LOGINMulai saat itu, Kalia mulai menghindari Rafi dengan segala cara yang bisa dia pikirkan. Dia membuat alasan setiap kali Rafi ingin bertemu—entah itu mengatakan bahwa klinik sedang sibuk dengan pasien, atau dia harus pergi ke rumah sakit besar untuk mengambil suplai obat, atau dia sudah tidur lebih awal karena merasa lelah. Dia bahkan menutup klinik lebih awal beberapa kali saat melihat Rafi datang dari arah jalan utama, atau pergi keluar ke pasar bersama Ana saat dia tahu Rafi akan datang mengunjunginya.
Rafi merasa bingung dan kesal dengan perubahan sikap Kalia yang tiba-tiba. Dia mencoba menghubunginya melalui telepon dan pesan singkat, tapi jawaban Kalia selalu pendek dan tidak ramah. "Sibuk sekarang" atau "Nanti saja ya" atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Dia datang ke klinik beberapa kali dan menemukan bahwa pintu sudah terkunci padahal belum jam tutup, atau Kalia sedang "sedang memeriksa pasien" padahal ruangan pemeriksaan kosong. "Apa yang terjadi dengan Kak Kalia ya?" tanya Rafi pada Ana saat bertemu dia di pasar. Ana hanya menggelengkan kepala dengan wajah yang penuh kesedihan—Kalia sudah meminta dia untuk tidak memberitahu siapapun tentang kebenaran yang dia temukan. Suatu hari, Rafi datang ke klinik saat Kalia sedang menangani pasien laki-laki tua yang mengalami luka bakar pada tangannya akibat kecelakaan di dapur. Setelah pasien pergi dan Kalia membersihkan alat-alatnya, Rafi menghadapkan dia dengan wajah yang penuh kekhawatiran dan sedikit kemarahan. "Apa yang terjadi, Kalia? Sudah hampir sebulan kamu menjauh dariku. Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Atau aku berkata hal yang tidak pantas?" Suaranya terdengar tegang, berbeda dari biasanya yang selalu tenang. Kalia merasa hati terasa sakit melihat wajah Rafi yang sedih. Dia ingin memberitahu semua kebenaran, tapi kata-kata itu terjepit di tenggorokannya. "Tidak ada yang salah, Rafi. Aku hanya sibuk dengan klinik dan masalah pribadi yang harus aku atasi sendiri." Dia berusaha menjaga suara tetap tenang, tapi matanya tidak bisa menatap mata Rafi. "Kamu tahu kan kamu bisa mempercayai aku dengan segala sesuatu, bukan?" ujar Rafi dengan suara lembut, melangkah sedikit lebih dekat. "Kita adalah sahabat, Kalia. Sahabat seharusnya saling membantu, bukan saling menyembunyikan sesuatu." Pada saat itu, pintu klinik terbuka dengan tergesa-gesa dan Bu Siti masuk dengan wajah pucat seperti kain putih, tangannya menekan bagian perut atas dengan kuat. "Rafi... aku merasa sangat sakit... seperti ada yang menusuk di dalam perutku," ujarnya dengan suara gemetar sebelum tubuhnya mulai goyah ke kanan. Kalia bereaksi cepat, menangkap tubuh Bu Siti sebelum dia jatuh dan segera meletakkannya di tempat tidur pemeriksaan. Dia melakukan pemeriksaan cepat dengan tangan yang terampil—memeriksa denyut nadi, tekanan darah, dan melakukan palpasi pada perut Bu Siti. Wajahnya menjadi semakin serius saat menemukan tanda-tanda perdarahan dalam yang cukup parah. "Kita harus segera membawanya ke RSUD Bandar Lampung," katanya dengan tegas pada Rafi. "Kondisinya tidak bisa ditunda lagi." Selama tiga hari berikutnya, Kalia dan Rafi hampir tidak pernah meninggalkan sisi tempat tidur Bu Siti di ruang rawat inap rumah sakit. Kalia menggunakan pengetahuannya sebagai dokter untuk berkomunikasi