Share

Status Saja Tidak Lebih

Author: Nona Ekha
last update publish date: 2026-10-30 16:39:05

Sementara itu, di sebuah restoran mewah, Bara duduk berhadapan dengan Alina. Perempuan yang sudah lama menjadi kekasihnya itu tampak begitu manja. Sesekali Alina menyuapkan makanan ke mulut Bara, membuat laki-laki itu tersenyum lebar.

"Mas, sampai kapan kita harus seperti ini?" tanya Alina tiba-tiba.

Bara menghentikan kunyahannya. "Seperti apa maksud kamu?"

"Aku capek, Mas. Kamu sudah menikah, tapi aku masih harus sembunyi-sembunyi kalau mau bertemu denganmu."

Bara meletakkan sendoknya.

"Alina, kita sudah pernah membicarakan ini. Aku menikah dengan Cahaya bukan karena keinginanku."

"Tapi kenyataannya dia sekarang istrimu."

"Status saja. Tidak lebih."

Alina mengerucutkan bibirnya. "Aku takut kamu lama-lama jatuh cinta sama dia."

Bara terkekeh, lalu meraih tangan Alina.

"Kamu jangan berpikir macam-macam. Tidak mungkin aku mencintai perempuan yang bahkan tidak pernah aku inginkan."

"Janji?"

"Janji."

Alina tersenyum puas. Dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Bara.

"Kalau begitu, malam ini kamu temani aku, ya? Aku nggak mau sendirian."

Bara mengusap rambut Alina. "Baiklah. Malam ini aku punya banyak waktu untukmu."

Di tempat berbeda, Cahaya masih duduk bersama Rita. Setelah membaca pesan dari Bara, dia memutuskan tidak akan membalasnya.

"Kenapa nggak kamu jawab?" tanya Rita.

"Untuk apa? Kalau aku bertanya pun, dia pasti akan marah."

"Terus kamu mau membiarkan dia terus-terusan memperlakukanmu seperti itu?"

Cahaya menggeleng pelan.

"Aku cuma sedang berpikir, Rit."

"Berpikir apa?"

"Aku ingin tahu sampai kapan aku harus berpura-pura bahagia di depan orang tuaku. Setiap kali mereka bertanya tentang Bara, aku selalu bilang semuanya baik-baik saja. Padahal kenyataannya ...."

Suara Cahaya terputus. Matanya mulai berkaca-kaca.

Rita mengusap punggung tangannya.

"Kalau kamu sudah nggak kuat, ceritakan semuanya kepada mereka."

"Aku takut Ayah kecewa. Bagaimanapun juga, Ayah yang menginginkan pernikahan ini."

"Justru karena itu, dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Cahaya terdiam cukup lama.

Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Kali ini panggilan masuk dari ibunya.

"Ibu menelepon," gumam Cahaya.

"Angkat saja."

Cahaya menggeser tombol hijau.

"Halo, Bu."

"Yaya, kamu di mana? Ibu dari tadi cari kamu loh di rumah, tapi kelihatannya sepi."

"Aku sedang keluar sama Rita, Bu."

"Sudah makan? Bara ada di mana? Ibu mau mengundang kalian makan malam di rumah."

Cahaya memejamkan mata sejenak.

"Mas Bara sedang ada pekerjaan, Bu."

"Ya sudah, nanti bilang sama suamimu jangan terlalu sibuk. Sesekali luangkan waktu untuk istrinya. Kalian kan baru menikah."

"Iya, Bu."

Setelah panggilan berakhir, Cahaya meletakkan ponselnya dengan wajah muram.

Menjelang sore, Cahaya akhirnya memutuskan pulang. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah.

Dia mengenali mobil itu.

Mobil Bara.

Dengan sedikit harapan, Cahaya mempercepat langkahnya memasuki rumah. Akan tetapi, begitu sampai di ruang tengah, dia justru mendapati Bara sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.

"Kamu sudah pulang?" tanya Cahaya.

Bara mengangkat wajah sekilas. "Memangnya kenapa?"

"Nggak. Aku cuma tanya."

Cahaya meletakkan tasnya di sofa.

"Tadi Ibu nelpon. Beliau mengundang kita makan malam di rumah Ayah."

"Aku nggak bisa."

Cahaya menoleh. "Kenapa?"

"Ada acara."

"Acara apa?"

Bara menghela napas kesal. "Kamu ini kenapa selalu ingin tahu urusanku?"

