Home / Romansa / Cinta yang Angkuh / Bab 8: Bola Penyebabnya 2

Share

Bab 8: Bola Penyebabnya 2

Author: Salju Berterbangan
“Aduh!” Rosie jatuh terjerembab setelah melompat, berakhir telentang di halaman rumput. Ia terlambat menyadari bahwa dari sisi tembok rumah Kevin tidak memiliki kursi untuk memanjat, tidak seperti di rumahnya. Lompatan tadi menyakitkan, tetapi ia bangkit perlahan dan mengambil bola.

“Ferry, apa kamu bisa mendengarku?” teriaknya kembali.

“Aku bisa mendengarmu!” balas Ferry berteriak.

“Aku akan lempar bolanya padamu, jadi siap-siap untuk menangkapnya!”

“Ya! Lempar!” Dengan bersemangat, Ferry mengambil posisi untuk menangkap bola saat melayang tinggi di atas tembok. Namun, bidikannya goyah, bola bergulir ke sudut lain. Bocah kecil itu bergegas mengejarnya, lalu buru-buru kembali, mata bersinar dan menunggu kakak perempuannya yang cantik kembali.

“Tunggu aku sebentar, ya? Aku akan cari cara untuk memanjat kembali,” teriaknya kepada Ferry, yang berdiri di sisi lain.

“Oke.”

Rosie melompat dan meraih balok di atas tembok. Setiap kali ia mencoba memanjat, ia tergelincir dan jatuh ke rumput. Berkali-kali ia mencoba, berkali-kali pula Ferry memanggil dari sisi lain, suaranya bersikeras bahwa ia hampir sampai. Menahan napas, ia melompat, berusaha meraih balok itu, tetapi cengkeramannya gagal, dan ia jatuh sekali lagi.

“Oh tidak!”

Pada lompatan terakhir, alih-alih jatuh ke tanah, tubuhnya mendarat dengan aman di pelukan seseorang. Perlahan, ia mengedipkan matanya dan saat matanya terbuka, ia merasakan jantungnya berdebar kencang melihat wajah Kevin, yang hanya berjarak beberapa inci. Kevin menggelengkan kepalanya dengan kesal sebelum dengan lembut menurunkannya ke tanah.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Kevin curiga, tatapannya tertuju padanya seperti ia benar-benar salah. Tentu saja, menyelinap ke rumah orang lain seperti ini sudah salah.

“Bolanya terbang ke halamanmu. Aku mengetuk, tapi ku pikir kamu tidak ada di rumah. Tidak ada mobil, jadi aku… um…”

“Nggak ada orang di rumah, ya? Apa kamu mencoba menekan bel?”

‘Kamu mencari masalah, Rosie.’ Kata Kevin dalam hati.

“Enggak, aku nggak melakukannya.”

“Lain kali, tekan bel, mengerti? Ibu dan Theo pergi, dan mobilku ada di bengkel. Jika kamu menyelinap masuk ke rumahku seperti ini, aku bisa melaporkanmu karena masuk tanpa izin, Rosie.” Kevin memarahinya, menjadikannya seolah-olah ini adalah masalah serius.

“Aku dulu sering memanjat,” gumam Rosie pelan.

“Kak Rosie, apa kamu masih di sana?” Suara Ferry berteriak di seberang, dan Rosie menyadari bahwa ia telah meninggalkan bocah kecil gembul itu sendirian di rumah.

“Suara anak siapa itu?” tanya Kevin, mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

“Uh… anak Tony. Dia meninggalkan anaknya pada ibuku untuk dijaga.”

“Tony, yang di sebelah?” Itu adalah hal baru, Kevin baru tahu bahwa Ambar mengasuh anak.

“Kevin, bisakah aku menggunakan kursi untuk memanjat kembali?” pintanya.

“Nggak.”

“Kenapa? Aku tak boleh membiarkan anak itu sendirian.”

“Aku bilang nggak, maksudku kamu harus kembali melalui pintu depan, bukan memanjat pagar dan mengambil risiko kakimu patah seperti ini. Teriak pada anak itu dan suruh dia menunggu.” Kevin berbicara dengan nada yang setengah perintah.

“Ferry, tunggu aku. Aku akan berjalan kembali melalui pintu depan,” teriaknya keras-keras.

“Oke.”

Kevin mengantarnya ke pintu depan, tetapi Kevin tidak berhenti di situ. Ia bahkan mengikuti Rosie sampai ke dalam rumahnya.

“Aku ingin melihat wajah anak itu,” ia memberikan penjelasan singkat. Rosie berpikir Kevin ingin berbicara dengannya. Rosie berusaha menahan diri, menolak membiarkan pikirannya mengembara lebih jauh.

