แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Boni
Setelah duduk sendirian di taman hingga matahari terbenam dan malam tiba, Keira akhirnya berhasil menenangkan perasaannya.

Dia berdiri dan berjalan masuk ke vila. Begitu masuk, dia melihat Robert terbaring sendirian di sofa, sementara para sahabatnya sudah pergi.

Pria itu mabuk berat. Bahkan dalam tidurnya, dia masih terus memanggil nama Irena berulang kali.

Keira mendengarkannya dalam diam, lalu mengeluarkan lembar tabel nilai itu dan kembali mengurangi lima poin.

Kali ini, dia tidak merawat Robert seperti biasanya. Sebaliknya, dia mulai membereskan barang-barangnya sendiri.

Hadiah yang pernah diberikan Robert kepadanya, foto-foto Robert yang selama ini disimpannya dengan hati-hati, gelas pasangan, sandal pasangan .... Semua barang yang berhubungan dengan Robert dia kumpulkan dan buang ke tempat sampah.

Keira membereskannya sepanjang malam.

Keesokan paginya saat Robert bangun, dia langsung mendapati bahwa ruang tamu telah kosong hampir setengahnya.

"Kapan kamu pulang dari rumah sakit? Kenapa banyak sekali barang di rumah yang hilang?"

"Semalam. Aku nggak bisa tidur, jadi aku buangin barang-barang yang sudah nggak terpakai lagi."

Mendengar jawaban itu, Robert memandang sekeliling dan merasa ada yang tidak beres. "Nggak terpakai lagi? Sebanyak itu, gimana bisa semuanya nggak terpakai?"

Keira baru saja hendak menjawab ketika ponsel Robert berdering.

"Robert, hari ini kamu ada waktu nggak? Bisa temani aku kontrol lagi?"

Robert menjawab singkat, lalu segera berdiri. "Ya."

Dia langsung mandi dan bersiap-siap, lalu buru-buru pergi.

Sambil menatap sosoknya yang menghilang di balik pintu, Keira menjawab pertanyaan yang tadi belum sempat Robert dengar, "Aku sudah mau pergi, jadi semua barang itu memang sudah nggak diperlukan lagi."

Beberapa hari berikutnya, Robert tetap tidak memberi kabar apa pun. Namun, melalui pesan-pesan yang dikirim Irena, Keira tahu bahwa mereka belanja bersama, makan bersama, dan menonton film bersama.

Dia tidak peduli. Dia hanya fokus mengemas barang-barangnya dan mengirim semua miliknya ke wilayah selatan.

Pada hari peringatan kematian ayahnya, Keira mengenakan pakaian hitam. Dia sudah memesan bunga dan hendak keluar rumah, tetapi Robert yang kebetulan pulang menghentikannya.

"Hari ini hari peringatan meninggalnya ayahmu. Aku temani kamu ke makam ya."

Selama beberapa tahun terakhir, mereka memang selalu pergi bersama untuk berziarah. Karena itu, Keira tidak menolak dan naik ke mobilnya.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil sangat sunyi. Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Setibanya di makam, mereka bergantian memberi penghormatan di depan batu nisan. Menatap senyum ayahnya dalam foto hitam putih di batu nisan itu, Keira bersujud beberapa kali dengan sungguh-sungguh.

'Ayah, aku sudah memutuskan untuk cerai dari Robert dan pergi ke wilayah selatan untuk mengejar mimpiku. Kalau Ayah tahu, Ayah pasti juga akan ikut senang, 'kan? Sebelum meninggal, orang yang paling Ayah khawatirkan adalah aku.'

'Karena itulah Ayah minta Robert menjagaku. Tapi, sekarang aku sudah dewasa dan mampu berdiri sendiri. Jadi aku memutuskan untuk memulai kembali hidupku dan nggak lagi bergantung pada siapa pun.'

Setelah menyampaikan semua isi hatinya kepada sang ayah, hujan mulai turun. Mereka tidak berlama-lama di sana dan segera menuruni bukit pemakaman.

Di perjalanan pulang, mungkin karena melihat Keira begitu diam, Robert akhirnya berbicara, "Aku tahu kamu rindu ayahmu, tapi orang yang sudah pergi nggak akan kembali. Aku akan selalu temani kamu. Kalau kamu merasa sedih, kamu bisa bicara denganku."

