Share

Cinta Tanpa Suara
Cinta Tanpa Suara
Author: Elv_

Bab 1

Author: Elv_
last update Last Updated: 2026-01-12 13:25:59

Aula hotel berbintang itu tampak seperti hamparan salju yang beku. Kilatan lampu kristal di langit-langit memantul pada dekorasi serba putih yang megah, namun bagiku, keindahan ini tak lebih dari sekadar penjara.

Tanganku gemetar saat mencoba merapikan anak rambut di balik cadar tipis. Aku bisa merasakan ratusan pasang mata menatapku—beberapa dengan kekaguman, namun lebih banyak dengan tatapan mencemooh yang tak disembunyikan.

"Jangan berani-berani mempermalukan aku hari ini, Gia," desis Bibi Lastri, tepat di telingaku.

Aku tersentak, menoleh pelan. Bibiku itu tersenyum lebar ke arah para tamu, namun jarinya mencubit lenganku dengan keras di balik lipatan gaun pengantin.

"Ingat, hutang judiku lunas karena kau laku dijual pada keluarga Dirgantara," bisiknya lagi, suaranya ringan namun setajam pisau "Berdirilah yang tegak. Kau itu pajangan mahal sekarang. Jangan sampai cacatmu merusak harga jualmu!"

Aku hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit. Lidahku kelu, bukan karena aku gugup, tapi karena takdir memang merampas suaraku sejak lama. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu liar di balik dada yang sesak.

Langkahku terasa berat saat berjalan menyusuri karpet merah menuju altar. Di sana, seorang pria berdiri dengan angkuh. Arkan Dirgantara. CEO yang dijuluki pria "mati rasa" itu bahkan tidak menoleh saat aku sampai di sampingnya. Wajahnya seperti pahatan batu es—tampan, namun tanpa nyawa.

"Kita bisa mulai sekarang? Aku tidak punya banyak waktu untuk pertunjukan ini," tanya Arkan dingin. Suaranya berat dan tidak sabar.

Pendeta yang berdiri di depan kami tampak sedikit terkejut. "Ah, ya. Tentu, Tuan Arkan."

Selama pembacaan janji suci, Arkan mengucapkannya seperti sedang membacakan laporan tahunan perusahaan. Tanpa jeda, tanpa emosi. Saat tiba giliranku, aku hanya bisa memberikan anggukan kecil dan menandatangani dokumen wasiat yang mengikat hidupku padanya.

"Sekarang, silakan Tuan Arkan mencium pengantin Anda," ucap Pendeta dengan senyum canggung.

Arkan berbalik ke arahku. Untuk pertama kalinya, mata elangnya menatapku lurus. Tajam dan menghunus. Ia mendekatkan wajahnya, membuatku refleks menahan napas. Namun, alih-alih sebuah ciuman, ia hanya menempelkan bibirnya di keningku dengan gerakan sekilas.

"Jangan berharap ada cinta dalam drama ini, Gadis Bunga," bisiknya begitu rendah sehingga hanya aku yang bisa menangkap getaran suaranya.

Hatiku mencelos. Aku hanya bisa menatap punggungnya saat ia berbalik menyapa para kolega bisnisnya, meninggalkan aku berdiri sendirian di altar sebagai pengantin yang terabaikan.

Resepsi itu berlangsung berjam-jam. Kakiku sudah nyaris lumpuh di balik sepatu hak tinggi yang menyiksa, namun penderitaan sesungguhnya baru dimulai saat seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal mendekat ke arah kami. Sandra, ibu mertuaku.

"Jadi, ini 'pajangan' baru yang dipilih kakekmu, Arkan?" sindir wanita itu.

Arkan menyesap sampanyenya tanpa ekspresi. "Wasiat Kakek sudah terpenuhi, Ma. Itu yang paling penting sekarang."

Sandra berputar mengelilingiku, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan jijik. "Kakekmu pasti sudah pikun. Apa tidak ada wanita normal di kota ini sampai dia harus menyeret gadis bisu ke rumah Dirgantara?"

