LOGINNamanya Bara, sekelebat yang Cahaya dengar dari percakapan ibunya tadi, sayangnya dia sama sekali tak mendengar, hanya Bara, kata itu saja yang ia ingat.
Kedua orang tua mereka merencanakan pertemuan, finalnya adalah malam ini, berkali-kali Cahaya menolak pun rasanya percuma. Ayahnya selalu memaksa hingga akhirnya Cahaya hanya bisa berkata 'iya'. "Ingat ya, Ya, jangan banyak tingkah. Jangan bikin malu Ayah sama ibu kamu," tegur Indra. Cahaya tak menjawab, dia memutar bola matanya malas. "Oalah, dasar anak kurang ajar, enggak sopan kamu sama orang tua, itu, Bu, urus anakmu. Hasil didikan mu tuh, itu akibatnya karena sering kamu bela-bela dan kamu manjain, sama ayahnya sendiri jadi kurang ajar," sentak Indra dengan mata mendelik. "Sudah, Yah, sudah. Malu ribut-ribut terus didengar sama tetangga." "Nah, mulai lagi, terus aja bela tuh anak. Besok kalau anak itu udah nikah, kamu enggak boleh lagi ikut-ikut campur, biar dia urus sendiri rumah tangganya, nanti kalau udah dia jadi orang tua, baru bisa nyadar kalau ayahnya ngelakuin semua ini buat siapa." "Yah--" "Ayah, negur anak itu boleh kok, tapi--" Cahaya menyela ucapan ibunya, "udahlah, Bu, aku mau masuk ke kamar dulu." Sebelum benar-benar bangun dari duduknya, Cahaya menatap ke arah Indra beberapa saat. "Yah, selama ini aku enggak pernah ngelawan ayah, apa kata ayah selalu aku turutin, tapi perjodohan benar-benar bikin aku keberatan, kayaknya baru kali ini aku menolak permintaan ayah tapi ayah mengklaim kalau aku ini anak nggak tahu diri? Keterlaluan nggak sih?" Cahaya tertawa sumbang, kemudian dia benar-benar pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang tampak muram. Memang baru kali ini atau dari dulu ayahnya seperti itu, entah mengapa Cahaya baru menyadarinya Selama ini Cahaya selalu melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, sering mengalah pada adiknya, intinya Cahaya tidak bisa mengeluarkan pendapatnya sendiri, dia selalu didoktrin kalau perkataan Indra itu selalu didengar dan Cahaya harus bilang iya. Namun, Cahaya tidak pernah keberatan melakukan hal itu, toh menurutnya itu sebagai bakti terhadap orang tua. Akan tetapi akhirnya Cahaya sadar bahwa kasih sayang ayahnya terhadap dirinya nyatanya berat sebelah. Di dalam kamar Cahaya tersenyum miris, meratapi nasibnya yang seperti ini. Dia menyesal mengapa dari dulu dia tidak bersikap keras kepala seperti adiknya, kalau dia seperti itu pasti dia akan menolak dengan tegas kemauan orang tuanya perihal perjodohan yang menurutnya sangat memuakkan. "Kenapa jadi seperti ini sih," keluhnya dengan nada kesal. "Mas Dirga juga tumben hilang seharian semenjak waktu itu ketemu, kenapa sih dia itu giliran lagi perlu teman curhat kayak gini aja ngilang. Paling juga lagi cari mangsa baru, dasar laki-laki suka tebar pesona!" Cahaya mendengkus keras. ** Akhirnya hari yang Cahaya selalu hindari pun tiba. Ya, bertemu dengan calon suaminya yang tidak ia kenal. Bagaimana rupa pria itu? Ganteng? Selain itu apakah orang itu pria yang baik atau malah sebaliknya? Sepanjang perjalanan Cahaya selalu memikirkan hal itu. Menurutnya menikah untuk sekali seumur hidup, banyak orang mengatakan bahwa nasib perempuan ditentukan kalau sudah