INICIAR SESIÓN
Aula hotel berbintang itu tampak seperti hamparan salju yang beku. Kilatan lampu kristal di langit-langit memantul pada dekorasi serba putih yang megah, namun bagiku, keindahan ini tak lebih dari sekadar penjara.
Tanganku gemetar saat mencoba merapikan anak rambut di balik cadar tipis. Aku bisa merasakan ratusan pasang mata menatapku—beberapa dengan kekaguman, namun lebih banyak dengan tatapan mencemooh yang tak disembunyikan. "Jangan berani-berani mempermalukan aku hari ini, Gia," desis Bibi Lastri, tepat di telingaku. Aku tersentak, menoleh pelan. Bibiku itu tersenyum lebar ke arah para tamu, namun jarinya mencubit lenganku dengan keras di balik lipatan gaun pengantin. "Ingat, hutang judiku lunas karena kau laku dijual pada keluarga Dirgantara," bisiknya lagi, suaranya ringan namun setajam pisau "Berdirilah yang tegak. Kau itu pajangan mahal sekarang. Jangan sampai cacatmu merusak harga jualmu!" Aku hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit. Lidahku kelu, bukan karena aku gugup, tapi karena takdir memang merampas suaraku sejak lama. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu liar di balik dada yang sesak. Langkahku terasa berat saat berjalan menyusuri karpet merah menuju altar. Di sana, seorang pria berdiri dengan angkuh. Arkan Dirgantara. CEO yang dijuluki pria "mati rasa" itu bahkan tidak menoleh saat aku sampai di sampingnya. Wajahnya seperti pahatan batu es—tampan, namun tanpa nyawa. "Kita bisa mulai sekarang? Aku tidak punya banyak waktu untuk pertunjukan ini," tanya Arkan dingin. Suaranya berat dan tidak sabar. Pendeta yang berdiri di depan kami tampak sedikit terkejut. "Ah, ya. Tentu, Tuan Arkan." Selama pembacaan janji suci, Arkan mengucapkannya seperti sedang membacakan laporan tahunan perusahaan. Tanpa jeda, tanpa emosi. Saat tiba giliranku, aku hanya bisa memberikan anggukan kecil dan menandatangani dokumen wasiat yang mengikat hidupku padanya. "Sekarang, silakan Tuan Arkan mencium pengantin Anda," ucap Pendeta dengan senyum canggung. Arkan berbalik ke arahku. Untuk pertama kalinya, mata elangnya menatapku lurus. Tajam dan menghunus. Ia mendekatkan wajahnya, membuatku refleks menahan napas. Namun, alih-alih sebuah ciuman, ia hanya menempelkan bibirnya di keningku dengan gerakan sekilas. "Jangan berharap ada cinta dalam drama ini, Gadis Bunga," bisiknya begitu rendah sehingga hanya aku yang bisa menangkap getaran suaranya. Hatiku mencelos. Aku hanya bisa menatap punggungnya saat ia berbalik menyapa para kolega bisnisnya, meninggalkan aku berdiri sendirian di altar sebagai pengantin yang terabaikan. Resepsi itu berlangsung berjam-jam. Kakiku sudah nyaris lumpuh di balik sepatu hak tinggi yang menyiksa, namun penderitaan sesungguhnya baru dimulai saat seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal mendekat ke arah kami. Sandra, ibu mertuaku. "Jadi, ini 'pajangan' baru yang dipilih kakekmu, Arkan?" sindir wanita itu. Arkan menyesap sampanyenya tanpa ekspresi. "Wasiat Kakek sudah terpenuhi, Ma. Itu yang paling penting sekarang." Sandra berputar mengelilingiku, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan jijik. "Kakekmu pasti sudah pikun. Apa tidak ada wanita normal di kota ini sampai dia harus menyeret gadis bisu ke rumah Dirgantara?" Aku memejamkan