Share

Bab 6

Author: Xaviera
Frida tidak tahu, dia hanya merasa napasnya agak sesak.

Dia tidak ingin tinggal di sini lebih lama lagi, lalu bangkit berdiri dan meninggalkan kantor.

Namun, Kamila mengejarnya dan menariknya di ujung tangga.

"Kak Frida, kamu kenapa? Apa aku baru saja salah bicara?"

"Nggak, serahkan saja dokumen ini padanya. Aku agak kurang sehat, mau pulang untuk istirahat."

Frida menjelaskan beberapa patah kata dan ingin melepaskan diri, tetapi Kamila tidak mau melepaskan tangannya.

"Tunggu sebentar lagi, Kak Samuel sebentar lagi keluar ...."

Baru saja selesai berbicara, pintu ruang kerja didorong terbuka.

Begitu melihat sekilas sosok yang muncul di ambang pintu, Kamila bergegas melepaskan tangannya yang berada di tubuh Frida.

Dia memantapkan hatinya, lalu langsung memejamkan mata dan menjatuhkan tubuhnya ke belakang.

Suara tubuhnya yang menghantam lantai bercampur dengan suara jeritan nyaring, bergema di seluruh penjuru firma hukum.

Frida menatap Kamila yang tiba-tiba jatuh dari tangga, seketika terpaku di tempat.

Sebelum dia sempat memahami apa yang terjadi, dia sudah didorong dengan kasar oleh Samuel hingga menabrak dinding.

Bagian atas kepalanya membentur dinding hingga robek dan berdarah. Darah yang merah pekat merembes ke sela-sela rambutnya, terasa basah dan hangat.

Dia kesakitan hingga tidak bisa menegakkan tubuhnya, hanya merasa kepalanya seperti mau pecah, dengan rasa nyeri yang berdenyut tiada henti.

Frida memegangi lukanya. Begitu mendongak, dia melihat punggung Samuel yang sedang menggendong Kamila pergi.

Ekspresi di wajah pria itu dan tindakannya yang tergesa-gesa adalah kepanikan luar biasa yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Tepat pada saat ini, Frida seolah-olah melihat pemandangan dalam mimpi buruknya terulang kembali, dan rasa dingin kembali merembes berlapis-lapis di sekujur tubuhnya.

Keringat dingin mengalir melewati lukanya, menimbulkan rasa perih yang menyengat.

Dia bertumpu pada dinding untuk berdiri dengan susah payah, lalu pulang ke rumah dengan wajah yang pucat pasi.

Pikirannya sangat kacau. Dia membutuhkan waktu yang sangat lama baru bisa menenangkan hatinya dan mengembalikan akal sehatnya.

Setelah mengobati lukanya di depan cermin, dia menerima telepon dari Marsel.

"Kak, apa urusanmu sudah hampir selesai? Pesawatnya hari apa? Aku akan menjemputmu."

Selama masa rawat inap di rumah sakit, Frida sudah membeli tiket pesawat.

Mengingat dia dan Marsel kelak akan menikah, dia juga tidak menyembunyikannya dan memberi tahu waktu keberangkatannya kepada pria itu.

"Pesawatnya lusa jam tiga sore."

Belum sempat suaranya mereda, Samuel mendorong pintu dan melangkah masuk, lalu menatapnya dengan intens.

"Pesawat? Kamu mau pergi ke mana?"

Frida mematikan teleponnya, lalu menjawabnya dengan jujur, "Pulang ke Kota Halua."

"Kamu kangen Ayah dan ibumu? Pulang untuk menjenguk juga bagus. Aku nggak ada urusan beberapa hari ini, aku akan menemanimu pulang bersama."

Frida terdiam, tidak menjawab.

Pria itu menyadari ada yang tidak beres. Dia mendekat dan melihat perban di dahi wanita itu, alisnya sedikit mengernyit.

"Waktu itu, aku nggak sengaja. Apa lukanya parah?"

Samuel melangkah maju dengan cepat, tampaknya ingin memeriksa kondisi lukanya.