“Ferry, ini Kevin.” Ia memperkenalkan mereka agar kedua pria dari usia berbeda itu bisa saling mengenal. Bocah kecil itu mengangkat tangan dan menyapa Kevin dengan menggemaskan.

“Aku nggak pernah tahu kalau Tante Ambar juga menjaga anak-anak.”

“Ya, aku juga baru tahu. Apa kamu mau duduk?” Ia menunjuk ke kursi taman di depan rumah.

“Boleh juga.”

“Ferry, pergi duduk di sana bersama Kevin dulu. Aku akan mengambilkan beberapa makanan untukmu.”

“Oke, Kakak Rosie.” Ferry, patuh seperti biasa, pergi duduk diam di samping Kevin sementara Rosie bergegas ke dapur. Ketika ia melihat kue buatan ibunya, ia cepat-cepat membawanya keluar untuk mereka nikmati berdua.

“Kevin, ini ada kue. Ibu membuatnya untukku, tapi terlalu banyak. Aku nggak bisa menghabiskan semuanya sendiri.”

“Oh!” Kevin melihat piring camilan di depannya, tetapi ia tetap diam dan tidak langsung makan.

“Dan yang ini untukmu, Ferry. Ini soda merah untuk dimakan bersama kuenya. Apa kamu tahu cara makannya?”

“Ya.”

“Taruh bolanya dulu, dan ayo makan kuenya.” Ia menarik bola dari tangan bocah kecil itu, lalu berbalik menatap Kevin dengan penuh minat.

“Kevin, air putih saja, ya? Aku nggak punya yang lain.”

“Nggak apa-apa, aku nggak haus.” Ia menjawab seperti itu, dan Rosie kehilangan kata-kata. Ia mengalihkan perhatiannya pada Ferry.

“Makan yang banyak, ya? Kalau nggak, saat ayahmu kembali, dia akan berpikir aku nggak menjagamu dengan baik.”

“Ya.” Ferry dengan cepat mengambil garpu dan memasukkan kue ke dalam mulutnya dengan gembira. Rosie kemudian memasukkan satu ke dalam mulutnya sendiri juga sementara matanya melirik ke arah Kevin, yang duduk diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

‘Kevin kenapa kamu disini kalau kamu nggak berniat mengatakan apa-apa?’ kata Rosie dalam hati.

Rasa canggung langsung menggantikan suasana gembira. Hari ini, Kevin tampak jauh lebih serius dari sebelumnya, sangat serius hingga Rosie nyaris tidak berani memulai percakapan dengannya.

“Om Kevin, apa kamu nggak akan makan? Ini enak,” tiba-tiba bocah kecil itu bertanya pada Kevin. Rosie merasa senang diam-diam karena ada seseorang yang bertanya untuknya, dan sudut mulutnya berkedut menjadi senyum kecil yang puas atas pertanyaan polos Ferry.

“Kalau begitu aku akan mencoba sepotong.” Kevin tidak ingin mengecewakan bocah itu, jadi ia mengambil kue dengan garpunya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

“Apakah enak?”

“Ya, ini benar-benar seenak yang Ferry bilang.” Kevin memberikan senyum lebar pada Ferry, tetapi memalingkan wajah serius padanya. Berapa lama Kevin akan mempertahankan sikap tegas ini padanya? Dengan begini, apakah Rosie bahkan berani mendekat lagi?

Setelah beberapa saat, Ferry selesai makan, kenyang dan puas. Kevin juga tampak puas. Ia ngobrol dengan Ferry dengan cara khas anak laki-laki, nyaris tidak melirik Rosie. Setelah camilan habis, keduanya mulai bermain sepak bola bersama. Rosie membereskan piring, mencucinya di dapur, dan kemudian kembali ke luar untuk menonton sambil tersenyum saat mereka bermain dengan gembira.

Ada banyak saat di mana Ferry akan melompat dan berpegangan pada kaki Kevin, dan Kevin akan mengayun-ayunkannya dengan hati-hati. Rosie diam-diam membayangkan dirinya duduk dan melihat suami dan putranya bermain bersama. Ia duduk di sana tersenyum sendiri seperti orang bodoh sampai Kevin menatapnya dengan pandangan tegas, dan senyumnya berangsur-angsur memudar.

“Rosie.” Setelah beberapa saat, Kevin berbalik dan memanggilnya.

