Share

21. Melawan

Penulis: MyMelody
last update Tanggal publikasi: 2024-07-30 22:35:30
Kurenggangkan tubuhku yang terasa remuk, sakit di perutku masih membuatku lemas tak bertenaga.

'Selamat pagi, mama, papa,' bisikku pelan seolah-olah mereka berada di depanku. Kutarik selimut tebal untuk menutupi kakiku yang kedinginan, lalu aku menyadari bahwa Bik Sumi sudah mengganti bed cover yang ada noda merahnya. Ada rasa malu yang menyerang pikiranku.

Dari dalam kamar, kudengar suara wajan yang beradu dengan sutel. Mungkin Bik Sumi sudah bangun, pikirku.

Kupaksa diriku untuk bangun dan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (36)
goodnovel comment avatar
Milda Yanti
Hahaha good Grace di skakmat tuh si Nathalie ...
goodnovel comment avatar
Yuna Yuna
bagus Grace, lawan terus. jgn kasih kendor..
goodnovel comment avatar
yenini
nah gitu dong Grace kamu tuh harus ngelawan jangan mau di injek" sama nenek lampir itu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   165. Kamu Curang

    Dengan ragu, Gabriel melangkah melewati ambang pintu, tapi dia langsung berhenti di sana. Hawa sejuk dari mesin pendingin langsung menyapu sisa-sisa hawa panas jalanan dari pundaknya, tapi ketegangan di wajahnya tidak serta-merta mencair.Ia berdiri terpaku sejenak, mengamati bagaimana lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan yang lembut, kontras dengan mendung kelabu yang sepanjang hari menggelayuti kepalanya."Masuklah, Gabriel. Di luar anginnya sedang tidak bersahabat," ujarku memecah keheningan sembari merapatkan kaus kebesaran yang membungkus tubuhku. Kandunganku yang sudah berjalan enam bulan mulai terlihat begitu nyata.Akhirnya tanpa aba-aba, Gabriel melangkah maju. Langkahnya tidak lagi ragu, melainkan didorong oleh desakan yang tak tertahankan. Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan kekar merengkuh tubuhku dari belakang.Dia menarikku ke dalam pelukannya—begitu erat, seolah-olah seluruh dunianya sedang runtuh dan hanya tubuhku satu-satunya pasak yang

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   164. Biarkan Sebentar

    Sepatu pantofel Gabriel mengetuk lantai pualam dengan ragu saat dia melangkah melewati ambang pintu. Kehangatan pendingin ruangan langsung menyapu sisa-sisa hawa dingin jalanan dari pundaknya, tapi ketegangan di wajahnya tidak serta-merta mencair.Ia berdiri terpaku sejenak, mengamati bagaimana lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan yang lembut, kontras dengan mendung kelabu yang sepanjang hari menggelayuti kepalanya."Masuklah, Gabriel. Di luar anginnya sedang tidak bersahabat," ujarku memecah keheningan sembari merapatkan kaus kebesaran yang membungkus tubuhku.Tanpa aba-aba, Gabriel melangkah maju. Langkahnya tidak lagi ragu, melainkan didorong oleh desakan yang tak tertahankan. Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan kekar merengkuh tubuhku dari belakang.Dia menarikku ke dalam pelukannya—begitu erat, seolah-olah seluruh dunianya sedang runtuh dan hanya tubuhku satu-satunya pasak yang menahannya agar tidak hancur. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang b

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   163. Malam Tanpa Jawaban

    Rumah itu terlalu sunyi.Gabriel berdiri di depan jendela kamar, menatap jalan di bawah yang basah setelah gerimis tipis. Netranya memperhatikan setiap pasang lampu mobil yang menikung masuk ke kompleks, dan setiap bayangan yang bergerak, menunggu seorang yang belum kembali juga.Natalia belum pulang."Kamu ke mana, Nat?" bisik Gabriel cemas. Akhirnya dia memutuskan untuk turun ke lantai bawah, membuat secangkir kopi. Gabriel akan bergadang sambil menunggu kepulangan istrinya.Aroma kopi memenuhi ruang dapur, Gabriel menuangkan kopi ke dalam sebuah cangkir berukuran besar, dan kembali naik ke lantai atas."Semoga Natalia pulang sebentar lain," ucap Gabriel sambil berjalan mondar-mandir. Sesekali dia menyesap kopi pahit itu.Jam di dinding menunjukkan angka yang semakin tidak masuk akal untuk seseorang yang belum tidur. Ponselnya ia angkat dan turunkan berkali-kali—layarnya penuh riwayat panggilan keluar dengan satu nama yang sama, semua berakhir dengan nada tunggu yang panjang sebelum

