Home / Romansa / Cinta Tulus Istri Pengganti / Bab 6. Jawaban Sang Nenek 

Share

Bab 6. Jawaban Sang Nenek 

Author: Ucing Ucay
last update publish date: 2023-08-25 06:03:27

​"Dengarkan Nenek baik-baik, Zara Alfathunisa," ucap Nenek Ajeng dengan nada suara yang ditekan serendah dan setegas mungkin, tangannya yang gemetar bergerak meraih jemari Zara di atas meja. "Menurut mendiang ibumu sebelum dia meninggal dunia, dan menurut ingatan Nenek sendiri yang merawat ibumu saat melahirkanmu di klinik desa dulu ... kamu terlahir sebagai anak tunggal. Kamu tidak pernah memiliki kakak, adik, apalagi seorang saudara kembar yang terpisah seperti yang ada di video-video internet itu. Pernikahan orang tuamu dulu memang sangat sederhana dan serba kekurangan dalam hal ekonomi, namun mereka tidak akan pernah sudi memisahkan atau membuang anak kandung mereka sendiri jika memang terlahir kembar. Jadi, Nenek minta kepadamu, buang jauh-jauh pikiran aneh dan fiktif itu dari kepala indahmu. Kamu adalah satu-satunya Zara milik Nenek, milik Ayah, dan milik Ibu. Paham, Nak?"

​Zara menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Nenek Ajeng, berusaha mencari sekecil apa pun celah kebohongan di balik untaian kalimat tegas yang baru saja diucapkan oleh wanita tua itu. Namun, mata Nenek Ajeng menampilkan ketegasan mutlak yang dilapisi oleh rasa lelah yang amat sangat, membuat Zara akhirnya memilih untuk mengalah dan menghentikan interogasinya malam ini. Ia tidak ingin keegoisannya mencari tahu kebenaran justru akan membahayakan kondisi fisik neneknya yang mulai terlihat sesak napas akibat kelelahan terjaga hingga larut malam.

​"Iya, Nek. Aku paham. Maafkan aku ya, Nek, karena sudah menanyakan hal-hal yang tidak penting dan membuat Nenek jadi berpikiran yang tidak-tidak malam-malam begini," ucap Zara dengan nada suara yang lembut penuh penyesalan sembari mengusap punggung tangan neneknya untuk menenangkan gejolak emosi yang terjadi.

​"Tidak apa-apa, Nak. Nenek tahu kamu hanya penasaran saja karena tayangan internet itu," sahut Nenek Ajeng dengan senyum yang dipaksakan, merasa lega karena berhasil meredam rasa ingin tahu cucunya malam ini, meskipun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah rasa bersalah yang teramat besar kembali menggerogoti jiwanya atas kebohongan yang terpaksa ia lakukan demi menjaga sebuah sumpah masa lalu yang mengikat erat kehidupannya. "Sekarang habiskan buburmu, setelah itu langsung tidur di kamar. Besok pagi kamu masih harus bangun awal untuk pergi ke apotek, kan?"

​"Iya, Nek. Ini aku habiskan kok," jawab Zara sembari kembali menyuapkan sisa buburnya yang sudah mulai mendingin ke dalam mulutnya dengan pikiran yang sebenarnya masih mengembang liar di luar kendalinya.

​Meskipun Nenek Ajeng sudah menegaskan dengan kalimat mutlak bahwa dirinya tidak memiliki saudara kembar, namun entah mengapa, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah intuisi batin seorang wanita menolak untuk mempercayai ucapan tersebut sepenuhnya. Pertemuan dengan wanita bernama Gina di halte bus tadi terasa teramat nyata, aroma parfum mawarnya, getaran suaranya, dan yang paling utama—garis wajah kembarannya itu—terus menerus berteriak di dalam kepala Zara bahwa ucapan neneknya malam ini tidak sepenuhnya mengandung kebenaran yang murni. Zara menyentuh saku celananya secara sembunyi-sembunyi dari balik meja, merasakan keberadaan kartu nama berlapis emas milik Gina Susanti yang masih tersimpan aman di sana, seolah benda kecil itu adalah sebuah bom waktu tersembunyi yang siap meledak kapan saja untuk menghancurkan seluruh dinding kedamaian hidup sederhananya di masa depan yang tidak akan lama lagi akan segera bergulir menuntut pembuktian sebuah garis takdir yang sesungguhnya.

