LOGINMatahari pagi menembus tirai sutra mansion Dirgantara, namun cahayanya sama sekali tidak membawa kehangatan bagiku. Aku terbangun di atas sofa panjang yang sempit dengan leher yang terasa kaku. Mataku perih, sisa tangis semalam masih meninggalkan jejak kering di pipiku. Di atas ranjang besar itu, Arkan sudah tidak ada. Selimutnya terlipat rapi, seolah-olah tidak ada manusia yang pernah menyentuhnya.
Aku bergegas mandi dan mengganti pakaian dengan gaun sederhana yang sudah disiapkan pelayan. Sambil menatap pantulan diriku yang pucat di cermin, aku menyentuh leherku. Memar merah bekas cengkeraman Sandra semalam masih terlihat samar. Aku menarik napas panjang, lalu melangkah keluar menuju ruang makan. Langkahku terhenti di ambang pintu saat mendengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. "Duduklah," suara bariton Arkan memecah keheningan. Ia bahkan tidak mendongak dari tablet di tangannya. Aku menarik kursi di ujung meja, sejauh mungkin darinya. Arkan hari ini mengenakan kemeja biru navy dengan lengan yang digulung hingga siku, tampak sangat berwibawa sekaligus mengintimidasi. "Gia, di keluarga ini, kita tidak makan seperti orang asing," potong sebuah suara tajam dari arah pintu. Sandra masuk dengan gaun rumah yang terlalu mewah. Ia duduk di kursi utama dengan tatapan yang langsung menghunus ke arahku. "Ma, biarkan dia makan," ucap Arkan datar. "Bagaimana Mama bisa tenang makan kalau melihat menantu Mama duduk seperti pengemis yang ketakutan?" Sandra mendengus, matanya beralih ke arah piringku yang masih kosong. "Ambilkan Arkan kopi. Sekarang." Aku tertegun. Aku baru saja akan mengambil roti untuk diriku sendiri. Aku menatap Arkan, berharap ia mengatakan sesuatu, namun ia tetap fokus pada layar tabletnya. Aku bangkit perlahan, tanganku sedikit gemetar saat menuangkan kopi ke cangkir Arkan. Saat aku hendak meletakkannya, Sandra kembali berucap dengan nada meremehkan. "Hati-hati, Gia. Jangan sampai tangan cacatmu itu menumpahkan kopi ke meja mahoni ini. Harganya lebih mahal daripada seluruh isi toko bunga milik bibimu itu." Aku memejamkan mata sejenak, menelan harga diriku yang kian terkikis. Begitu aku meletakkan cangkir itu, Arkan akhirnya bersuara tanpa menatapku. "Gia." Aku menoleh. "Jangan buat kesalahan yang sama dua kali. Mama tidak suka kelalaian," ucapnya. Bukan sebuah pembelaan, melainkan sebuah peringatan dingin. Aku kembali ke kursiku, namun selera makanku sudah hilang sepenuhnya. Aku mengambil ponsel di saku gaun, lalu mengetik dengan cepat: Maaf, Nyonya Sandra. Saya akan lebih berhati-hati. Aku menunjukkan layar itu pada Sandra. Ia hanya melirik sekilas lalu tertawa sinis. "Nyonya Sandra? Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa? Panggil aku Mama, meskipun rasanya sangat menjijikkan mendengar sebutan itu dari mulut orang yang tidak punya suara seperti kau." Sandra meletakkan serbetnya dengan kasar. "Arkan, Mama sudah menjadwalkan kunjungan ke dokter spesialis kesuburan untuk istrimu sore ini." Arkan terhenti. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan. "Mama tahu jadwalku padat. Biar asistenku yang menanganinya." "Tidak! Kau harus ikut," tegas Sandra. "Ini soal pewaris. Mama tidak mau membuang waktu satu tahun hanya untuk menunggu keajaiban dari rahim gadis ini. Kita harus memastikan dia 'layak' secara medis untuk mengandung darah Dirgantara." Aku tersentak. Kepalaku mendongak menatap Sandra, lalu beralih ke Arkan. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku segera mengetik di ponsel dengan cepat: Aku sehat, Ma. Aku tidak perlu ke dokter. "Kau tidak punya hak untuk menolak!" bentak Sandra hingga aku berjengit. "Di rumah ini, suaramu tidak ada, begitu juga pendapatmu. Kau hanya perlu membuka kakimu dan memberikan anak pada Arkan. Mengerti?" Dadaku terasa sesak. Aku menatap Arkan, memohon lewat tatapan mata agar ia melindungiku dari hinaan ibunya sendiri. Arkan akhirnya menatapku. Dingin. Tajam. "Ikuti saja kemauan Mama, Gia. Itu lebih mudah daripada kau harus berdebat dengan dinding," ucap Arkan sambil bangkit dari kursinya. "Tapi Arkan—" "Aku berangkat ke kantor," potong Arkan. Ia menatap ibunya sebentar. "Jangan terlalu keras padanya, Ma. Dia masih baru di sini." Begitu Arkan menghilang di balik pintu, Sandra berdiri dan mendekatiku. Ia mencengkeram rahangku, memaksaku menatapnya. "Dengar, Gadis Bunga. Arkan mungkin menikahimu karena wasiat, tapi aku bisa menyingkirkanmu kapan saja jika kau tidak berguna. Kau hanya pajangan. Dan pajangan yang pecah hanya akan berakhir di tempat sampah. Paham?" Ia melepaskan rahangku dengan kasar hingga kepalaku terantuk sandaran kursi. Sandra melenggang pergi, meninggalkanku sendirian di ruang makan yang luas itu. Aku jatuh terduduk, isakan tanpa suara meledak dari tenggorokanku. Aku memeluk diriku sendiri, merasakan betapa dinginnya rumah ini. Aku ingin pulang ke toko bunga kecilku. Aku ingin mencium aroma tanah dan mawar, bukan aroma parfum mahal yang menyesakkan ini. Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat dengan ragu. "Nyonya Muda... Tuan Arkan meninggalkan ini untuk Anda." Ia menyodorkan sebuah kotak kecil. Aku membukanya dengan tangan bergetar. Di dalamnya ada sebuah jam tangan elegan dengan ukiran di bagian belakangnya: "Jangan biarkan siapa pun melihatmu menangis lagi." Aku menatap tulisan itu. Apakah ini bentuk perhatian? Atau hanya cara Arkan agar aku tidak mempermalukannya di depan umum?Ruangan kedap suara itu terasa semakin sempit, seolah-olah dinding baja di sekeliling mereka perlahan menghimpit oksigen keluar dari paru-paru Gia. Di hadapannya, Surya Mahendra—pria yang selama ini dikenal sebagai pilar kebijaksanaan di keluarga besar mereka—menatapnya dengan sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan. Tidak ada lagi kehangatan paman yang sering memberinya cokelat saat ia masih kecil. Yang tersisa hanyalah seorang predator yang telah menunggu selama dua puluh tahun untuk momen ini.Gia menatap layar monitor dengan jantung yang serasa berhenti berdetak. Di sana, di lantai atas yang penuh asap, Bibi Ida sudah menekan ujung jarum suntik ke leher Arkan. Arkan masih sibuk menangkis serangan pria bertopeng di depannya, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang telah merawatnya sejak kecil adalah malaikat maut yang dikirim oleh pamannya sendiri."Lakukan saja," desis Gia sekali lagi. Suaranya pecah, namun matanya memancarkan keberanian yang nekat. "Bunuh dia. Jika Ark
Debu dari ledakan di gerbang depan masih menggantung di udara, menciptakan siluet abu-abu yang mencekam di bawah lampu kristal yang bergetar. Suara tembakan menyalak di kejauhan, bersahutan dengan teriakan instruksi dari tim keamanan Johan yang mencoba menahan gelombang serangan. Di tengah kekacauan itu, Gia merasa dunianya melambat, setiap detak jantungnya terdengar seperti palu yang menghantam besi panas.Arkan tidak melepaskan dekapannya. Lengan pria itu terasa seperti jeruji baja yang melindunginya, namun setelah apa yang Gia dengar tadi, pelukan itu justru terasa seperti belenggu."Berdiri, Gia! Ikuti Johan!" perintah Arkan. Suaranya tidak lagi lembut; itu adalah suara seorang komandan perang yang tidak menerima bantahan.Gia ditarik paksa untuk bangkit. Ia melihat pecahan kaca vas bunga yang baru saja hancur berserakan di atas meja makan, tercampur dengan omelet yang belum sempat disentuh. Simbol kedamaian pagi mereka telah hancur dalam hitungan detik.Johan muncul dari balik pi