mata, tanganku meremas kain gaun pengantin dengan kuat. "Dia tidak bisa bicara, Ma. Itu keuntungan. Dia tidak akan banyak mengeluh saat aku pulang terlambat," sahut Arkan datar. "Kau pikir Mama peduli dia bicara atau tidak?" Sandra mendengus. "Yang Mama peduli adalah rahimnya. Apa kau pikir gadis cacat ini bisa memberikan pewaris yang sempurna bagi keluarga kita?" Aku tersentak, kepalaku mendongak menatapnya. Mataku mulai memanas. "Jangan menatapku seperti itu!" bentak Sandra. "Kau pikir dengan wajah memelas itu kau bisa lari dari tanggung jawabmu? Di rumah ini, kau tidak punya suara, dan kau juga tidak punya hak untuk bersedih." Aku hanya bisa menunduk. Isyarat tanganku tidak akan berguna di sini. Mereka tidak mau mengerti, mereka hanya ingin menindas. "Sudahlah, Ma. Resepsi ini membosankan," potong Arkan. Ia menatapku sekilas. "Ayo. Kita pulang ke neraka yang baru." Mansion keluarga Dirgantara jauh lebih besar dari toko bunga kecilku, namun suasananya jauh lebih mencekam. Begitu pintu kamar utama tertutup, Arkan langsung melepas dasinya dengan kasar dan melemparkannya ke lantai. "Kenapa kau masih berdiri di sana? Cepat ganti bajumu," tanyanya tanpa menoleh. Aku mengambil ponselku, lalu mengetik dengan jari gemetar: Aku harus tidur di mana? Arkan merampas ponsel dari tanganku. Ia tertawa sinis. "Kau pikir aku akan berbagi ranjang denganmu? Tidurlah di sofa atau di mana saja kau mau, asal jangan di sampingku." Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Aku meraih lengannya, mencoba memberanikan diri untuk berkomunikasi. "Lepas!" bentak Arkan, menepis tanganku dengan kasar. "Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" Aku terhuyung ke belakang, menabrak lemari kaca. Dadaku sesak. Isakan tanpa suara keluar dari tenggorokanku. "Dengar, Gia," Arkan melangkah mendekat, mengintimidasi. "Aku menikahimu hanya karena wasiat Kakek agar aku tidak kehilangan hak waris. Kau tidak lebih dari pajangab. Diamlah seperti biasanya, dan mungkin kau akan bertahan hidup." "Jangan menangis. Air matamu itu palsu, persis seperti pernikahan ini," tambahnya sambil membanting pintu balkon hingga suara kaca bergetar. Aku jatuh terduduk di atas karpet. Malam pertama yang seharusnya indah, justru menjadi awal dari kehancuran. Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan sangat keras. "Arkan! Buka! Mama tahu kalian ada di dalam!" suara Sandra berteriak. Arkan masuk kembali dari balkon dan membuka pintu. Sandra menyeruak masuk dengan wajah penuh amarah. Ia langsung menuju ke arahku dan menjambak rambutku, memaksaku berdiri. "Bangun kau, Gadis Penipu!" "Ma! Hentikan!" teriak Arkan, namun ia tidak melangkah untuk membantuku. "Diam kau, Arkan! Mama baru saja mendapat kabar bahwa gadis ini menyembunyikan sesuatu," Sandra melemparkan sebuah amplop cokelat ke wajahku. "Apa ini? Catatan medis dari panti asuhan? Dia bukan hanya bisu, Arkan! Dia cacat mental!" Aku menggeleng kuat-kuat. Tanganku bergerak liar melakukan isyarat: Tidak! Itu tidak benar! Aku normal! "Lihat! Lihat gerakan tangannya yang aneh itu!" Sandra menunjukku dengan jijik. "Dia gila! Buang dia sekarang juga, Arkan!" Arkan mengambil dokumen itu dan membacanya perlahan. Suasana menjadi sunyi senyap. "Keluar, Ma," ucap Arkan lirih. "Apa? Arkan, kau dengar Mama—" "KELUAR!" bentak