***

Di sudut kota yang lain, jauh dari keheningan gang sempit tempat Zara tinggal, gemerlap lampu malam dari balik jendela kaca sebuah penthouse mewah menjadi saksi dari sebuah kegelisahan yang berbeda.

​"Tuangkan wiskinya lagi, Anton. Kepalaku rasanya mau pecah memikirkan rute penerbangan kita besok pagi," ucap Gina Susanti sembari mengempaskan tubuh seksinya ke atas sofa beludru kelabu yang terletak di tengah-tengah ruang tamu apartemen penthouse mewahnya.

​Ia melemparkan tas tangan bermerek puluhan juta rupiah itu ke sembarang arah, tidak peduli ketika benda mahal tersebut mendarat mengenaskan di atas lantai marmer yang mengilat. Gaun malam desainer berwarna merah menyala yang dikenakannya tampak sedikit kusut, dengan beberapa noda cipratan air kotor yang mengering di bagian keliman bawah—sisa dari insiden tabrakan konyol di halte bus pinggiran kota beberapa jam yang lalu. Rambut bob pendeknya yang modis terlihat sedikit berantakan, namun kilat kemarahan dan ambisi di dalam matanya yang dilapisi riasan tebal sama sekali tidak memudar.

​Anton, seorang pria bertubuh atletis dengan rahang kokoh dan sepasang mata elang yang memancarkan aura pemberontak, berjalan mendekat dari arah meja bar privat. Ia hanya mengenakan kemeja satin hitam yang separuh kancingnya terbuka, menampilkan dada bidangnya yang kecokelatan. Di kedua tangannya, terdapat dua buah gelas kristal berisi cairan amber dengan sebongkah es batu yang berdenting pelan saat berbenturan dengan dinding kaca. Pria itu menyodorkan salah satu gelas kepada Gina, lalu mendudukkan dirinya tepat di samping wanita itu, melingkarkan satu lengan kekarnya di atas sandaran sofa untuk merengkuh bahu Gina yang terbuka.

​"Kamu masih memikirkan pelacur cilik yang menabrakmu di halte bus tadi, Sayang? Sudahlah, lupakan saja. Dia hanya remah-remah sialan yang tidak sengaja menghalangi jalan kita. Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana dengan urusanmu di Jakarta? Penerbangan kita ke Maladewa sudah dipesan untuk tiga bulan ke depan, dan aku tidak mau liburan romantis kita terganggu hanya karena kamu mencemaskan tunangan kayamu itu," ujar Anton dengan nada suara yang berat dan sensual, jemarinya mulai bergerak mengusap leher Gina perlahan, mencoba membakar gairah wanita di sampingnya.

​Gina menyesap wiskinya dalam-dalam, membiarkan cairan panas itu membakar tenggorokannya dan memberikan sedikit rasa rileks pada saraf-saraf kepalanya yang menegang. Ia menyandarkan kepalanya di dada Anton, namun tatapan matanya tetap lurus menatap kosong ke arah langit-langit apartemen yang dihiasi lampu kristal gantung yang sangat mewah.

​"Kamu tidak mengerti, Anton. Ini bukan soal gadis sialan di halte tadi. Ini soal Denandra Arham Tawfeeq. Pria itu bukan tipe pria bodoh yang bisa aku bohongi dengan alasan liburan biasa selama tiga bulan penuh tanpa mendampinginya di acara-acara korporasi besar. Kamu tahu sendiri bagaimana watak Arham. Dia dingin, teliti, dan memiliki jaringan mata-mata di mana-mana. Jika dia sampai tahu aku pergi ke Maladewa bersamamu, hubungan kami akan berakhir malam ini juga, dan seluruh fasilitas mewah, apartemen ini, kartu kredit tanpa batas, dan statusku sebagai calon Nyonya Besar Tawfeeq akan lenyap dalam sekejap mata," tutur Gina dengan nada suara yang mendadak melengking cemas, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam.

​Anton terkekeh sinis, mengecup pucuk kepala Gina dengan sedikit kasar sebelum meneguk habis wiskinya sendiri. "Lalu apa maumu, Gina? Kamu yang merengek kepadaku memohon agar kita bisa menghabiskan waktu bersama selama tiga bulan di pulau privat tanpa ada gangguan dari dunia luar. Kamu bilang kamu sudah muak menghadapi keformalan hidup Arham dan keluarganya yang membosankan itu. Sekarang, saat semua tiket dan villa mewah sudah aku bayar dengan uangku, kamu malah ketakutan seperti ini?"

