مشاركة

Bab 8

مؤلف: Boni
Rasa sakit datang bergelombang seperti air pasang, membangunkan Keira dari kesadarannya yang samar.

Dengan susah payah dia membuka mata. Dia mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit, sementara para perawat sedang melakukan tindakan penyelamatan darurat.

"Pasien hamil dua bulan. Benturan pada bagian perut menyebabkan pendarahan hebat. Dia harus segera mendapatkan transfusi darah, tapi stok darah rumah sakit sudah dipindahkan oleh salah satu pemegang saham. Dokter, apa yang harus kita lakukan?"

Dokter segera mengambil keputusan. Dia langsung menyuruh seseorang menghubungi pemegang saham itu dan menjelaskan situasinya.

"Pak Robert, kami dengar Anda memindahkan persediaan darah rumah sakit. Di sini ada seorang pasien hamil yang mengalami kecelakaan lalu lintas dan sangat butuh transfusi darah. Bisa Anda kirim setengah dari persediaan itu ke sini? Kita harus selamatkan anaknya."

Dalam keadaan setengah sadar, Keira mendengar percakapan para tenaga medis itu. Secara refleks, dia memegangi perutnya yang masih terasa nyeri. Jadi ... dia hamil?

Pikiran itu terus berputar di benaknya. Sebelum dia sempat mencerna kenyataan itu, suara Robert terdengar dari pengeras suara telepon. "Nggak bisa."

"Tapi kondisi pasien ini sangat kritis. Kalau nunggu darah dari tempat lain, sudah nggak keburu ...."

"Jangan lupa rumah sakit ini milik siapa dan kalian bekerja untuk siapa. Kondisi Irena juga sangat mendesak. Nggak boleh ada kesalahan sedikit pun. Aku harus memastikan dia selamat!" Setelah mengucapkan kalimat dingin itu, Robert langsung menutup telepon.

Dokter masih mencoba menelepon kembali, tetapi ponselnya sudah dimatikan.

Mendengar semuanya dengan telinga sendiri, Keira merasa seluruh tubuhnya membeku. Dia menatap perutnya yang masih datar. Butiran keringat dingin menetes satu per satu dari wajahnya. Dari kejauhan, tampak seperti air mata.

Keira sudah terlalu lemah untuk menangis. Dia hanya bisa menutup mata dengan putus asa dan membiarkan dirinya ditelan kegelapan. Entah berapa lama kemudian, Keira perlahan terbangun.

Yang pertama dilihatnya adalah seorang perawat yang berdiri di samping tempat tidur.

"Bu ... maafkan kami ...." Perawat itu tampak ragu sebelum melanjutkan, "Anaknya nggak berhasil diselamatkan."

Tanpa sadar, Keira menyentuh perutnya yang rata. Anak itu ... diabaikan oleh ayahnya sendiri.

"Kamu masih muda. Pasti bisa punya anak lagi." Perawat itu mencoba menghibur.

Keira menggeleng pelan. Tidak akan ada lagi. Tidak akan pernah ada lagi.

"Kalau begitu ... teman pemegang saham rumah sakit ... berhasil diselamatkan nggak?" tanyanya dengan suara lirih.

Raut canggung melintas di wajah perawat. "Berhasil diselamatkan. Kami benar-benar minta maaf. Orang itu sangat penting bagi Pak Robert, jadi ...."

"Aku ngerti." Keira tersenyum tipis. "Orang yang sangat penting."

Lebih penting daripada istrinya. Lebih penting daripada anaknya.

Setelah perawat itu pergi, Keira mengeluarkan lembar tabel nilai yang sudah mulai menguning dari dalam tasnya.

Pada baris terakhir, dia menuliskan.

[ Demi Irena, dia mengorbankan anak kami. Potong lima poin. ]

Sampai di sini ... 100 poin akhirnya habis terpotong seluruhnya. Saat ujung pena menggores dan hampir merobek kertas itu, hatinya sudah benar-benar hancur.

