MasukKalia melihat Rafi dengan wajah penuh kekaguman. "Apa kamu bercanda? Kakek Mansyur dan Bu Siti bilang kita adalah saudara kandung!"
"Itu bukan kebenaran yang sebenarnya," jawab Rafi sambil mengambil sebuah amplop dari dalam saku jas nya. Dia membukanya dengan hati-hati dan mengeluarkan selembar kertas putih yang sudah dilipat rapi, ditambah sebuah amplop kecil berisi hasil tes laboratorium. "Saat Bu sakit di rumah sakit, aku menemukan kotak lama di dalam lemari kayu ayahmu yang terkunci—kotak yang selalu dia katakan hanya boleh dibuka jika ada keadaan darurat. Aku harus memecahkan kuncinya karena khawatir ada sesuatu yang penting tentang kondisi Bu. Di dalamnya ada surat terakhir yang ditulis ayahmu sebelum dia meninggal, dan juga hasil tes DNA yang dilakukan saat aku masih kecil." Dia mulai membaca isi surat dengan suara yang jelas dan penuh perasaan: "Untuk anakku yang tersayang, Rafi. Jika kamu menemukan surat ini, berarti waktunya telah tiba untuk mengetahui kebenaran. Kamu bukan anak kandungku dan Siti. Kamu adalah anak dari teman baik ku, Rio Pratama, dan istrinya, Dewi. Mereka adalah rekan kerja ku di proyek jembatan Way Kanan dan selalu membantu kita saat mengalami kesulitan. Mereka meninggal dalam kecelakaan mobil saat kamu berusia satu tahun. Karena mereka tidak punya keluarga lain yang bisa merawatmu, aku dan Siti memutuskan untuk mengasuhmu sebagai anak sendiri dan tidak pernah memberitahukan kebenaran pada siapapun—termasuk kamu sendiri. Kami mencintaimu seperti anak kandung kami, dan kami berharap kamu akan memahami alasan kami menyembunyikan ini. Semoga engkau selalu bahagia dan sukses, anakku tercinta. - Budi Pratama." Kalia merasa kepalanya berputar. "Jadi... kita bukan saudara kandung?" "Belum selesai," lanjut Rafi dengan suara yang semakin serius. Dia mengambil hasil tes DNA dari amplop kecil dan memberikannya kepada Kalia. "Tes DNA yang ada di dalam kotak juga menunjukkan bahwa aku tidak memiliki hubungan darah dengan Lala—anak kandung ayah dan ibu ku yang sebenarnya. Kemudian aku melakukan tes DNA rahasia dengan bantuan teman ku yang bekerja di laboratorium medis di Yogyakarta, mengambil sampel rambutmu yang tertinggal di klinik dan sampel darah ku sendiri. Hasilnya menunjukkan bahwa kita benar-benar tidak memiliki hubungan darah sama sekali." Bu Siti yang sudah keluar dan mendengar pembicaraan mereka mendekat dengan bantuan tongkat kayu nya, kemudian mulai menjelaskan kebenaran yang sebenarnya: "Lala adalah anak kandungku dengan Budi, tapi Rafi adalah anak angkat yang kami asuh setelah kematian teman baik kami, Rio dan Dewi. Saat Lala lahir dan sakit parah, kami tidak punya uang untuk merawatnya. Paman Mansyur menawarkan untuk membantunya dengan biaya pengobatan, tapi kami khawatir bahwa jika orang tahu kami mengasuh anak orang tapi tidak bisa merawat anak kandung kami sendiri, mereka akan menghakimi kita dan mungkin mencoba mengambil Rafi daripadaku. Jadi kami membuat dokumen palsu bahwa Lala telah meninggal, dan Paman Mansyur menyuruh dia diadopsi oleh keluarga yang bisa merawatnya dengan baik—keluarga Saraswati yang kamu kenal sebagai ibu mu." Dia mengambil tangan Kalia dan Rafi, menyatukannya dengan lembut. "Tapi yang paling penting adalah—bahkan jika kamu benar-benar sepupu jauh seperti yang dulu kita pikirkan, hubungan seperti itu tidak dilarang oleh hukum atau adat istiadat di daerah kita. Namun karena kamu berdua tidak memiliki hubungan darah sama sekali, tidak ada satu pun hal yang menghalangi kamu untuk bersama. Kami hanya ingin kamu berdua bahagia, seperti yang kami harapkan untuk Lala dan Rafi sejak lama." Kalia tidak bisa berkata apa-apa. Segala rasa sakit, kebingungan, dan keputusasaan yang dia rasakan selama ini tiba-tiba berganti menjadi rasa lega dan kebahagiaan yang luar biasa. Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipinya. Rafi mendekat dan meraih tangannya dengan erat, kemudian membungkuk sedikit dan melihatnya dengan mata yang penuh cinta. "Aku berbohong tadi ketika bilang kamu adalah saudara kandungku," ujar Rafi dengan suara lembut. "Aku sudah tahu tentang hasil tes DNA beberapa hari yang lalu, tapi aku takut kamu tidak akan menerima cintaku karena kamu mengira kita adalah saudara. Aku memilih untuk menyembunyikannya karena aku tidak ingin kehilanganmu—bahkan jika hanya sebagai sahabat. Tapi sekarang, setelah semua kebenaran terungkap, aku tidak ingin menyembunyikan perasaanku lagi." Dia menarik sebuah kotak kecil dari saku celananya dan membukanya—di dalamnya ada cincin emas dengan ukiran bunga melati yang indah. Di bawah langit berbintang yang sama tempat mereka sering berkumpul, dengan aroma bunga melati yang mengelilingi mereka, Rafi mengambil tangan Kalia dan mengangkatnya ke bibirnya. "Kalia, atau Lala—nama apa pun yang kamu gunakan, kamu adalah orang yang paling berarti dalam hidupku. Dari saat pertama kita bertemu, kamu telah membawa kehangatan dan makna dalam hidupku yang dulu kosong. Aku cinta padamu dengan segenap hatiku, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama mu—membantu kamu mengelola klinik, membangun masa depan yang baik bagi masyarakat di sini, dan merawat satu sama lain hingga tua nanti. Apakah kamu mau menjadi istriku?" Kalia menangis dengan kebahagiaan dan mengangguk dengan kuat. "Ya, Rafi. Aku mau. Aku selalu mau bersama mu."Hujan gerimis menyapu jalan-jalan di kawasan Sukarame saat Kalia menepuk-nepuk debu dari papan nama kayu yang tertulis "Klinik Sehat Bersama - Dr. H. Mansyur". Kayu yang sudah menguning menunjukkan usia klinik yang telah berdiri lebih dari empat puluh tahun. Kakeknya yang sudah berusia 78 tahun berdiri di sebelahnya, jasnya sedikit terlipat tapi rambutnya tetap rapi diikat dengan ikal kecil. Tangan nya gemetar saat memegang tongkat kayu, tapi mata nya penuh harapan saat melihat klinik yang dulu menjadi pusat kehidupan keluarga nya."Kalian sudah sepakat, Kan? Klinik ini adalah warisan dari ayahmu, Kalia. Aku tidak bisa lagi mengelolanya sendirian—tangan ku sudah tidak stabil lagi untuk menyuntik, dan mata ku mulai sulit membaca resep," ujar Kakek Mansyur dengan suara pelan tapi tegas. Udara di sekitar mereka terasa sejuk dengan aroma tanah basah dan bunga melati dari taman belakang klinik.Kalia mengangguk, meskipun hatinya masih penuh keraguan. Hanya seminggu yang lal
Beberapa bulan berlalu, dan hubungan antara Kalia dan Rafi semakin erat. Rafi sering datang ke klinik—kadang pada pagi hari sebelum pergi ke lokasi proyek, kadang pada sore hari setelah pekerjaannya selesai. Kadang dia membawa pekerja yang merasa tidak enak badan, kadang hanya untuk membawa makanan khas daerah seperti seruit atau pempek yang dibeli dari pedagang kaki lima dekat pasar Sukarame.Saat Kalia menghadapi masalah keuangan karena pasokan obat yang harganya terus naik, Rafi tidak tinggal diam. Dia menggunakan koneksinya untuk mencari pemasok obat lokal yang lebih terjangkau dan bahkan mengajak beberapa teman bisnisnya untuk menjadi donor bagi klinik. Mereka membuat program "Sehat untuk Semua" yang memberikan layanan pemeriksaan gratis bagi masyarakat miskin di sekitar pesisir setiap hari Sabtu."Kenapa kamu begitu membantu aku?" tanya Kalia suatu malam saat mereka makan bakso di warung dekat pantai Teluk Betung. Lampu neon di warung memberikan cahaya kemerahan yang lembut, dan
