Beranda / Romansa / Cinta Tulus Istri Pengganti / Bab 5. Pertanyaan yang Menggejutkan Sang Nenek. 

Share

Bab 5. Pertanyaan yang Menggejutkan Sang Nenek. 

Penulis: Ucing Ucay
last update Tanggal publikasi: 2023-08-08 18:01:19

​"Ini upah ku menyanyi malam ini, Nek. Besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke apotek depan gang untuk menebus seluruh resep obat nenek yang sempat tertunda kemarin. Sisanya bisa kita gunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan," ucap Zara dengan binar mata penuh kepuasan karena akhirnya bisa menunaikan tugasnya sebagai tulang punggung keluarga kecil mereka.

​Nenek Ajeng memandangi tumpukan uang itu, lalu beralih menatap wajah cucunya yang tampak lelah namun dipenuhi ketulusan. Air mata tipis perlahan mulai menggenang di sudut mata tua Nenek Ajeng, merasa sangat terharu sekaligus bersalah karena harus membiarkan cucu perempuan secantik dan semuda Zara bekerja keras di tempat malam demi menghidupi dirinya yang sudah jompo dan sakit-sakitan ini.

​"Maafkan Nenek ya, Zara ... Maaf karena tubuh tua Nenek yang sakit-sakitan ini selalu saja menyusahkanmu dan memaksamu bekerja sampai larut malam menembus badai hujan seperti ini. Harusnya di usiamu yang sekarang, kamu sedang menikmati masa muda atau melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, bukan malah mencari nafkah di tempat-tempat yang penuh bahaya seperti itu," ucap Nenek Ajeng dengan suara yang bergetar menahan tangis penyesalan yang mendalam.

​Zara langsung menggeser kursinya mendekati sang nenek, meraih kedua tangan tua yang kulitnya sudah berkerut dan kasar itu, lalu menggenggamnya dengan sangat erat dan penuh kehangatan. Ia menatap lurus ke dalam mata Nenek Ajeng, menolak semua perkataan penyesalan yang baru saja diucapkan oleh wanita yang teramat dihormatinya itu.

​"Nenek jangan pernah bicara seperti itu lagi, aku tidak suka mendengarnya," tegas Zara dengan kelembutan yang menenangkan. "Merawat Nenek adalah kewajiban dan kebahagiaan terbesar bagi aku di dunia ini. Nenek yang sudah membesarkan ku dengan penuh kasih sayang sejak Ayah dan Ibu meninggal dunia, Nenek yang menyuapi aku saat sakit, dan Nenek yang mengajari ku bagaimana menjadi wanita yang tangguh. Uang bisa dicari, Nek, tapi sosok Nenek di hidup ku tidak akan pernah bisa digantikan oleh apa pun. Aku ikhlas melakukan semua ini demi Nenek."

​Nenek Ajeng tersenyum haru, mengusap lembut pipi Zara dengan tangan kanannya yang gemetar penuh kasih sayang. Keikhlasan dan ketulusan yang memancar dari jiwa Zara seolah menjadi obat penawar paling mujarab bagi segala rasa sakit fisik yang diderita oleh sang nenek selama ini.

​Suasana di dalam rumah kecil itu kembali hening selama beberapa saat, hanya ditemani oleh suara sisa rintik hujan yang mengetuk atap seng rumah mereka. Zara menyuapkan sendok demi sendok bubur polos ke dalam mulutnya, berusaha mengisi kembali energi tubuhnya yang terkuras habis. Namun, rasa penasaran yang sedari tadi ia tahan di dalam hatinya mengenai pertemuan dengan Gina di halte bus akhirnya tidak bisa ia bendung lagi. Ia meletakkan sendoknya perlahan di atas mangkuk, menatap Nenek Ajeng dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan penuh rasa ingin tahu yang besar.

​"Nek ... Aku mau tanya sesuatu sama Nenek. Tapi aku mohon, Nenek harus jawab dengan sejujur-jujurnya ya?" ucap Zara membuka percakapan dengan nada suara yang berhati-hati, menjaga agar tidak mengejutkan sang nenek.

