Share

Perhatian Penuh

Penulis: Otty A
last update Tanggal publikasi: 2025-09-15 16:00:07

"Harusnya aku yang bertanya kepadamu, Frans. Kenapa kau masuk ke kamar dan menemui menantuku dengan diam diam?" Emma mengerutkan kening.

"Aku tidak masuk ke sini dengan diam diam." Frans melotot, mencoba untuk menepis semua pikiran negatif yang ada di kepala Emma.

Emma yang tak ingin kerjasamanya dengan Frans, batal begitu saja harus menurunkan ego.

"Mungkin aku yang salah lihat," ucap Emma sambil melirik ke arah Viola.

Steven sudah datang, ia masuk ke kamar. Ia melihat Emma dan Frans ada di kamar menemani Viola.

"Kalian ada di sini, aku kira kalian sedang mengobrol di ruang tamu," ucap Steven.

"Kami akan kembali ke ruang tamu, sekarang. Iya kan Frans!" seru Emma.

Frans mengangguk. Keduanya berjalan kembali ke ruang tamu. Emma dan Frans kembali membahas soal bisnis.

"Aku permisi dulu." Frans tiba tiba saja menghentikan perbincangan mereka.

"Ada apa Frans?" tanya Emma.

"Ada hal lain yang harus aku kerjakan." Frans pulang dengan supir pribadinya.

Di dalam kamar, Viola dan Steven sedang mengobrol. "Apa kita akan menginap di rumah ibumu?"

"Tidak. Kenapa bertanya begitu?"

"Tidak apa apa. Aku hanya merasa canggung jika harus menginap di sini."

"Apa kau merasa lebih baik?" tanya Steven.

"Sangat baik." Viola tersenyum.

"Baiklah kalau begitu, kita akan pulang sekarang." Steven berpamitan. Ia mengajak Viola pulang ke rumah pribadinya.

Setelah Emma memergoki Frans memegang tangan Viola, Emma kembali menunjukkan sikap dinginnya pada Viola.

Emma menarik tangannya dengan cepat ketika Viola hendak mencium punggung tangannya.

"Kami pulang dulu Ma," ucap Steven.

"Hmm!" Emma hanya berdehem. Dari kejauhan, ia mengamati setiap gerakan Viola.

"Aku harus mencari tahu latar belakang gadis itu!" Emma bermonolog dalam hati.

Setelah bayangan anak dan menantunya hilang dari pandangan, suaminya baru tiba di rumah.

"Kemana Steven? Dia bilang dia akan mengenalkan istrinya pada kita?" Alland langsung bertanya pada Emma, sesaat setelah keluar dari mobil.

"Mereka pulang ke rumah pribadi Steven."

"Aku kira Steven dan istrinya akan tinggal bersama dengan kita." Alland menggelengkan kepala.

****

Sesampainya di rumah, hari sudah malam. Viola turun dari mobil. Matanya menatap lurus ke depan. Mengamati setiap sudut rumah mewah tersebut.

Rumah mewah dengan gaya kontemporer itu membuat Viola tertarik. Halamannya luas, di tengah halaman ada kolam kecil berisi ikan hias. Sedangkan di halaman belakang rumah terdapat kolam renang.

Steven mengajak Viola untuk masuk ke dalam rumah.

"Rumahmu sangat indah." Viola melihat ke sekelilingnya.

"Ini hanya rumah biasa." Steven merendah.

"Kau melajang, kenapa tidak tinggal di rumah ibumu? Maksudku apa kau tidak kesepian tinggal di sini sendirian?"

"Tidak. Aku memang senang menyendiri."

"Jika ibumu tahu, pernikahan kita sebenarnya hanya sebatas pernikahan kontrak, apa yang akan terjadi?" tanya Viola.

"Dia pasti akan marah. Oh ya, kau bisa tidur di kamar sebelah." Steven mengantar Viola ke kamar.

Viola masuk ke kamar pribadinya. Ruangan kamar cukup luas. Ada kamar mandi pribadi juga. Viola menutup pintu dan langsung merebahkan diri ke atas tempat tidur.

"Akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang." Viola menatap langit langit rumah.

"Tap! Tap! Tap!" Viola merasa seperti mendengar suara langkah kaki.

Gadis penakut itu pun langsung bangkit berdiri dan memindai sekelilingnya dengan cepat.

Tiba tiba lampu padam karena di luar hujan turun dengan lebat. Viola dengan buru buru keluar dari kamar. Ia yang ketakutan mengetuk pintu kamar Steven dengan kencang.

"Steven! Buka pintunya! Biarkan aku masuk!" Viola bicara dengan nada meninggi.

Steven membuka pintu kamar. Viola menerobos masuk begitu saja. "A aku tidak bisa tidur di sana sendirian."

Steven menutup pintu kamar. Membiarkan gadis itu tidur di atas kasurnya. "Aku akan tidur di atas sofa."

"Apa mati lampu sering terjadi di rumah ini?" tanya Viola.

"Tidak, hanya terkadang saja. Ini karena aku belum memperbaiki panel surya."

Mereka hanya sedikit mengobrol. Viola sudah tertidur lelap.

