ログインKilatan lampu kamera malam itu terasa begitu menyilaukan bagi Laura yang lebih terbiasa duduk di balik meja kerja. Tapi bagi Theo, suara jepretan kamera dan bisik kagum para sosialita tak lebih dari sekadar rutinitas membosankan yang harus ia jalani.
Theo berdiri tegak dengan setelan formal mewahnya. Dagunya terangkat dengan keangkuhan yang alami. Aura pria itu memancarkan sosok yang terbiasa memegang kendali atas segalanya. “Nona Laura, sebelah sini!” Seorang reporter memanggil Laura untuk menghadap ke arah kameranya. Ah, ternyata daya tarik utama malam ini bukan hanya terpusat pada sosok Theo yang dingin. Fokus utama semua orang justru tertuju pada wanita yang dinikahi Theo seminggu yang lalu. Tatapan iri terpancar dari para tamu dan wartawan yang hadir saat melihat tangan Theo melingkar posesif di pinggang Laura. Di acara tahunan yang diadakan oleh pemimpin negara ini, para jurnalis tentu tidak akan melewatkan pesona power couple baru. Seorang CEO muda berusia tiga puluh satu tahun bersanding dengan seorang birokrat muda dari kantor kementerian, yang juga putri tunggal dari tokoh politik berpengaruh. “Senyum sedikit lebih lebar, Theo. Kamera media utama menyorot kita. Aku rasa kita akan jadi trending topic lagi,” bisik Laura dengan suara yang begitu tenang. Theo menarik sudut bibirnya, menundukkan sedikit kepalanya lalu berbisik tajam, “Kamu terlalu mengkhawatirkan reputasi baik, Nona Zalman.” Pria itu kembali menegakkan kepala, melemparkan senyuman yang terlihat begitu hangat dan penuh cinta dari sudut pandang kamera wartawan. “Reputasi adalah segalanya dalam pernikahan ini, Theo,” sahut Laura sambil menoleh, membalasnya dengan senyuman paling anggun. “Dan kamu tahu betul seberapa banyak saham perusahaanmu yang bergantung pada pernikahan kita.” Laura merasakan cengkraman tangan Theo di pinggangnya mendadak semakin kencang. Laura tahu betul pria angkuh itu tidak suka diingatkan tentang fakta mengenai transaksi bisnis di balik pernikahan mereka Setelah interaksi basa-basi dengan beberapa pejabat serta kolega bisnis di aula utama, mereka melangkah menuju ruangan VIP yang lebih privat. Begitu pintu kayu itu tertutup rapat, topeng yang mereka kenakan lenyap seketika. Theo melepaskan rangkulan tangannya di pinggang Laura dengan kasar, menghela napas seolah baru saja melepaskan sebuah beban berat yang melelahkan. Kemana perginya sikap hangat dan protektif di karpet merah tadi, Theo? “Aku harus pergi,” ucap Theo saat jarinya menyentuh layar ponsel. Laura menyadari sesuatu ketika melihat sorot mata suaminya melunak, bahkan terlihat sebersit rasa bersalah yang sangat langka. Pria itu berbalik menatap Laura yang berdiri di depan cermin. “Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan sekarang.” “Urusan kantor di jam sebelas malam, Theo?” tanya Laura tenang, merapikan gaunnya di depan cermin. Laura sudah bisa menebak urusan macam apa yang membuat suaminya harus pergi terburu-buru. “Aku harap kamu gak lupa janji kita besok pagi sama ayahku, Theo. Kamu gak mau kehilangan tender proyek yang diincar perusahaanmu, kan?” lanjut Laura tanpa nada emosi. Theo mendengus pelan. Pria itu melangkah menghampirinya dengan tatapan mengintimidasi. “Aku gak pernah lupa soal bisnis, Laura. Tenang aja, aku bakal memastikan penampilanku pagi nanti gak akan bikin ayah kamu curiga.” “Baguslah kalau gitu,” Laura mengangguk santai. “Kalau sampai kamu merusak pertemuan besok cuma karena kesenangan pribadimu, bukan cuma kamu yang rugi, Theo. Nama baik yang udah aku bangun dengan susah payah juga bisa terancam.” Laura tahu ucapannya barusan berhasil menyentil ego pria itu ketika melihat Theo tengah menatapnya sinis. “Apa dalam diri kamu itu cuma ada jiwa politisi yang gak punya hati? Kamu benar-benar licik, Laura.” “Tunggu– apa? Kamu sebut aku gak punya hati? Serius, Theo?” Laura terkekeh meremehkan. Apa pria ini berpikir bisa mengusik ketenangannya dengan mudah? “Terus laki-laki beristri kayak kamu yang masih sering nemuin pacarnya di tempat lain disebut apa, Theo?” Skakmat. Theo terdiam m. Tangannya mengepal erat di dalam saku celana. Laura bisa melihat rahang pria itu mengeras, Theo terlihat frustasi karena tidak bisa membalas perkataannya atau memancing emosinya. “Aku cuma pakai isi kepalaku buat memastikan kita berdua tetap bertahan di posisi atas,” Laura maju satu langkah, menatap suaminya dengan pandangan menantang. “Jadi sekarang, sana pergi. Jangan bikin urusan kamu yang sangat penting itu nunggu terlalu lama.” Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Theo berbalik dan melangkah keluar dari ruang VIP, meninggalkan Laura sendirian dalam kesunyian. “Astaga...” Bahu Laura yang tadinya tegap perlahan merosot. Ia menghela nafas panjang, memejamkan mata untuk menghalau rasa sesak yang merayap di dada, “Baru satu minggu, tapi aku udah lelah.” Benar, satu minggu sejak ikatan pernikahan ini resmi menahannya. Satu minggu ini pula kehidupannya di rumah diisi dengan tatapan dingin, kalimat ketua, dan penolakan secara terang-terangan dari Theo. Pria itu selalu memperlakukannya seperti ancaman yang perlu diwaspadai. Laura tahu betul air mata tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi jika berhadapan dengan pria egois dan keras kepala seperti Theo. Menangis di depan Theo? Lupakan. Hal itu bahkan tidak pernah terlintas di kepala Laura. Ia tidak akan membuat Theo merasa menang. Meskipun pernikahan ini berawal dari keterpaksaan demi mempertahankan kekuasaan dua keluarga, Laura bukan wanita yang pasrah begitu saja pada nasib. Ia sudah mengambil keputusan untuk masuk ke dalam hidup Theo dan bertekad menaklukkan pria itu, tidak peduli seberapa tinggi benteng yang berdiri di antaranya. Laura tidak akan membiarkan dirinya yang sempurna dijadikan pajangan yang menyedihkan. . . to be continuedBayangan tentang tindakannya melabrak wanita itu terasa begitu menggiurkan dan aku yakin itu bisa memuaskan ego Laura yang terluka. Rasanya, satu tamparan atau teriakan kemarahan akan sangat ampuh untuk memuaskan hatinya yang hancur. Ia sudah tidak tahan ingin meruntuhkan kedamaian wanita itu di depan umum.Laura sempat mengambil satu langkah maju, tapi ia kembali berhenti ketika tubuhnya mendadak bergetar hebat menahan godaan emosi dalam dirinya.Ia berada dalam dua pilihan, tetap membiarkan emosi menguasai dirinya, atau kembali menelan rasa sakitnya untuk tetap mempertahankan apa yang tersisa dari kehormatan dan reputasinya.“Laura, sumpah deh kamu kenapa sih?” Amel semakin khawatir ketika melihat raut wajah sahabatnya yang memucat, tapi matanya dipenuhi oleh amarah.Amel melirik ke arah dimana pandangan Laura tertuju, “Lau, kamu ngeliat…siapa?”Laura menghentikan gerakan tubuhnya yang hendak berbalik ketika sentuhan tangan Amel menahannya. Napasnya masih memburu. Di dalam kepalanya
Laura baru saja menyelesaikan materi presentasi untuk rapat evaluasi internal bersama jajaran pejabat direktorat sore nanti. Perutnya sudah berbunyi minta di isi karena tadi pagi ia melewatkan sarapan. Laura harus banyak-banyak mengucapkan terima kasih pada Amel yang memaksanya untuk ikut keluar dari lingkungan kantor dan menyeretnya menuju sebuah restoran Jepang.Sesi makan siang ini juga sekaligus menjadi sesi curhat antar dua sahabat. Amel sesekali mengeluh mengenai pekerjaannya, dan juga kisah cintanya yang belum juga menemukan titik temu karena perbedaan keyakinan antara dirinya dan kekasihnya.“Apa aku putusin aja ya, Lau?” Tanya Amel, “Tapi nggak ah, gila aja kalau enam tahun ujung-ujungnya putus mah.”Laura masih mendengarkan ocehan sahabatnya sambil meneguk es jeruknya, “Ya itu mah tergantung keputusan kalian berdua.”“Hm… apa aku ajak dia jadi atheis aja kali, ya? Jadi gak ada yang menang diantara kita berdua.” Ucap Amel sembarangan yang langsung mendapatkan toyoran di kepal