Lampu sorot helikopter masih menyapu balkon, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di lantai marmer. Haris Winata dibawa pergi dalam diam, namun tatapan terakhirnya pada Gia bukanlah tatapan seorang pria yang kalah. Itu adalah tatapan seorang pria yang baru saja menanam benih kehancuran dan sedang menunggu waktu untuk melihatnya tumbuh.Arkan menarik Gia ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah istrinya dari kilatan lampu kamera para tamu yang kini mulai berhamburan keluar. "Sudah selesai, Gia. Kau aman sekarang," bisiknya.Gia mengangguk pelan, namun jemarinya masih mencengkeram jas tuxedo Arkan dengan kuat. Keheningan yang mengikuti hiruk-pikuk penangkapan itu terasa aneh. Seharusnya ia merasa lega. Seharusnya beban di dadanya terangkat sepenuhnya. Namun, rasa dingin di tengkuknya tidak kunjung hilang."Arkan," panggil Gia dengan suara yang masih sedikit bergetar. "Dia tidak terlihat terkejut. Kenapa dia tidak terlihat takut?"Arkan melepaskan pelukannya, menatap Gia dengan
Pintu aula besar itu terbuka dengan sapuan yang megah, mengungkapkan sebuah dunia yang dibangun dari emas, kristal, dan kemunafikan. Wangi parfum mahal bercampur dengan aroma sampanye yang berbuih, namun bagi Gia, udara di dalam sana terasa tipis, seolah-olah oksigen telah disedot keluar untuk memberi ruang bagi ego para tamu undangan.Arkan melangkah masuk dengan tangan Gia yang bertumpu kokoh di lengannya. Kehadiran mereka seketika menciptakan riak. Bisik-bisik halus merambat seperti api di atas jerami kering. Pasangan Mahendra yang selama ini tertutup—dengan sang istri yang kabarnya mengalami trauma bicara—kini muncul dengan aura yang begitu dominan. Gaun merah darah Gia bukan sekadar pilihan busana; itu adalah deklarasi perang."Tetap di sampingku," bisik Arkan hampir tak terdengar. Ia menyapa beberapa kolega bisnis dengan senyum profesional yang tidak pernah mencapai matanya.Dari kejauhan, di dekat panggung utama, sosok Haris Winata tampak sedang berbincang dengan seorang pejaba
Malam itu, Mansion Mahendra tidak lagi terasa seperti rumah. Ruangan-ruangan luas dengan pilar marmer yang biasanya memancarkan kemewahan, kini tampak seperti labirin yang penuh dengan sudut-sudut gelap. Setelah Arkan membimbing Gia kembali ke dalam, suasana di meja makan terasa begitu berat. Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sesuatu yang tak terelakkan.Gia menatap piringnya, namun pikirannya tertahan pada kata-kata Arkan tentang Haris Winata. Bekas luka bakar itu... sebuah tanda permanen dari malam yang selama ini menjadi mimpi buruknya."Mas Arkan," panggil Gia pelan, memecah kesunyian.Arkan, yang sedang menyesap anggur merahnya, menatap Gia dengan lembut. "Ya, Gia?""Boleh aku melihat data tentang Haris Winata? Semuanya. Rekam jejaknya, hubungannya dengan Ayah, dan apa yang dia lakukan di perusahaan selama ini."Arkan terdiam sejenak. Ia meletakkan gelasnya dengan gerakan yang sangat terukur. "Gia, aku sudah
Gia merasakan seluruh sendinya membeku. Suara di telepon itu tidak terdengar seperti gertakan biasa; ada nada otoritas yang tenang, seolah pria itu sedang berbicara tentang cuaca dan bukannya ancaman kematian. Gia mencoba menarik napas, mengatur getaran di pita suaranya yang baru saja pulih."Siapa kau?" Gia mengulang pertanyaannya, kali ini dengan nada yang lebih menuntut. "Jika kau pikir ancaman ini akan membuatku bungkam lagi, kau salah besar."Tawa pelan yang kering terdengar di seberang sana. "Keberanian yang menarik. Arkan Mahendra pasti sudah mencuci otakmu dengan rasa aman yang palsu. Kau pikir dinding mansion itu cukup tebal untuk melindungimu dari sejarah yang ditulis dengan darah?""Apa hubungannya dengan Garda Elang?" potong Gia, mencoba memancing informasi.Hening sejenak. Suara napas di seberang sana terdengar sedikit lebih berat. "Kau sudah melihat fotonya, rupanya. Gadis kecil dengan mawar-mawar yang akan layu. Gia, ada alasan kenapa ayahmu memilih untuk tidak menyelam







