로그인"Dengarkan Nenek baik-baik, Zara Alfathunisa," ucap Nenek Ajeng dengan nada suara yang ditekan serendah dan setegas mungkin, tangannya yang gemetar bergerak meraih jemari Zara di atas meja. "Menurut mendiang ibumu sebelum dia meninggal dunia, dan menurut ingatan Nenek sendiri yang merawat ibumu saat melahirkanmu di klinik desa dulu ... kamu terlahir sebagai anak tunggal. Kamu tidak pernah memiliki kakak, adik, apalagi seorang saudara kembar yang terpisah seperti yang ada di video-video internet itu. Pernikahan orang tuamu dulu memang sangat sederhana dan serba kekurangan dalam hal ekonomi, namun mereka tidak akan pernah sudi memisahkan atau membuang anak kandung mereka sendiri jika memang terlahir kembar. Jadi, Nenek minta kepadamu, buang jauh-jauh pikiran aneh dan fiktif itu dari kepala indahmu. Kamu adalah satu-satunya Zara milik Nenek, milik Ayah, dan milik Ibu. Paham, Nak?"
Zara menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Nenek Ajeng, berusaha mencari sekecil apa pun celah kebohongan di balik untaian kalimat tegas yang baru saja diucapkan oleh wanita tua itu. Namun, mata Nenek Ajeng menampilkan ketegasan mutlak yang dilapisi oleh rasa lelah yang amat sangat, membuat Zara akhirnya memilih untuk mengalah dan menghentikan interogasinya malam ini. Ia tidak ingin keegoisannya mencari tahu kebenaran justru akan membahayakan kondisi fisik neneknya yang mulai terlihat sesak napas akibat kelelahan terjaga hingga larut malam.
"Iya, Nek. Aku paham. Maafkan aku ya, Nek, karena sudah menanyakan hal-hal yang tidak penting dan membuat Nenek jadi berpikiran yang tidak-tidak malam-malam begini," ucap Zara dengan nada suara yang lembut penuh penyesalan sembari mengusap punggung tangan neneknya untuk menenangkan gejolak emosi yang terjadi.
"Tidak apa-apa, Nak. Nenek tahu kamu hanya penasaran saja karena tayangan internet itu," sahut Nenek Ajeng dengan senyum yang dipaksakan, merasa lega karena berhasil meredam rasa ingin tahu cucunya malam ini, meskipun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah rasa bersalah yang teramat besar kembali menggerogoti jiwanya atas kebohongan yang terpaksa ia lakukan demi menjaga sebuah sumpah masa lalu yang mengikat erat kehidupannya. "Sekarang habiskan buburmu, setelah itu langsung tidur di kamar. Besok pagi kamu masih harus bangun awal untuk pergi ke apotek, kan?"
"Iya, Nek. Ini aku habiskan kok," jawab Zara sembari kembali menyuapkan sisa buburnya yang sudah mulai mendingin ke dalam mulutnya dengan pikiran yang sebenarnya masih mengembang liar di luar kendalinya.
Meskipun Nenek Ajeng sudah menegaskan dengan kalimat mutlak bahwa dirinya tidak memiliki saudara kembar, namun entah mengapa, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah intuisi batin seorang wanita menolak untuk mempercayai ucapan tersebut sepenuhnya. Pertemuan dengan wanita bernama Gina di halte bus tadi terasa teramat nyata, aroma parfum mawarnya, getaran suaranya, dan yang paling utama—garis wajah kembarannya itu—terus menerus berteriak di dalam kepala Zara bahwa ucapan neneknya malam ini tidak sepenuhnya mengandung kebenaran yang murni. Zara menyentuh saku celananya secara sembunyi-sembunyi dari balik meja, merasakan keberadaan kartu nama berlapis emas milik Gina Susanti yang masih tersimpan aman di sana, seolah benda kecil itu adalah sebuah bom waktu tersembunyi yang siap meledak kapan saja untuk menghancurkan seluruh dinding kedamaian hidup sederhananya di masa depan yang tidak akan lama lagi akan segera bergulir menuntut pembuktian sebuah garis takdir yang sesungguhnya.
