicarakan baik-baik. Pakai hati, bukan pakai kekerasan gini! Apalagi sampai dorong-dorong orang!" ujarnya sambil berusaha menjaga nada suaranya, supaya tidak meninggi.

"Dibicarakan baik-baik? Nggak bisa, Ra! Nanti malah ngelunjak! Ibumu juga keterlaluan. Kran air ini milik Tante! Saya yang bayar, jadi kalau mau pakai, yang hemat! Cari uang itu susah!"

Zahra tersenyum tipis. Berusaha untuk tersenyum dibalik hatinya yang bergemuruh. Ia tahu betul, kalau sang Tante juga sering menggunakan fasilitas ibunya, tanpa izin. Termasuk kamar mandi yang setiap hari selalu mereka pakai.

"Apa Tante lupa?" tanyanya, menatap Sinta tajam. "Tante sering pakai kamar mandi itu? Tante tahu kan kalau air itu ibu yang bayar! Sekarang ibu cuma pakai air ini saja, Tante marah sampai segitunya?"

Sang Tante menggeleng pelan, ia tertawa getir. "Kamar mandi itu punya orang tuaku, Zahra! Bukan bukan milik ibumu! Memang kamar mandi itu sudah jadi milik kalian, tapi tetap aja. Yang bayar air itu ya, adik ku sendiri, Faisal!" ucapnya. Sebelum pergi, ia menyenggol lengan Zahra dengan kasar. Lalu berjalan pergi meninggalkan dapur, membiarkan mereka menatap punggungnya yang mulai menjauh.

Zahra hanya diam sambil menatap punggung wanita itu dengan tatapan getir. Di sampingnya, sang ibu masih berdiri sambil menenangkan dirinya. Sementara bola mata Zahra mulai berkaca-kaca, bukan karena takut, tapi karena kecewa. Kecewa karena harus ribut dengan keluarganya sendiri. Kenapa malah sang Tante bisa meributkan hal sekecil ini? Dan membuat keluarganya menjadi berantakan, hanya karena masalah air saja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Tanpa Isyarat    Bab 41

    "Maaf, Ra... Abang nggak bermaksud berbuat gituan... Abang nyesel, Ra..." lirih Raiyan yang sudah sadar kalau ia hampir saja menodai adik sepupunya sendiri. "Jangan pernah ikut campur lagi kehidupan gue lagi, Bang! Selama ini gue kira lo cowok baik, tapi nyatanya lo cowok paling gila yang pernah gue temui!!!" ujar Zahra dengan kedua bola mata berkaca-kaca. Setelah berkata seperti itu, ia pun membalikan badannya dan pergi meninggalkan Raiyan sendirian di taman. Bugh!!Bugh!!Bugh!!Berkali-kali Raiyan meninju pohon besar yang berada di hadapannya. Tatapannya tajam, seolah ada penyesalan yang ia rasakan, terlihat dari sorot matanya yang tajam dan penuh kesedihan. "Lo bego banget si!!! Kenapa lo hampir ngelakuin gituan!!" teriaknya sambil berkali-kali memukuli pohon itu. Ia sama sekali tak peduli dengan punggung tangannya yang terluka. Baginya, rasa sakit itu tak ada apa-apa dibandingkan dengan hatinya yang semakin terluka. "Lihat! Gara-gara lo Zahra jadi menjauh! Lo bego banget si

  • Cinta Tanpa Isyarat    Bab 40

    "Aku mau nikah sama Nandra, Kek."Deg!Semua orang langsung menatap Zahra dengan tatapan penuh keseriusan. Ucapan dari Zahra begitu tiba-tiba baginya, terutama bagi Raiyan. "Kamu yakin, Ra? Apa kamu udah pikirin ini baik-baik? Abang nggak mau loh kalau kamu nyesel. Kalau kamu nggak yakin, bilang sama Abang. Pasti Abang bantu kok buat batalin pernikahan ini," kata Raiyan sambil menatap netra mata kecoklatan milik adik sepupunya. Zahra mengangkat kedua sudut bibirnya, menatap wajah Raiyan dengan wajah tenangnya. "Yakin kok, Bang.""Tuh kan, Zahra mau kok nikah sama Nandra. Jadi kalian nggak punya hak buat ngelarang." Faisal kembali percaya diri setelah mendengar perkataan dari putrinya yang membuat hatinya merasa jauh lebih lega. "Ikut Abang sebentar!" ujar Raiyan sambil menarik pergelangan tangan Zahra dengan cukup erat. Lalu lelaki itu pun membawa Zahra ke taman samping rumah, tempat yang cukup tenang. Setelah mereka berdua sampai di taman, Raiyan melepaskan tangan Zahra. Menatap

