Masuk"Zaman semakin modern, kenapa masih mempercayai adanya perjodohan? Pokoknya Yaya nggak mau ya, Bu," kata wanita itu dengan ngotot.
"Apa salahnya sih terima dia? Emangnya kamu udah punya pacar? Selama ini Ayah sama Ibu selalu menyuruhmu bawa pacarmu ke rumah, tapi sampai saat ini mana? Nggak ada," dengkus pria paruh baya yang bernama Indra. "Pacar saat ini bukan prioritas Yaya, Yah. Yaya mau fokus cari kerja, cari uang." "Halah! Cari kerjaan tuh susah. Apalagi kamu itu cuma tamatan SMA," cibir Indra. Wanita itu, yang bernama Cahaya menghela napas berat. Dia begitu kecewa karena ayahnya sendiri meremehkan kemampuannya. "Sudahlah, Yah. Yaya nggak mau, jangan dipaksa," ucap Indah menengahi perdebatan di antara ayah dan anak itu. "Nggak bisa, Bu. Dimas selalu desak Ayah agar segera mengatur pertemuan mereka." "Kok dadakan gitu sih, Yah? Kenapa nggak kasih tahu Yaya dari kemarin-kemarin. Berarti selama ini Ibu sama Ayah memang sudah berniat agar Yaya segera menikah, ya?" tebak Cahaya. "Ya!" "Tidak." Cahaya menatap Indah dan Indra secara bergantian. Dahinya mengkerut karena mendapat jawaban berbeda dari mereka. "Jadi ini yang benar yang mana. Iya atau tidak?" tanya Cahaya sekali lagi. "Iya!" ungkap Indra tegas. "Teman Ayah ingin bertemu denganmu besok malam. Jadi Ayah harap jangan bertingkah kekanak-kanakan. Jangan buat Ayah malu." Hati Cahaya rasanya tercabik-cabik ketika mendengar ucapan yang terlontar dari sang ayah. Indra memang selalu begitu, memandang rendah dan tidak mau mendengar penolakan dari Cahaya. Selama ini Cahaya selalu diam jika selalu disalahkan. Tapi, untuk kali ini mampukah wanita itu menolak? "Bagaimana kalau aku tidak mau?" "Kamu berani menolak permintaan Ayah?" "Yaya beneran nggak mau dijodohkan. Bukan maksud nggak mau menikah. Pasti Yaya bakal nikah, tapi nanti, nggak sekarang," ucap wanita itu dengan suara rendah, mati-matian menahan amarah. "Coba kamu ingat-ingat, sudah berapa biaya yang Ayah keluarkan untuk kamu." Ucapan Indra membuat Cahaya tercengang. "Maksud Ayah?" "Kamu kira membesarkanmu tidak membutuhkan biaya, hah? mulai dari makananmu, biaya sekolahmu, uang saku kamu, kamu kira itu jumlah uang yang sedikit?" Cahaya berang seketika. Dia berdiri dari duduknya, menatap Indra begitu tajam. "Oh, jadi sekarang Ayah mulai hitung-hitungan sama Yaya?" tanyanya penuh emosi. "Sudah, sudah. Yaya, maksud Ayah bukan seperti itu, Ayah cuma--" "Cuma apa, Bu. Jelas-jelas Ayah ngomong seperti itu. Sebenarnya Yaya ini siapa sih, anak Ayah apa bukan. Apa pantas orang tua mengungkit-ungkit apa yang sudah diberikan ke anaknya?" "Kamu masih kecil, tahu apa tentang orang tua. Pakai acara ngajarin segala," cemooh Indra. Cahaya menggeleng tak percaya. Memang selama ini Indra selalu tidak berpihak padanya, Indra selalu pilih kasih. Pria paruh baya itu lebih sayang pada adiknya, ketimbang dirinya. "Ayah jahat tahu nggak." Selepas mengatakan hal itu, Cahaya melenggang pergi begitu saja. "Jangan lupa besok malam kamu harus datang ke pertemuan itu!" teriak Indra. "Nggak mau! Lebih baik Ayah aja yang menikah sama dia!" teriak Cahaya balik. "YAYA!" Brak! Pintu kamar Cahaya tertutup dengan keras, membuat Indra mengelus dadanya berkali-kali seraya menggeleng pelan. "Urus anakmu