​Nenek Ajeng mengernyitkan dahinya sedikit, heran melihat perubahan ekspresi wajah cucunya yang tiba-tiba menjadi sangat serius. "Tentu saja, Nak. Mau tanya soal apa? Selama ini Nenek tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu, kan?" sahut Nenek Ajeng lembut.

​Zara menarik napas dalam-dalam, menguatkan mentalnya sebelum melontarkan pertanyaan yang sudah mengganggu isi kepalanya sejak dua jam yang lalu itu. "Nek ... apa benar aku dari kecil lahir sebagai anak tunggal? Apa benar Ayah dan Ibu dari dulu sama sekali tidak pernah punya anak lain selain aku? Maksud aku ... apa benar aku tidak punya saudara kandung, atau mungkin ... seorang kakak atau adik kembar yang terpisah sejak kecil?"

​Mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut Zara, tubuh tua Nenek Ajeng mendadak menegang seketika di atas kursinya. Binar mata tua yang awalnya penuh kedamaian itu sesaat menampakkan kilatan rasa syok dan kepanikan yang luar biasa yang sangat berusaha ia sembunyikan dari pandangan Zara. Pegangan tangannya pada kain jarik di pangkuannya mencengkeram kuat, sementara detak jantungnya di balik rongga dada mendadak berdegup kencang secara tidak beraturan, memicu rasa sesak yang mulai menyerang sistem pernapasannya secara perlahan. Namun, sebagai wanita yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan dan menyimpan sebuah rahasia gelap masa lalu selama puluhan tahun, Nenek Ajeng dengan cepat berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya kembali menjadi sedatar mungkin, meskipun suaranya tidak bisa berbohong sepenuhnya dari getaran rasa panik yang tersisa.

​"Kenapa ... kenapa tiba-tiba kamu bertanya soal hal yang aneh seperti itu, Zara? Siapa yang mengatakan hal-hal tidak benar itu kepadamu di luar sana?" tanya Nenek Ajeng balik, suaranya terdengar sedikit lebih tinggi dan bergetar dari biasanya, matanya sengaja dialihkan ke arah cangkir teh di atas meja, menolak untuk menatap langsung ke dalam manik mata polos Zara yang menuntut kejujuran.

​Zara menangkap perubahan reaksi fisik yang aneh dari sang nenek, membuat firasat ganjal di dalam dadanya semakin menguat bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan darinya selama ini. Namun, ia memilih untuk tidak menceritakan insiden pertemuannya dengan Gina malam ini secara detail agar tidak memicu serangan jantung pada neneknya.

​"Tidak ada siapa-siapa yang mengatakannya kok, Nek. Aku cuma ... tadi di angkutan umum jalan pulang, aku tidak sengaja melihat sebuah tayangan video di media sosial tentang saudara kembar yang terpisah sejak bayi karena kondisi ekonomi orang tua mereka, lalu tidak sengaja bertemu kembali saat sudah dewasa karena wajah mereka yang sangat mirip," bohong Zara lagi, menyusun narasi yang aman untuk memancing jawaban dari neneknya. "Melihat video itu, aku tiba-tiba saja terpikir tentang diri ku sendiri. Karena sejak kecil aku tidak pernah melihat foto-foto masa bayi ku secara lengkap, dan Nenek selalu bilang kalau aku tidak punya kerabat lain. Jadi, aku hanya penasaran saja, Nek. Apa benar aku murni sendirian lahir dari rahim Ibu?"