Dengan bantuan teman sekantor yang bekerja di kantor catatan sipil Kota Bandar Lampung, Ana—seorang perempuan muda yang juga pasien rutin di klinik—Kalia mulai menyelidiki asal-usulnya dengan hati-hati. Mereka datang ke kantor pada pagi hari ketika pengunjung masih sedikit, dan Ana membantu Kalia mencari data kelahiran dengan nama Lala Pratama.Hasil pencariannya membuatnya terkejut hingga hampir tidak bisa berdiri. Di buku catatan kelahiran tahun 1998 tercatat dengan jelas: "Lala Pratama, lahir pada tanggal 15 November 1998 pukul 10.15 pagi di Rumah Sakit Umum Daerah Bandar Lampung, anak dari Bapak Budi Pratama dan Ibu Siti Pratama." Nama Budi Pratama adalah nama ayah Rafi yang sudah meninggal dunia.Menurut catatan resmi berikutnya, Lala Pratama telah meninggal dunia pada tanggal 17 Mei 1999 karena penyakit paru-paru akut. Tapi jelasnya, itu bukan kebenaran karena Kalia sekarang hidup dan sehat—dia bahkan telah menyelesaikan pendidikan kedokteran dengan nilai yang baik."Ini tidak m
Mulai saat itu, Kalia mulai menghindari Rafi dengan segala cara yang bisa dia pikirkan. Dia membuat alasan setiap kali Rafi ingin bertemu—entah itu mengatakan bahwa klinik sedang sibuk dengan pasien, atau dia harus pergi ke rumah sakit besar untuk mengambil suplai obat, atau dia sudah tidur lebih awal karena merasa lelah. Dia bahkan menutup klinik lebih awal beberapa kali saat melihat Rafi datang dari arah jalan utama, atau pergi keluar ke pasar bersama Ana saat dia tahu Rafi akan datang mengunjunginya.Rafi merasa bingung dan kesal dengan perubahan sikap Kalia yang tiba-tiba. Dia mencoba menghubunginya melalui telepon dan pesan singkat, tapi jawaban Kalia selalu pendek dan tidak ramah. "Sibuk sekarang" atau "Nanti saja ya" atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Dia datang ke klinik beberapa kali dan menemukan bahwa pintu sudah terkunci padahal belum jam tutup, atau Kalia sedang "sedang memeriksa pasien" padahal ruangan pemeriksaan kosong."Apa yang terjadi dengan Kak Kalia ya?" tany
Beberapa minggu kemudian, kondisi Bu Siti sudah cukup baik untuk pulang dari rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa dia perlu istirahat cukup lama dan mengonsumsi obat secara teratur, tapi tidak ada komplikasi serius yang mengancam nyawa. Rafi mengadakan acara kecil di rumahnya untuk merayakan pemulihan ibunya—hanya dengan beberapa teman dekat dan keluarga, termasuk Kakek Mansyur dan Kalia. Hari itu juga tepat merupakan ulang tahun Rafi yang ke-28.Kalia datang dengan hati yang penuh keraguan. Dia telah membuat keputusan akhir untuk mengungkapkan identitasnya pada Rafi dan kemudian pindah kembali ke Jakarta—dia sudah menerima tawaran kerja dari Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta sebagai dokter spesialis kedokteran keluarga. Dia berencana untuk pergi minggu depan agar bisa menjauh dari Rafi dan membiarkan dia hidup damai tanpa beban masa lalu yang menyakitkan.Dia membawa dua hal: sebuah kue ulang tahun buatan tangan nya dengan hiasan bentuk jembatan kecil yang dibuat dari gula merah (sebaga
Kalia melihat Rafi dengan wajah penuh kekaguman. "Apa kamu bercanda? Kakek Mansyur dan Bu Siti bilang kita adalah saudara kandung!""Itu bukan kebenaran yang sebenarnya," jawab Rafi sambil mengambil sebuah amplop dari dalam saku jas nya. Dia membukanya dengan hati-hati dan mengeluarkan selembar kertas putih yang sudah dilipat rapi, ditambah sebuah amplop kecil berisi hasil tes laboratorium. "Saat Bu sakit di rumah sakit, aku menemukan kotak lama di dalam lemari kayu ayahmu yang terkunci—kotak yang selalu dia katakan hanya boleh dibuka jika ada keadaan darurat. Aku harus memecahkan kuncinya karena khawatir ada sesuatu yang penting tentang kondisi Bu. Di dalamnya ada surat terakhir yang ditulis ayahmu sebelum dia meninggal, dan juga hasil tes DNA yang dilakukan saat aku masih kecil."Dia mulai membaca isi surat dengan suara yang jelas dan penuh perasaan:"Untuk anakku yang tersayang, Rafi. Jika kamu menemukan surat ini, berarti waktunya telah tiba untuk mengetahui kebenaran. Kamu bukan







