Home / Romansa / Cinta kita bersemi lagi / (Bab 7) AKHIR YANG MEMUASKAN

Share

(Bab 7) AKHIR YANG MEMUASKAN

Author: Kangal
last update Last Updated: 2025-12-28 07:40:56

Lima tahun telah berlalu sejak hari itu. Klinik Sehat Bersama yang dulu hanya sebuah klinik kecil kini telah berkembang menjadi pusat kesehatan komunitas yang melayani ribuan pasien setiap bulan. Kalia masih menjadi kepala dokter di sana, dan sekarang dia juga mengelola program pelatihan tenaga kesehatan untuk masyarakat di wilayah pesisir—mengajarkan mereka cara memberikan pertolongan pertama dan merawat keluarga mereka dengan baik.

Proyek jembatan yang menjadi tanggung jawab Rafi telah selesai dibangun tepat waktu dan dalam anggaran yang telah ditentukan. Jembatan itu diberi nama "Jembatan Harapan Bersama" sebagai simbol cinta dan persatuan antara Kalia dan Rafi, serta harapan baru bagi masyarakat pesisir. Mereka menikah di atas jembatan itu pada hari yang cerah dan hangat, dengan doa dan ucapan selamat dari seluruh masyarakat yang telah mereka bantu selama ini. Bu Siti dan Kakek Mansyur duduk di kursi kehormatan, menangis dengan kebahagiaan saat melihat kedua orang tersayang mereka bersatu.

Kalia dan Rafi kini memiliki seorang anak perempuan yang lucu dan sehat, yang mereka beri nama Lala Dewi Pratama—sebagai penghormatan pada nama asli Kalia dan nama ibu kandung Rafi, yang juga merupakan nama dari ibu kandung Rafi, Dewi. Anak mereka yang berusia tiga tahun suka bermain dengan mainan mobil kayu yang dulunya pernah dimainkan Rafi saat kecil, dan sering mengikuti ibunya ke klinik untuk membantu menyapa pasien kecil.

Setiap pagi, keluarga mereka biasa sarapan bersama di halaman belakang rumah—makan bubur ayam yang dibuat Bu Siti dengan resep turun-temurun, sambil menikmati aroma bunga melati yang tumbuh subur di sekeliling halaman. Bu Siti kini sudah lebih sehat dan sering menghabiskan waktu untuk mengajari cucunya cara merawat tanaman dan membuat makanan khas daerah. Kakek Mansyur juga masih aktif membantu di klinik setiap pagi, memberikan nasihat kepada pasien dan berbagi pengalaman sebagai dokter yang telah bertahun-tahun melayani masyarakat.

Suatu sore, saat matahari mulai meredup dan memberikan warna jingga yang indah pada langit, Kalia dan Rafi membawa Lala bermain di tepi pantai Teluk Betung—tempat mereka pertama kali makan bakso bersama dan mulai menjalin persahabatan. Anak mereka sedang bermain pasir sambil membuat benteng kecil, sementara kedua orang tuanya duduk di atas tikar yang sudah mereka siapkan.

"Apakah kamu pernah menyesal semua rahasia dan kebohongan yang terjadi di masa lalu?" tanya Kalia sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Rafi. Suara ombak yang tenang dan suara tawa anak mereka menjadi latar belakang yang damai.

Rafi menjawab dengan senyum hangat yang sudah sangat dikenal Kalia, sambil menatap laut yang luas di depan mereka. "Tidak, sayangku. Karena semua itu adalah jalan yang membawa kita bersama. Tanpa semua itu, kita mungkin tidak akan menyadari seberapa besar cinta yang kita miliki satu sama lain, atau seberapa kuat ikatan yang bisa terbentuk antara dua orang yang awalnya hanya bertemu sebagai teman."

Dia mengambil tangan Kalia dan memeluknya erat. "Kita belajar bahwa keluarga tidak selalu terbentuk dari darah—kadang kala keluarga bisa kita pilih sendiri, dan cinta bisa tumbuh dari persahabatan yang tulus. Semua rahasia yang tersembunyi ternyata hanya jalan untuk membawa kita pada tujuan yang sebenarnya."

Kalia mengangguk dan melihat anak mereka yang sedang bahagia bermain pasir. "Hanya seorang sahabat," bisik Kalia pelan sambil mengingat awal mula hubungan mereka—saat Rafi datang ke klinik dengan membawa pekerja yang sakit, dan mereka hanya dua orang yang saling membantu tanpa tahu akan hubungan yang lebih dalam yang akan terbentuk.