Arkan dengan suara yang menggelegar. Setelah Sandra pergi, Arkan meremas dokumen itu hingga hancur. Ia mencengkeram rahangku dengan satu tangan, memaksaku menatap matanya yang memerah. "Jadi, selain bisu, kau juga menyimpan banyak kegilaan?" bisiknya tajam. "Katakan padaku, apalagi yang kau sembunyikan di balik wajah polosmu ini?" Aku hanya bisa menggeleng, air mataku jatuh mengenai tangannya. "Jangan pernah berpikir kau bisa mempermainkanku," Arkan menghempaskan rahangku dengan kasar. "Besok, penderitaanmu yang sesungguhnya baru akan dimulai."Pagi itu, kediaman Arkan yang biasanya sunyi dan kaku kini dipenuhi oleh aroma kopi yang kuat dan tawa renyah yang samar. Gia berdiri di depan cermin besar di ruang ganti, jemarinya lincah memadukan syal sutra untuk menutupi lehernya yang masih terasa sedikit kaku.Arkan muncul dari balik pintu, sudah rapi dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Ia berhenti sejenak, bersandar pada bingkai pintu sambil melipat tangan di dada. Matanya tidak lepas dari Gia."Kau terlihat berbeda hari ini," gumam Arkan, suaranya rendah namun penuh kekaguman.Gia menoleh, senyumnya kini tidak lagi hanya lewat mata, tapi juga tersirat di sudut bibirnya. "Berbeda... bagaimana?" tanyanya. Suaranya sudah tidak seberat beberapa hari lalu, meski masih ada getaran serak yang tipis—seperti suara gesekan biola yang belum sempurna disetel.Arkan mendekat, membantu merapikan ujung syal Gia. "Ada cahaya di matamu yang dulu sempat padam. Dan aku suka mendengar suaramu, meski kau hanya menanyakan di mana letak dasiku."Gia
Babak baru dalam hidupku telah dimulai, bukan hanya sebagai istri Arkan, melainkan juga sebagai Gia yang mampu berbicara. Kata-kata yang keluar dari bibirku tadi bagai sihir, membungkam riuhnya wartawan dan dentuman kamera. Arkan menatapku dengan mata tak percaya, bibirnya sedikit terbuka, seolah-olah baru saja menyaksikan keajaiban. Aku tahu, ini adalah awal dari segalanya. Kerumunan wartawan itu perlahan membubarkan diri, meninggalkan keheningan yang lebih berarti. Arkan masih memelukku erat, seolah takut aku akan menghilang jika dia melepaskannya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, selaras dengan detak jantungku sendiri. "Gia..." Suara Arkan serak, matanya berkaca-kaca. "Kau... kau benar-benar mengatakannya." Aku tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala. Rasa sakit di tenggorokanku kembali menyerang, mengingatkanku bahwa aku belum sepenuhnya pulih. Namun, kebahagiaan yang melingkupiku jauh lebih besar dari rasa sakit fisik. Aku mengangguk pelan, menyandarkan kepalak
Duniaku seolah berhenti berputar. Aku menatap Arkan. Dia tampak sama terkejutnya denganku."Ayah...?" bisik Arkan pelan.Di tengah kekacauan itu, Sandra meronta-ronta saat diseret keluar. Maya, yang ternyata bersembunyi di balik pilar, mencoba melarikan diri namun segera ditangkap.Keheningan kembali menguasai ruangan. Aku dan Arkan berdiri mematung di tengah reruntuhan rahasia keluarga Dirgantara.Aku mendekati Arkan, menyentuh lengannya. Arkan tiba-tiba jatuh berlutut, menyembunyikan wajahnya di perutku dan menangis hebat. Pria es itu hancur berkeping-keping.Aku mengelus rambutnya, air mataku pun mengalir. Namun, saat aku mencoba menenangkannya, sebuah suara... sebuah bisikan kecil yang asing keluar dari tenggorokanku."Ar... kan..."Itu suaraku. Sangat kecil, serak, dan menyakitkan. Tapi itu suaraku.Arkan mendongak dengan mata terbelalak. "Gia? Kau... kau bicara?"Aku mencoba lagi, namun rasa sakit di tenggorokanku begitu hebat hingga aku jatuh pingsan di pelukannya.**Bau anti