Kantor Kementerian terasa lebih ramai dari hari-hari biasanya. Suara langkah kaki dari puluhan perwakilan perusahaan konstruksi saling bersahutan, memenuhi aula yang telah disulap menjadi ruang konferensi resmi. Dibagian depan ruangan, sebuah spanduk berukuran besar menampilkan tulisan tebal ‘Pengumuman Resmi Pemenang Tender Proyek Pembangunan Jalan Tol Antar Provinsi’.Laura berdiri anggun di sisi kiri panggung utama sambil memegang sebuah map berwarna coklat yang berisi draft evaluasi akhir dan salinan lembar penetapan pemenang. Ia telah menghabiskan dua minggu terakhir untuk memeriksa ribuan halaman berkas kelayakan dari lima perusahaan besar yang masuk tahap final. Dan hari ini adalah puncak dari kerja kerasnya.Pandangan Laura menyapu deretan kursi VIP yang terletak di depan panggung. Matanya berhenti pada sosok suaminya yang semalam tidak pulang, kini tampak menonjol seperti biasanya. Pria itu duduk bersandar dengan tenang, kedua tangannya terlipat di depan dada. Mata mereka sem
Suara pintu apartemen yang dibanting menggema. Suasana yang tadinya tenang dan sunyi mendadak menjadi tegang. Leia, wanita berambut pirang di pernikahan Theo kemarin terlonjak dari duduknya saat ia melihat sosok pria yang masuk ke dalam apartemennya dengan setelan formal. “Theo?” Ponsel yang sejak tadi ia pegang jatuh membentur lantai, “Kenapa kamu kesini? Aku kan udah bilang jangan pernah datang lagi!” Tanpa menjawab, Theo melangkah menuju Leia. Ia menarik tubuh kekasihnya dan mendekapnya dengan begitu erat. Theo menenggelamkan wajahnya di leher Leia, menghirup aroma vanilla yang selalu berhasil menenangkannya. "Jangan pernah usir atau minta aku buat gak datang lagi." Bisik Theo posesif. Leia memejamkan matanya, merasakan detak jantung Theo yang berdegup kencang. Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata, mengaburkan pandangannya. “Lepas, Theo. Aku benci kamu!” Desis Leia berbohong. Mustahil Leia tidak mencintai Theo. Hubungan yang sudah terjalin sejak SMA membuatnya s
Jarum jam dinding bergerak teratur, menunjukan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Suasana rumah dengan konsep minimalis modern itu terasa terlalu hening. Cahaya lampu gantung di area ruang makan sengaja diredupkan, menyisakan sorot cahaya kekuningan yang temaram dan menenangkan. Seperti malam-malam sebelumnya, Laura tidak pernah melontarkan protes, marah, atau menghujani Theo dengan pesan singkat untuk bertanya jam berapa suaminya akan pulang. Ia tetap menjaga ketenangan meskipun emosinya mengalir di dalam. Di atas meja makan hitam yang dingin, semangkuk sup krim jamur dan secangkir teh hangat yang baru saja diseduh tersaji ketika bunyi klik pelan dari pintu smart lock terdengar. Theo yang baru saja pulang masuk dengan langkah yang terdengar berat, membuat Laura langsung menghampiri suaminya. “Kamu mau makan atau mau mandi dulu?” Tanya Laura sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil jas yang disampirkan Theo di lengannya. “Mandi.” Jawab Theo singkat. Laura menggantungkan ja
“Selamat pagi, Bu Laura,” Sapa petugas keamanan yang berdiri tegap di dekat pintu lift. Pria berseragam rapi itu melemparkan senyum ramah.Laura tersenyum anggun dengan sisa energinya, “Pagi, Pak.”Laura langsung melangkah masuk begitu pintu lift terbuka. Ia menekan tombol dengan angka enam dan membiarkan besi berlapis cermin itu menutup rapat. Begitu lift naik, pertahanan Laura runtuh. Bahunya yang tegak perlahan turun, helaan napas panjang menunjukan bahwa ia benar-benar lelah.‘Sialan! Benar-benar sialan!’Laura menyumpahi suaminya dalam hati. Pria brengsek itu bahkan tidak sudi mengantarnya sampai depan kantor. Theo malah meninggalkannya di pinggir jalan tanpa rasa bersalah. Laura menarik napas dalam mencoba kembali mengontrol emosinya ketika suara dentingan lift terdengar. Topeng ketenangan seorang wanita karir kembali terpasang di wajah cantiknya saat ia melangkah keluar menuju ruang kerjanya.Beberapa staff yang berpapasan menyapanya dengan hormat, Laura membalasnya dengan ang







