LOGINViola duduk di dalam kamarnya. Anaknya masih berada di dalam pelukannya. Sementara Adrian, ia sudah pergi dari sana dengan kondisi babak belur. "Adrian beruntung, aku tidak membun*hnya," ucap Steven. Viola menoleh, menatap Steven tanpa rasa takut sedikit pun."Jika kau berani pergi dari sini, aku tak akan segan segan untuk menyakitimu juga!" Steven memperingatkan dengan tegas. "Jika kau mau, lakukan saja. Lagi pula aku juga sudah bosan hidup di dunia ini." Viola malah menantang. "Viola!" Steven melotot sambil berteriak. "Oeee!" Suara lantang Steven menggema di udara. Membuat Alvaro yang berada dalam gendongan Viola menangis karena kaget. Viola pun kembali ke kamarnya. Ia meredakan tangisan anaknya. "Tenang sayang, cepat atau lambat kita akan pergi dari sini." *****Perempuan setengah baya kembali ke dalam ruangan sempit. Mayang mengamati wajahnya yang terlihat kelelahan. "Kau bicara men
Mobil putih berhenti dan membunyikan klakson. Anak buah Steven menghampiri. Pemilik mobil putih menurunkan kaca jendela. "Apa aku harus menelepon Kakakku agar bisa masuk ke dalam?" Ternyata yang datang adalah Adrian. "Tidak perlu." Anak buah Steven langsung membuka pintu pagar. Pintu pagar terbuka lebar. Adrian memarkirkan mobilnya di halaman. Andrian turun dari mobil. "Dimana kakakku?" tanyanya pada salah satu pengawal yang berdiri di depan pintu utama. "Masih menghadiri rapat," katanya. "Bagus sekali! Ini kesempatan ku untuk mengeluarkan Viola dari sini." Adrian membatin. Adrian masuk ke dalam rumah. Ia melihat ke arah sekelilingnya seperti sedang mencari dimana keberadaan Viola. "Viola, dimana dia? Haruskah aku memeriksa semua kamar yang ada di sini." Adrian bergumam dalam hati. Seorang pelayan mendatanginya. "Apa anda ingin makan atau minum?" "Ya, jus jeruk di sore hari rasanya me
Frans yakin benar jika suara lelaki yang didengarnya sekarang ini adalah suara Steven. "Tap! Tap!" Suara sepatu terdengar mendekat. Steven berjalan melihat sayuran yang ada di atas mobil pick up. Dan dengan cepat, Steven menoleh ke arah Frans. Detik itu juga, Frans mengangkat kardus berukuran lumayan besar hingga menutupi sebagian wajahnya. "Kau orang baru ya?" ucapnya pada Frans. Frans mengangguk pelan."Taruh kardus itu di dalam. Aku ingin sebagian sayur dipisah!" Frans mengangguk lagi. Kali ini, mata mereka saling bertemu. Mereka menatap untuk beberapa saat. Untung nya Steven tak mengenali Frans. Steven langsung berjalan masuk, kembali ke ruang tengah. Frans menarik nafas lega. "Untunglah dia tidak mengenaliku," ucapnya. ****Dona berjalan cepat di lorong dapur. Ia pergi menuju ruang tengah. Matanya memindai sekeliling. Ia juga memperhatikan semua kamera pengawas yang ada di sana, tak hanya it
Matahari sudah terbit. Mayang masih menutup matanya. Entah karena benar benar menikmati tidurnya di tempat itu atau karena tubuhnya mulai kelelahan. "SpLash!" Wajahnya terasa dingin karena disiram air. Mayang gelagapan. Ia membuka mata dengan panik. Terlihat bayangan samar seorang wanita sedang berdiri tepat di depannya. "Nasibmu ternyata tak jauh berbeda denganku." Wanita itu berdiri sambil berkacak pinggang. "Yas—min?" ucap Mayang agak ragu. "Ya ini aku, Yasmin. Aku kira kau sudah melupakan aku.""Yasmin, kau benar benar Yasmin pengasuh Elisa?" Mayang mengkonfirmasi sekali lagi. Yasmin tersenyum kecut melihat reaksi Mayang. "Yasmin, ini tempat apa? Kita ada dimana?" Mayang bangkit berdiri. Ia memegang tangan Yasmin dengan erat. Yasmin menarik tangannya. Ia bahkan menjauhkan dirinya dari Mayang. "Yasmin, kita harus pergi dari sini. Jika kau bisa mengantarkan aku pulang ke rumah orang