itu, Bu. Ayah nggak mau tahu pokoknya besok mereka harus ketemu. Anak kayak dia bisanya cuma bikin sakit kepala aja." Cahaya tersenyum getir ketika mendengar ucapan ayahnya seperti itu. Seolah-olah dirinya selalu berbuat masalah. Ponselnya berdering, menandakan ada seseorang yang tengah menghubunginya. "Halo," kata Cahaya dengan suara parau. "Yaya?" Cahaya menghela napas panjang. "Kenapa?" "Kamu lagi nangis?" "Nggak!" "Bohong banget. Kamu nggak bakalan bisa kalau bohongin aku," sela pria itu, membuat Cahaya terbahak. "Apaan sih, kenapa tiba-tiba nelepon?" tanya wanita itu, mengalihkan pembicaraan. "Ini, aku mau kasih tahu kamu. Tadi 'kan, aku cari-cari info tentang lowongan pekerjaan, eh nggak tahunya ketemu," ujar pria itu dari ujung sana. Nada bicaranya terdengar begitu antusias. "Terus apa hubungannya sama aku?" Alis Cahaya berkerut. "Nggak enak ngomong lewat telepon. Kita ketemu aja ya." Cahaya terdiam cukup lama, setelah menimbang tawaran pria itu, akhirnya dia menyetujuinya. 'Sekalian hilangin pikiran stres ini. Daripada terus di rumah, Ayah selalu marah-marah tidak jelas,' batin Cahaya. "Oke, ada yang mau aku omongin juga sama kamu, Mas." "Apa itu?" tanya pria itu penasaran. "Idih, kepo banget." Tut. Cahaya mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, dia terkikik pelan. Sudah dia pastikan pasti temannya itu tengah memonyongkan bibirnya, kesal dengan dirinya. *** Cahaya masih belum berhenti tertawa ketika melihat temannya masih kesal terhadapnya. "Udah sih ngambeknya. Tapi kalau kamu kayak gitu malah tambah ganteng lho, Mas." "Kalau aku ganteng kenapa kamu nggak pernah terima cinta aku?" tanya pria itu sengit. Cahaya tertawa geli. "Ya kali aku percaya sama omongan Mas. Mas kan rajanya gombal, setiap lihat cewek selalu kedipin mata." "Tapi kalau sama kamu serius kok." "Halah, halah. Skip aja pembahasannya. Jadi ngajak ketemu mau bahas apa? Bukannya kerjaan 'kan, ya?" Mulut pria itu mencebik. "Kamu ini, aku bicara serius malah dianggap bercanda. Oke, sekarang kita bahas yang lain dulu. Kemarin aku tanya-tanya sama teman masalah kerjaan, katanya ada, tapi jadi kasir di supermarket. Gajinya lumayan sih kalau buat kamu sendiri. Kamu mau?" Cahaya memandang pria itu dengan tak terbaca, ada perasaan geli, lega, dan juga bangga. "Mas kenapa harus capek-capek cariin aku pekerjaan? Padahal aku bisa cari sendiri loh." "Ya, karena aku peduli sama kamu. Disuruh kerja di perusahaan keluarga aku kamunya nggak mau." Cahaya menggosok hidungnya secara perlahan. "Gimana nggak mau. Tamatan aku cuma SMA, insecure kalau ngomongin keluarga Mas. Heran juga sama Mas, kenapa mau berteman sama aku yang biasa-biasa aja. Jelas banget circle kita itu beda jauh," ujar Cahaya lesu. "Lah kok jadi bahas keluarga. Aku lagi bahas kerjaan loh, Yaya. Jangan-jangan kamu udah siap ya kalau aku nikahin," goda pria itu. "Mas!" Cahaya mendelik tajam. "Oke, oke. Aku cuma bercanda. Tapi kalau kamu mau menikah sama aku, bilang aja. Nggak usah bertele-tele, langsung gas." Cahaya memutar bola matanya malas, dia sudah terbiasa dengan candaan yang temannya berikan. Jadi tidak heran dengan tingkah laku pria itu. "Tawarannya aku pikir-pikir dulu ya, Mas," kata Cahaya dengan wajah murung. "Kenapa? Kalau