Aku memejamkan mata, tanganku meremas kain gaun pengantin dengan kuat.

"Dia tidak bisa bicara, Ma. Itu keuntungan. Dia tidak akan banyak mengeluh saat aku pulang terlambat," sahut Arkan datar.

"Kau pikir Mama peduli dia bicara atau tidak?" Sandra mendengus. "Yang Mama peduli adalah rahimnya. Apa kau pikir gadis cacat ini bisa memberikan pewaris yang sempurna bagi keluarga kita?"

Aku tersentak, kepalaku mendongak menatapnya. Mataku mulai memanas.

"Jangan menatapku seperti itu!" bentak Sandra. "Kau pikir dengan wajah memelas itu kau bisa lari dari tanggung jawabmu? Di rumah ini, kau tidak punya suara, dan kau juga tidak punya hak untuk bersedih."

Aku hanya bisa menunduk. Isyarat tanganku tidak akan berguna di sini. Mereka tidak mau mengerti, mereka hanya ingin menindas.

"Sudahlah, Ma. Resepsi ini membosankan," potong Arkan. Ia menatapku sekilas. "Ayo. Kita pulang ke neraka yang baru."

Mansion keluarga Dirgantara jauh lebih besar dari toko bunga kecilku, namun suasananya jauh lebih mencekam. Begitu pintu kamar utama tertutup, Arkan langsung melepas dasinya dengan kasar dan melemparkannya ke lantai.

"Kenapa kau masih berdiri di sana? Cepat ganti bajumu," tanyanya tanpa menoleh.

Aku mengambil ponselku, lalu mengetik dengan jari gemetar: Aku harus tidur di mana?

Arkan merampas ponsel dari tanganku. Ia tertawa sinis. "Kau pikir aku akan berbagi ranjang denganmu? Tidurlah di sofa atau di mana saja kau mau, asal jangan di sampingku."

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Aku meraih lengannya, mencoba memberanikan diri untuk berkomunikasi.

"Lepas!" bentak Arkan, menepis tanganku dengan kasar. "Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu!"

Aku terhuyung ke belakang, menabrak lemari kaca. Dadaku sesak. Isakan tanpa suara keluar dari tenggorokanku.

"Dengar, Gia," Arkan melangkah mendekat, mengintimidasi. "Aku menikahimu hanya karena wasiat Kakek agar aku tidak kehilangan hak waris. Kau tidak lebih dari pajangab. Diamlah seperti biasanya, dan mungkin kau akan bertahan hidup."

"Jangan menangis. Air matamu itu palsu, persis seperti pernikahan ini," tambahnya sambil membanting pintu balkon hingga suara kaca bergetar.

Aku jatuh terduduk di atas karpet. Malam pertama yang seharusnya indah, justru menjadi awal dari kehancuran. Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan sangat keras.

"Arkan! Buka! Mama tahu kalian ada di dalam!" suara Sandra berteriak.

Arkan masuk kembali dari balkon dan membuka pintu. Sandra menyeruak masuk dengan wajah penuh amarah. Ia langsung menuju ke arahku dan menjambak rambutku, memaksaku berdiri.

"Bangun kau, Gadis Penipu!"

"Ma! Hentikan!" teriak Arkan, namun ia tidak melangkah untuk membantuku.

"Diam kau, Arkan! Mama baru saja mendapat kabar bahwa gadis ini menyembunyikan sesuatu," Sandra melemparkan sebuah amplop cokelat ke wajahku. "Apa ini? Catatan medis dari panti asuhan? Dia bukan hanya bisu, Arkan! Dia cacat mental!"

Aku menggeleng kuat-kuat. Tanganku bergerak liar melakukan isyarat: Tidak! Itu tidak benar! Aku normal!

"Lihat! Lihat gerakan tangannya yang aneh itu!" Sandra menunjukku dengan jijik. "Dia gila! Buang dia sekarang juga, Arkan!"