Ketika kembali ke vila, hari sudah malam. Keira langsung berjalan ke ruang kerja. Dari laci paling bawah, dia mengeluarkan surat perjanjian cerai yang telah lama dia persiapkan.

Tanda tangannya tergores dengan mantap. Sikapnya jauh lebih tenang daripada yang pernah dia bayangkan.

Setelahnya, dia meletakkan surat perjanjian cerai dan tabel nilai yang telah habis seratus poin itu di atas meja kerja Robert.

Saat membereskan koper, dia berhenti sejenak di area pintu masuk. Kemudian, dia menoleh ke belakang untuk melihat rumah yang telah ditinggalinya selama tiga tahun terakhir.

Di atas meja makan masih ada setengah gelas air yang diminum Robert semalam. Di atas sofa masih tergeletak sweter hitam yang sering dipakainya. Bahkan di udara masih tersisa aroma parfum cemara yang biasa digunakan pria itu.

Keira menutup pintu perlahan. Kali ini ... dia tidak menoleh lagi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 23

    Setelah urusan Irena selesai, Robert mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mendapatkan kembali Keira. Setahunya, saat ini Keira masih belum menjalin hubungan dengan Stuart. Artinya, dia masih memiliki kesempatan.Kali ini, dia sudah memikirkannya dengan matang. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan pernah lagi mengkhianati Keira.Keira boleh membuat satu, seratus, bahkan seribu lembar tabel nilai. Dia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan satu poin pun lagi.Asalkan Keira bersedia, kalaupun dia harus menyerahkan seluruh perusahaan keluarga, dia pun rela.Robert berhasil menemukan alamat Studio Bulir Padi. Dengan membawa seikat bunga, dia mengetuk pintu."Permisi, apa Keira ada?" tanyanya dengan sopan.Tatapan orang-orang di dalam studio langsung berubah penuh selidik. Di antara mereka, sang senior berjalan mendekat dan menatapnya dengan ekspresi rumit."Kenapa kamu datang?" tanya senior itu.Robert mengenalnya. Dialah orang yang mendirikan studio bersama Keira setelah perceraian mer

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 22

    Robert maju selangkah lagi. Baik saat menerima hukuman keluarga maupun saat muak terhadap Irena, kapan pernah dia menunjukkan ketulusan seperti ini?Kini, setelah akhirnya bertemu kembali dengan orang yang selalu dirindukannya siang dan malam, dia hampir ingin mencungkil hatinya sendiri untuk diperlihatkan kepada Keira.Namun, penampilan seperti itu hanya membuat Keira merasa muak. Rasa jijik dan asing di matanya menusuk hati Robert tanpa ampun."Pak Robert, mohon jaga sikap. Kalau Keira berniat memaafkan Bapak, dia nggak akan menyembunyikan identitasnya selama ini. Meskipun aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian dulu, Keira adalah orang yang sangat baik. Aku rasa Bapak pasti telah melakukan sesuatu yang nggak bisa dimaafkan, sampai hubungan kalian berakhir seperti ini."Stuart berdiri di depan Keira pada saat yang tepat. Tatapannya juga sedingin es saat melontarkan sindiran itu tanpa basa-basi.Perkataan itu membuat tubuh Robert bergetar. Matanya makin merah. Dia memandang d

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 21

    Sejak wawancara itu ditayangkan, Robert segera menerima kabar tentang keberadaan Keira.Baru saat itulah dia tahu bahwa Keira kini tinggal di wilayah selatan. Seperti impian yang pernah Keira ceritakan dahulu, dia benar-benar telah mendirikan sebuah studio desain.Seperti orang yang kelaparan, Robert mulai mencari semua informasi tentang Studio Bulir Padi. Melalui itu, dia akhirnya mengetahui bagaimana kehidupan Keira selama satu tahun setelah meninggalkannya.Keira tidak terpuruk seperti dirinya. Sebaliknya, dia makin bersinar. Dia membangun studionya dari nol hingga kini menjadi nama yang dikenal luas di dunia desain.Robert menatap sosok wanita di bawah cahaya lampu tanpa berkedip. Dorongan di dalam hatinya makin sulit dikendalikan. Dia ingin memeluknya erat seperti dahulu. Namun, saat dia hampir melangkah mendekat, seseorang di sampingnya menarik lengannya."Robert ...." Irena menatapnya dengan tatapan memelas, memohon agar dia tetap tinggal.Namun, Robert bahkan tidak menoleh. Dia

