ANMELDEN"Kalau begitu tanggal pernikahan Dipta dan Indah akhirnya sudah ditentukan." Sudut bibir Hartanto Naratama terangkat saat menatap Idris Lesmana yang merupakan calon besannya. Kedua lelaki yang seumuran itu duduk saling berhadapan. "Saya harap dua bulan dari sekarang semua persiapan pernikahan mereka akan berjalan dengan lancar." Idris menganggukkan kepalanya tanda setuju. Senyum lelaki itu juga tidak kalah lebar. Setelah sekian lama, mereka benar-benar akan menjadi satu keluarga. "Saya juga senang sekali. Akhirnya kita mencapai kesepakatan, Pak Hartanto. Sosok Pradipta yang dewasa dan pekerja keras sudah cukup matang untuk memimpin rumah tangganya sendiri. Hal seperti itulah yang dibutuhkan anak saya, Anita yang terkadang masih memiliki sisi yang kekanak-kanakan." Saat namanya di sebut, Anita yang duduk di samping ibunya langsung memajukan bibirnya dengan manja. Meski nampak kesal, nyatanya mata perempuan itu terlihat berbinar. "Aku mau manjanya di lamain-lamain dari sekarang. Soal
Sebuah Mercy berwarna putih baru saja memasuki gerbang besar dan berhenti di carport milik rumah utama keluarga Naratama. Tak lama kemudian, siluet tubuh perempuan cantik yang mengendarainya dan tak lain adalah Karala, keluar dari dalam mobil. Karala yang memakai dress berwarna hitam dan baru saja pulang dari makam itu terlihat melangkah menuju pintu utama untuk masuk ke dalam rumah. Namun saat seorang security yang sedang berjaga berjalan mendekatinya, perempuan itu memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu. "Selamat sore, Bu. Ini ada dua paket yang datang untuk Bu Kara." Security yang bername tag Ismail tersenyum sopan pada sang nyonya rumah sambil menyerahkan sebuah buket bunga berukuran sedang dan undangan di tangannya. "Sore. Siapa yang nganterin, Pak?" Karala mengerutkan kening dengan heran. Biasanya beberapa paket miliknya akan di kirim langsung menuju alamat apartemennya. "Dikirim sama ojol, Bu. Sebenarnya dari pagi paketnya sampai tapi saya keep di pos sesuai permintaan
Jeremy meneguk winenya lalu meletakkan gelasnya di atas pahanya. Pandangan mata lelaki itu tertuju pada tubuh telanjang sang istri yang baru saja keluar dari walk in closet yang ada di kamar mereka. Andira Zahid memang telah kembali ke Indonesia setelah melakukan perjalanan bisnis dari Jerman beberapa waktu yang lalu. "Kami semua menghabiskan waktu di Seepromenade di Tegernsee setelah semua acaranya selesai." Sejak tadi Andira terus menceritakan dengan ringan apa yang telah terjadi di Jerman dan merupakan bagian kecil dari agendanya. Kakinya yang jenjang melangkah mendekati Jeremy yang juga sedang duduk di sofa dan memandanginya. "That's a nice place. Mungkin kita bisa pergi berdua di sana, Mas. Another honeymoon." Jeremy tersenyum saat Andira menundukkan tubuhnya ke lantai yang beralaskan karpet wool-silk mahal dan tepat berada di antara kedua kakinya. "Pasti kalian bersenang-senang sekali." "Just partying." Andira balas tersenyum. Kedua tangannya memegangi paha Jeremy lal
Waktu masih pagi, ketika Karala yang sedang memakai setelan olahraga terlihat sedang berlari dengan kecepatan stabil di atas treadmill di sebuah gym langganannya yang berada di pusat kota. Tubuhnya yang ramping nampak berkilau oleh keringat. Ekspresi perempuan cantik itu juga nampak benar-benar fokus meski nyatanya pikiran Karala justru sedang berkelana ke suatu tempat. "Insya Allah mbak dan yang lainnya akan berangkat ke Surabaya, Kar. Maaf ya tapi mungkin demi kebaikan semuanya yang pengen suasana baru." Ingatannya kembali pada kejadian semalam. Setelah memutuskan tidak bisa datang pada janji makan siang bersama Damian, Karala justru memilih menemui seseorang yang sangat penting, yang memanggilnya dengan nama orang lain. Dan dari pertemuan itu, bahkan dia harus mendengar sebuah keputusan yang sejujurnya tidak terlalu membuatnya senang. "Haaah ..." Menghela nafas, Karala mengurangi kecepatan lalu mengusap ujung matanya. Kalau sudah begini, mereka akan semakin jauh dan jarang be
Karala tersenyum ketika sudah berhadapan dengan Damian yang juga sedang menatapnya. Mengamati outfit lelaki itu, Karala cukup terkesan karena Damian nampak di luar biasa di hari yang masih terbilang pagi ini. "Selamat pagi, Pak Damian." Sapa Karala dengan ramah. Senyumnya begitu manis. "Selamat pagi, Bu Karala." Damian balas tersenyum simpul. Setelah tidak berhubungan selama beberapa hari, siapa yang menyangka kalau dia akan melihat keberadaan Karala disini. "Saat melihat anda dari jauh, saya agak terkejut. Dari segala kemungkinan, siapa yang akan menyangka kalau kita akan bertemu di tempat seperti ini ya?" Damian menaikan sebelah alisnya lalu menganggukan kepala. Dia jelas tahu maksud perkataan perempuan itu. "Hampir bertahun-tahun datang ke tempat ini, untuk pertama kalinya saya melihat Karala Naratama berada disini. Rasanya bukan suatu kebetulan." "Benar juga, hehehe ...." Damian diam beberapa detik untuk memilih kata. "Jadi, ada sesuatu yang anda perlukan?" "Tolong ja
Karala menatap perempuan yang baru datang itu beberapa detik lalu kembali melihat kaca. "Lucky you. Gue senang kalau bang Dipta cerita kabar baik ini dengan calon istrinya." Anita Lesmana atau tepatnya bisa dipanggil sebagai calon istri Pradipta Naratama yang juga merupakan anak salah satu anggota parlemen yang sedang aktif langsung tersenyum jumawa. "Kami selalu cerita apa pun, Karala. Mas Dipta sepengertian itu." "Baguslah kalau begitu." Karala kemudian menggelengkan kepalanya. "Tapi tetap ingat jangan sampai melewati batas. Tidak baik terlalu menggebu-gebu pada sesuatu." "Memangnya salah kalau bertanya?" Tanya Anita sinis. Melihat wajah Karala yang sok polos sungguh membuatnya kesal. Kenyataannya hal tersebut berbanding terbalik dengan kelakuannya. "Gue hanya berusaha jelas dengan apa yang gue lihat. How dare you?" Karala menyeringai. Otaknya yang cerdas jelas tahu apa yang akan dikatakan oleh calon kakak iparnya itu. "Mata memang di ciptakan untuk melihat tapi bukan untuk