“Ya, Kevin.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Angkuh   Bab 200: Episode Spesial 6 (Tamat)

    Dengan wajah sedikit terkejut, Puput buka pintu kamar untuk kakaknya, meskipun sebenarnya dia sudah duga kalau Pasha pasti akan datang tanya tentang Nico.“Cerita ke aku, kenapa kamu begitu percaya ke dia?”“Pasha, gimana bisa kamu tanyakan itu? Malu banget, tahu.”Puput jalan ke arah tempat tidur lalu jatuhkan dirinya ke atas ranjang. Kakaknya ikut mendekat dan duduk di tepi ranjang sambil usap rambut adiknya perlahan.“Nggak perlu malu. Ceritakan saja semuanya supaya aku bisa lihat itu dari sudut pandang yang berbeda.”Meskipun semuanya sudah jadi jelas, tetap ada sedikit keraguan yang tersisa di hati Pasha.“Pasha, kamu tahu nggak kalau Nico buat tato baru di sisi kiri dadanya?”“Hm? Oh yah?”“Iya.”“Terus?”Pasha masih belum ngerti apa hubungannya dengan semua ini. Puput segera bangkit dari tempat tidur, ambil HP nya, buka foto yang sempat dia ambil, lalu kasih kakaknya lihat.“Ini Nico?”“Iya.”Puput tersenyum aneh, seolah ada sesuatu yang tersembunyi di dalam foto itu. Pasha perh

  • Cinta yang Angkuh   Bab 199: Episode Spesial 5

    Di tengah kicauan lembut burung-burung pagi, Puput yang masih tertidur pulas bergerak mendekat, cari kehangatan. Dia peluk tubuh di sampingnya erat-erat, seolah itu adalah bantal favoritnya. Namun, kenapa bantal lembutnya bisa gerak? Dengan cepat Puput buka mata.“Nico.”Puput menatap Nico yang sudah bersandar dengan sikunya, pandangi dia dengan senyum hangat. Seketika, hatinya ikut terasa hangat.“Sekarang jam berapa? Aku nggak sadar kapan aku ketiduran.”“Kamu tidur sangat nyenyak. Kamu pasti capek banget tadi malam.”Mata Nico berkilau nakal ketika dia usap pipi lembut Puput dengan penuh kasih.“Nico, seluruh tubuhku rasanya pegal-pegal.”Gadis kecil itu tampak lelah sekaligus merajuk. Nico tahan tawanya penuh sayang. Gimana mungkin tubuh Puput nggak pegal? Tadi malam dia benar-benar kerahkan seluruh tenaganya nggak tahan diri lagi.Tok … tok … tok.“Sarapan sudah datang.”Nico segera bangkit dari tempat tidur dan tarik selimut hingga tutupi tubuh Puput sepenuhnya. Dia nggak mau sia

  • Cinta yang Angkuh   Bab 198: Episode Spesial 4

    Nico angkat kedua telapak tangannya dan tangkup wajah Puput dengan lembut. Dia dekatkan bibirnya perlahan, lalu cium gadis itu berulang kali, lembut, manis, dan penuh kerinduan, hingga Puput hampir kehabisan napas.Napasnya semakin terputus ketika sesuatu di bawah permukaan air tekan tubuhnya. Sebuah hasrat keras yang tertahan oleh kain menempel erat pada tubuh Puput.“Puput .…”Suara Nico terdengar serak, jelas tunjukkan perasaannya saat itu. Nggak tunggu lama, Nico tarik pergelangan tangan Puput, bawa dia menuju tangga di sudut kolam yang tersembunyi. Sudut itu benar-benar gelap, tertutup papan kayu yang halangi pemandangan tebing.“Nico … ah!”Puput yang terus-menerus dihujani ciuman tanpa sempat bersiap langsung melemah. Nico duduk di anak tangga paling bawah. Dia tarik Puput untuk duduk di pangkuannya, jaga tubuh bagian atasnya tetap berada di atas air. Puput peluk dia erat, sementara tali bra-nya terlepas. Telapak tangan Nico yang besar menyelinap ke dalam tank top kecil yang dik

  • Cinta yang Angkuh   Bab 197: Episode Spesial 3

    Begitu Puput tutup teleponnya, Nico langsung tertawa keras. Dia benar-benar terhibur oleh kepandaian Puput untuk bohong. Dia hampir nggak percaya gadis itu berani katakan semua itu.“Kamu ini benar-benar licik.”“Tunggu dulu, kenapa kamu sebut aku gitu, Puput? Aku nggak pernah suruh kamu bohong ke ibumu. Kamu sendiri yang pikirkan semuanya.”“Itu karena kamu, Nico, aku jadi sampai harus bohong.”Puput pasang wajah cemberut, seolah semua kesalahan sepenuhnya miliknya.“Sudah, sudah. Jangan gitu. Jangan ngambek.”“Aku bukan anak kecil. Kamu selalu bilang aku ngambek.”“Tapi itu cocok untuk kamu, Puput. Kamu memang suka ngambek dan juga gampang nangis, tapi semua tentang kamu tetap terlihat manis dan menggemaskan.”Senyum Nico sampai ke matanya. Puput yang duduk di atas tempat tidur hanya sedikit putar tubuhnya karena malu.“Menurutmu ibumu percaya dengan yang barusan kamu bilang?”“Aku nggak tahu. Sebelum tutup telepon, aku sempat dengar dia menghela napas pelan.”“Kalau dia percaya, itu