"Aku hanya ingin tahu apakah kamu bisa meluangkan waktu untuk makan malam bersama orang tuaku."

"Kalau kamu mau pergi, pergi saja sendiri."

Cahaya mengangguk kecil.

"Baiklah."

Bara tampak sedikit heran melihat istrinya yang kali ini tidak membantah.

'Tumben kok nggak rewel kayak biasanya?' batin Bara

"Biasanya kamu banyak bicara. Sekarang kenapa diam?"

Cahaya menatapnya sebentar.

"Aku mulai belajar untuk tidak mengharapkan sesuatu darimu, Bara."

Bara mengernyit.

"Apa maksudmu?"

Cahaya tersenyum tipis sebelum beranjak meninggalkannya.

"Nggak ada."

Namun, baru beberapa langkah, suara Bara kembali terdengar.

"Cahaya!"

Perempuan itu menghentikan langkah.

"Jangan sampai kamu membuat masalah dengan orang tuamu hanya karena urusan rumah tangga kita."

Cahaya tahu maksud Bara. Kalau diartikan Bara berbicara,'nggak usah ngadu macam-macam ke mereka'.

Cahaya berbalik. Kali ini tatapannya berbeda.

"Tenang saja. Aku tidak akan menceritakan apa pun kepada mereka."

Bara mengangguk puas.

Namun, Cahaya kembali melanjutkan kalimatnya.

"Tapi ingat, Bara. Aku mungkin bisa terus berbohong kepada orang lain tentang pernikahan kita, tetapi aku tidak akan selamanya membohongi diriku sendiri."

Setelah mengatakan itu, Cahaya berjalan menuju kamar.

Untuk pertama kalinya, Bara hanya bisa memandangi punggung istrinya dengan dahi berkerut.

Dia tidak tahu mengapa sikap Cahaya hari ini terasa berbeda.

Sialnya, meskipun saat ini Bara sedang bersama Alina, tapi pikirannya terus menuju istrinya. Hatinya terusik karena sorot mata tajam Cahaya dan tindakan tegasnya.

'Dia itu kenapa sih, biasanya juga nggak kayak gitu,' gerutu pria itu dalam hati.

"Kamu ini kenapa sih bengong terus? Dari tadi aku ngajakin kamu ngobrol loh, mikirin apa sih?"

"Biasa, kerjaan numpuk," sahut Bara sekenanya.

Alina mengembuskan napasnya. "Bisa nggak sih kalau kita cuma berdua itu nggak usah mikirin yang aneh-aneh? Kita ini sekarang lagi berdua loh, Sayang. Kita nikmati sama-sama. Tujuan kita ketemu kan untuk bersenang-senang."

Bara mengalihkan pandangannya, menatap Alina. Perempuan itu sudah memasang wajah cemberut sejak tadi. Bahkan, makanan yang ada di depannya pun belum disentuh.

"Ya sudah, maaf. Aku lagi banyak pikiran," ujar Bara sambil meraih tangan Alina.

Alina menarik tangannya. "Kamu selalu begitu akhir-akhir ini. Kalau sama aku, pikiranmu entah ke mana. Jangan-jangan sekarang kamu mulai menikmati pernikahanmu dengan Cahaya?"

Bara langsung mengernyit.

"Ngawur kamu!"

"Terus kenapa dari tadi kamu bengong? Aku tahu kamu, Bara. Jangan bilang kamu mulai suka sama istrimu sendiri."

Bara tertawa kecil, meskipun sebenarnya ucapan Alina cukup mengganggu pikirannya.

'Dia udah pulang belum sih? Dia nggak ngomong macam-macam kan ke orang tuanya?' batin Bara seraya melirik jam tangannya.

"Nggak mungkin. Aku menikah sama dia karena terpaksa. Kamu juga tahu itu."

"Tapi sekarang kalian tinggal serumah. Setiap hari ketemu. Siapa yang bisa menjamin perasaan kamu nggak berubah?"

Bara mengusap wajahnya kasar. Lama-kelamaan jengah juga mendengar rengekan Alina yang dramanya selalu itu-itu saja. Pikirannya kali ini terpecah belah.

"Alina, sudah, ya. Jangan bikin suasana jadi nggak enak."

Alina terdiam. Dia kemudian mengambil gelas minumannya dan menyesapnya beberapa kali.

"Kalau memang kamu nggak punya perasaan sama dia, aku mau kamu buktiin sesuatu."

