Share

Cinta yang Terkubur
Cinta yang Terkubur
Author: Xaviera

Bab 1

Author: Xaviera
Frida Maharani mengeluarkan ponselnya dan mengunggah sebuah status di media sosial. Tentu saja dengan menyembunyikannya dari Samuel Herdinata.

[Berniat ganti calon suami. Ada yang mau menikah? Ayo nikah sama aku.]

Tak butuh waktu lama, teman-temannya langsung membanjiri kolom komentar dengan nada bercanda.

[Sekarang lagi tren bercanda begini, ya? Frida, siapa pun yang diganti, kamu nggak akan mungkin mengganti Samuel. Siapa yang nggak tahu kalau kamu cinta mati padanya?]

[Benar! Kamu sudah suka padanya selama delapan tahun, dan akhirnya kalian akan segera sah. Mana mungkin kamu tega membuangnya begitu saja?]

Menatap komentar-komentar jenaka itu, Frida tersenyum getir menertawakan dirinya sendiri.

Ya, semua orang tahu betapa dia sangat mencintai Samuel.

Pertama kali dia bertemu pria itu adalah saat tahun pertama kuliah. Kala itu, Frida ditarik oleh teman sekelasnya untuk mendokumentasikan sebuah lomba debat.

Di dalam aula yang megah itu, pandangannya langsung terkunci pada sosok pemuda tampan di atas panggung yang tengah mematahkan argumen lawan-lawannya dengan begitu lihai.

Lensa kameranya membingkai mahasiswa kesayangan Fakultas Hukum itu. Di saat yang sama, wajah yang dingin dan rupawan tersebut terukir dalam-dalam di lubuk hatinya, tak pernah bisa terlupakan.

Setelah itu, Frida baru mengetahui bahwa Samuel adalah idola kampus yang membuat seluruh mahasiswi tergila-gila.

Namun, rumor mengatakan pria itu sangat dingin pada wanita. Tidak ada seorang pun yang bisa mencairkan es sedingin es di kutub utara itu.

Namun, Frida tidak menyerah. Dia mengejar pria itu dengan gigih dan pantang mundur.

Dia bergabung dengan organisasi yang diikuti Samuel, sengaja menghadiri kelas-kelas jurusannya, mencari cara agar bisa masuk ke dalam pesta yang dihadiri pria itu, hingga kerap menciptakan berbagai pertemuan tak sengaja.

Frida layaknya matahari kecil yang berputar di sekeliling Samuel selama 24 jam penuh. Sampai akhirnya, di hadapan tatapan iri semua orang, dia berhasil meluluhkan hati pria sedingin es itu.

Mereka berpacaran selama lima tahun. Seharusnya, perjalanan dari masa kuliah menuju pelaminan berjalan dengan alami dan bahagia.

Namun, Samuel sama sekali tidak pernah menyinggung soal pernikahan.

Orang tua Frida terus mendesak, sementara kesehatan sang kakek kian menurun. Satu-satunya keinginan terakhir kakek adalah melihatnya berkeluarga. Karena terdesak, barulah Frida memberanikan diri untuk membahas hal ini dengan Samuel.

Respons Samuel tetap datar. Dia hanya menjawab dengan acuh, "Kalau begitu, ayo kita menikah."

Tanpa prosesi lamaran, tanpa bunga, tanpa cincin pernikahan, dan tanpa janji suci. Namun, Frida menerima semuanya dengan suka cita.

Akan tetapi, saat pertama kali hendak mendaftarkan pernikahan mereka, dia menunggu seharian penuh tanpa melihat batang hidung Samuel. Begitu pulang ke rumah, dia hanya menerima penjelasan yang terucap begitu ringan.

"Pergelangan kaki junior satu bimbinganku terkilir. Aku harus mengantarnya pulang."

Saat janji pendaftaran kedua, Samuel kembali absen. Alasannya kali ini adalah menghadiri pesta ulang tahun sang adik tingkat karena diundang.