Sebenarnya Keira memang ingin berbicara dengannya. Namun, bukan tentang ayahnya yang telah meninggal, melainkan tentang perceraian.

Dia menghela napas panjang dan sedang memilih kata-kata yang tepat, tetapi ponsel Robert tiba-tiba berdering.

"Pak Robert, gawat! Bu Irena mengalami kecelakaan dan sedang dirawat darurat di rumah sakit!"

Mendengar kabar itu, Robert langsung menginjak rem mendadak, lalu menoleh ke arah Keira. "Keira, kamu pulang sendiri naik taksi."

Mendengar nada suaranya yang panik dan penuh kecemasan, Keira menunduk, lalu diam-diam membuka pintu mobil.

Dia berdiri di tengah hujan sambil memegang payung dan menyaksikan mobil sport itu memelesat pergi. Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi.

Angin makin kencang. Payung di tangannya hampir saja terlepas. Karena menunduk untuk menghindari hujan yang menghantam wajahnya, dia tidak menyadari sebuah mobil sedan yang melaju dari arah depan.

Brak! Mobil itu langsung menabraknya hingga terjatuh. Hujan deras membasahi wajahnya. Darah mengalir keluar seperti mata air yang tak terbendung.

Keira memegangi perutnya yang terus-menerus dilanda nyeri hebat. Wajahnya sepucat kertas. Kesadarannya makin kabur .... Perlahan, dia tenggelam ke dalam kegelapan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 23

    Setelah urusan Irena selesai, Robert mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mendapatkan kembali Keira. Setahunya, saat ini Keira masih belum menjalin hubungan dengan Stuart. Artinya, dia masih memiliki kesempatan.Kali ini, dia sudah memikirkannya dengan matang. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan pernah lagi mengkhianati Keira.Keira boleh membuat satu, seratus, bahkan seribu lembar tabel nilai. Dia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan satu poin pun lagi.Asalkan Keira bersedia, kalaupun dia harus menyerahkan seluruh perusahaan keluarga, dia pun rela.Robert berhasil menemukan alamat Studio Bulir Padi. Dengan membawa seikat bunga, dia mengetuk pintu."Permisi, apa Keira ada?" tanyanya dengan sopan.Tatapan orang-orang di dalam studio langsung berubah penuh selidik. Di antara mereka, sang senior berjalan mendekat dan menatapnya dengan ekspresi rumit."Kenapa kamu datang?" tanya senior itu.Robert mengenalnya. Dialah orang yang mendirikan studio bersama Keira setelah perceraian mer

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 22

    Robert maju selangkah lagi. Baik saat menerima hukuman keluarga maupun saat muak terhadap Irena, kapan pernah dia menunjukkan ketulusan seperti ini?Kini, setelah akhirnya bertemu kembali dengan orang yang selalu dirindukannya siang dan malam, dia hampir ingin mencungkil hatinya sendiri untuk diperlihatkan kepada Keira.Namun, penampilan seperti itu hanya membuat Keira merasa muak. Rasa jijik dan asing di matanya menusuk hati Robert tanpa ampun."Pak Robert, mohon jaga sikap. Kalau Keira berniat memaafkan Bapak, dia nggak akan menyembunyikan identitasnya selama ini. Meskipun aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian dulu, Keira adalah orang yang sangat baik. Aku rasa Bapak pasti telah melakukan sesuatu yang nggak bisa dimaafkan, sampai hubungan kalian berakhir seperti ini."Stuart berdiri di depan Keira pada saat yang tepat. Tatapannya juga sedingin es saat melontarkan sindiran itu tanpa basa-basi.Perkataan itu membuat tubuh Robert bergetar. Matanya makin merah. Dia memandang d