"Apa lagi?"

"Antar aku ke rumah kamu."

Bara langsung menoleh. "Buat apa?"

"Ya, aku mau ketemu kamu lebih lama. Lagipula, aku penasaran sama rumah yang sekarang kamu tinggali bersama istrimu."

"Alina, jangan cari masalah."

"Aku cuma mau datang. Memangnya nggak boleh?"

Bara menghela napas panjang. Dia tahu betul bagaimana sifat kekasihnya itu. Kalau sudah menginginkan sesuatu, Alina akan terus memaksa sampai keinginannya terpenuhi.

"Ya sudah, nanti aku pikirkan."

Alina tersenyum puas. "Janji?"

Bara hanya mengangguk.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Terlarang di Balik Pernikahan    Status Saja Tidak Lebih

    Sementara itu, di sebuah restoran mewah, Bara duduk berhadapan dengan Alina. Perempuan yang sudah lama menjadi kekasihnya itu tampak begitu manja. Sesekali Alina menyuapkan makanan ke mulut Bara, membuat laki-laki itu tersenyum lebar."Mas, sampai kapan kita harus seperti ini?" tanya Alina tiba-tiba.Bara menghentikan kunyahannya. "Seperti apa maksud kamu?""Aku capek, Mas. Kamu sudah menikah, tapi aku masih harus sembunyi-sembunyi kalau mau bertemu denganmu."Bara meletakkan sendoknya."Alina, kita sudah pernah membicarakan ini. Aku menikah dengan Cahaya bukan karena keinginanku.""Tapi kenyataannya dia sekarang istrimu.""Status saja. Tidak lebih."Alina mengerucutkan bibirnya. "Aku takut kamu lama-lama jatuh cinta sama dia."Bara terkekeh, lalu meraih tangan Alina."Kamu jangan berpikir macam-macam. Tidak mungkin aku mencintai perempuan yang bahkan tidak pernah aku inginkan.""Janji?""Janji."Alina tersenyum puas. Dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Bara."Kalau begitu, ma

  • Cinta Terlarang di Balik Pernikahan    Nggak Pantas diperlakukan Seperti Ini

    Kemarin Bara tidak pulang, dan itu membuat Cahaya seperti orang linglung. Pasalnya dia selalu ditanya ayah dan ibunya kemana suaminya pergi.Cahaya selalu mencari alasan kalau Bara sibuk dengan pekerjaannya."Sibuk ya sibuk. Masa dia nggak menikmati pengantin baru. Nggak bisa libur sehari aja apa?"Cahaya tersenyum getir, padahal ayahnya sudah tahu kalau pernikahan ini terjadi karena perjodohan, bisa-bisanya berbicara seperti itu.Cahaya mengembuskan napas panjang. Dia sebenarnya tidak ingin terlalu memedulikan keberadaan Bara. Namun, bagaimana pun juga, laki-laki itu sekarang adalah suaminya. Setidaknya, dia ingin tahu ke mana Bara pergi dan kapan akan pulang.Suara deru mobil tiba-tiba terdengar dari halaman rumah. Cahaya segera menoleh. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat ketika melihat Bara masuk sambil melepas jam tangan."Kamu baru pulang?" tanya Cahaya pelan.Bara hanya melirik sekilas. "Menurutmu?"Cahaya menelan ludah. "Aku tadi menelepon kamu beberapa kali.""Terus?""Ak

  • Cinta Terlarang di Balik Pernikahan    Malam Pertama yang Menyakitkan

    Satu Bulan KemudianCahaya masih tak percaya kalau hari ini adalah hari pernikahannya.Hari yang seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan itu justru terasa seperti mimpi buruk baginya. Bukan karena ia tidak ingin menikah, melainkan karena pria yang akan menjadi suaminya bukanlah seseorang yang ia pilih dengan hatinya sendiri.Pernikahan ini terjadi karena perjodohan.Sebuah keputusan yang dibuat oleh kedua orangtuanya tanpa benar-benar memedulikan keinginan Cahaya. Ayahnya dan Bara, pria yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya, sama-sama bersikeras bahwa pernikahan ini harus tetap dilaksanakan.Padahal, sejak awal Cahaya sudah menolak."Ayah, Cahaya mohon. Cahaya belum mau menikah," ucapnya beberapa minggu lalu, ketika ayahnya menyampaikan keputusan tersebut.Namun, permohonannya sama sekali tidak mengubah pendirian sang ayah."Ini demi kebaikan kamu, Cahaya. Ayah sudah mengenal keluarga Bara sejak lama. Dia pria yang mapan, bertanggung jawab,

  • Cinta Terlarang di Balik Pernikahan    Segitu Jeleknya Ya di Matamu?