***
Di sudut kota yang lain, jauh dari keheningan gang sempit tempat Zara tinggal, gemerlap lampu malam dari balik jendela kaca sebuah penthouse mewah menjadi saksi dari sebuah kegelisahan yang berbeda.
"Tuangkan wiskinya lagi, Anton. Kepalaku rasanya mau pecah memikirkan rute penerbangan kita besok pagi," ucap Gina Susanti sembari mengempaskan tubuh seksinya ke atas sofa beludru kelabu yang terletak di tengah-tengah ruang tamu apartemen penthouse mewahnya.
Ia melemparkan tas tangan bermerek puluhan juta rupiah itu ke sembarang arah, tidak peduli ketika benda mahal tersebut mendarat mengenaskan di atas lantai marmer yang mengilat. Gaun malam desainer berwarna merah menyala yang dikenakannya tampak sedikit kusut, dengan beberapa noda cipratan air kotor yang mengering di bagian keliman bawah—sisa dari insiden tabrakan konyol di halte bus pinggiran kota beberapa jam yang lalu. Rambut bob pendeknya yang modis terlihat sedikit berantakan, namun kilat kemarahan dan ambisi di dalam matanya yang dilapisi riasan tebal sama sekali tidak memudar.
Anton, seorang pria bertubuh atletis dengan rahang kokoh dan sepasang mata elang yang memancarkan aura pemberontak, berjalan mendekat dari arah meja bar privat. Ia hanya mengenakan kemeja satin hitam yang separuh kancingnya terbuka, menampilkan dada bidangnya yang kecokelatan. Di kedua tangannya, terdapat dua buah gelas kristal berisi cairan amber dengan sebongkah es batu yang berdenting pelan saat berbenturan dengan dinding kaca. Pria itu menyodorkan salah satu gelas kepada Gina, lalu mendudukkan dirinya tepat di samping wanita itu, melingkarkan satu lengan kekarnya di atas sandaran sofa untuk merengkuh bahu Gina yang terbuka.
"Kamu masih memikirkan pelacur cilik yang menabrakmu di halte bus tadi, Sayang? Sudahlah, lupakan saja. Dia hanya remah-remah sialan yang tidak sengaja menghalangi jalan kita. Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana dengan urusanmu di Jakarta? Penerbangan kita ke Maladewa sudah dipesan untuk tiga bulan ke depan, dan aku tidak mau liburan romantis kita terganggu hanya karena kamu mencemaskan tunangan kayamu itu," ujar Anton dengan nada suara yang berat dan sensual, jemarinya mulai bergerak mengusap leher Gina perlahan, mencoba membakar gairah wanita di sampingnya.
Gina menyesap wiskinya dalam-dalam, membiarkan cairan panas itu membakar tenggorokannya dan memberikan sedikit rasa rileks pada saraf-saraf kepalanya yang menegang. Ia menyandarkan kepalanya di dada Anton, namun tatapan matanya tetap lurus menatap kosong ke arah langit-langit apartemen yang dihiasi lampu kristal gantung yang sangat mewah.
"Kamu tidak mengerti, Anton. Ini bukan soal gadis sialan di halte tadi. Ini soal Denandra Arham Tawfeeq. Pria itu bukan tipe pria bodoh yang bisa aku bohongi dengan alasan liburan biasa selama tiga bulan penuh tanpa mendampinginya di acara-acara korporasi besar. Kamu tahu sendiri bagaimana watak Arham. Dia dingin, teliti, dan memiliki jaringan mata-mata di mana-mana. Jika dia sampai tahu aku pergi ke Maladewa bersamamu, hubungan kami akan berakhir malam ini juga, dan seluruh fasilitas mewah, apartemen ini, kartu kredit tanpa batas, dan statusku sebagai calon Nyonya Besar Tawfeeq akan lenyap dalam sekejap mata," tutur Gina dengan nada suara yang mendadak melengking cemas, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam.