  • Cinta yang Angkuh   Bab 196: Episode Spesial 2

    “Makasih. Ngomong-ngomong, kita bisa makan malam di mana?”“Dapur kami buka sampai pukul 22.00. Kamu juga bisa telepon untuk pesan makanan dan nikmatin itu di balkon dekat kolam renang, atau makan langsung di restoran. Nomor teleponnya ada di samping telepon.”“Makasih.”Setelah staf itu pergi, Nico kunci pintu kamar sambil cari sosok yang tadi sudah masuk lebih dulu. Ternyata Puput sudah buka pintu balkon dan duduk di sana, nikmati keindahan kolam renang yang berpadu dengan pemandangan hutan dan pegunungan di depannya.Kamar mereka hampir tepat di tepi lereng gunung yang curam. Untungnya ada pagar pembatas di depan kolam renang.“Udara setelah hujan benar-benar segar, Nico.”Puput yang duduk di kursi rotan bundar menoleh ke arah Nico yang baru saja buka pintu geser dan duduk di hadapannya.“Kamu nggak lapar, Puput? Aku mulai lapar. Sejak kita sepedaan tadi kita belum makan malam. Kita cuma setir bolak-balik saja.”Nico pegang menu makanan yang ada di kursi santai dekatnya.“Aku juga l

  • Cinta yang Angkuh   Bab 195: Episode Spesial 1

    Mereka berdua terus mengayuh sepeda kelilingi waduk hingga selesaikan satu putaran penuh, sebelum akhirnya kembalikan sepeda itu ke tempat sewa. Nico kemudian beli sebuah kelapa utuh dari kios kecil di dekat sana untuk Puput minum, biar dia nggak haus lagi.Mereka duduk berdampingan untuk istirahat, menyeruput air kelapa sambil pulihkan tenaga setelah naik sepeda cukup lama.“Tadi itu pesan apa kok sampai buat kamu senang banget, Puput? Sepanjang tadi kita naik sepeda, aku lihat kamu senyum-senyum sendiri,” tanya Nico, nggak mampu sembunyikan rasa penasarannya. Sejak terima pesan itu, pipi Puput terus mengembang karena senyumnya.“Nggak ada apa-apa.”“Hei, Puput, nggak boleh main rahasia-rahasiaan dari aku.”“Kalau begitu gimana dengan kamu, Nico? Apa kamu juga punya rahasia?”“Nggak ada. Sama sekali nggak ada, Puput.” Nico menggeleng cepat.“Yakin?”“Tentu saja. Ngapain aku bohong ke kamu?”Mereka saling tersenyum, masing-masing merasa telah simpan rahasia mereka dengan sangat baik. W

  • Cinta yang Angkuh   Bab 93: Thor 1

    Sudah tiga hari sejak terakhir kali dia menghubunginya. Mengapa kehidupan seorang wanita simpanan begitu sulit? Siapa bilang itu pekerjaan mudah dengan uang mudah? Baginya, tidak seperti itu sama sekali. Kekhawatirannya tidak luput dari mata rekan kerja yang sama.“Ada apa kali ini, Klara? Kamu cem

  • Cinta yang Angkuh   Bab 92: Di Balik Perawatan 3

    Saat itu, Cece merasa seolah-olah dia telah tenggelam dalam kegelapan. Untuk menyelamatkan nyawa suaminya, dia memberikan dirinya kepada pria lain. Tetapi ketika suaminya aman dan mengetahui kebenaran, dia tidak bisa menerimanya dan meninggalkan Cece tanpa pernah menoleh ke belakang.Adrian sudah m

  • Cinta yang Angkuh   Bab 91: Di Balik Perawatan 2

    “Aku minta maaf sudah mengecewakan Ibu, tapi aku nggak punya pilihan. Aku sudah mencoba segalanya, tetapi benar-benar nggak ada yang bisa aku lakukan, Bu. Aku bahkan tanpa malu meminta bantuan orang lain, tapi… mereka nggak membantu.”“Oh, Klara.” Cece menarik putrinya ke dalam pelukan dan terisak

  • Cinta yang Angkuh   Bab 90: Di Balik Perawatan 1

    Trey bangun lebih dulu. Dia suka menopang dirinya pada siku untuk mengawasinya saat dia tidur. Anehnya, dia tidak pernah bosan dengan itu. Bukan karena dia tidak pernah melihat seorang wanita tidur—dia sering melihatnya—tetapi dengannya, dia merasakan sesuatu yang istimewa, meskipun dia tidak bisa m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status