LOGIN“Toni …” tegur Naura setengah hati saat pria itu kembali menyikap ujung roknya.“Sudah kubilang, aku akan memastikan diri untuk membuatmu terpuaskan,” tukas Toni sambil membelai lembut paha mulus Naura.“Tapi … apa kau tidak …” Belum sempat Naura menyelesaikan perkataannya, tangan Toni telah bermain dengan pusat hasrat di antara dua paha Naura.Naura mengerang lembut saat Toni memainkan jari jemarinya.“Tidak, aku tidak bosan dan tidak akan pernah puas,” ujar Toni lalu memanggut bibir Naura.Tidak seperti saat malam pertama mereka, Naura tampak ragu dan cemas. Ia lebih sering menutup tubuhnya saat Toni membelai lembut kulitnya. Bahkan, saat Toni mulai menanggalkan satu per satu pakaiannya, Naura yang berhasrat atas kecupan dan sentuhan lembut Toni berubah menjadi cemas. Bayangan Lucas yang selalu meninggalkannya saat ia mulai berhasrat terlintas dalam benaknya. Toni menyadari kece
‘Misteri kematian putra sulung Hans Werner’ atau ‘Alasan di balik sang cucu yang diasingkan’ begitulah para wartawan menuliskan kisah kelam Werner Group. Hiruk pikuk terjadi di Werner Group pusat, dering telepon tidak pernah berhenti dan para wartawan tidak beranjak sedikit pun dari gedung utama Werner Group.Meski pihak kepolisian telah menjelaskan melalui pers konferensi mengenai keterlibatan Desmond dan yang menjadi alat bukti keterlibatan pria itu, tetap saja itu tidak memberikan kepuasan terhadap wartawan.Seperti yang telah diprediksi oleh dewan direksi dan komisaris juga jajaran manajer, keterlibatan Desmond dalam kematian Arvin Werner menimbulkan rasa penasaran para wartawan mengenai posisi Desmond. Fakta mengenai Desmond yang merupakan pemilik saham terbesar kedua juga tidak dapat dialing-alingkan karena iti tercatat secara resmi di profile perusahaan.“Apakah ini karena perebutan kepemilikan perusahaan?” tanya salah seorang wartawan ke tim humas saat wawancara.“Mengenai hal
Aula yang dibangun khusus untuk rapat umum pemegang saham tahunan terisi penuh. Tidak ada satu kursi pun yang kosong, semua pemegang saham Warner Group dari yang terkecil hingga terbesar datang begitu pula jajaran direksi dan komisaris juga para manajer terkait.Sebagai objek pertemuan, Desmond duduk secara terpisah dengan Hans dan Toni yang mengapitnya sebagai CEO dan wakil CEO Werner Group.“Aku tidak menyangka kalian benar-benar bergerak cepat denganku tapi bergerak lambat pada Hans,” ujar Desmond lebih untuk menyindir orang-orang yang hadir di aula tersebut.Seorang pria tua yang rambutnya telah memutih semua menanggapi ujaran Desmond dengan tenang namun tegas.“Kasus yang melibatkan Hans tidak membuat Werner Group terseret ke ranah hukum, namun kasus yang melibatkanmu akan menyeret Werner Group ke ranah hukum pidana tindak pembunuhan,” tegas Rama, anggota komisaris paling
“Maaf, kami tidak bisa!” tolak Agung, mewakili politisi senior dari partai yang sama dengan Wildan.“Apa? Kenapa?” Desmond tidak pernah menyangka jika mereka menolak permintaan Desmond.“Kami tidak bisa melakukannya,” tagas Agung yang menjadi perwakilan untuk berbicara.“Kenapa? Sudah jelas Naura tidak layak untuk menjadi seorang dosen dengan dia yang dengan sengaja membawa pergi cucu Hans untuk jaminan keselamatan dirinya,” ujar Desmond berkeras hingga otot-otot di lehernya terlihat.“Sengaja?” ulang Agung sambil melirik ke ketiga rekannya.“Haruskah aku mengatakan dengan lugas?!”Agung dan ketiga rekannya hanya menatap Desmond yang marah dengan penolakan mereka. Seperti dugaan Naura, Desmond meminta mereka untuk menggunakan kekuasaannya membuat Naura di pecat tidak hormat sebagai dosen. Pemecatan tersebut diharapkan akan membuat Naura tidak layak sebagai calon istri dari Toni Werner sehingga ia dapat memperdebatkan lagi perihal Naura yang mendapatkan hak asuh Emir, cucu pertama Hans
“Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk bertemu kami,” kata Naura membuka pembicaraan.Toni telah mendapatkan daftar politisi Pasuruan yang dekat dengan Desmond tepat setelah pria itu datang mengacau di kampusnya. Dari pertemuan mereka, terlihat jelas jika pria itu ingin membuat Naura kehilangan leisensi sebagai pengajar bukan hanya di universitas Merdeka Pasuruan, tempat ia mengajar saat ini tetapi di semua universitas. Setelah memastikan agenda Desmond yang ternyata lebih memilih untuk bertemu dengan kontraktor dan tim pembangunan pabrik di Pasuruan, membuat Darwis satu langkah di depan dari pemilik saham terbesar kedua Werner Group itu.“Oh … tentu saja kami dengan senang hati meluangkan waktu untuk Mbak Naura yang cantik,” balas salah satu para politis tersebut.Gelak tawa menyambut kelakar politisi tersebut yang ditimpali oleh guyonan politis lainnya. Bahkan, mereka tidak segan me
“Desmond sedang menuju ke Pasuruan,” kata Toni saat mereka sedang menikmati sarapan pagi.“Apa? Kapan?”“Dia akan terbang dengan penerbangan sore,” jawab Tono sambil memasukkan satu suap potong roti ke mulutnya.Sejak kepulangan mereka dari Jakarta, Toni dan Naura juga Emir tinggal di hotel. Mereka menyewa tiga kamar dengan Darwis yang berkeran menolak untuk tinggal di kamar sendiri. Kesibukan membangun pabrik dan renovasi rumah membuat ia berkeras untuk tinggal satu kamar dengan Toni agar lebih mudah dalam mendiskusikan banyak hal terkait tanpa harus keluar masuk kamar yang berbeda.“Sebaiknya kau bersiap,” kata Toni mengingatkan Naura.“Tentu saja.” Sebagai pasangan yang akan segera menikah setelah semua dokumen pribadi Toni selessi di urus, baik Toni maupi Naura tidak lagi saling memberi jarak. Adakalanya Emir tidur di kamar Toni saat Naura harus menghabiskan waktu bersama dengan mahasiswanya hingga malam untuk konsultasi skripsi. “Bagaimana posisi Desmond?” tanya Naura.“Terjepi