menikah, bagaimana kalau dia sampai salah memilih pasangan? Jelas saja dia akan menderita seumur hidup. Tanpa sadar Cahaya mendengkus keras. "Kamu kenapa, Ya?" tanya Indah dengan suara lembut. "Nggak ada, Bu, cuma gugup aja," elak Cahaya. "Ibu tahu apa yang kamu khawatirkan. Tenang aja, Bara orangnya baik kok, Ibu beberapa kali ketemu sama dia. Ganteng, baik, sopan. Pokoknya paket komplit deh, kamu pasti bakal terpesona kalau sudah lihat secara langsung." Cahaya tersenyum enggan. 'Ah ibu selalu melihat dari casingnya aja, siapa tahu luarnya bagus tapi dalamnya bobrok.' Dia menyahut dalam hati. "Nanti kalau di sana jangan bikin Ayah sama Ibu kamu malu." Indra kembali mengingatkan. Tak bosan-bosan ayahnya selalu mengingatkan Cahaya, mengingat tingkah laku anak itu yang agak kurang ajar terhadapnya. "Iya." Setelah itu suasana kembali hening, hanya deru mesin mobil yang menemani perjalanan mereka. Tak lama setelah itu mobil yang dikendarai mereka tiba-tiba berhenti, hal itu membuat Cahaya tersadar dari lamunannya. "Kita udah sampai, ayo cepat turun. Pasti mereka sudah nungguin kita dari tadi. Ingat, Ya, kamu harus--" "Iya Ayah, iya. Harus berapa kali sih diingetin terus, aku ini bukan anak kecil lagi yang harus dinasehatin berkali-kali, dan juga aku ini bukan kategori anak yang nakal," sela Cahaya cepat. Jengah juga dengan sikap ayahnya itu. ** Di ruangan itu, semua tampak tertawa bahagia, kecuali satu orang, Cahaya sendiri. Beberapa kali dia menghela napas berat, duduk dengan gelisah karena tidak nyaman, jari-jemarinya menggenggam secangkir kopi yang sejak tadi mendingin, orang yang katanya ingin dijodohkan dengannya sampai saat ini tak kunjung datang. Keluarga dari Bara mengatakan kalau pria itu ada urusan sebentar, nyatanya hampir dua jam pun sosoknya tak muncul. 'Cih, kalau tahu begini kenapa aku nggak kepikiran cari alasan juga biar nggak datang ke acara yang memuakkan ini?' Cahaya jengah, dia sudah menebak pria itu pun sama halnya seperti dia yang menolak perjodohan ini. Melihat sisi kiri dan kanan, ayah dan ibunya asyik berbincang tanpa memedulikan perasaan Cahaya. Ketika Cahaya ingin pergi dari sana guna menenangkan diri, tiba-tiba dia mendengar suara bariton dari ambang pintu. "Maaf, saya datang terlambat." Cahaya mendongak perlahan. Matanya membulat, seolah otaknya membutuhkan waktu untuk mencerna kejadian ini. "Kamu?" Bisik Cahaya nyaris tak terdengar. Tubuhnya mendadak kaku, ribuan pertanyaan menghantam otaknya. "Calon suamimu namanya Bara. Nanti malam kalian akan ketemu, ayah dan Ibu sudah sepakat mau jodohin kalian." Cahaya rasa dia ingat betul ucapan itu. Bara, bukan nama pria lain. Namun nyatanya? Kenapa pria yang Cahaya kenal dengan baik saat ini berdiri di hadapannya? Tidak mungkin ini suatu kebetulan, kan? "Halo, Cahaya." Dia menyapa wanita itu dengan senyum tulus. Bukannya menjawab sapaan, Cahaya terus menggeleng. 