Anton terkekeh sinis, mengecup pucuk kepala Gina dengan sedikit kasar sebelum meneguk habis wiskinya sendiri. "Lalu apa maumu, Gina? Kamu yang merengek kepadaku memohon agar kita bisa menghabiskan waktu bersama selama tiga bulan di pulau privat tanpa ada gangguan dari dunia luar. Kamu bilang kamu sudah muak menghadapi keformalan hidup Arham dan keluarganya yang membosankan itu. Sekarang, saat semua tiket dan villa mewah sudah aku bayar dengan uangku, kamu malah ketakutan seperti ini?"
Suka dengan cerita ini? Jangan lupa tinggalkan jejak komen ya, Bestie ... Karena komen kalian itu booster aku untuk menulis. ^^
"Halo, Pak Arham. Ada perkembangan baru?" tanya suara di balik telepon."Pak Bayu, saya butuh kita bertemu sekarang juga di tempat biasa," ucap Arham langsung pada inti permasalahan."Baik, Pak Arham. Saya sudah menunggu di lokasi biasa," sahut pria bernama Bayu tersebut sebelum memutus sambungan.Arham menginjak pedal gas dalam-dalam, meluncurkan mobilnya menembus jalanan kota yang mulai dipadati arus kendaraan sore hari. Pikiran pria itu melayang jauh pada rentetan kejadian aneh yang menimpa Zara selama tiga bulan terakhir.Penundaan demi penundaan yang dilakukannya untuk menikahi Gina sebenarnya bukan sekadar taktik mengulur waktu. Di balik sikap diamnya selama ini, Arham bergerak di bawah tanah, memanfaatkan jasa Bayu—seorang detektif swasta terbaik berlatar belakang mantan penyidik yang sangat berpengalaman dalam melacak kasus-kasus kriminal tak terpecahkan.Arham tidak pernah percaya bahwa peristiwa kebakaran dahsyat yang menghanguskan rumah kontrakan Zara dan Nenek Ajeng
"Kamu penipu, Gina!" potong Nindy melangkah maju dari balik punggung Arham, menunjuk wajah Gina dengan penuh racun kebencian. "Ponsel tua Anji tertinggal di rumah ini! Aku sudah lihat semua foto perselingkuhan kamu dengan Anji di kamar hotel saat kamu masih berstatus tunangan Kak Arham!"Wajah Gina yang semula mencoba angkuh kini hancur total. Matanya terbelalak lebar, memancar ketakutan luar biasa yang tak lagi bisa ditutupi. "N-Nindy ... Kamu ....""Bukan cuma perselingkuhan murahanmu dengan Anji," sambung Arham seraya melempar selembar kertas bukti penggadaian barang ke atas tempat tidur. "Kamu juga mencuri jam tangan emas milik almarhum papaku kemarin sore dan menggadaikannya lewat perantara Anji seharga tiga puluh juta rupiah."Gina bergidik hebat, melihat kertas bukti transaksi dari toko perhiasan pasar induk yang kini terhampar jelas di depan matanya. Kaki wanita itu terasa lemas bagaikan tanpa tulang."Kamu pikir kamu bisa mengancam ibuku dengan laporan polisi dan wartawa
Ban mobil sedan hitam itu mencengkeram keras permukaan aspal pelataran mansion saat Arham mengerem mendadak. Pintu mobil terbuka lebar, memuntahkan sosok pria tegap itu bersama lima pengawal berbadan kekar berpakaian serba hitam. Aura ketegangan langsung merayap pekat menyelimuti teras depan rumah besar keluarga Tawfeeq.Arham melangkah lebar menaiki anak tangga marmer menuju pintu utama. Tatapan matanya lurus berkilat, sarat akan muatan amarah yang membakar dada. Hendra dan para pengawal mengekor ketat di belakangnya, siap menjalankan instruksi apa pun tanpa keraguan.Di dalam rumah, Lusi dan Nindy duduk berdampingan di sofa ruang tengah. Wajah Lusi masih sepucat kapas akibat guncangan ancaman skandal dari Gina. Begitu mendengar derap langkah sepatu yang berwibawa menembus pintu depan, Nindy langsung berdiri menyambut abangnya dengan raut lega."Kak Arham!" panggil Nindy seraya berlari kecil menghampiri kakaknya.Arham menghentikan langkahnya tepat di depan sang ibu. Pria berumu