Rafi mencium dahinya dengan lembut dan berkata, "Sekarang lebih dari itu. Sekarang kamu adalah cinta hidupku, ibu dari anakku, dan sahabat terbaik yang bisa aku impikan. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa beruntungnya aku memiliki kamu di hidupku."

Di kejauhan, jembatan Harapan Bersama berdiri megah menghubungkan daratan dengan wilayah pesisir. Banyak kendaraan dan orang yang berlalu lalang di atasnya—semua menikmati kemudahan yang diberikan oleh proyek itu, dan banyak keluarga yang kini bisa dengan mudah mengakses layanan kesehatan di klinik yang dikelola Kalia.

Lala kecil datang berlari ke arah mereka dengan tangan yang penuh pasir, membawa sebuah bentuk kecil yang dia buat dari pasir. "Ayah, Ibu—lihat! Aku membuat jembatan seperti ayah buat!" serunya dengan senyum yang cerah.

Rafi mengambil anak mereka ke pangkuannya, sementara Kalia menghapus pasir dari wajahnya dengan lembut. Bersama-sama, mereka menatap ke arah jembatan yang bersinar di bawah sinar matahari sore, penuh harapan untuk masa depan yang lebih baik. Semua perjuangan, rahasia, dan kesedihan di masa lalu telah berubah menjadi kebahagiaan dan cinta yang mendalam—bukti bahwa terkadang jalan yang paling tidak terduga justru membawa kita pada tempat yang seharusnya kita tempati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta kita bersemi lagi   (Bab 1) KEMBALI KE KOTA LAMA

    Hujan gerimis menyapu jalan-jalan di kawasan Sukarame saat Kalia menepuk-nepuk debu dari papan nama kayu yang tertulis "Klinik Sehat Bersama - Dr. H. Mansyur". Kayu yang sudah menguning menunjukkan usia klinik yang telah berdiri lebih dari empat puluh tahun. Kakeknya yang sudah berusia 78 tahun berdiri di sebelahnya, jasnya sedikit terlipat tapi rambutnya tetap rapi diikat dengan ikal kecil. Tangan nya gemetar saat memegang tongkat kayu, tapi mata nya penuh harapan saat melihat klinik yang dulu menjadi pusat kehidupan keluarga nya."Kalian sudah sepakat, Kan? Klinik ini adalah warisan dari ayahmu, Kalia. Aku tidak bisa lagi mengelolanya sendirian—tangan ku sudah tidak stabil lagi untuk menyuntik, dan mata ku mulai sulit membaca resep," ujar Kakek Mansyur dengan suara pelan tapi tegas. Udara di sekitar mereka terasa sejuk dengan aroma tanah basah dan bunga melati dari taman belakang klinik.Kalia mengangguk, meskipun hatinya masih penuh keraguan. Hanya seminggu yang lal

  • Cinta kita bersemi lagi   (Bab 2) SAHABAT YANG SELALU ADA

    Beberapa bulan berlalu, dan hubungan antara Kalia dan Rafi semakin erat. Rafi sering datang ke klinik—kadang pada pagi hari sebelum pergi ke lokasi proyek, kadang pada sore hari setelah pekerjaannya selesai. Kadang dia membawa pekerja yang merasa tidak enak badan, kadang hanya untuk membawa makanan khas daerah seperti seruit atau pempek yang dibeli dari pedagang kaki lima dekat pasar Sukarame.Saat Kalia menghadapi masalah keuangan karena pasokan obat yang harganya terus naik, Rafi tidak tinggal diam. Dia menggunakan koneksinya untuk mencari pemasok obat lokal yang lebih terjangkau dan bahkan mengajak beberapa teman bisnisnya untuk menjadi donor bagi klinik. Mereka membuat program "Sehat untuk Semua" yang memberikan layanan pemeriksaan gratis bagi masyarakat miskin di sekitar pesisir setiap hari Sabtu."Kenapa kamu begitu membantu aku?" tanya Kalia suatu malam saat mereka makan bakso di warung dekat pantai Teluk Betung. Lampu neon di warung memberikan cahaya kemerahan yang lembut, dan