kelamaan mikir, nanti diduluin sama orang." "Sumpah! Saat ini aku tuh nggak bisa mikir jernih, Mas." "Oh, jadi ini yang mau kamu omongin sama aku? Emang ada masalah apa?" tanya pria itu penasaran. "Aku bingung." "Bingung kenapa?" Cahaya menghela napas berat, menatap mata lelaki itu dengan lekat. "Aku dijodohin. Parahnya lagi, aku nggak tahu dijodohin sama siapa." Senyuman lelaki itu perlahan memudar, bahkan tangannya yang berada di bawah meja terkepal erat. Wajahnya pun berubah menjadi tegang.Sementara itu, di sebuah restoran mewah, Bara duduk berhadapan dengan Alina. Perempuan yang sudah lama menjadi kekasihnya itu tampak begitu manja. Sesekali Alina menyuapkan makanan ke mulut Bara, membuat laki-laki itu tersenyum lebar."Mas, sampai kapan kita harus seperti ini?" tanya Alina tiba-tiba.Bara menghentikan kunyahannya. "Seperti apa maksud kamu?""Aku capek, Mas. Kamu sudah menikah, tapi aku masih harus sembunyi-sembunyi kalau mau bertemu denganmu."Bara meletakkan sendoknya."Alina, kita sudah pernah membicarakan ini. Aku menikah dengan Cahaya bukan karena keinginanku.""Tapi kenyataannya dia sekarang istrimu.""Status saja. Tidak lebih."Alina mengerucutkan bibirnya. "Aku takut kamu lama-lama jatuh cinta sama dia."Bara terkekeh, lalu meraih tangan Alina."Kamu jangan berpikir macam-macam. Tidak mungkin aku mencintai perempuan yang bahkan tidak pernah aku inginkan.""Janji?""Janji."Alina tersenyum puas. Dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Bara."Kalau begitu, ma
Kemarin Bara tidak pulang, dan itu membuat Cahaya seperti orang linglung. Pasalnya dia selalu ditanya ayah dan ibunya kemana suaminya pergi.Cahaya selalu mencari alasan kalau Bara sibuk dengan pekerjaannya."Sibuk ya sibuk. Masa dia nggak menikmati pengantin baru. Nggak bisa libur sehari aja apa?"Cahaya tersenyum getir, padahal ayahnya sudah tahu kalau pernikahan ini terjadi karena perjodohan, bisa-bisanya berbicara seperti itu.Cahaya mengembuskan napas panjang. Dia sebenarnya tidak ingin terlalu memedulikan keberadaan Bara. Namun, bagaimana pun juga, laki-laki itu sekarang adalah suaminya. Setidaknya, dia ingin tahu ke mana Bara pergi dan kapan akan pulang.Suara deru mobil tiba-tiba terdengar dari halaman rumah. Cahaya segera menoleh. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat ketika melihat Bara masuk sambil melepas jam tangan."Kamu baru pulang?" tanya Cahaya pelan.Bara hanya melirik sekilas. "Menurutmu?"Cahaya menelan ludah. "Aku tadi menelepon kamu beberapa kali.""Terus?""Ak
Satu Bulan KemudianCahaya masih tak percaya kalau hari ini adalah hari pernikahannya.Hari yang seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan itu justru terasa seperti mimpi buruk baginya. Bukan karena ia tidak ingin menikah, melainkan karena pria yang akan menjadi suaminya bukanlah seseorang yang ia pilih dengan hatinya sendiri.Pernikahan ini terjadi karena perjodohan.Sebuah keputusan yang dibuat oleh kedua orangtuanya tanpa benar-benar memedulikan keinginan Cahaya. Ayahnya dan Bara, pria yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya, sama-sama bersikeras bahwa pernikahan ini harus tetap dilaksanakan.Padahal, sejak awal Cahaya sudah menolak."Ayah, Cahaya mohon. Cahaya belum mau menikah," ucapnya beberapa minggu lalu, ketika ayahnya menyampaikan keputusan tersebut.Namun, permohonannya sama sekali tidak mengubah pendirian sang ayah."Ini demi kebaikan kamu, Cahaya. Ayah sudah mengenal keluarga Bara sejak lama. Dia pria yang mapan, bertanggung jawab,
