بيت / Romansa / Cinta di Puncak Dunia / BAB 34 : KABAR PERNIKAHAN

مشاركة

BAB 34 : KABAR PERNIKAHAN

مؤلف: Yoongina
last update تاريخ النشر: 2026-07-22 12:36:13

​"Di mana lo?" tembak Reygan tanpa basa-basi. Suaranya gemetar menahan amarah di dalam dadanya, beradu dengan derap langkah lebarnya yang menggema di koridor penthouse menuju lift.

​"Gue udah di parkir Basement apartemen Clarissa, Rey. Lo—"

​"Kenapa semalam lo biarin Clarissa bawa gue?!" potong Reygan setengah berteriak. Ia menekan tombol lift dengan kasar bertubi-tubi.

​Di seberang telepon, Lingga menghela napas berat. Suaranya terdengar sangat tenang. "Nyonya Katrin yang kasih izin langsung,
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 94 : SATU SAMA

    "Kamu tidak apa-apa?" tanya Kinan lembut. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Zheydan, sementara jemari lentiknya mengusap pelan punggung tangan pria itu yang menyisakan memar kemerahan. ​Zheydan tidak langsung menjawab. Fokusnya masih tertuju pada layar ponsel Kinan yang sedang ia genggam. Jemarinya bergerak lincah mengatur beberapa akses pintas agar Kinan bisa bertindak cepat jika berada dalam bahaya. ​"Sekarang sudah aman," bisik Zheydan serak, mengecup lembut puncak kepala Kinan. Ia memiringkan layar ponsel itu agar Kinan bisa melihatnya. "Aku baru saja mengunduh aplikasi pelacak keluarga dan mengatur panggilan darurat di ponselmu." ​Kinan mendongak, menatap tampilan layar ponselnya yang kini memiliki beberapa pembaruan. ​"Lihat ini," ujar Zheydan seraya mengarahkan ibu jari Kinan ke tombol daya di samping ponsel. "Aku sudah mengaktifkan fitur Speed Dial dan tombol darurat. Kalau kamu menekan tombol daya ini lima kali secara cepat, ponselmu akan otomatis menele

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 93 : AMARAH ZHEYDAN

    Reygan menahan bahu Zheydan dengan tegas. "Jangan bertindak gegabah. Kita butuh orang itu untuk mengorek informasi. Kalau dia mati... !" Ujar Reygan tajam, menghentikan kalimatnya memberi peringatan. Zheydan tidak menjawab, ia hanya menatap balik mata tajam Reygan dengan tatapan yang lebih menusuk dan rahang mengeras. Ketegangan di depan pintu kamar memancar di udara. Reygan tidak mengendurkan cengkeramannya pada bahu Zheydan sedikit pun. Sorot mata kedua pria itu beradu—Reygan dengan ketenangan dan kepala dingin sedangkan Zheydan dengan gelombang amarah yang tak terkendali. ​"Aku mengerti emosi mu atas apa yamg terjadi pada Kinan," desis Reygan, suaranya sangat rendah hingga hampir tenggelam oleh ketukan air hujan yang mulai menetes di luar kafe. "Tapi kalau tangan mu sampai mematahkan lehernya, kita cuma dapat bangkai tanpa jawaban." ​Zheydan menghembuskan napas kasar melalui hidungnya. Dengan satu gerakan lambat namun bertenaga, ia menepis tangan Reygan dari bahunya. "Aku t

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 92 : MEMBUAT PERHITUNGAN

    BUAK! Sebuah tendangan kuat membuat ​pisau di tangan pria itu terlempar jauh. Lingga—dengan raut wajah yang dipenuhi amarah—mencengkeram leher pria itu, lalu menghantamkan tubuh sang penyusup ke dinding marmer hingga terdengar dentuman keras yang menggetarkan kamar. Lingga tidak memberikan ruang sedikit pun untuk bernapas. Pukulan beruntun mendarat telak di rahang dan tulang rusuk sang penyusup, disusul satu hantaman lutut keras ke bagian perut yang membuat pria itu memuntahkan darah dan roboh tak sadarkan diri di lantai. ​Kamar seketika hening, hanya diselimuti oleh deru napas Lingga yang memburu hebat. ​Mata tajam Lingga dengan cepat memindai ruangan. Ia melihat Kinan yang terisak di atas kasur dengan pakaian terkoyak. ​"Abang..." isak Kinan pecah. ​Lingga melepaskan jas hitam yang dikenakannya, mendekati ranjang untuk menutupi tubuh Kinan. "Kinan, kamu nggak apa-apa?" Kinan menggeleng cepat, "Vanda, bang. Vanda terluka!" lirih Kinan meminta Lingga untuk segera menyelama