'Nggak, nggak mungkin. Nggak mungkin kan kalau dia calon suamiku? Kenapa dia nggak pernah ngomong?' Orang itu bukan Bara, melainkan Dirga. Teman yang selalu berada di sisinya selama bertahun-tahun meski mereka berbeda kasta, teman yang selalu memberikan Cahaya solusi ketika dia terkena masalah. Namun, sejak hari itu ketika Cahaya mengatakan dia akan dijodohkan, pria itu hilang tanpa kabar. Nahasnya mereka bertemu kembali dengan posisi yang seperti ini. "Perkenalkan ini putra kedua saya, namanya Dirga. Dia adiknya Bara." Jantung Cahaya seperti berhenti berdetak sejenak, sedangkan dihadapannya sekarang pria itu malah tersenyum tenang. 'Sebenarnya siapa calon suamiku? Bara atau Dirga?' Cahaya bertanya-tanya dalam hati.Sementara itu, di sebuah restoran mewah, Bara duduk berhadapan dengan Alina. Perempuan yang sudah lama menjadi kekasihnya itu tampak begitu manja. Sesekali Alina menyuapkan makanan ke mulut Bara, membuat laki-laki itu tersenyum lebar."Mas, sampai kapan kita harus seperti ini?" tanya Alina tiba-tiba.Bara menghentikan kunyahannya. "Seperti apa maksud kamu?""Aku capek, Mas. Kamu sudah menikah, tapi aku masih harus sembunyi-sembunyi kalau mau bertemu denganmu."Bara meletakkan sendoknya."Alina, kita sudah pernah membicarakan ini. Aku menikah dengan Cahaya bukan karena keinginanku.""Tapi kenyataannya dia sekarang istrimu.""Status saja. Tidak lebih."Alina mengerucutkan bibirnya. "Aku takut kamu lama-lama jatuh cinta sama dia."Bara terkekeh, lalu meraih tangan Alina."Kamu jangan berpikir macam-macam. Tidak mungkin aku mencintai perempuan yang bahkan tidak pernah aku inginkan.""Janji?""Janji."Alina tersenyum puas. Dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Bara."Kalau begitu, ma
Kemarin Bara tidak pulang, dan itu membuat Cahaya seperti orang linglung. Pasalnya dia selalu ditanya ayah dan ibunya kemana suaminya pergi.Cahaya selalu mencari alasan kalau Bara sibuk dengan pekerjaannya."Sibuk ya sibuk. Masa dia nggak menikmati pengantin baru. Nggak bisa libur sehari aja apa?"Cahaya tersenyum getir, padahal ayahnya sudah tahu kalau pernikahan ini terjadi karena perjodohan, bisa-bisanya berbicara seperti itu.Cahaya mengembuskan napas panjang. Dia sebenarnya tidak ingin terlalu memedulikan keberadaan Bara. Namun, bagaimana pun juga, laki-laki itu sekarang adalah suaminya. Setidaknya, dia ingin tahu ke mana Bara pergi dan kapan akan pulang.Suara deru mobil tiba-tiba terdengar dari halaman rumah. Cahaya segera menoleh. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat ketika melihat Bara masuk sambil melepas jam tangan."Kamu baru pulang?" tanya Cahaya pelan.Bara hanya melirik sekilas. "Menurutmu?"Cahaya menelan ludah. "Aku tadi menelepon kamu beberapa kali.""Terus?""Ak
Satu Bulan KemudianCahaya masih tak percaya kalau hari ini adalah hari pernikahannya.Hari yang seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan itu justru terasa seperti mimpi buruk baginya. Bukan karena ia tidak ingin menikah, melainkan karena pria yang akan menjadi suaminya bukanlah seseorang yang ia pilih dengan hatinya sendiri.Pernikahan ini terjadi karena perjodohan.Sebuah keputusan yang dibuat oleh kedua orangtuanya tanpa benar-benar memedulikan keinginan Cahaya. Ayahnya dan Bara, pria yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya, sama-sama bersikeras bahwa pernikahan ini harus tetap dilaksanakan.Padahal, sejak awal Cahaya sudah menolak."Ayah, Cahaya mohon. Cahaya belum mau menikah," ucapnya beberapa minggu lalu, ketika ayahnya menyampaikan keputusan tersebut.Namun, permohonannya sama sekali tidak mengubah pendirian sang ayah."Ini demi kebaikan kamu, Cahaya. Ayah sudah mengenal keluarga Bara sejak lama. Dia pria yang mapan, bertanggung jawab,