Mayang melangkah tertatih tatih. Kakinya nyaris tak kuat menopang tubuhnya. Namun ia tetap berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Meski arah tidak jelas karena gelap menelan segalanya. Ia tidak berhenti. Ia tetap berusaha mencari jalan keluar. Karena berhenti… berarti kalah. Setelah lebih dari 15 menit ia berjalan, di kejauhan, terlihat samar cahaya kecil. Seperti lampu teras sebuah rumah atau hanya bayangan kunang-kunang yang menyala saat malam. Mayang menyipitkan mata. Harapan kecil muncul di dalam dadanya. Ia mempercepat langkah. Meski tubuhnya hampir roboh. "Aku tidak akan mati di sini…" gumamnya pelan. ***** Di dalam kamar, Viola duduk diam. Alvaro sudah tertidur di pelukannya. Namun ia sendiri masih terjaga. Menatap kosong ke depan. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang b
"Maaf." Suara pengawal terdengar berat. Mayang memejamkan mata. Tubuhnya gemetaran hebat. Ia sudah bersiap menerima keadaan yang terburuk sekali pun. "BUK!" Pukulan keras mendarat di tengkuknya.Pandangan Mayang langsung gelap.Tubuhnya ambruk ke tanah.Saat ini hanya ada suara angin yang berdesir di antara rumput liar.Beberapa menit kemudian, Mayang mengerang pelan. Kesadarannya kembali perlahan. Kepalanya berdenyut hebat. Penglihatannya masih buram.Ia mencoba bergerak, udara dingin membuatnya hampir menggigil. Tubuhnya terbaring di tanah.Saat ini, ia sendirian. Mobil itu sudah tidak ada."Uh…" Mayang memegangi kepalanya.Lalu perlahan duduk. Matanya menyapu sekeliling.Suasana sangat sepi. Bahkan suara binatang malam pun tidak terdengar olehnya. Sepanjang mata memandang hanya ada kegelapan yang menemani. Tidak ada siapa pun di sana. Air matanya pun jatuh."Steven, kau s
"Rumah Steven dijaga ketat, sekarang. Kita tidak bisa bertemu dengan Viola begitu saja." Frans menjelaskan karena ia pernah melewati rumah itu. "Viola kabur dari Steven karena Steven menghamili gadis lain. Sikapnya ini tidak bisa dibenarkan. Apalagi saat kau bilang kalau rumahnya dijaga
Viola menggenggam ponsel itu erat.Nomor sudah tersimpan. Tidak ada waktu untuk ragu. Ia menekan tombol panggil.Dering pertama. Kedua—"Ya." Jawaban itu cepat. Sepertinya Adrian memang telah menunggu.Viola menahan napas. "Adrian, ini aku."Hening sebentar
Pintu itu tertutup dengan bunyi keras."Klik!" Kunci diputar dari luar.Viola berdiri diam di tengah kamar. Nafasnya masih memburu, dadanya naik turun tak beraturan. Ia masih menatap pintu itu, berharap semuanya hanya mimpi buruk.Dua bayangan samar terlihat di balik ce
Steven menatap amplop coklat itu lama. Lalu perlahan… ia menolehkan wajahnya ke arah Viola."Amplop ini milikku dari ruang kerjaku."Steven menatap dengan tajam. Viola hanya diam. Detak jantungnya menggema di telinganya sendiri.Mayang langsung menyela dengan nada tajam