Nenek Ajeng menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat berat seolah sedang memikul beban seberat bongkahan batu besar di dalam dadanya. Ia kembali menatap Zara, kali ini dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh perpaduan rasa sedih, bersalah, dan ketegasan yang dipaksakan untuk mengunci rapat-rapat rahasia masa lalu demi melindungi kehidupan suci cucunya saat ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 347: Epilog: Cinta Tulus di Taman Mawar

    ​Deru angin sore berembus lembut menyapa halaman belakang Mansion Tawfeeq yang dipenuhi warna-warni bunga mawar merah merekah sempurna. Lima tahun telah berlalu begitu cepat, mengubah kebun luas itu menjadi tempat bermain paling menyenangkan bagi anak-anak yang berlarian riang. Sean tumbuh menjadi remaja laki-laki berusia dua belas tahun berpostur tinggi atletis yang sangat menyayangi adik kecilnya. Bola kaki berwarna hitam putih meluncur mulus di atas rumput hijau saat Sean menggiringnya pelan menghindari sergapan sang adik. Di hadapannya, seorang anak perempuan berusia lima tahun berambut sebahu tertawa terbahak-bahak mengejar bola sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Wajah kecil bocah cantik itu begitu mirip dengan Zara, mewarisi mata bulat jernih dan senyuman manis yang sanggup meluluhkan siapa pun.​"Ayo kejar bolanya kalau bisa, Abang!" seru si kecil penuh semangat sambil melompat-lompat gembira di atas rumput.​Sean sengaja membiarkan adiknya merebut bola tersebut, l

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 346: Kelahiran sang Buah Hati

    ​Detik-detik pergantian bulan ke sembilan membawa ketegangan yang luar biasa di seluruh sudut Mansion Tawfeeq. Suara langkah kaki para pelayan terdengar bergegas menyiapkan segala keperluan medis darurat di lantai bawah. Arham mondar-mandir di depan pintu kamar utama dengan wajah tegang, menggenggam erat ponsel pintarnya untuk siaga memanggil dokter kandungan kapan pun diperlukan. Rasa panik yang luar biasa melanda diri CEO matang itu, jauh melebihi ketegangan saat ia harus menandatangani kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah. Di dalam kamar, rintihan tertahan lolos dari bibir Zara yang menggigit seprai putih untuk menahan gelombang kontraksi hebat.​"Tarik napas dalam-dalam, Nyonya Zara. Dorong perlahan saat kontraksi datang lagi," instruksi Dokter kandungan wanita yang sudah bersiap di samping ranjang.​Zara mengejan sekuat tenaga, mencengkeram tangan perawat di sebelah kirinya dengan kuku-kuku yang menancap kuat. Air mata membasahi pipinya yang pucat, merasakan perjuangan hidup

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 345: (++) Kebucinan Arham yang Semakin Menjadi

    ​Hari-hari berlalu di Mansion Tawfeeq dengan perubahan drastis yang membuat seluruh pelayan terkadang harus mengelus dada menghadapi tingkah tuan besar mereka. Arham yang tadinya dikenal sebagai CEO dingin, kaku, dan penuh wibawa kini menjelma menjadi suami yang super protektif sekaligus manja. Pria berusia empat puluh tahun itu menolak membiarkan Zara berjalan sendiri menaiki tangga rumah meski hanya berpindah dari lantai satu ke lantai dua. Setiap jam kerja di kantor, Arham selalu menyempatkan diri melakukan panggilan video untuk memastikan istrinya tidak kelelahan mengurus yayasan amal. Sikap posesif itu justru membuat Zara merasa dicintai secara ugal-ugalan, meski kadang ia kewalahan menghadapi perhatian berlebihan suaminya.​"Mas Arham, aku cuma mau jalan ke taman belakang, bukan mau mendaki gunung," protes Zara sambil tersenyum geli melihat suaminya berdiri menghalangi pintu.​Arham melipat kedua tangannya di depan dada bidang dengan wajah serius yang dibuat-buat agar istrinya m

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 343: Kabar Bahagia Garis Dua