Arkan mengambil dokumen itu dan membacanya perlahan. Suasana menjadi sunyi senyap.

"Keluar, Ma," ucap Arkan lirih.

"Apa? Arkan, kau dengar Mama—"

"KELUAR!" bentak Arkan dengan suara yang menggelegar.

Setelah Sandra pergi, Arkan meremas dokumen itu hingga hancur. Ia mencengkeram rahangku dengan satu tangan, memaksaku menatap matanya yang memerah.

"Jadi, selain bisu, kau juga menyimpan banyak kegilaan?" bisiknya tajam. "Katakan padaku, apalagi yang kau sembunyikan di balik wajah polosmu ini?"

Aku hanya bisa menggeleng, air mataku jatuh mengenai tangannya.

"Jangan pernah berpikir kau bisa mempermainkanku," Arkan menghempaskan rahangku dengan kasar. "Besok, penderitaanmu yang sesungguhnya baru akan dimulai."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 22

    Ruangan kedap suara itu terasa semakin sempit, seolah-olah dinding baja di sekeliling mereka perlahan menghimpit oksigen keluar dari paru-paru Gia. Di hadapannya, Surya Mahendra—pria yang selama ini dikenal sebagai pilar kebijaksanaan di keluarga besar mereka—menatapnya dengan sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan. Tidak ada lagi kehangatan paman yang sering memberinya cokelat saat ia masih kecil. Yang tersisa hanyalah seorang predator yang telah menunggu selama dua puluh tahun untuk momen ini.Gia menatap layar monitor dengan jantung yang serasa berhenti berdetak. Di sana, di lantai atas yang penuh asap, Bibi Ida sudah menekan ujung jarum suntik ke leher Arkan. Arkan masih sibuk menangkis serangan pria bertopeng di depannya, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang telah merawatnya sejak kecil adalah malaikat maut yang dikirim oleh pamannya sendiri."Lakukan saja," desis Gia sekali lagi. Suaranya pecah, namun matanya memancarkan keberanian yang nekat. "Bunuh dia. Jika Ark

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 21

    Debu dari ledakan di gerbang depan masih menggantung di udara, menciptakan siluet abu-abu yang mencekam di bawah lampu kristal yang bergetar. Suara tembakan menyalak di kejauhan, bersahutan dengan teriakan instruksi dari tim keamanan Johan yang mencoba menahan gelombang serangan. Di tengah kekacauan itu, Gia merasa dunianya melambat, setiap detak jantungnya terdengar seperti palu yang menghantam besi panas.Arkan tidak melepaskan dekapannya. Lengan pria itu terasa seperti jeruji baja yang melindunginya, namun setelah apa yang Gia dengar tadi, pelukan itu justru terasa seperti belenggu."Berdiri, Gia! Ikuti Johan!" perintah Arkan. Suaranya tidak lagi lembut; itu adalah suara seorang komandan perang yang tidak menerima bantahan.Gia ditarik paksa untuk bangkit. Ia melihat pecahan kaca vas bunga yang baru saja hancur berserakan di atas meja makan, tercampur dengan omelet yang belum sempat disentuh. Simbol kedamaian pagi mereka telah hancur dalam hitungan detik.Johan muncul dari balik pi

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 20

    Lampu sorot helikopter masih menyapu balkon, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di lantai marmer. Haris Winata dibawa pergi dalam diam, namun tatapan terakhirnya pada Gia bukanlah tatapan seorang pria yang kalah. Itu adalah tatapan seorang pria yang baru saja menanam benih kehancuran dan sedang menunggu waktu untuk melihatnya tumbuh.Arkan menarik Gia ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah istrinya dari kilatan lampu kamera para tamu yang kini mulai berhamburan keluar. "Sudah selesai, Gia. Kau aman sekarang," bisiknya.Gia mengangguk pelan, namun jemarinya masih mencengkeram jas tuxedo Arkan dengan kuat. Keheningan yang mengikuti hiruk-pikuk penangkapan itu terasa aneh. Seharusnya ia merasa lega. Seharusnya beban di dadanya terangkat sepenuhnya. Namun, rasa dingin di tengkuknya tidak kunjung hilang."Arkan," panggil Gia dengan suara yang masih sedikit bergetar. "Dia tidak terlihat terkejut. Kenapa dia tidak terlihat takut?"Arkan melepaskan pelukannya, menatap Gia dengan