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 91 : JERITAN DI KAMAR

    "Halo cantik, apa kabar?" ​Suara berat bercampur kekehan licik itu meluncur dari bibir seorang pria berbadan tegap dan berotot. Seketika, memori buruk Kinan berputar di benaknya. Ia mengenali wajah sangar itu—sosok penculik bayaran yang pernah membekap mulutnya hingga hilang kesadaran atas perintah Sherly Adolf waktu itu. ​"M—mau apa kamu?!" suara Kinan bergetar hebat. Ia melangkah mundur secara perlahan, wajahnya pucat pasi tanpa tersisa warna. Penyesalan hebat membakar dadanya karena telah memutus sambungan telepon dengan Zheydan. Kini, ia benar-benar terperangkap sendirian. "Ba—bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku?!" pekik Kinan dengan suara gemetar. ​Tawa pria itu meledak, memantul di tiap sudut kamar Kinan yang sempit. Suara tawa cemoohan dan ancaman. "Coba kamu pikirkan sendiri... bagaimana aku bisa melenggang masuk ke sini tanpa ketahuan?" ​Napas Kinan tercekat. Bayangan wajah Vanda seketika melintas di benaknya, membakar rasa curiga yang sejak awal memang sudah tert

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 90 : PERTENGKARAN KAKAK BERADIK

    "Aku nggak mau dengar apa-apa lagi!" Kinan memotong, langkahnya terburu-buru menuju pintu belakang kafe dengan bahu menegang. ​"Berhenti, Kinan!" Suara Lingga menggelegar, memutus langkah adiknya seketika. Kinan membeku di ambang pintu, namun tidak berbalik. "Kenapa kamu jadi begini? Kenapa kamu terus-terusan membantah kata-kata Abang?" ​Kinan akhirnya memutar tubuhnya. Wajahnya sembab, amarah bercampur luka membara di matanya yang berkaca-kaca. "Karena Abang lebih peduli pada dia! Abang lebih memilih membela orang asing itu daripada adik kandung Abang sendiri!" teriaknya, suaranya pecah oleh isak yang tak lagi sanggup ia tahan. ​"Lingga..." Vanda mencoba mendekat, tangannya terulur ragu. "Sudah cukup. Jangan paksa Kinan. Aku... aku nggak mau kalian bertengkar karena aku." ​"Diam!" Kinan menyambar, menatap tajam ke arah Vanda. "Nggak usah sok baik. Berhenti bersandiwara seolah kamu adalah korban di sini!" ​"KINAN!" Lingga memangkas jarak, langkahnya menghentak lantai dengan

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 89 : DIA BUKAN PENYELAMATMU

    Lingga berdiri diambang pintu. Menatap tajam kearah Jackson dan Vanda. Pria itu masih mengenakan kemeja serba hitam yang agak kusut setelah menjaga ruang perawatan Elara semalaman di rumah sakit. Wajahnya terlihat sangat letih, namun sorot matanya yang tajam bagai elang langsung terkunci pada sosok Jackson. Langkah kaki Lingga terdengar tegas menapak lantai kayu kafe, menciptakan gema yang membuat semua orang terdiam. ​"Bang Lingga...?" gumam Kinan kaget dari balik meja kasir. Ia tidak menyangka sang kakak akan pulang secepat ini dari rumah sakit. ​Vanda tersentak pelan. Ada rasa bersalah dan ketakutan yang mendadak hinggap di relung hatinya saat menatap Lingga. Pria itu yang telah menyelamatkan hidupnya, memberinya tempat berteduh, dan satu-satunya orang yang mau percaya padanya. Namun, kini saat ia melihatnya berpelukan dengan Jackson, membuat Vanda berpikir kalau Lingga akan menganggapnya sebagai seorang pengkhianat. ​Jackson, sebaliknya, justru menyunggingkan senyum miring

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status