    ​Kamar tidur utama Mansion Tawfeeq diselimuti keheningan yang begitu pekat saat Dokter Hans merapikan alat stetoskop dari dada Zara. Pria paruh baya itu tersenyum simpul, menatap bergantian ke arah Arham dan Zara yang menanti dengan debar jantung tak beraturan. Koper kecil peralatan medis yang dibawanya ditutup perlahan dengan bunyi klik pelan yang memecah ketegangan di udara. Arham merapatkan genggaman tangannya di jemari istrinya, menuntut jawaban cepat dari sang dokter keluarga berpengalaman tersebut. Sean berdiri di dekat pintu kamar dengan mata mengerjap penasaran, ikut menanti penjelasan tentang keadaan sang mama tercinta.​"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Kenapa dia mendadak mual-mual hebat tadi pagi?" tanya Arham tidak sabar dengan suara beratnya yang mendesak.​Dokter Hans merapikan kacamatanya sambil tersenyum penuh arti melihat kepanikan di wajah CEO dingin tersebut. "Secara fisik tekanan darahnya normal, Tuan Arham. Tapi melihat gejala mual hebat di pagi hari yang diala

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 342: Kejutan Kecil di Pagi Hari

    ​Mentari pagi menyapa jendela kaca Mansion Tawfeeq dengan pendar cahaya keemasan yang menghangatkan sudut ruangan makan mewah tersebut. Meja panjang berlapis kayu jati dipenuhi berbagai hidangan sarapan lezat, mulai dari buah-buahan segar, roti panggang, hingga semangkuk sup hangat buatan kepala koki. Para pelayan berdiri siaga di dekat dinding dengan kepala tertunduk hormat, menunggu instruksi selanjutnya dari sang tuan rumah. Arham duduk di kursi utama dengan mengenakan kemeja kerja rapi berbalut rompi setelan jas, siap berangkat ke kantor pusat. Sean duduk di sebelah ayahnya sambil menikmati segelas susu cokelat hangat dan sepotong roti selai stroberi kesukaannya.​Zara melangkah mendekati meja makan dengan senyuman cerah di wajah cantiknya, mengenakan dress rumahan santai berwarna pastel yang elegan. Baru saja ia menarik kursi di samping suaminya, aroma tajam dari semangkuk sup ayam hangat di tengah meja tiba-tiba menghantam indra penciumannya. Perut Zara mendadak bergejolak hebat

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 341: Kepulangan yang Manis

    ​Roda pesawat komersial kelas utama yang membawa Arham dan Zara mendarat mulus di landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Udara tropis yang hangat langsung menyambut begitu mereka keluar dari pintu kedatangan VVIP yang sudah dijaga ketat oleh para pengawal pribadi. Mobil sedan hitam panjang milik keluarga Tawfeeq terparkir rapi menunggu di depan lobi, siap membawa pasangan suami istri itu pulang. Zara merapikan mantel wol yang melekat di tubuhnya, menarik napas panjang merasakan kembali aroma khas ibu kota setelah sebulan penuh berada di Paris. Arham merangkul pinggang istrinya dengan posesif, memandu langkah wanita itu masuk ke dalam kabin mobil yang ber-AC sejuk.​Perjalanan menuju Mansion Tawfeeq ditemani oleh lalu lintas Jakarta yang padat namun lancar berkat pengawalan khusus di sepanjang jalan tol. Setibanya di gerbang utama mansion, para pelayan dan staf rumah tangga sudah berbaris rapi menyambut kepulangan tuan dan nyonya besar mereka dengan hormat. Sean berlari

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 17. Make Over Zara Menjadi Gina. 

    ​Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 7. Siasat di Balik Kemewahan

    ​"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu t

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 6. Jawaban Sang Nenek 

    ​"Dengarkan Nenek baik-baik, Zara Alfathunisa," ucap Nenek Ajeng dengan nada suara yang ditekan serendah dan setegas mungkin, tangannya yang gemetar bergerak meraih jemari Zara di atas meja. "Menurut mendiang ibumu sebelum dia meninggal dunia, dan menurut ingatan Nenek sendiri yang merawat ibumu saa

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 4. Pikiran Yang Mengganggu

    ​"Nenek ... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Zara lirih ke tengah kesunyian malam, suaranya tenggelam bersama deru angin malam dan hantaman hujan yang tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan mereda.​Ia perlahan bangkit berdiri, memunguti tas kainnya yang basah dan memasukkan kartu nama itu ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status