MasukNenek Ajeng menggeleng lemah, menatap cucunya dengan tatapan penuh penyesalan yang teramat pekat. Dengan suara terbata-bata diiringi isak tangis yang semakin menjadi-jadi, Nenek Ajeng akhirnya memutuskan membongkar rahasia terbesar dalam hidup mereka yang selama ini terkubur rapat."Maafkan Nenek, Neng ... Nenek sudah membohongimu seumur hidupmu," ucap Nenek Ajeng terbata-bata, memegang erat lengan Zara. "Kamu dan Gina ... kalian berdua sebenarnya adalah saudara kembar kandung."Jantung Zara seolah berhenti berdetak mendengarkan pengakuan mengejutkan tersebut dari mulut wanita yang telah merawatnya sejak kecil. "Saudara kembar? Maksud Nenek apa? Aku anak yatim piatu yang Nenek pungut di pinggir jalan!""Dulu orang tua kandung kalian hidup dalam kemiskinan ekstrem dan terlilit utang judi yang menumpuk di mana-mana," cerita Nenek Ajeng dengan suara tersengat rasa bersalah yang luar biasa. "Karena tidak mampu lagi memberi makan bayi kembar yang baru lahir, mereka menyerahkan kalian be
Bus kota berukuran sedang berhenti tepat di halte kecil dekat mulut gang sempit yang dipenuhi deretan pohon karsen rimbun. Zara melangkah turun terlebih dahulu sambil memegang erat tali ransel di bahunya, lalu berbalik membantu Nenek Ajeng menuruni tangga bus dengan hati-hati. Udara sore kawasan pinggiran kota yang berdebu langsung menyapa penciuman mereka, membawa aroma khas minyak wangi murahan dan asap pembakaran sampah warga sekitar."Kita benar-benar mau kembali ke lingkungan lama ini, Neng?" tanya Nenek Ajeng dengan suara gemetar, menatap jalanan aspal berbintik lubang di hadapan mereka."Iya, Nek," jawab Zara lembut, menggandeng lengan wanita renta itu menyusuri jalan setapak yang sangat akrab di ingatan mereka. "Di sini biaya hidupnya masih masuk akal buat kantong kita sekarang, dan setidaknya kita punya kenangan baik sama beberapa tetangga lama."Langkah kaki keduanya terhenti tepat di depan sepetak tanah kosong tempat bangunan rumah kontrakan lama mereka dulu berdiri. Za
Suara hantaman telapak tangan di atas permukaan meja marmer menggema nyaring di sudut ruang tengah mansion keluarga Tawfeeq yang megah. Lusi berdiri tegak dengan dada naik turun menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun, menatap tajam ke arah putra sulungnya yang duduk tertunduk di sofa besar berbalud kain bludru merah. Piring-piring sarapan di meja makan masih utuh tersaji tanpa ada satupun yang disentuh, mencerminkan hancurnya selera makan seluruh anggota keluarga akibat berita kepergian Zara pagi ini."Kamu ini benar-benar bodoh, Arham!" hardik Lusi dengan suara bergetar hebat meluapkan kekesalan yang tertahan sejak semalam. "Kenapa kamu tidak langsung meminta maaf pada Zara setelah insiden penculikan itu reda? Kenapa kamu biarkan malam berlalu begitu saja tanpa menyelesaikan masalah kalian?"Arham mengangkat wajahnya perlahan, menampilkan sorot mata sayu dengan kantung mata hitam akibat tidak bisa tidur semalaman penuh. Lengan kirinya yang masih terbalut perban putih bersih
Pendar cahaya matahari pagi merangsek masuk melalui dinding kaca besar yang menghadap langsung ke panorama kota metropolitan dari ketinggian lantai dua belas. Udara sejuk pendingin ruangan berpadu dengan aroma kopi arabika panggang yang menguar lembut di dalam restoran hotel bintang lima tersebut. Meja bundar berlapis taplak putih bersih di sudut ruangan menyajikan berbagai menu sarapan mewah, mulai dari croissant hangat hingga buah-buahan segar tertata rapi. Zara duduk tenang di kursi empuk berbalud kain velrugh abu-abu, menatap cangkir porselen berisi teh chamomile yang masih mengepulkan uap tipis.Nenek Ajeng duduk di kursi sebelah Zara, mengenakan kerudung rajut sederhana sambil menikmati bubur ayam hangat dengan suapan perlahan. Keriput di wajah wanita renta itu menyiratkan kelelahan sisa perjalanan malam kemarin, namun sorot matanya tampak jauh lebih tenang dibanding saat mereka masih terkurung di mansion keluarga Tawfeeq. Tidak ada lagi tekanan batin atau tatapan sinis dari o
Sinar matahari pagi merembes melalui celah tirai jendela ruang makan keluarga Tawfeeq, memantulkan pendar hangat di atas meja panjang yang dipenuhi berbagai menu sarapan lezat. Aroma kopi hitam pekat bercampur wangi roti panggang menggantung di udara, menciptakan suasana yang seharusnya terasa menenangkan setelah badai malam kemarin. Lusi duduk di kursi utama dengan balutan gaun tidur sutra berwarna abu-abu, menatap kursi kosong di seberang meja dengan kening berkerut dalam.Wanita paruh baya itu melirik arloji melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjuk pukul tujuh lewat sepuluh menit pagi. "Bi Surti, tolong naik ke atas panggilkan Ajeng dan Zara," perintah Lusi kepada pelayan wanita paruh baya yang berdiri siaga di dekat pantry. "Mungkin karena insiden mengerikan kemarin malam, mereka kelelahan sampai kesiangan bangun tidur."Bi Surti mengangguk cepat lalu melangkah menuju tangga lantai dua untuk menjalankan tugasnya. Nindy yang duduk di samping ibunya menyeruput teh h
Suara ketukan pintu kamar terdengar begitu keras memecah keheningan lantai atas mansion keluarga Tawfeeq. Di dalam kamar yang diterangi pendar lampu tidur kekuningan, Zara duduk bersila di atas sajadah tebal dengan balutan mukena putih yang masih melekat sempurna di tubuhnya. Kedua telapak tangannya tertangkup erat di depan dada, sementara air mata tak henti-henti mengalir membasahi pipinya yang pucat pasi. Bibirnya terus merapalkan doa panjang memohon ampunan dan keselamatan bagi putra sambung yang sangat ia sayangi sepenuh hati."Mama Zara!" teriak suara kecil berbalut isak tangis dari luar pintu kamar yang langsung didorong terbuka secara kasar.Sean berdiri di ambang pintu dengan mata sembab dan tubuh masih bergetar hebat akibat sisa ketakutan di gudang pelabuhan. Bocah itu langsung berlari kencang menghambur ke arah sajadah, menjatuhkan diri ke pangkuan Zara sambil memeluk pinggang wanita itu erat-erat. Tangis Sean pecah seketika, menumpahkan segala ketakutan luar biasa yang s
Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang
"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu t
"Dengarkan Nenek baik-baik, Zara Alfathunisa," ucap Nenek Ajeng dengan nada suara yang ditekan serendah dan setegas mungkin, tangannya yang gemetar bergerak meraih jemari Zara di atas meja. "Menurut mendiang ibumu sebelum dia meninggal dunia, dan menurut ingatan Nenek sendiri yang merawat ibumu saa
"Ini upah ku menyanyi malam ini, Nek. Besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke apotek depan gang untuk menebus seluruh resep obat nenek yang sempat tertunda kemarin. Sisanya bisa kita gunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan," ucap Zara dengan binar mata penuh kepuas