Kali ketiga, Frida bahkan sudah menariknya hingga ke depan pintu KUA. Namun, hanya karena sebuah panggilan telepon, Samuel langsung berbalik pergi ke bar untuk menjemput adik tingkatnya yang mabuk, dan lagi-lagi mencampakkan Frida.

Frida tidak habis pikir. Mengapa seorang pria yang terkenal antipati pada wanita, bahkan selalu bersikap dingin pada kekasihnya sendiri, bisa begitu perhatian dan peduli pada seorang adik tingkat?

Samuel tidak tahan dengan bau parfum. Setiap kali Frida memakai parfum, Samuel pasti akan langsung menjaga jarak darinya. Namun, ketika si adik tingkat memakai parfum, Samuel justru betah berada di dekatnya.

Samuel melarang siapa pun makan di dalam mobilnya. Saat kadar gula darah Frida drop dan dia memakan sepotong biskuit, Samuel langsung membentaknya dengan keras. Namun, sang adik tingkat bisa makan camilan di dalam mobilnya dengan bebas tanpa aturan.

Lambat laun, hati Frida mulai mendingin dan lelah.

Hingga dua bulan lalu, dia bermimpi bahwa dunia yang mereka tinggali ini adalah sebuah novel romantis.

Samuel dan si adik tingkat, Kamila Adisti, adalah tokoh utama pria dan wanita di dunia ini.

Sementara dirinya hanyalah karakter tambahan, seorang pemeran sampingan wanita yang bertugas menjadi pengganggu hubungan mereka.

Oleh karena itu, tidak peduli berapa kali pun dia pergi ke KUA, Frida tidak akan pernah bisa menikah dengan Samuel.

Frida tidak bisa menerima kenyataan itu. Dia terus mencoba mendaftarkan pernikahan berkali-kali, tetapi selalu pulang dengan kekecewaan yang sama.

Setelah Samuel absen untuk yang kelima puluh dua kalinya, hatinya benar-benar mati. Dia akhirnya memercayai ramalan dunia mimpi tersebut.

Frida menghentikan sebuah taksi. Baru saja dia naik, ponselnya berdenting beberapa kali.

[Aku mau.]

Saat membuka pesan itu, Frida langsung tertegun. Ternyata adik laki-laki dari sahabatnya yang membalas status tersebut.

Sebelum dia sempat mencerna keadaan, sebuah panggilan telepon langsung masuk.

"Kak, kalau kamu mau ganti pengantin pria, apa boleh aku saja?"

Sejak berkuliah di Kota Kiskan, Frida jarang pulang ke rumah.

Dia dan sahabatnya, Merry Agata, hanya bertemu tiga atau empat kali dalam setahun. Sedangkan dengan adiknya, Marsel, dia hampir tidak pernah bertemu sama sekali.

Dalam ingatannya, Marsel masih menjadi sosok adik laki-laki berusia lima belas tahun yang duduk di bangku SMP.

Karena itu, mendengar permintaan tersebut, Frida sempat kesulitan menerima dan berulang kali menegaskan bahwa dia tidak sedang bercanda.

Namun, Marsel justru terkekeh pelan. Tawanya terdengar matang dan tegas, watak yang jarang dimiliki pemuda seusianya.

"Kak, aku juga nggak sedang bercanda. Aku benar-benar pengin menikah."

Frida masih merasa ragu, tetapi nada bicara pemuda itu sangat tulus dan tidak terdengar seperti kebohongan. Di sisi lain, dia memang sedang terdesak dan tidak memiliki pilihan lain. Sembari menggigit bibir, Frida akhirnya menyetujuinya.

"Oke, aku butuh beberapa hari untuk menyelesaikan urusan di sini. Setelah selesai dan aku kembali ke Kota Halua, kita langsung ke KUA!"

Sesampainya di rumah, Frida baru saja selesai menghapus riasannya ketika Samuel juga pulang.

Pria itu masih mempertahankan raut wajahnya yang berjarak dan tenang, suaranya terdengar sedingin es.

"Hari ini lampu gantung di kantor jatuh dan kena Kamila. Aku harus membawanya ke rumah sakit, makanya nggak sempat ke KUA. Pilih tanggal lain saja, kita pergi lagi lain kali."