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 20

    Keira menonton wawancara itu tanpa perubahan ekspresi.Sebagian besar isi wawancara membahas karya-karya Studio Bulir Padi. Hanya sebagian kecil yang menyinggung identitas Keira dan hubungannya dengan Robert.Setelah wawancara itu ditayangkan, topik itu sempat mendatangkan gelombang perhatian di internet. Namun, Keira hanya melihatnya sekilas, lalu kehilangan minat.Mungkin karena melihat reaksinya yang datar, Stuart berjalan mendekat. Di tangannya ada sebuah kartu undangan yang sengaja dia ayunkan di depan Keira.Sesuai dugaannya, mata wanita itu langsung berbinar. "Itu ...."Stuart tersenyum bangga. "Ya, baru diterima pagi ini."Keira segera merebut undangan itu. Dengan gembira, dia berputar satu kali sambil mengangkat undangan itu tinggi-tinggi.Undangan itu adalah tiket masuk ke lingkaran profesional dunia desain. Saat acara berlangsung nanti, bukan hanya tokoh paling berpengaruh di dunia desain yang akan hadir, tetapi juga kolektor dan pengusaha dari berbagai penjuru.Nama Studio

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 19

    Setelah minum bersama, Keira naik ke lantai dua untuk menikmati angin malam. Wajahnya sedikit merah karena alkohol, tetapi suasana hatinya sangat baik.Ini adalah tahun kedua sejak dia meninggalkan Robert. Dari rasa sakit dan kebingungan di awal, hingga sekarang dia tidak lagi terikat pada masa lalu. Dia benar-benar telah melepaskan pria itu.Dia tidak akan lagi merasa tak berdaya karena pria itu, meski hanya sedikit pun. Angin malam yang sejuk berembus pelan, mengibaskan rambut panjangnya. Pemandangan itu tampak seperti sebuah lukisan yang indah.Seseorang perlahan berjalan mendekat, lalu berdiri di sampingnya dan menyandarkan diri pada pagar balkon."Kenapa naik ke sini sendirian? Semua orang cari kamu," kata Stuart."Aku cuma ingin menikmati angin. Rasanya semua ini masih nggak nyata. Kita benar-benar berhasil." Keira menyipitkan mata. Senyuman tipis memenuhi wajahnya."Ya, kita berhasil." Stuart menatapnya dan ikut tersenyum.Dua tahun lalu, saat Keira dan seniornya mendirikan stud

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 18

    Sejak terbebas dari Robert, Keira menetap di wilayah selatan. Saat itu, setelah turun dari pesawat, seniornya sudah datang menjemput bersama anggota tim lainnya.Ketika berbicara tentang impian masing-masing, mata mereka semua berbinar penuh harapan.Pemandangan itu membuat Keira teringat pada dirinya yang dahulu. Kalau bukan karena Robert, seharusnya dia sudah melangkah bersama mereka sejak lama.Mereka makan bersama terlebih dahulu. Setelahnya, tanpa membuang waktu, mereka langsung mulai bekerja.Semua hal dalam studio yang baru dirintis harus dikerjakan sendiri. Mulai dari mencari lokasi, renovasi, pendaftaran perusahaan, hingga merekrut karyawan ....Proses membangun dari nol bukanlah hal yang mudah. Namun, Keira mengerjakan setiap hal dengan sungguh-sungguh. Dia tidak lagi memiliki waktu untuk memikirkan Robert.Mereka sibuk tanpa henti selama beberapa bulan. Akhirnya, kerangka awal studio itu pun terbentuk.Seniornya bertanya nama apa yang ingin digunakan. Setelah berpikir sejena

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status