Ucing Ucay

Suka dengan cerita ini? Jangan lupa tinggalkan jejak komen ya, Bestie ... Karena komen kalian itu booster aku untuk menulis. ^^

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mutaharotin Rotin
suka ceritanya bagus
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 347: Epilog: Cinta Tulus di Taman Mawar

    ​Deru angin sore berembus lembut menyapa halaman belakang Mansion Tawfeeq yang dipenuhi warna-warni bunga mawar merah merekah sempurna. Lima tahun telah berlalu begitu cepat, mengubah kebun luas itu menjadi tempat bermain paling menyenangkan bagi anak-anak yang berlarian riang. Sean tumbuh menjadi remaja laki-laki berusia dua belas tahun berpostur tinggi atletis yang sangat menyayangi adik kecilnya. Bola kaki berwarna hitam putih meluncur mulus di atas rumput hijau saat Sean menggiringnya pelan menghindari sergapan sang adik. Di hadapannya, seorang anak perempuan berusia lima tahun berambut sebahu tertawa terbahak-bahak mengejar bola sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Wajah kecil bocah cantik itu begitu mirip dengan Zara, mewarisi mata bulat jernih dan senyuman manis yang sanggup meluluhkan siapa pun.​"Ayo kejar bolanya kalau bisa, Abang!" seru si kecil penuh semangat sambil melompat-lompat gembira di atas rumput.​Sean sengaja membiarkan adiknya merebut bola tersebut, l

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 346: Kelahiran sang Buah Hati

    ​Detik-detik pergantian bulan ke sembilan membawa ketegangan yang luar biasa di seluruh sudut Mansion Tawfeeq. Suara langkah kaki para pelayan terdengar bergegas menyiapkan segala keperluan medis darurat di lantai bawah. Arham mondar-mandir di depan pintu kamar utama dengan wajah tegang, menggenggam erat ponsel pintarnya untuk siaga memanggil dokter kandungan kapan pun diperlukan. Rasa panik yang luar biasa melanda diri CEO matang itu, jauh melebihi ketegangan saat ia harus menandatangani kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah. Di dalam kamar, rintihan tertahan lolos dari bibir Zara yang menggigit seprai putih untuk menahan gelombang kontraksi hebat.​"Tarik napas dalam-dalam, Nyonya Zara. Dorong perlahan saat kontraksi datang lagi," instruksi Dokter kandungan wanita yang sudah bersiap di samping ranjang.​Zara mengejan sekuat tenaga, mencengkeram tangan perawat di sebelah kirinya dengan kuku-kuku yang menancap kuat. Air mata membasahi pipinya yang pucat, merasakan perjuangan hidup

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 345: (++) Kebucinan Arham yang Semakin Menjadi

    ​Hari-hari berlalu di Mansion Tawfeeq dengan perubahan drastis yang membuat seluruh pelayan terkadang harus mengelus dada menghadapi tingkah tuan besar mereka. Arham yang tadinya dikenal sebagai CEO dingin, kaku, dan penuh wibawa kini menjelma menjadi suami yang super protektif sekaligus manja. Pria berusia empat puluh tahun itu menolak membiarkan Zara berjalan sendiri menaiki tangga rumah meski hanya berpindah dari lantai satu ke lantai dua. Setiap jam kerja di kantor, Arham selalu menyempatkan diri melakukan panggilan video untuk memastikan istrinya tidak kelelahan mengurus yayasan amal. Sikap posesif itu justru membuat Zara merasa dicintai secara ugal-ugalan, meski kadang ia kewalahan menghadapi perhatian berlebihan suaminya.​"Mas Arham, aku cuma mau jalan ke taman belakang, bukan mau mendaki gunung," protes Zara sambil tersenyum geli melihat suaminya berdiri menghalangi pintu.​Arham melipat kedua tangannya di depan dada bidang dengan wajah serius yang dibuat-buat agar istrinya m

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 343: Kabar Bahagia Garis Dua