Jantungku berdegup kencang. Aku tidak meraih tablet. Aku mengambil tangan Arkan, meletakkannya di dadaku agar dia bisa merasakan detak jantungku yang menggila, lalu aku mengangguk mantap.Namun, di tengah momen haru itu, sebuah pesan masuk ke ponselku dari nomor yang tidak dikenal.Pesan di layar ponsel itu seolah berubah menjadi belati yang menghujam jantungku.“Kau pikir ini sudah selesai? Tanya suamimu, siapa yang sebenarnya menyebabkan kecelakaan yang merenggut suaramu sepuluh tahun lalu.”Tanganku gemetar hebat. Ponsel itu hampir saja meluncur dari genggamanku jika Arkan tidak segera menangkap pergelangan tanganku. Ia menatapku dengan kening berkerut, menyadari perubahan drastis pada raut wajahku."Gia? Ada apa? Wajahmu pucat sekali," tanya Arkan, suaranya yang berat kini terdengar penuh kecemasan.Aku menarik tanganku dengan kasar. Aku mundur selangkah, menatapnya dengan tatapan yang mungkin belum pernah ia lihat dariku—tatapan penuh kecurigaan.Arkan tertegun. Ia mencoba mendeka
Ciuman Arkan masih menyisakan sensasi terbakar di bibirku. Namun, kedamaian itu pecah seketika saat suara langkah kaki yang kasar menghantam lantai beton taman atap."Bagus sekali. Drama picisan di atas penderitaan keluarga!"Aku tersentak dan melepaskan pelukan Arkan. Sandra berdiri di sana, wajahnya merah padam, memegang ponsel dengan tangan gemetar. Di belakangnya, Maya tampak sibuk menghapus air mata buaya.Arkan menarikku ke belakang punggungnya. "Cukup, Ma. Dokter sudah bilang Gia sehat.""Sehat rahimnya, tapi otaknya mungkin tidak!" Sandra melemparkan ponselnya ke atas meja taman. "Lihat ini! Saham Dirgantara Group merosot lima persen dalam satu jam karena berita pernikahanmu dengan wanita bisu ini bocor ke media dengan narasi 'skandal wasiat paksa'."Aku terpaku. Tanganku meraba mencari tablet, tapi benda itu tergeletak jauh di kursi taman. Aku hanya bisa menarik ujung kemeja Arkan, mencoba menyalurkan rasa takutku.Arkan tidak menoleh. Suaranya mendingin, kembali menjadi es y
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar utama kediaman Dirgantara. Bagi Gia, ini adalah pagi pertama ia terbangun bukan sebagai "beban" yang terpaksa diterima, melainkan sebagai wanita yang baru saja dijanjikan sebuah perlindungan. Arkan sudah tidak ada di sampingnya, namun cekungan di bantal dan aroma maskulin yang tertinggal—campuran kayu cendana dan bergamot—menjadi bukti bahwa pelukan semalam bukanlah mimpi.Gia turun dari tempat tidur, langkah kakinya terasa ringan namun jantungnya berdegup kencang mengingat agenda hari ini: pemeriksaan medis. Ia berjalan menuju cermin besar, menyentuh lehernya sendiri. Takdir telah merenggut suaranya, namun Arkan—pria yang awalnya sedingin es kutub—telah berjanji untuk menjadi pelantang bagi jiwanya.Pintu kamar terbuka. Arkan muncul dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku, menampakkan urat-urat tangan yang maskulin. Ia membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring kecil roti panggang."Ma