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   162. Jelaskan

    Jarum speedometer merayap ke angka yang tidak pernah Natalia sentuh saat dalam keadaan normal.Tangannya mencengkeram setir dengan cara seseorang yang butuh sesuatu untuk dipegang—sesuatu yang tidak akan pergi, diam, atau tidak akan menatapnya dengan wajah kosong ketika ia bertanya apakah ia masih dicintai.Lampu jalan meluncur lewat layaknya bintang yang jatuh ke arah yang salah.Di dalam dada Natalia, ada kebakaran yang dia sendiri tidak tahu bagaimana cara memadamkannya.Grace.Nama itu berputar di kepalanya—bukan seperti bisikan, tapi seperti alarm yang tidak punya tombol mati. Nama yang seharusnya tidak mengambil ruang sebesar ini di dalam pernikahan yang ia jaga dengan seluruh hidupnya. Nama yang meluncur dari bibir suaminya di atas ranjang mereka sendiri, di momen yang paling intim, di saat dia masih merasakan getar-getar percintaan mereka yang penuh gairah.Natalia tertawa kecil di dalam mobil, tapi suaranya tidak terdengar seperti tawa.Tangannya bergerak sendiri ke arah tas d

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   161. Salah Ucap

    Gabriel menggeram parau, gerakannya semakin liar.“Kamu suka begini, ya? Suamimu yang liar dan lapar?” Ia menunduk, menciumnya rakus sambil terus bergerak, satu tangannya meremas bagian depan Natalia, yang lain menahan pinggulnya agar tak bergerak.“Katakan … katakan siapa yang membuatmu seperti ini.”“Kamu … hanya kamu,” erang Natalia, tubuhnya mengejang setiap kali Gabriel menghantam titik paling sensitifnya. “Jangan berhenti … ah, sial, aku hampir …!”Mereka bergerak semakin cepat, irama yang brutal, tapi penuh kenikmatan. Tubuh Natalia melengkung indah, dadanya naik turun dengan cepat, matanya terpejam rapat penuh penghayatan. Gabriel merasakan otot-otot istrinya mengejang di sekitarnya, semakin erat, semakin panas.Saat gelombang itu datang menghantam Natalia lebih dulu, ia menjerit nama suaminya, tubuhnya bergetar hebat, kuku-kukunya menancap dalam di punggung Gabriel. Namun, Gabriel belum selesai. Ia terus bergerak, semakin dalam, semakin kuat, mengejar pelepasannya sendiri.“G

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   Bab 160. Aku Salah?

    Pintu rumah terbuka bahkan sebelum Gabriel sempat memasukkan kunci.Natalia berdiri di ambang pintu dengan wajah kesal dan terlihat sudah menahan emosi selama beberapa waktu. Rambutnya sedikit berantakan, cardigan tipis melingkari tubuhnya, dan matanya langsung mencari sesuatu di wajah Gabriel.“Kamu lama sekali sih?”Gabriel masuk tanpa banyak bicara. “Tadi ada pemeriksaan di rumah sakit.”“Aku tahu. Dengan dia, kan? Perempuan murahan yang mulai mengambil waktumu yang seharusnya untukku.”Nada itu tajam. Ia selalu blak-blakan kalau sedang marah.Gabriel melepas jaketnya pelan. “Grace hampir celaka malam ini, jadi aku harus menemaninya.”“Tapi dia tidak celaka, kan?”“Natalia.”“Apa? Aku salah?”Suasana ruang tamu terasa sesak, seperti dada mereka yang tidak mempunyai ruangan ekstra untuk hal lain. Siap meledak kapan saja.Natalia melangkah mendekat dengan gayanya yang selalu anggun. “Aku meneleponmu karena aku pusing. Aku sendirian di rumah ini. Aku istrimu, Gabriel.”“Aku tahu.”“Ka

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   148. Merespon

    "Tunggu! Apakah Nona Grace baik-baik saja?""Kenapa?" tanyaku sambil berbalik dengan alis bertaut."Nona terlihat pucat dan letih. Apakah Nona sedang sakit?"“A-aku baik-baik saja.” “Nona bisa tunggu di sini sampai Ibu Kristianto selesai terapi.”“Tidak, terima kasih.”Tanpa berkata apa-apa lagi, aku seg

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   147. Pucat

    “Loh, Non. Biar Bibik saja yang masak,” protes Bik Mirna yang baru saja selesai melakukan rutinitas seperti biasanya, yaitu menyiram bunga di taman.“Tidak apa-apa, Bik. Santai saja. Aku juga mau masak untuk mama kok.”“Tapi kan biar saya saja yang masakin, Non. Nanti tinggal Nona Grace bilang, kalau

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   146. Hampa

    “Ingat, siapa pun yang kamu pilih nantinya, aku sudah tidak peduli lagi, tapi apa pun yang terjadi, aku akan mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku.”Tanpa menunggu jawaban, Natalia memutar tubuhnya dan melangkah pergi, meninggalkan Gabriel yang duduk terpaku di tempat, dengan wajah yang kini

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   144. Pilih Siapa?

    “Mama memintaku untuk ….”“Untuk apa, Gabriel?”Natalia sebenarnya sudah tahu apa yang diminta oleh mama mertuanya lewat rekaman yang dikirim Angga. Ternyata, sepanjang hari ini, Angga, paparazzi sewaannya, malah sibuk dengan mengikuti Gabriel yang mengunjungi mamanya. Jujur, Ibu Ariani selalu berpena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status