****

Keesokan paginya, Emma mengundang Steven dan menantunya untuk sarapan bersama. Steven memberitahu hal itu pada Viola. Mereka berdua pun segera bergegas memenuhi undangan tersebut.

Pagi ini, Emma dan Alland sudah duduk di ruang makan. Mereka menunggu kedatangan Viola dan juga Steven.

Steven berjalan di depan. Viola mengikuti tepat di belakangnya. Steven memperkenalkan Viola pada Alland. Keduanya bersalaman. Sementara itu, Emma melirik tajam ke arah Viola. Menunjukkan rasa tidak suka.

"Silahkan duduk. Jarang jarang kita bisa sarapan bersama," ucap Alland.

"Terima kasih," sahut Viola.

Makanan mulai dihidangkan. Semua orang mulai menyantap hidangan yang tersaji rapi di atas meja.

Zuppa soup ada di atas piring semua orang. Viola mengerutkan keningnya. Karena baru pertama kali melihat makanan itu.

"Selamat pagi!" Suara Frans membuat fokusnya pecah. Viola menoleh ke arah Frans yang baru saja datang.

"Selamat pagi Frans! Ayo segera bergabung bersama dengan kami." Alland mempersilahkan.

Frans duduk tepat di sebrang Viola. Kedua mata mereka jadi saling bertemu.

"PrAng!" Viola yang gugup malah tak sengaja menumpahkan salad sayur ke lantai.

Semua orang melihat ke arahnya.

"Apa kau tidak apa apa?" Frans bertanya. Mimik wajahnya terlihat khawatir.

Semua orang lantas menoleh ke arah Frans. Merasa aneh dengan perhatian yang diberikan oleh Frans pada Viola.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta di Rumah Bordil   Aku Pergi

    Viola duduk di dalam kamarnya. Anaknya masih berada di dalam pelukannya. Sementara Adrian, ia sudah pergi dari sana dengan kondisi babak belur. "Adrian beruntung, aku tidak membun*hnya," ucap Steven. Viola menoleh, menatap Steven tanpa rasa takut sedikit pun."Jika kau berani pergi dari sini, aku tak akan segan segan untuk menyakitimu juga!" Steven memperingatkan dengan tegas. "Jika kau mau, lakukan saja. Lagi pula aku juga sudah bosan hidup di dunia ini." Viola malah menantang. "Viola!" Steven melotot sambil berteriak. "Oeee!" Suara lantang Steven menggema di udara. Membuat Alvaro yang berada dalam gendongan Viola menangis karena kaget. Viola pun kembali ke kamarnya. Ia meredakan tangisan anaknya. "Tenang sayang, cepat atau lambat kita akan pergi dari sini." *****Perempuan setengah baya kembali ke dalam ruangan sempit. Mayang mengamati wajahnya yang terlihat kelelahan. "Kau bicara men

  • Cinta di Rumah Bordil   Swastika Brenda Kirana

    Mobil putih berhenti dan membunyikan klakson. Anak buah Steven menghampiri. Pemilik mobil putih menurunkan kaca jendela. "Apa aku harus menelepon Kakakku agar bisa masuk ke dalam?" Ternyata yang datang adalah Adrian. "Tidak perlu." Anak buah Steven langsung membuka pintu pagar. Pintu pagar terbuka lebar. Adrian memarkirkan mobilnya di halaman. Andrian turun dari mobil. "Dimana kakakku?" tanyanya pada salah satu pengawal yang berdiri di depan pintu utama. "Masih menghadiri rapat," katanya. "Bagus sekali! Ini kesempatan ku untuk mengeluarkan Viola dari sini." Adrian membatin. Adrian masuk ke dalam rumah. Ia melihat ke arah sekelilingnya seperti sedang mencari dimana keberadaan Viola. "Viola, dimana dia? Haruskah aku memeriksa semua kamar yang ada di sini." Adrian bergumam dalam hati. Seorang pelayan mendatanginya. "Apa anda ingin makan atau minum?" "Ya, jus jeruk di sore hari rasanya me

  • Cinta di Rumah Bordil   Wanita Misterius

    Frans yakin benar jika suara lelaki yang didengarnya sekarang ini adalah suara Steven. "Tap! Tap!" Suara sepatu terdengar mendekat. Steven berjalan melihat sayuran yang ada di atas mobil pick up. Dan dengan cepat, Steven menoleh ke arah Frans. Detik itu juga, Frans mengangkat kardus berukuran lumayan besar hingga menutupi sebagian wajahnya. "Kau orang baru ya?" ucapnya pada Frans. Frans mengangguk pelan."Taruh kardus itu di dalam. Aku ingin sebagian sayur dipisah!" Frans mengangguk lagi. Kali ini, mata mereka saling bertemu. Mereka menatap untuk beberapa saat. Untung nya Steven tak mengenali Frans. Steven langsung berjalan masuk, kembali ke ruang tengah. Frans menarik nafas lega. "Untunglah dia tidak mengenaliku," ucapnya. ****Dona berjalan cepat di lorong dapur. Ia pergi menuju ruang tengah. Matanya memindai sekeliling. Ia juga memperhatikan semua kamera pengawas yang ada di sana, tak hanya it