dengan tim medis yang merawat Bu Siti, memastikan bahwa dia mendapatkan perawatan terbaik yang sesuai dengan kondisinya. Dia juga sering menjelaskan kondisi Bu Siti dengan jelas kepada Rafi, yang tidak mengerti banyak tentang hal medis dan sering merasa khawatir berlebihan. Rafi menangani segala urusan administrasi—mengurus asuransi kesehatan, membayar biaya perawatan, dan menjaga kebersihan ruangan. Dia juga selalu membawa makanan untuk Kalia yang sering lupa makan karena fokus pada Bu Siti. Kadang dia membawa bubur ayam dari rumah makan favorit Bu Siti, kadang dia membuat teh hangat dengan madu seperti yang biasa Kalia minum saat merasa lelah. Di antara kesibukan mereka untuk merawat Bu Siti, jarak yang telah mereka buat mulai sirna perlahan. Mereka kembali berbincang seperti dulu—berbagi cerita tentang masa kecil, membicarakan rencana untuk klinik dan proyek jembatan, bahkan terkadang tertawa bersama saat mengingat momen lucu yang pernah mereka alami. Kalia merasa hati nya semakin terikat pada Rafi, meskipun dia tahu bahwa mereka tidak bisa bersama karena hubungan darah mereka. Pada hari keempat, kondisi Bu Siti mulai membaik. Dia bisa berbicara dengan lebih jelas dan sudah bisa makan makanan lunak. Saat matahari mulai merenungi dari jendela rumah sakit, Bu Siti memanggil Kalia dan Rafi untuk duduk di sisi tempat tidurnya. Tangannya yang masih lemah meraih tangan mereka berdua. "Aku tahu kamu berdua sudah menemukan kebenaran tentang Lala," ujarnya dengan suara lembut tapi jelas. Matanya penuh kesedihan tapi juga rasa lega karena akhirnya bisa membuka suara. "Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi... beban ini sudah terlalu berat untuk aku pikul sendirian selama ini." Rafi melihat Kalia dengan wajah penuh kebingungan. "Lala? Siapa itu, Bu? Kenapa kamu menyebut nama itu?" "Lala adalah nama kakak kandungmu, Rafi," jawab Bu Siti sambil mengusap tangan Rafi dengan lembut. "Dia lahir tiga tahun sebelum kamu, pada tanggal 15 November 1998. Tapi saat dia berusia enam bulan, dia sangat sakit—paru-parunya tidak bisa bekerja dengan baik dan dia butuh perawatan intensif di rumah sakit. Kami tidak punya uang untuk membayar biaya perawatannya, Rafi... ayahmu dan aku sudah menghabiskan semua yang kami punya untuk biaya persalinanku yang penuh komplikasi." Air mata mulai mengalir di pipi Rafi. "Mengapa kamu tidak memberitahuku ini dulu, Bu? Aku punya saudara perempuan tapi kamu bilang dia sudah meninggal! Mengapa kamu berbohong padaku?" Suaranya sedikit meninggi karena emosi yang terkendali. "Kami khawatir akan memengaruhi pertumbuhanmu, anakku," ujar Bu Siti dengan suara bergetar karena menangis. "Kamu sudah sangat kecil saat ayahmu meninggal, dan kami tidak ingin kamu merasa bertanggung jawab padanya atau merasa bahwa kamu kurang cinta dari kami. Dan kami juga takut bahwa jika orang lain tahu bahwa kami tidak bisa merawat anak kami sendiri, mereka akan menghakimi kita." Dia melihat ke arah Kalia dengan mata yang penuh rasa maaf. "Paman Mansyur menawarkan untuk membantunya, tapi kami harus membuat dokumen palsu agar tidak ada masalah hukum. Kami berpikir itu adalah cara terbaik untuk memberikan masa depan yang baik bagi Lala." Kalia merasa hatinya hancur melihat Rafi menangis. Dia ingin segera memberitahu dia bahwa dia adalah Lala, tapi rasa takut membuatnya