    ​Kamar tidur utama Mansion Tawfeeq diselimuti keheningan yang begitu pekat saat Dokter Hans merapikan alat stetoskop dari dada Zara. Pria paruh baya itu tersenyum simpul, menatap bergantian ke arah Arham dan Zara yang menanti dengan debar jantung tak beraturan. Koper kecil peralatan medis yang dibawanya ditutup perlahan dengan bunyi klik pelan yang memecah ketegangan di udara. Arham merapatkan genggaman tangannya di jemari istrinya, menuntut jawaban cepat dari sang dokter keluarga berpengalaman tersebut. Sean berdiri di dekat pintu kamar dengan mata mengerjap penasaran, ikut menanti penjelasan tentang keadaan sang mama tercinta.​"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Kenapa dia mendadak mual-mual hebat tadi pagi?" tanya Arham tidak sabar dengan suara beratnya yang mendesak.​Dokter Hans merapikan kacamatanya sambil tersenyum penuh arti melihat kepanikan di wajah CEO dingin tersebut. "Secara fisik tekanan darahnya normal, Tuan Arham. Tapi melihat gejala mual hebat di pagi hari yang diala

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 342: Kejutan Kecil di Pagi Hari

    ​Mentari pagi menyapa jendela kaca Mansion Tawfeeq dengan pendar cahaya keemasan yang menghangatkan sudut ruangan makan mewah tersebut. Meja panjang berlapis kayu jati dipenuhi berbagai hidangan sarapan lezat, mulai dari buah-buahan segar, roti panggang, hingga semangkuk sup hangat buatan kepala koki. Para pelayan berdiri siaga di dekat dinding dengan kepala tertunduk hormat, menunggu instruksi selanjutnya dari sang tuan rumah. Arham duduk di kursi utama dengan mengenakan kemeja kerja rapi berbalut rompi setelan jas, siap berangkat ke kantor pusat. Sean duduk di sebelah ayahnya sambil menikmati segelas susu cokelat hangat dan sepotong roti selai stroberi kesukaannya.​Zara melangkah mendekati meja makan dengan senyuman cerah di wajah cantiknya, mengenakan dress rumahan santai berwarna pastel yang elegan. Baru saja ia menarik kursi di samping suaminya, aroma tajam dari semangkuk sup ayam hangat di tengah meja tiba-tiba menghantam indra penciumannya. Perut Zara mendadak bergejolak hebat

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 341: Kepulangan yang Manis

    ​Roda pesawat komersial kelas utama yang membawa Arham dan Zara mendarat mulus di landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Udara tropis yang hangat langsung menyambut begitu mereka keluar dari pintu kedatangan VVIP yang sudah dijaga ketat oleh para pengawal pribadi. Mobil sedan hitam panjang milik keluarga Tawfeeq terparkir rapi menunggu di depan lobi, siap membawa pasangan suami istri itu pulang. Zara merapikan mantel wol yang melekat di tubuhnya, menarik napas panjang merasakan kembali aroma khas ibu kota setelah sebulan penuh berada di Paris. Arham merangkul pinggang istrinya dengan posesif, memandu langkah wanita itu masuk ke dalam kabin mobil yang ber-AC sejuk.​Perjalanan menuju Mansion Tawfeeq ditemani oleh lalu lintas Jakarta yang padat namun lancar berkat pengawalan khusus di sepanjang jalan tol. Setibanya di gerbang utama mansion, para pelayan dan staf rumah tangga sudah berbaris rapi menyambut kepulangan tuan dan nyonya besar mereka dengan hormat. Sean berlari

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 17. Make Over Zara Menjadi Gina. 

    ​Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 7. Siasat di Balik Kemewahan

    ​"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu t

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 5. Pertanyaan yang Menggejutkan Sang Nenek. 

    ​"Ini upah ku menyanyi malam ini, Nek. Besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke apotek depan gang untuk menebus seluruh resep obat nenek yang sempat tertunda kemarin. Sisanya bisa kita gunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan," ucap Zara dengan binar mata penuh kepuas

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 4. Pikiran Yang Mengganggu

    ​"Nenek ... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Zara lirih ke tengah kesunyian malam, suaranya tenggelam bersama deru angin malam dan hantaman hujan yang tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan mereda.​Ia perlahan bangkit berdiri, memunguti tas kainnya yang basah dan memasukkan kartu nama itu ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status