  • Cinta Tanpa Suara   bab 19

    Pintu aula besar itu terbuka dengan sapuan yang megah, mengungkapkan sebuah dunia yang dibangun dari emas, kristal, dan kemunafikan. Wangi parfum mahal bercampur dengan aroma sampanye yang berbuih, namun bagi Gia, udara di dalam sana terasa tipis, seolah-olah oksigen telah disedot keluar untuk memberi ruang bagi ego para tamu undangan.Arkan melangkah masuk dengan tangan Gia yang bertumpu kokoh di lengannya. Kehadiran mereka seketika menciptakan riak. Bisik-bisik halus merambat seperti api di atas jerami kering. Pasangan Mahendra yang selama ini tertutup—dengan sang istri yang kabarnya mengalami trauma bicara—kini muncul dengan aura yang begitu dominan. Gaun merah darah Gia bukan sekadar pilihan busana; itu adalah deklarasi perang."Tetap di sampingku," bisik Arkan hampir tak terdengar. Ia menyapa beberapa kolega bisnis dengan senyum profesional yang tidak pernah mencapai matanya.Dari kejauhan, di dekat panggung utama, sosok Haris Winata tampak sedang berbincang dengan seorang pejaba

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 18

    Malam itu, Mansion Mahendra tidak lagi terasa seperti rumah. Ruangan-ruangan luas dengan pilar marmer yang biasanya memancarkan kemewahan, kini tampak seperti labirin yang penuh dengan sudut-sudut gelap. Setelah Arkan membimbing Gia kembali ke dalam, suasana di meja makan terasa begitu berat. Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sesuatu yang tak terelakkan.Gia menatap piringnya, namun pikirannya tertahan pada kata-kata Arkan tentang Haris Winata. Bekas luka bakar itu... sebuah tanda permanen dari malam yang selama ini menjadi mimpi buruknya."Mas Arkan," panggil Gia pelan, memecah kesunyian.Arkan, yang sedang menyesap anggur merahnya, menatap Gia dengan lembut. "Ya, Gia?""Boleh aku melihat data tentang Haris Winata? Semuanya. Rekam jejaknya, hubungannya dengan Ayah, dan apa yang dia lakukan di perusahaan selama ini."Arkan terdiam sejenak. Ia meletakkan gelasnya dengan gerakan yang sangat terukur. "Gia, aku sudah

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 17

    Gia merasakan seluruh sendinya membeku. Suara di telepon itu tidak terdengar seperti gertakan biasa; ada nada otoritas yang tenang, seolah pria itu sedang berbicara tentang cuaca dan bukannya ancaman kematian. Gia mencoba menarik napas, mengatur getaran di pita suaranya yang baru saja pulih."Siapa kau?" Gia mengulang pertanyaannya, kali ini dengan nada yang lebih menuntut. "Jika kau pikir ancaman ini akan membuatku bungkam lagi, kau salah besar."Tawa pelan yang kering terdengar di seberang sana. "Keberanian yang menarik. Arkan Mahendra pasti sudah mencuci otakmu dengan rasa aman yang palsu. Kau pikir dinding mansion itu cukup tebal untuk melindungimu dari sejarah yang ditulis dengan darah?""Apa hubungannya dengan Garda Elang?" potong Gia, mencoba memancing informasi.Hening sejenak. Suara napas di seberang sana terdengar sedikit lebih berat. "Kau sudah melihat fotonya, rupanya. Gadis kecil dengan mawar-mawar yang akan layu. Gia, ada alasan kenapa ayahmu memilih untuk tidak menyelam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status