Frida mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dengannya, nada suaranya agak kaku saat berkata, "Aku nggak apa-apa, aku masih mau mandi."

Setelah berbicara, dia langsung berbalik pergi ke kamar mandi, tidak sudi meliriknya lagi.

...

Keesokan harinya, saat Frida terbangun, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, tetapi Samuel ternyata belum pergi bekerja.

Pria itu telah menyiapkan susu, memintanya untuk sarapan bersama.

Frida memang lapar, jadi dia duduk dan mengangkat cangkir susunya.

Samuel menyodorkan roti panggang yang baru saja matang ke hadapannya, suaranya terdengar lembut dan datar.

"Hari ini kamu harusnya nggak bekerja, ‘kan? Aku sedang menangani sebuah kasus KDRT dan mau minta bantuanmu."

Mendengar hal itu, Frida mendongak, matanya memancarkan rasa heran.

"Aku membantumu?"

Samuel mengangguk, lalu menceritakan kronologi kejadiannya secara perlahan.

"Beberapa hari yang lalu kami menerima kasus KDRT. Korbannya adalah seorang wanita hamil yang mau menggugat cerai. Tapi dia ditahan suaminya dan tidak bisa keluar rumah. Kami berencana datang ke rumahnya untuk menyelidiki situasinya. Karena suaminya sangat pemarah, kami membutuhkan seorang fotografer untuk mendampingi untuk membantu merekam seluruh proses negosiasi agar bisa dijadikan sebagai bukti gugatan."

Sembari menjelaskan, dia memperlihatkan pesan permintaan tolong dari wanita hamil itu kepadanya.

Melihat bekas luka yang mengerikan di sekujur tubuh wanita hamil dalam foto tersebut, rasa iba di hati Frida pun muncul, lalu dia menyetujuinya.

Setelah selesai sarapan, dia mengikuti Samuel pergi ke rumah korban bersama-sama.

Baru saja tiba di depan gerbang kompleks perumahan, Kamila tiba-tiba muncul.

Begitu melihat gadis itu, wajah Samuel langsung mendingin, nada suaranya terdengar serius.

"Anak magang nggak perlu melakukan tugas lapangan, untuk apa kamu datang?"

Kamila berlari menghampiri sambil melompat-lompat kecil dengan wajah yang tampak polos tanpa dosa.

"Aku tahu, tapi wanita hamil itu terlalu kasihan, aku pengin membantunya. Aku juga seorang wanita, pasti ada banyak hal yang bisa kutanyakan padanya daripada Kakak. Kak, ajak aku pergi bersama dong!"

Samuel mengernyitkan alis, lalu terpaksa membawanya ikut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Terkubur   Bab 24

    Samuel bertahan di dalam mobil sepanjang malam. Keesokan harinya, dia menunggu satu hari penuh hingga akhirnya pada malam hari, dia melihat Frida dan Marsel keluar dari hotel.Frida tampak sangat bahagia sambil menggandeng tangan Marsel. Keintiman di antara keduanya, menciptakan atmosfer yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Sepasang pria tampan dan wanita cantik itu, menjadi pusat perhatian di jalanan. Sementara Samuel hanya bisa bersembunyi di sudut yang gelap, mengintip kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.Jika saja dulu saat Kamila muncul, dia tidak membiarkan hatinya goyah dan tetap setia pada Frida, maka orang yang berdiri di samping wanita itu sekarang adalah dirinya. Dia telah kehilangan orang yang paling mencintainya hanya demi ego sesaat.Marsel sangat peka dengan sekitar. Menyadari ada yang mengintai, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim sebuah pesan singkat. Lalu dia tetap bersikap biasa sambil menggandeng Frida, meski tubuhnya mendadak menegang waspad