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 21

    Sejak wawancara itu ditayangkan, Robert segera menerima kabar tentang keberadaan Keira.Baru saat itulah dia tahu bahwa Keira kini tinggal di wilayah selatan. Seperti impian yang pernah Keira ceritakan dahulu, dia benar-benar telah mendirikan sebuah studio desain.Seperti orang yang kelaparan, Robert mulai mencari semua informasi tentang Studio Bulir Padi. Melalui itu, dia akhirnya mengetahui bagaimana kehidupan Keira selama satu tahun setelah meninggalkannya.Keira tidak terpuruk seperti dirinya. Sebaliknya, dia makin bersinar. Dia membangun studionya dari nol hingga kini menjadi nama yang dikenal luas di dunia desain.Robert menatap sosok wanita di bawah cahaya lampu tanpa berkedip. Dorongan di dalam hatinya makin sulit dikendalikan. Dia ingin memeluknya erat seperti dahulu. Namun, saat dia hampir melangkah mendekat, seseorang di sampingnya menarik lengannya."Robert ...." Irena menatapnya dengan tatapan memelas, memohon agar dia tetap tinggal.Namun, Robert bahkan tidak menoleh. Dia

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 20

    Keira menonton wawancara itu tanpa perubahan ekspresi.Sebagian besar isi wawancara membahas karya-karya Studio Bulir Padi. Hanya sebagian kecil yang menyinggung identitas Keira dan hubungannya dengan Robert.Setelah wawancara itu ditayangkan, topik itu sempat mendatangkan gelombang perhatian di internet. Namun, Keira hanya melihatnya sekilas, lalu kehilangan minat.Mungkin karena melihat reaksinya yang datar, Stuart berjalan mendekat. Di tangannya ada sebuah kartu undangan yang sengaja dia ayunkan di depan Keira.Sesuai dugaannya, mata wanita itu langsung berbinar. "Itu ...."Stuart tersenyum bangga. "Ya, baru diterima pagi ini."Keira segera merebut undangan itu. Dengan gembira, dia berputar satu kali sambil mengangkat undangan itu tinggi-tinggi.Undangan itu adalah tiket masuk ke lingkaran profesional dunia desain. Saat acara berlangsung nanti, bukan hanya tokoh paling berpengaruh di dunia desain yang akan hadir, tetapi juga kolektor dan pengusaha dari berbagai penjuru.Nama Studio

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 19

    Setelah minum bersama, Keira naik ke lantai dua untuk menikmati angin malam. Wajahnya sedikit merah karena alkohol, tetapi suasana hatinya sangat baik.Ini adalah tahun kedua sejak dia meninggalkan Robert. Dari rasa sakit dan kebingungan di awal, hingga sekarang dia tidak lagi terikat pada masa lalu. Dia benar-benar telah melepaskan pria itu.Dia tidak akan lagi merasa tak berdaya karena pria itu, meski hanya sedikit pun. Angin malam yang sejuk berembus pelan, mengibaskan rambut panjangnya. Pemandangan itu tampak seperti sebuah lukisan yang indah.Seseorang perlahan berjalan mendekat, lalu berdiri di sampingnya dan menyandarkan diri pada pagar balkon."Kenapa naik ke sini sendirian? Semua orang cari kamu," kata Stuart."Aku cuma ingin menikmati angin. Rasanya semua ini masih nggak nyata. Kita benar-benar berhasil." Keira menyipitkan mata. Senyuman tipis memenuhi wajahnya."Ya, kita berhasil." Stuart menatapnya dan ikut tersenyum.Dua tahun lalu, saat Keira dan seniornya mendirikan stud

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 18

    Sejak terbebas dari Robert, Keira menetap di wilayah selatan. Saat itu, setelah turun dari pesawat, seniornya sudah datang menjemput bersama anggota tim lainnya.Ketika berbicara tentang impian masing-masing, mata mereka semua berbinar penuh harapan.Pemandangan itu membuat Keira teringat pada dirinya yang dahulu. Kalau bukan karena Robert, seharusnya dia sudah melangkah bersama mereka sejak lama.Mereka makan bersama terlebih dahulu. Setelahnya, tanpa membuang waktu, mereka langsung mulai bekerja.Semua hal dalam studio yang baru dirintis harus dikerjakan sendiri. Mulai dari mencari lokasi, renovasi, pendaftaran perusahaan, hingga merekrut karyawan ....Proses membangun dari nol bukanlah hal yang mudah. Namun, Keira mengerjakan setiap hal dengan sungguh-sungguh. Dia tidak lagi memiliki waktu untuk memikirkan Robert.Mereka sibuk tanpa henti selama beberapa bulan. Akhirnya, kerangka awal studio itu pun terbentuk.Seniornya bertanya nama apa yang ingin digunakan. Setelah berpikir sejena

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status