    "Aku kira kamu yang bakal nikah sama aku, Mas. Hahaha.""Memangnya kenapa kalau aku orangnya?" Dirga bertanya dengan mata menyipit."Kalau aku nikah sama kamu ...." Cahaya tampak berpikir sejenak, "kayaknya aku makan hati terus deh setiap hari, hahaha."Dirga tersenyum kecil. Memang pandangan wanita itu pada dirinya tampak begitu buruk."Apa aku segitu jeleknya di matamu?" Pria itu bertanya dengan nada sedih."Yang bilang kamu jelek itu siapa, Mas? Nggak ada ya, kamu itu ganteng, minusnya suka godain cewek sana-sini, giliran ceweknya baper kamu malah bertingkah seolah-olah nggak pernah ngelakuin sesuatu. Jahat banget tau nggak."Dirga mengangguk pelan, nyatanya dia mengajak Cahaya ke sini bukan untuk membahas tentang itu.Pria itu menghirup udara angin malam dengan perasaan sesak. Sebentar lagi wanita ini, wanita yang sedang berdiri di sisinya yang sedang mengagumi keindahan taman itu, akan menjadi istri kakaknya sendiri.Padahal Dirga yang lebih dulu mengenalnya, jatuh-bangun dia lak

  • Cinta Terlarang di Balik Pernikahan    Sebenarnya Siapa?

    Namanya Bara, sekelebat yang Cahaya dengar dari percakapan ibunya tadi, sayangnya dia sama sekali tak mendengar, hanya Bara, kata itu saja yang ia ingat. Kedua orang tua mereka merencanakan pertemuan, finalnya adalah malam ini, berkali-kali Cahaya menolak pun rasanya percuma. Ayahnya selalu memaksa hingga akhirnya Cahaya hanya bisa berkata 'iya'. "Ingat ya, Ya, jangan banyak tingkah. Jangan bikin malu Ayah sama ibu kamu," tegur Indra. Cahaya tak menjawab, dia memutar bola matanya malas. "Oalah, dasar anak kurang ajar, enggak sopan kamu sama orang tua, itu, Bu, urus anakmu. Hasil didikan mu tuh, itu akibatnya karena sering kamu bela-bela dan kamu manjain, sama ayahnya sendiri jadi kurang ajar," sentak Indra dengan mata mendelik. "Sudah, Yah, sudah. Malu ribut-ribut terus didengar sama tetangga." "Nah, mulai lagi, terus aja bela tuh anak. Besok kalau anak itu udah nikah, kamu enggak boleh lagi ikut-ikut campur, biar dia urus sendiri rumah tangganya, nanti kalau udah dia jadi orang

  • Cinta Terlarang di Balik Pernikahan    Dijodohin

    "Zaman semakin modern, kenapa masih mempercayai adanya perjodohan? Pokoknya Yaya nggak mau ya, Bu," kata wanita itu dengan ngotot. "Apa salahnya sih terima dia? Emangnya kamu udah punya pacar? Selama ini Ayah sama Ibu selalu menyuruhmu bawa pacarmu ke rumah, tapi sampai saat ini mana? Nggak ada," dengkus pria paruh baya yang bernama Indra. "Pacar saat ini bukan prioritas Yaya, Yah. Yaya mau fokus cari kerja, cari uang." "Halah! Cari kerjaan tuh susah. Apalagi kamu itu cuma tamatan SMA," cibir Indra. Wanita itu, yang bernama Cahaya menghela napas berat. Dia begitu kecewa karena ayahnya sendiri meremehkan kemampuannya. "Sudahlah, Yah. Yaya nggak mau, jangan dipaksa," ucap Indah menengahi perdebatan di antara ayah dan anak itu. "Nggak bisa, Bu. Dimas selalu desak Ayah agar segera mengatur pertemuan mereka." "Kok dadakan gitu sih, Yah? Kenapa nggak kasih tahu Yaya dari kemarin-kemarin. Berarti selama ini Ibu sama Ayah memang sudah berniat agar Yaya segera menikah, ya?" tebak Cahaya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status