tetap diam. Malam itu, setelah Rafi pulang untuk mengambil baju ganti dan makanan untuk Bu Siti, Kalia duduk di sisi tempat tidur Bu Siti dan akhirnya mengaku. "Bu Siti... aku adalah Lala. Aku adalah anakmu yang kamu kira sudah meninggal." Bu Siti melihatnya dengan mata yang penuh kekaguman dan cinta. Dia meraih wajah Kalia dengan kedua tangan dan menangis teresak-esak. "Aku tahu... aku tahu dari pertama kali kamu datang ke klinik itu, nak. Wajahmu sangat mirip dengan wajah ayahmu saat muda. Tapi aku tidak berani menghampirimu... aku takut kamu akan membenci kami karena menyerahkanmu."Hujan gerimis menyapu jalan-jalan di kawasan Sukarame saat Kalia menepuk-nepuk debu dari papan nama kayu yang tertulis "Klinik Sehat Bersama - Dr. H. Mansyur". Kayu yang sudah menguning menunjukkan usia klinik yang telah berdiri lebih dari empat puluh tahun. Kakeknya yang sudah berusia 78 tahun berdiri di sebelahnya, jasnya sedikit terlipat tapi rambutnya tetap rapi diikat dengan ikal kecil. Tangan nya gemetar saat memegang tongkat kayu, tapi mata nya penuh harapan saat melihat klinik yang dulu menjadi pusat kehidupan keluarga nya."Kalian sudah sepakat, Kan? Klinik ini adalah warisan dari ayahmu, Kalia. Aku tidak bisa lagi mengelolanya sendirian—tangan ku sudah tidak stabil lagi untuk menyuntik, dan mata ku mulai sulit membaca resep," ujar Kakek Mansyur dengan suara pelan tapi tegas. Udara di sekitar mereka terasa sejuk dengan aroma tanah basah dan bunga melati dari taman belakang klinik.Kalia mengangguk, meskipun hatinya masih penuh keraguan. Hanya seminggu yang lal
Beberapa bulan berlalu, dan hubungan antara Kalia dan Rafi semakin erat. Rafi sering datang ke klinik—kadang pada pagi hari sebelum pergi ke lokasi proyek, kadang pada sore hari setelah pekerjaannya selesai. Kadang dia membawa pekerja yang merasa tidak enak badan, kadang hanya untuk membawa makanan khas daerah seperti seruit atau pempek yang dibeli dari pedagang kaki lima dekat pasar Sukarame.Saat Kalia menghadapi masalah keuangan karena pasokan obat yang harganya terus naik, Rafi tidak tinggal diam. Dia menggunakan koneksinya untuk mencari pemasok obat lokal yang lebih terjangkau dan bahkan mengajak beberapa teman bisnisnya untuk menjadi donor bagi klinik. Mereka membuat program "Sehat untuk Semua" yang memberikan layanan pemeriksaan gratis bagi masyarakat miskin di sekitar pesisir setiap hari Sabtu."Kenapa kamu begitu membantu aku?" tanya Kalia suatu malam saat mereka makan bakso di warung dekat pantai Teluk Betung. Lampu neon di warung memberikan cahaya kemerahan yang lembut, dan
Dengan bantuan teman sekantor yang bekerja di kantor catatan sipil Kota Bandar Lampung, Ana—seorang perempuan muda yang juga pasien rutin di klinik—Kalia mulai menyelidiki asal-usulnya dengan hati-hati. Mereka datang ke kantor pada pagi hari ketika pengunjung masih sedikit, dan Ana membantu Kalia mencari data kelahiran dengan nama Lala Pratama.Hasil pencariannya membuatnya terkejut hingga hampir tidak bisa berdiri. Di buku catatan kelahiran tahun 1998 tercatat dengan jelas: "Lala Pratama, lahir pada tanggal 15 November 1998 pukul 10.15 pagi di Rumah Sakit Umum Daerah Bandar Lampung, anak dari Bapak Budi Pratama dan Ibu Siti Pratama." Nama Budi Pratama adalah nama ayah Rafi yang sudah meninggal dunia.Menurut catatan resmi berikutnya, Lala Pratama telah meninggal dunia pada tanggal 17 Mei 1999 karena penyakit paru-paru akut. Tapi jelasnya, itu bukan kebenaran karena Kalia sekarang hidup dan sehat—dia bahkan telah menyelesaikan pendidikan kedokteran dengan nilai yang baik."Ini tidak m