  • Cinta kita bersemi lagi   (Bab 3) JEJAK MASA LALU

    Dengan bantuan teman sekantor yang bekerja di kantor catatan sipil Kota Bandar Lampung, Ana—seorang perempuan muda yang juga pasien rutin di klinik—Kalia mulai menyelidiki asal-usulnya dengan hati-hati. Mereka datang ke kantor pada pagi hari ketika pengunjung masih sedikit, dan Ana membantu Kalia mencari data kelahiran dengan nama Lala Pratama.Hasil pencariannya membuatnya terkejut hingga hampir tidak bisa berdiri. Di buku catatan kelahiran tahun 1998 tercatat dengan jelas: "Lala Pratama, lahir pada tanggal 15 November 1998 pukul 10.15 pagi di Rumah Sakit Umum Daerah Bandar Lampung, anak dari Bapak Budi Pratama dan Ibu Siti Pratama." Nama Budi Pratama adalah nama ayah Rafi yang sudah meninggal dunia.Menurut catatan resmi berikutnya, Lala Pratama telah meninggal dunia pada tanggal 17 Mei 1999 karena penyakit paru-paru akut. Tapi jelasnya, itu bukan kebenaran karena Kalia sekarang hidup dan sehat—dia bahkan telah menyelesaikan pendidikan kedokteran dengan nilai yang baik."Ini tidak m

  • Cinta kita bersemi lagi   (Bab 4) JARAK YANG MENYAKITKAN

    Mulai saat itu, Kalia mulai menghindari Rafi dengan segala cara yang bisa dia pikirkan. Dia membuat alasan setiap kali Rafi ingin bertemu—entah itu mengatakan bahwa klinik sedang sibuk dengan pasien, atau dia harus pergi ke rumah sakit besar untuk mengambil suplai obat, atau dia sudah tidur lebih awal karena merasa lelah. Dia bahkan menutup klinik lebih awal beberapa kali saat melihat Rafi datang dari arah jalan utama, atau pergi keluar ke pasar bersama Ana saat dia tahu Rafi akan datang mengunjunginya.Rafi merasa bingung dan kesal dengan perubahan sikap Kalia yang tiba-tiba. Dia mencoba menghubunginya melalui telepon dan pesan singkat, tapi jawaban Kalia selalu pendek dan tidak ramah. "Sibuk sekarang" atau "Nanti saja ya" atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Dia datang ke klinik beberapa kali dan menemukan bahwa pintu sudah terkunci padahal belum jam tutup, atau Kalia sedang "sedang memeriksa pasien" padahal ruangan pemeriksaan kosong."Apa yang terjadi dengan Kak Kalia ya?" tany

  • Cinta kita bersemi lagi   (Bab 5) PERNYATAAN CINTA YANG SALAH WAKTU

    Beberapa minggu kemudian, kondisi Bu Siti sudah cukup baik untuk pulang dari rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa dia perlu istirahat cukup lama dan mengonsumsi obat secara teratur, tapi tidak ada komplikasi serius yang mengancam nyawa. Rafi mengadakan acara kecil di rumahnya untuk merayakan pemulihan ibunya—hanya dengan beberapa teman dekat dan keluarga, termasuk Kakek Mansyur dan Kalia. Hari itu juga tepat merupakan ulang tahun Rafi yang ke-28.Kalia datang dengan hati yang penuh keraguan. Dia telah membuat keputusan akhir untuk mengungkapkan identitasnya pada Rafi dan kemudian pindah kembali ke Jakarta—dia sudah menerima tawaran kerja dari Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta sebagai dokter spesialis kedokteran keluarga. Dia berencana untuk pergi minggu depan agar bisa menjauh dari Rafi dan membiarkan dia hidup damai tanpa beban masa lalu yang menyakitkan.Dia membawa dua hal: sebuah kue ulang tahun buatan tangan nya dengan hiasan bentuk jembatan kecil yang dibuat dari gula merah (sebaga

  • Cinta kita bersemi lagi   (Bab 6) KEBENARAN YANG LEBIH MENDALAM

    Kalia melihat Rafi dengan wajah penuh kekaguman. "Apa kamu bercanda? Kakek Mansyur dan Bu Siti bilang kita adalah saudara kandung!""Itu bukan kebenaran yang sebenarnya," jawab Rafi sambil mengambil sebuah amplop dari dalam saku jas nya. Dia membukanya dengan hati-hati dan mengeluarkan selembar kertas putih yang sudah dilipat rapi, ditambah sebuah amplop kecil berisi hasil tes laboratorium. "Saat Bu sakit di rumah sakit, aku menemukan kotak lama di dalam lemari kayu ayahmu yang terkunci—kotak yang selalu dia katakan hanya boleh dibuka jika ada keadaan darurat. Aku harus memecahkan kuncinya karena khawatir ada sesuatu yang penting tentang kondisi Bu. Di dalamnya ada surat terakhir yang ditulis ayahmu sebelum dia meninggal, dan juga hasil tes DNA yang dilakukan saat aku masih kecil."Dia mulai membaca isi surat dengan suara yang jelas dan penuh perasaan:"Untuk anakku yang tersayang, Rafi. Jika kamu menemukan surat ini, berarti waktunya telah tiba untuk mengetahui kebenaran. Kamu bukan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status