  • Cinta Tanpa Isyarat    Bab 39

    "Zahra... kamu nggak perlu takut buat berkata jujur. Ada aku kok yang akan nikahi kamu. Jadi lebih baik kita ceritakan sejujurnya kalau kemarin kita pernah ngelakuin gituan di rumah tua itu."Deg!Zahra langsung menatap Nandra. "Lo gimana si? Bukannya cerita yang jujur, ini malah ngarang cerita. Sejak kapan gue sama lo gituan? Tolong lah, Ndra... Lo cerita aja yang jujur, nggak usah pakai ngarang segala!" "Udahlah, Ra.. mending kita jujur aja. Kita udah kepergok juga, mau ngelak juga nggak bisa." kata Raiyan dengan santainya, hal ini langsung membuat hati Zahra mendidih. "Kami berdua ngaku salah, Om. Maka dari itu saya mau tanggung jawab. Saya akan nikahi Zahra," lanjut Raiyan sambil menatap Faisal dengan wajah penuh keseriusan. "Aku nggak mau, Yah. Aku nggak mau nikah sama Nandra. Kami nggak ngelakuin apa-apa. Yang Nandra katakan itu semuanya bohong, Yah!" bantah Zahra. Bagaimana ia bisa menikah dengan orang yang tak dicintainya? Prinsipnya ia ingin menikah dengan orang yang ia ci

  • Cinta Tanpa Isyarat    Bab 38

    "Kamu mau nikahi Zahra? Iya?! Ingat dia itu adik kamu, Raiyan!" "Ralat, adik sepupu, Bu. Kalaupun Nandra nggak bersedia, aku siap kok nikahi Zahra!" Raiyan menatap semua orang dengan wajah tegasnya."Gak boleh! Kalian nggak boleh menikah! Kalian ini adik kakak!" seru Faisal dengan nada lantangnya. Bahkan ia berucap seperti itu dengan badan yang sudah berdiri tegap. Matanya menatap Raiyan dengan penuh ketegasan dan wibawanya. "Kalau om nggak ngizinin saya nikahi Zahra, terus siapa dong yang mau nikahi Zahra? Bocah ingusan ini?" kata Raiyan dengan lirikan mata sinis nya yang mengarah ke Nandra. "Maksud lo apa, HAH?!!" karena tak terima, Nandra beranjak dari tempat duduknya dan langsung mendorong tubuh Raiyan. Sementara Raiyan, lelaki itu tetap tenang walaupun rasanya ingin meledak-ledak. "Lo remenin gue? Lo pikir gue cowok pengecut yang nggak mau tanggung jawab?!!" Lanjutnya dengan nada tingginya. Raiyan tak membalas, lelaki itu menatap Faisal. "Om lihat kan? Cowok kayak dia nggak

  • Cinta Tanpa Isyarat    Bab 37

    "Gimana rasanya, Ra? Apa kamu mau lagi? Abang bisa wujudin kok."Deg!'Kok tiba-tiba suasananya nggak enak gini setelah denger ucapan bang Raiyan? Jangan bilang kalau dia...' pikir Zahra dalam hatinya, lalu ia pun menarik selimutnya dan langsung menampar pipi Raiyan. Plak!"Ingat bang! Kita ini sepupu!! Nggak boleh gituan!" "Terus kalau bukan sepupu boleh?" "Boleh kalau statusnya udah nikah! Kalau masih sama-sama jomblo no no no, dilarang keras!!!" "Yaudah, kita nikah aja yuk!"Plak!"Udah mending Abang keluar aja deh dari kamarku! Lama-lama kalau aku deket-deket sama Abang bisa ketularan mesum! Sana keluar!!!" Zahra mengusir Raiyan dan menyuruh pemuda itu untuk segera keluar dari kamarnya. "Iya-iya! Semalam katanya pengin ditemani, tapi giliran udah disini suruh pergi," gumam Raiyan pelan sambil tetap berjalan meninggalkan kamar adik sepupunya. "Siapa suruh pikirannya mesum!!!" teriak Zahra, namun sama sekali tak dipedulikan oleh Raiyan. Pemuda itu masih tetap berjalan, dan men

  • Cinta Tanpa Isyarat    Bab 36

    Tanpa pikir panjang, Zahra memeluk tubuh Raiyan dengan sangat erat sambil menyembunyikan wajahnya di dada kekar milik Raiyan. Sementara Raiyan berusaha untuk tetap tenang saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Zahra. 'Tenang, Raiyan. Ingat dia adik lo! Lo harus jaga dia sebaik mungkin!' batin pria itu sambil menenangkan dirinya. "Zahra?" panggil Raiyan dengan suara lembut sambil mencoba untuk melepaskan pelukan itu. "Pantesan nggak nyaut, ternyata udah tidur," gumam Raiyan sambil melihat wajah damai Zahra yang sudah tertidur dengan sangat lelap. Melihat wajah yang begitu meneduhkan, tanpa Raiyan sadari, pemuda itu mengusap lembut kepala Zahra sambil berkata. "Gue janji akan selalu ada di samping lo, Ra. Entah kenapa setiap gue dekat sama lo, hati gue jadi tenang. Gue pengin selalu jagain lo terus, gue juga sayang sama lo, bahkan bisa melebihi rasa sayang sebagai Abang sepupu.." Cup!Setelah berkata seperti itu, Raiyan mengecup kening Zahra cukup lama. Kemudian ia pun terlela

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status