"Aku kira kamu yang bakal nikah sama aku, Mas. Hahaha.""Memangnya kenapa kalau aku orangnya?" Dirga bertanya dengan mata menyipit."Kalau aku nikah sama kamu ...." Cahaya tampak berpikir sejenak, "kayaknya aku makan hati terus deh setiap hari, hahaha."Dirga tersenyum kecil. Memang pandangan wanita itu pada dirinya tampak begitu buruk."Apa aku segitu jeleknya di matamu?" Pria itu bertanya dengan nada sedih."Yang bilang kamu jelek itu siapa, Mas? Nggak ada ya, kamu itu ganteng, minusnya suka godain cewek sana-sini, giliran ceweknya baper kamu malah bertingkah seolah-olah nggak pernah ngelakuin sesuatu. Jahat banget tau nggak."Dirga mengangguk pelan, nyatanya dia mengajak Cahaya ke sini bukan untuk membahas tentang itu.Pria itu menghirup udara angin malam dengan perasaan sesak. Sebentar lagi wanita ini, wanita yang sedang berdiri di sisinya yang sedang mengagumi keindahan taman itu, akan menjadi istri kakaknya sendiri.Padahal Dirga yang lebih dulu mengenalnya, jatuh-bangun dia lak
Namanya Bara, sekelebat yang Cahaya dengar dari percakapan ibunya tadi, sayangnya dia sama sekali tak mendengar, hanya Bara, kata itu saja yang ia ingat. Kedua orang tua mereka merencanakan pertemuan, finalnya adalah malam ini, berkali-kali Cahaya menolak pun rasanya percuma. Ayahnya selalu memaksa hingga akhirnya Cahaya hanya bisa berkata 'iya'. "Ingat ya, Ya, jangan banyak tingkah. Jangan bikin malu Ayah sama ibu kamu," tegur Indra. Cahaya tak menjawab, dia memutar bola matanya malas. "Oalah, dasar anak kurang ajar, enggak sopan kamu sama orang tua, itu, Bu, urus anakmu. Hasil didikan mu tuh, itu akibatnya karena sering kamu bela-bela dan kamu manjain, sama ayahnya sendiri jadi kurang ajar," sentak Indra dengan mata mendelik. "Sudah, Yah, sudah. Malu ribut-ribut terus didengar sama tetangga." "Nah, mulai lagi, terus aja bela tuh anak. Besok kalau anak itu udah nikah, kamu enggak boleh lagi ikut-ikut campur, biar dia urus sendiri rumah tangganya, nanti kalau udah dia jadi orang
"Zaman semakin modern, kenapa masih mempercayai adanya perjodohan? Pokoknya Yaya nggak mau ya, Bu," kata wanita itu dengan ngotot. "Apa salahnya sih terima dia? Emangnya kamu udah punya pacar? Selama ini Ayah sama Ibu selalu menyuruhmu bawa pacarmu ke rumah, tapi sampai saat ini mana? Nggak ada," dengkus pria paruh baya yang bernama Indra. "Pacar saat ini bukan prioritas Yaya, Yah. Yaya mau fokus cari kerja, cari uang." "Halah! Cari kerjaan tuh susah. Apalagi kamu itu cuma tamatan SMA," cibir Indra. Wanita itu, yang bernama Cahaya menghela napas berat. Dia begitu kecewa karena ayahnya sendiri meremehkan kemampuannya. "Sudahlah, Yah. Yaya nggak mau, jangan dipaksa," ucap Indah menengahi perdebatan di antara ayah dan anak itu. "Nggak bisa, Bu. Dimas selalu desak Ayah agar segera mengatur pertemuan mereka." "Kok dadakan gitu sih, Yah? Kenapa nggak kasih tahu Yaya dari kemarin-kemarin. Berarti selama ini Ibu sama Ayah memang sudah berniat agar Yaya segera menikah, ya?" tebak Cahaya