"Jadi wanita itu sudah mencuri di rumahku jauh sebelum dia melarikan diri?" desis Arham dengan suara bariton yang teramat dalam dan sarat akan amarah tertahan."Benar, Pak Arham," sambung Hendra. "Dan mengenai jam tangan emas milik almarhum Bapak yang hilang kemarin sore, tim kami sudah melacak penggadaian kilatnya di toko perhiasan pasar induk. Jam tangan itu digadaikan atas nama orang suruhan Anji dengan nilai transaksi tiga puluh juta rupiah."Arham menyunggingkan senyum dingin yang sangat mengerikan. Kepingan teka-teki mengenai kerja sama busuk antara Gina dan Anji kini telah terkumpul utuh di dalam genggamannya. Wanita itu tidak hanya sekadar penipu moral, tapi juga seorang kriminal yang telah menggerogoti rumah tangganya secara perlahan.Ponsel di atas meja kerja Arham mendadak bergetar nyaring. Nama Nindy tertera di layar ponsel pintar tersebut. Arham meraih ponselnya lalu menekan tombol hijau."Ada apa, Nindy?" tanya Arham langsung tanpa basa-basi."Kak Arham! Kakak haru
Di koridor lantai atas, Nindy keluar dari balik pilar kayu besar tempat ia bersembunyi sejak awal obrolan tersebut. Tangan wanita muda itu meremas kuat pegangan tangga kayu, menatap punggung Gina yang menghilang di belokan koridor dengan amarah yang mendidih.Nindy melangkah terburu-buru menghampiri ibunya yang sedang terkulai lemas di sofa. "Mama! Mama tidak apa-apa?"Lusi mendongak, memegang telapak tangan adiknya Arham itu dengan genggaman dingin yang gemetaran. "Nindy ... Kamu mendengar semua ucapan Gina tadi?""Aku dengar semuanya, Ma!" jawab Nindy tegas seraya duduk di samping ibunya. "Mama jangan mau diancam sama wanita iblis itu! Gina cuma menggertak karena posisinya sudah terdesak!"Lusi menggelengkan kepalanya dengan pandangan mata yang nanar. "Kamu tidak tahu bahayanya, Nindy. Kalau Gina benar-benar melapor ke polisi dan membawa media massa, harga saham perusahaan abangmu bisa anjlok dalam sekejap. Investor akan menarik modal mereka!""Tapi Gina itu wanita penipu yang
Derap langkah sepatu hak tinggi beradu nyaring dengan lantai marmer putih yang dingin. Gina melintasi area hall tengah mansion dengan gaun merah yang melambai kasar. Wajah wanita itu dipenuhi guratan amarah yang tak lagi bisa disembunyikan di balik polesan makeup tebalnya.Tangan Gina mengepal kencang saat meremas tas bahunya. Ponsel pintar di dalam tas itu baru saja menyuarakan nada penolakan transaksi saat ia mencoba memesan gaun pengantin dari perancang ternama. Arham benar-benar bertindak tega memblokir seluruh akses kartu kredit utama yang selama ini menjadi sumber kemewahannya.Lusi duduk tenang di sofa empuk ruang tengah, mengamati majalah mode bulanan seraya menyesap teh melati hangat. Tatapan wanita paruh baya bertatanan rambut sanggul rapi itu bergeser pelan saat melihat Gina menghampirinya dengan napas memburu."Mama Lusi!" panggil Gina dengan nada suara melengking yang memecah keheningan ruangan.Lusi meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan kecil tanpa menimbul
"Ini upah ku menyanyi malam ini, Nek. Besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke apotek depan gang untuk menebus seluruh resep obat nenek yang sempat tertunda kemarin. Sisanya bisa kita gunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan," ucap Zara dengan binar mata penuh kepuas
"Nenek ... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Zara lirih ke tengah kesunyian malam, suaranya tenggelam bersama deru angin malam dan hantaman hujan yang tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan mereda.Ia perlahan bangkit berdiri, memunguti tas kainnya yang basah dan memasukkan kartu nama itu ke
Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer
Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pip







