ANMELDENAroma antiseptik dan desis halus mesin medis menyelimuti keheningan kamar VVIP rumah sakit malam itu. Cahaya lampu ruangan disetel temaram, menciptakan suasana yang tenang di tengah perjuangan tubuh Elara yang perlahan-lahan mulai membaik. Monitor jantung di samping ranjang memancarkan ritme grafik hijau yang jauh lebih stabil dan teratur dibanding hari-hari sebelumnya, menjadi bukti nyata akan keajaiban kecil yang baru saja terjadi. Di atas ranjang perawatan, Elara baru saja terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan. Meskipun tubuhnya masih terasa begitu lemas dan berat, namun ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Selang ventilator yang menyiksa kini telah dilepas, berganti dengan kanul oksigen tipis yang menyalurkan udara segar ke paru-parunya. Di sisi ranjang, Reygan duduk setia tanpa bergeser sedikit pun. Jemari kokoh pria itu mengikat erat jemari Elara yang mulai hangat. "Selamat pagi, sayang. Kamu merasa lebih baik, hm?" bisik R
Keheningan malam menyelimuti gudang tua bekas pabrik tekstil di pinggiran Jakarta. Aroma lembap, karat, dan minyak mesin beradu di udara yang pengap, menusuk rongga penciuman siapa saja yang bernapas di dalamnya. Cahaya bohlam kuning yang tergantung seadanya di tengah ruangan berayun pelan ditiup angin malam yang menyelinap dari celah-celah kaca jendela pecah, memancarkan pendar redup yang melemparkan bayangan-bayangan memanjang ke dinding semen yang retak. Di tengah lingkaran cahaya itu, pria penyusup yang memicu kekacauan fatal di Kafe Le Moka terduduk lemah di atas kursi kayu. Ia terus mendesis, meringis kesakitan sambil menekan darah yang terus merembes dari telapak tangannya akibat tusukan Zheydan. Wajahnya lebam parah, sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah yang sudah mengering. Napasnya terengah-engah, masih diselimuti trauma setelah merasa dirinya "berhasil" melarikan diri dari sekapan mengerikan di gudang milik Lingga sebelum sempat diserahkan ke kantor polisi. She
Pagi di Kanton Zurich menyapa Danau Zurich dengan selimut kabut tipis yang merayap turun dari perbukitan Alpen. Di dalam ruang kerja Villa von Graffenried, sebuah bangunan batu tua yang berdiri megah menghadap pemandangan danau dan salju, keheningan selalu menjadi penghuni tetap. Bau kayu pinus yang terbakar di perapian berpadu erat dengan aroma kental kopi hitam dan tumpukan dokumen tua di atas meja mahoni. Wilhelm von Graffenried duduk tegap di kursi berukir berlapis kulit tua. Kepala keluarga von Graffenried yang telah berusia hampir delapan puluh tahun itu masih memiliki binar mata yang tajam bagai elang. Meskipun rambut putihnya memotong rapi garis rahangnya yang tegas, postur tubuhnya yang kokoh memancarkan otoritas seeorang pemimpin yang tak pernah tergoyahkan oleh zaman. Di tangannya, sebatang cerutu tipis mengepulkan asap halus ke udara, sementara tatapannya terpaku pada bingkai foto tua perak di sudut meja, foto seorang wanita muda bermata bening yang wajahnya begitu mi
"Reygan, Mama pikir sebaiknya kalian harus segera melangsungkan pemberkatan di rumah sakit. Kondisi Elara tidak memungkinkan untuk menggelar pesta, apalagi membawa dirinya untuk pemberkatan di gereja." Suara Katrin memecah hening ruang perawatan Elara. Wanita paruh baya itu duduk di meja makan sudut ruang perawatan dengan jemari yang saling bertaut erat di atas meja. Wajahnya terlihat lelah dan cemas. Reygan yang duduk tepat di hadapan sang ibu menatap wajah mamanya dengan serius. Pria itu baru saja tiba setelah menempuh perjalanan dari kafe Le Moka bersama Lingga yang langusung melesat melaksanakan tugas yang ia berikan, meninggalkan sisa ketegangan di kafe tentang pria penyusup itu yang belum sepenuhnya reda di kepalanya. Jas hitamnya tersampir di sandaran kursi, sementara matanya menatap lurus ke arah ranjang. Di sana, Elara tengah tertidur tenang. Monitor jantung di samping ranjangnya memancarkan ritme grafik hijau yang teratur. "Pemberkatan darurat?" suara Reygan terde
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kinan lembut. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Zheydan, sementara jemari lentiknya mengusap pelan punggung tangan pria itu yang menyisakan memar kemerahan. Zheydan tidak langsung menjawab. Fokusnya masih tertuju pada layar ponsel Kinan yang sedang ia genggam. Jemarinya bergerak lincah mengatur beberapa akses pintas agar Kinan bisa bertindak cepat jika berada dalam bahaya. "Sekarang sudah aman," bisik Zheydan serak, mengecup lembut puncak kepala Kinan. Ia memiringkan layar ponsel itu agar Kinan bisa melihatnya. "Aku baru saja mengunduh aplikasi pelacak keluarga dan mengatur panggilan darurat di ponselmu." Kinan mendongak, menatap tampilan layar ponselnya yang kini memiliki beberapa pembaruan. "Lihat ini," ujar Zheydan seraya mengarahkan ibu jari Kinan ke tombol daya di samping ponsel. "Aku sudah mengaktifkan fitur Speed Dial dan tombol darurat. Kalau kamu menekan tombol daya ini lima kali secara cepat, ponselmu akan otomatis menele
Reygan menahan bahu Zheydan dengan tegas. "Jangan bertindak gegabah. Kita butuh orang itu untuk mengorek informasi. Kalau dia mati... !" Ujar Reygan tajam, menghentikan kalimatnya memberi peringatan. Zheydan tidak menjawab, ia hanya menatap balik mata tajam Reygan dengan tatapan yang lebih menusuk dan rahang mengeras. Ketegangan di depan pintu kamar memancar di udara. Reygan tidak mengendurkan cengkeramannya pada bahu Zheydan sedikit pun. Sorot mata kedua pria itu beradu—Reygan dengan ketenangan dan kepala dingin sedangkan Zheydan dengan gelombang amarah yang tak terkendali. "Aku mengerti emosi mu atas apa yamg terjadi pada Kinan," desis Reygan, suaranya sangat rendah hingga hampir tenggelam oleh ketukan air hujan yang mulai menetes di luar kafe. "Tapi kalau tangan mu sampai mematahkan lehernya, kita cuma dapat bangkai tanpa jawaban." Zheydan menghembuskan napas kasar melalui hidungnya. Dengan satu gerakan lambat namun bertenaga, ia menepis tangan Reygan dari bahunya. "Aku t