Samuel menjelaskan semuanya dengan begitu enteng. Tanpa rasa bersalah, apalagi kata maaf.

Pria itu seolah sangat yakin bahwa Frida tidak akan pernah bisa marah kepadanya.

Dalam hubungan ini, selalu Frida yang mencintai lebih dalam dan berkorban lebih banyak.

Sementara Samuel, sejak awal hingga akhir, selalu menjadi sosok penguasa yang mengendalikan segalanya.

Semua orang mengira Frida akan selalu berkompromi dan patuh demi cinta yang tak terbatas.

Namun kali ini, Frida memilih untuk melepaskannya.

Dia tidak marah, melainkan memberi tahu Samuel dengan sangat tenang, "Nggak perlu. Jaga saja juniormu itu baik-baik. Aku sudah janji untuk ke KUA dengan orang lain."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Terkubur   Bab 24

    Samuel bertahan di dalam mobil sepanjang malam. Keesokan harinya, dia menunggu satu hari penuh hingga akhirnya pada malam hari, dia melihat Frida dan Marsel keluar dari hotel.Frida tampak sangat bahagia sambil menggandeng tangan Marsel. Keintiman di antara keduanya, menciptakan atmosfer yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Sepasang pria tampan dan wanita cantik itu, menjadi pusat perhatian di jalanan. Sementara Samuel hanya bisa bersembunyi di sudut yang gelap, mengintip kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.Jika saja dulu saat Kamila muncul, dia tidak membiarkan hatinya goyah dan tetap setia pada Frida, maka orang yang berdiri di samping wanita itu sekarang adalah dirinya. Dia telah kehilangan orang yang paling mencintainya hanya demi ego sesaat.Marsel sangat peka dengan sekitar. Menyadari ada yang mengintai, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim sebuah pesan singkat. Lalu dia tetap bersikap biasa sambil menggandeng Frida, meski tubuhnya mendadak menegang waspad

  • Cinta yang Terkubur   Bab 23

    Samuel masih ingin melihat Frida untuk terakhir kalinya. Setelah mengetahui Frida dan Marsel sedang berbulan madu di luar negeri, dia langsung membeli tiket pesawat untuk menyusul.Namun begitu turun dari pesawat, dia menerima banyak pesan. Polisi telah menemukan jenazah Kamila. Karena rambut dan sidik jarinya ditemukan di lokasi kejadian, polisi bersiap menangkapnya dan mengirim pesan menyuruhnya menyerahkan diri.Samuel langsung mencopot kartu ponselnya dan membuangnya ke dalam toilet. Setelah melakukan penyamaran sederhana di kamar mandi, dia keluar dan memanggil taksi, lalu memberikan seonggok uang tunai kepada sopir untuk mengantarnya ke tempat penyewaan mobil ilegal. Melihat uang yang tebal, sopir taksi langsung mengantarnya ke sana. Setelah negosiasi singkat, dia berhasil mendapatkan mobil ilegal tanpa identitas. Dia memasukkan titik tujuan dan langsung berkendara menuju lokasi Frida...."Baik, saya paham. Jika melihatnya, saya akan langsung menghubungi polisi." Di tempat

  • Cinta yang Terkubur   Bab 22

    Samuel yang lukanya belum sembuh terpaksa mengurus masalah firma hukumnya dengan tubuh yang sakit. Setelah urusan selesai, karier yang dibangunnya bertahun-tahun hancur total, bahkan izin pengacaranya pun hampir dicabut.Dia terus menyelidiki dalang di balik semua ini hingga menerima sebuah rekaman video misterius. Dari sana dia tahu bahwa ini semua adalah ulah Kamila. Saat dia tertidur di rumah sakit, gadis itu membawa orang untuk mencuri data di ponselnya."Kamila, aku akan membunuhmu!" Pada saat ini, kebenciannya pada Kamila mencapai puncaknya.Dia baru keluar dari rumah sakit sebulan kemudian. Sejak tahu dalang di balik kehancurannya adalah Kamila, setiap hari dia merencanakan balas dendam. Setelah memikirkan berbagai cara selama sebulan, Samuel akhirnya memilih jalan yang paling cepat.Setelah membuntuti Kamila selama dua hari, dia memilih malam yang gelap untuk memukul gadis itu hingga pingsan. Memasukkannya ke dalam karung, lalu membawanya ke sebuah gudang tua yang sudah dia