"Aku kira kamu yang bakal nikah sama aku, Mas. Hahaha.""Memangnya kenapa kalau aku orangnya?" Dirga bertanya dengan mata menyipit."Kalau aku nikah sama kamu ...." Cahaya tampak berpikir sejenak, "kayaknya aku makan hati terus deh setiap hari, hahaha."Dirga tersenyum kecil. Memang pandangan wanita itu pada dirinya tampak begitu buruk."Apa aku segitu jeleknya di matamu?" Pria itu bertanya dengan nada sedih."Yang bilang kamu jelek itu siapa, Mas? Nggak ada ya, kamu itu ganteng, minusnya suka godain cewek sana-sini, giliran ceweknya baper kamu malah bertingkah seolah-olah nggak pernah ngelakuin sesuatu. Jahat banget tau nggak."Dirga mengangguk pelan, nyatanya dia mengajak Cahaya ke sini bukan untuk membahas tentang itu.Pria itu menghirup udara angin malam dengan perasaan sesak. Sebentar lagi wanita ini, wanita yang sedang berdiri di sisinya yang sedang mengagumi keindahan taman itu, akan menjadi istri kakaknya sendiri.Padahal Dirga yang lebih dulu mengenalnya, jatuh-bangun dia lak
Namanya Bara, sekelebat yang Cahaya dengar dari percakapan ibunya tadi, sayangnya dia sama sekali tak mendengar, hanya Bara, kata itu saja yang ia ingat. Kedua orang tua mereka merencanakan pertemuan, finalnya adalah malam ini, berkali-kali Cahaya menolak pun rasanya percuma. Ayahnya selalu memaksa hingga akhirnya Cahaya hanya bisa berkata 'iya'. "Ingat ya, Ya, jangan banyak tingkah. Jangan bikin malu Ayah sama ibu kamu," tegur Indra. Cahaya tak menjawab, dia memutar bola matanya malas. "Oalah, dasar anak kurang ajar, enggak sopan kamu sama orang tua, itu, Bu, urus anakmu. Hasil didikan mu tuh, itu akibatnya karena sering kamu bela-bela dan kamu manjain, sama ayahnya sendiri jadi kurang ajar," sentak Indra dengan mata mendelik. "Sudah, Yah, sudah. Malu ribut-ribut terus didengar sama tetangga." "Nah, mulai lagi, terus aja bela tuh anak. Besok kalau anak itu udah nikah, kamu enggak boleh lagi ikut-ikut campur, biar dia urus sendiri rumah tangganya, nanti kalau udah dia jadi orang
"Zaman semakin modern, kenapa masih mempercayai adanya perjodohan? Pokoknya Yaya nggak mau ya, Bu," kata wanita itu dengan ngotot. "Apa salahnya sih terima dia? Emangnya kamu udah punya pacar? Selama ini Ayah sama Ibu selalu menyuruhmu bawa pacarmu ke rumah, tapi sampai saat ini mana? Nggak ada," dengkus pria paruh baya yang bernama Indra. "Pacar saat ini bukan prioritas Yaya, Yah. Yaya mau fokus cari kerja, cari uang." "Halah! Cari kerjaan tuh susah. Apalagi kamu itu cuma tamatan SMA," cibir Indra. Wanita itu, yang bernama Cahaya menghela napas berat. Dia begitu kecewa karena ayahnya sendiri meremehkan kemampuannya. "Sudahlah, Yah. Yaya nggak mau, jangan dipaksa," ucap Indah menengahi perdebatan di antara ayah dan anak itu. "Nggak bisa, Bu. Dimas selalu desak Ayah agar segera mengatur pertemuan mereka." "Kok dadakan gitu sih, Yah? Kenapa nggak kasih tahu Yaya dari kemarin-kemarin. Berarti selama ini Ibu sama Ayah memang sudah berniat agar Yaya segera menikah, ya?" tebak Cahaya