  • Cinta di Rumah Bordil   Rumah Asing

    Matahari sudah terbit. Mayang masih menutup matanya. Entah karena benar benar menikmati tidurnya di tempat itu atau karena tubuhnya mulai kelelahan. "SpLash!" Wajahnya terasa dingin karena disiram air. Mayang gelagapan. Ia membuka mata dengan panik. Terlihat bayangan samar seorang wanita sedang berdiri tepat di depannya. "Nasibmu ternyata tak jauh berbeda denganku." Wanita itu berdiri sambil berkacak pinggang. "Yas—min?" ucap Mayang agak ragu. "Ya ini aku, Yasmin. Aku kira kau sudah melupakan aku.""Yasmin, kau benar benar Yasmin pengasuh Elisa?" Mayang mengkonfirmasi sekali lagi. Yasmin tersenyum kecut melihat reaksi Mayang. "Yasmin, ini tempat apa? Kita ada dimana?" Mayang bangkit berdiri. Ia memegang tangan Yasmin dengan erat. Yasmin menarik tangannya. Ia bahkan menjauhkan dirinya dari Mayang. "Yasmin, kita harus pergi dari sini. Jika kau bisa mengantarkan aku pulang ke rumah orang

  • Cinta di Rumah Bordil   Dibiarkan Mati

    Mayang melangkah tertatih tatih. Kakinya nyaris tak kuat menopang tubuhnya. Namun ia tetap berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Meski arah tidak jelas karena gelap menelan segalanya. Ia tidak berhenti. Ia tetap berusaha mencari jalan keluar. Karena berhenti… berarti kalah. Setelah lebih dari 15 menit ia berjalan, di kejauhan, terlihat samar cahaya kecil. Seperti lampu teras sebuah rumah atau hanya bayangan kunang-kunang yang menyala saat malam. Mayang menyipitkan mata. Harapan kecil muncul di dalam dadanya. Ia mempercepat langkah. Meski tubuhnya hampir roboh. "Aku tidak akan mati di sini…" gumamnya pelan. ***** Di dalam kamar, Viola duduk diam. Alvaro sudah tertidur di pelukannya. Namun ia sendiri masih terjaga. Menatap kosong ke depan. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang b

  • Cinta di Rumah Bordil   Dibuang Begitu Saja

    "Maaf." Suara pengawal terdengar berat. Mayang memejamkan mata. Tubuhnya gemetaran hebat. Ia sudah bersiap menerima keadaan yang terburuk sekali pun. "BUK!" Pukulan keras mendarat di tengkuknya.Pandangan Mayang langsung gelap.Tubuhnya ambruk ke tanah.Saat ini hanya ada suara angin yang berdesir di antara rumput liar.Beberapa menit kemudian, Mayang mengerang pelan. Kesadarannya kembali perlahan. Kepalanya berdenyut hebat. Penglihatannya masih buram.Ia mencoba bergerak, udara dingin membuatnya hampir menggigil. Tubuhnya terbaring di tanah.Saat ini, ia sendirian. Mobil itu sudah tidak ada."Uh…" Mayang memegangi kepalanya.Lalu perlahan duduk. Matanya menyapu sekeliling.Suasana sangat sepi. Bahkan suara binatang malam pun tidak terdengar olehnya. Sepanjang mata memandang hanya ada kegelapan yang menemani. Tidak ada siapa pun di sana. Air matanya pun jatuh."Steven, kau s

  • Cinta di Rumah Bordil   Terpaksa Ikhlas

    "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kepalamu bisa terluka?" Emma sedang mengobati Adrian."Aku terpeleset." Adrian menyuguhkan jawaban yang ambigu."Kau ini seperti anak kecil saja!" Emma membersihkan luka menganga dengan @lkohol lalu memberikan salep."Aw! Sakit! Pelan pe

  • Cinta di Rumah Bordil   Buku Harian

    Emma langsung pulang ketika Yasmin telah berhasil masuk ke dalam rumah Steven. Yasmin ada di kamar tamu. Ia memasukkan baju ke dalam lemari pakaian. Saat masih sibuk menata pakaiannya, Steven pulang.Viola dengan wajah muram membuka pintu dan menyambut kedat

  • Cinta di Rumah Bordil   Ibu Mertua Membawa Petaka

    Melihat Viola yang tak mudah dirayu, Steven mengambil tindakan cepat. Ia berjalan ke arah Yasmin, merebut anaknya dari gendongan Yasmin. Lalu menampar wajah Yasmin dengan keras hingga telinganya berdengung.Untungnya bocah perempuan itu masih tertidur lelap dalam gendongan

  • Cinta di Rumah Bordil   Anak Siapa Itu?

    Steven melihat bibir Viola bergetar hebat saat hendak bicara. "Katakan saja yang sejujurnya. Kau tak perlu takut." Namun Viola gadis yang cukup bijaksana. Ia tak mudah percaya kata kata seorang pria. Viola menganggukkan kepalanya. Ia membohongi Steven."Baga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status