  • Cinta yang Terkubur   Bab 21

    "Halo?" Suara Frida terdengar dari seberang telepon. Seketika Samuel merasa waktu seolah berjalan mundur, dan air matanya hampir menetes. "Frida, ini aku. Tolong jangan ditutup dulu, dengarkan penjelasanku, ya? Aku mimpi sesuatu, di dalam mimpi itu, kita berada di dalam sebuah buku." Samuel memohon dengan sangat rendah hati agar Frida mau mendengarkannya.Di seberang sana, Frida yang mendengar suara Samuel, sebenarnya berniat langsung menutup telepon. Namun, mendengar perkataan pria itu, dia mengurungkan niatnya. Dia tiba-tiba teringat, jika hal ini ketahuan oleh Marsel, dia pasti harus memutar otak lagi untuk membujuk suaminya yang sangat mudah cemburu itu. Setelah pernikahan selesai waktu itu saja, dia butuh waktu lama untuk menenangkan Marsel di rumah. Pria itu bahkan terus menggunakan masalah itu untuk bermanja-manja dan meminta perhatiannya, hingga rencana bulan madu mereka harus tertunda lama karena ulah manjanya setiap hari."Frida, apa kamu juga mimpi hal yang sama? Di dal

  • Cinta yang Terkubur   Bab 20

    Saat Samuel terbangun, Kamila sudah tidak ada. Setelah mengurus administrasi keluar dari rumah sakit, dia langsung naik taksi untuk pulang. Langit tampak mendung pekat dan angin kencang menggulung awan hitam, pertanda badai besar akan segera datang. Saat melewati sebuah persimpangan, sebuah truk yang hilang kendali tiba-tiba menghantam taksi yang ditumpangi Samuel.Samuel merasa tubuhnya seperti diguncang hebat dalam mesin cuci, sementara pecahan kaca menyayat wajahnya. Pandangannya berputar sebelum akhirnya dia terjebak di bawah badan mobil. Mobil itu mulai memercikkan api dan tercium bau bensin yang menyengat, tetapi karena terluka parah, dia tidak bisa bersuara. Orang-orang yang melintas segera menelepon ambulans dan polisi, sementara beberapa warga yang baik hati berusaha menolong.Hujan deras mulai turun membasahi wajahnya. Dalam hati, dia hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu akrab dengan rumah sakit belakangan ini. Jalanan menjadi sangat kacau, pecahan kaca berserakan,

  • Cinta yang Terkubur   Bab 19

    Setibanya di Kota Kiskan, Samuel segera menyelidiki peristiwa yang terjadi belakangan ini. Melihat dokumen di tangannya, dia merasa sangat kesepian. Baru sekarang dia menyadari betapa fatal kesalahan yang telah diperbuatnya.Melihat foto pernikahan Frida yang didapatnya dari orang lain, serta senyum bahagia di wajah wanita itu, penyesalan mendalam merayapi hati Samuel. Kebahagiaan itu seharusnya menjadi miliknya.Setelah mengirimkan pesan pemecatan Kamila ke firma hukumnya, dia mengurung diri di rumah dan minum alkohol sepanjang hari untuk melupakan kesedihan.Hingga suatu hari, rekan kerjanya di firma hukum tidak bisa menghubunginya. Saat mendatangi rumah Samuel, rekan kerjanya menemukan Samuel sudah tidak sadarkan diri akibat keracunan alkohol. Karena panik, rekannya segera menelepon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.Saat terbangun, Samuel hanya bisa menatap kosong dinding ruang rawat yang putih. Dulu, setiap kali dia sakit dan dirawat, Frida selalu sibuk mengurus dan meraw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status