Mulai saat itu, Kalia mulai menghindari Rafi dengan segala cara yang bisa dia pikirkan. Dia membuat alasan setiap kali Rafi ingin bertemu—entah itu mengatakan bahwa klinik sedang sibuk dengan pasien, atau dia harus pergi ke rumah sakit besar untuk mengambil suplai obat, atau dia sudah tidur lebih awal karena merasa lelah. Dia bahkan menutup klinik lebih awal beberapa kali saat melihat Rafi datang dari arah jalan utama, atau pergi keluar ke pasar bersama Ana saat dia tahu Rafi akan datang mengunjunginya.Rafi merasa bingung dan kesal dengan perubahan sikap Kalia yang tiba-tiba. Dia mencoba menghubunginya melalui telepon dan pesan singkat, tapi jawaban Kalia selalu pendek dan tidak ramah. "Sibuk sekarang" atau "Nanti saja ya" atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Dia datang ke klinik beberapa kali dan menemukan bahwa pintu sudah terkunci padahal belum jam tutup, atau Kalia sedang "sedang memeriksa pasien" padahal ruangan pemeriksaan kosong."Apa yang terjadi dengan Kak Kalia ya?" tany
Beberapa minggu kemudian, kondisi Bu Siti sudah cukup baik untuk pulang dari rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa dia perlu istirahat cukup lama dan mengonsumsi obat secara teratur, tapi tidak ada komplikasi serius yang mengancam nyawa. Rafi mengadakan acara kecil di rumahnya untuk merayakan pemulihan ibunya—hanya dengan beberapa teman dekat dan keluarga, termasuk Kakek Mansyur dan Kalia. Hari itu juga tepat merupakan ulang tahun Rafi yang ke-28.Kalia datang dengan hati yang penuh keraguan. Dia telah membuat keputusan akhir untuk mengungkapkan identitasnya pada Rafi dan kemudian pindah kembali ke Jakarta—dia sudah menerima tawaran kerja dari Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta sebagai dokter spesialis kedokteran keluarga. Dia berencana untuk pergi minggu depan agar bisa menjauh dari Rafi dan membiarkan dia hidup damai tanpa beban masa lalu yang menyakitkan.Dia membawa dua hal: sebuah kue ulang tahun buatan tangan nya dengan hiasan bentuk jembatan kecil yang dibuat dari gula merah (sebaga
Kalia melihat Rafi dengan wajah penuh kekaguman. "Apa kamu bercanda? Kakek Mansyur dan Bu Siti bilang kita adalah saudara kandung!""Itu bukan kebenaran yang sebenarnya," jawab Rafi sambil mengambil sebuah amplop dari dalam saku jas nya. Dia membukanya dengan hati-hati dan mengeluarkan selembar kertas putih yang sudah dilipat rapi, ditambah sebuah amplop kecil berisi hasil tes laboratorium. "Saat Bu sakit di rumah sakit, aku menemukan kotak lama di dalam lemari kayu ayahmu yang terkunci—kotak yang selalu dia katakan hanya boleh dibuka jika ada keadaan darurat. Aku harus memecahkan kuncinya karena khawatir ada sesuatu yang penting tentang kondisi Bu. Di dalamnya ada surat terakhir yang ditulis ayahmu sebelum dia meninggal, dan juga hasil tes DNA yang dilakukan saat aku masih kecil."Dia mulai membaca isi surat dengan suara yang jelas dan penuh perasaan:"Untuk anakku yang tersayang, Rafi. Jika kamu menemukan surat ini, berarti waktunya telah tiba untuk mengetahui kebenaran. Kamu bukan