  • Cinta yang Terkubur   Bab 23

    Samuel masih ingin melihat Frida untuk terakhir kalinya. Setelah mengetahui Frida dan Marsel sedang berbulan madu di luar negeri, dia langsung membeli tiket pesawat untuk menyusul.Namun begitu turun dari pesawat, dia menerima banyak pesan. Polisi telah menemukan jenazah Kamila. Karena rambut dan sidik jarinya ditemukan di lokasi kejadian, polisi bersiap menangkapnya dan mengirim pesan menyuruhnya menyerahkan diri.Samuel langsung mencopot kartu ponselnya dan membuangnya ke dalam toilet. Setelah melakukan penyamaran sederhana di kamar mandi, dia keluar dan memanggil taksi, lalu memberikan seonggok uang tunai kepada sopir untuk mengantarnya ke tempat penyewaan mobil ilegal. Melihat uang yang tebal, sopir taksi langsung mengantarnya ke sana. Setelah negosiasi singkat, dia berhasil mendapatkan mobil ilegal tanpa identitas. Dia memasukkan titik tujuan dan langsung berkendara menuju lokasi Frida...."Baik, saya paham. Jika melihatnya, saya akan langsung menghubungi polisi." Di tempat

  • Cinta yang Terkubur   Bab 22

    Samuel yang lukanya belum sembuh terpaksa mengurus masalah firma hukumnya dengan tubuh yang sakit. Setelah urusan selesai, karier yang dibangunnya bertahun-tahun hancur total, bahkan izin pengacaranya pun hampir dicabut.Dia terus menyelidiki dalang di balik semua ini hingga menerima sebuah rekaman video misterius. Dari sana dia tahu bahwa ini semua adalah ulah Kamila. Saat dia tertidur di rumah sakit, gadis itu membawa orang untuk mencuri data di ponselnya."Kamila, aku akan membunuhmu!" Pada saat ini, kebenciannya pada Kamila mencapai puncaknya.Dia baru keluar dari rumah sakit sebulan kemudian. Sejak tahu dalang di balik kehancurannya adalah Kamila, setiap hari dia merencanakan balas dendam. Setelah memikirkan berbagai cara selama sebulan, Samuel akhirnya memilih jalan yang paling cepat.Setelah membuntuti Kamila selama dua hari, dia memilih malam yang gelap untuk memukul gadis itu hingga pingsan. Memasukkannya ke dalam karung, lalu membawanya ke sebuah gudang tua yang sudah dia

  • Cinta yang Terkubur   Bab 21

    "Halo?" Suara Frida terdengar dari seberang telepon. Seketika Samuel merasa waktu seolah berjalan mundur, dan air matanya hampir menetes. "Frida, ini aku. Tolong jangan ditutup dulu, dengarkan penjelasanku, ya? Aku mimpi sesuatu, di dalam mimpi itu, kita berada di dalam sebuah buku." Samuel memohon dengan sangat rendah hati agar Frida mau mendengarkannya.Di seberang sana, Frida yang mendengar suara Samuel, sebenarnya berniat langsung menutup telepon. Namun, mendengar perkataan pria itu, dia mengurungkan niatnya. Dia tiba-tiba teringat, jika hal ini ketahuan oleh Marsel, dia pasti harus memutar otak lagi untuk membujuk suaminya yang sangat mudah cemburu itu. Setelah pernikahan selesai waktu itu saja, dia butuh waktu lama untuk menenangkan Marsel di rumah. Pria itu bahkan terus menggunakan masalah itu untuk bermanja-manja dan meminta perhatiannya, hingga rencana bulan madu mereka harus tertunda lama karena ulah manjanya setiap hari."Frida, apa kamu juga mimpi hal yang sama? Di dal

  • Cinta yang Terkubur   Bab 20

    Saat Samuel terbangun, Kamila sudah tidak ada. Setelah mengurus administrasi keluar dari rumah sakit, dia langsung naik taksi untuk pulang. Langit tampak mendung pekat dan angin kencang menggulung awan hitam, pertanda badai besar akan segera datang. Saat melewati sebuah persimpangan, sebuah truk yang hilang kendali tiba-tiba menghantam taksi yang ditumpangi Samuel.Samuel merasa tubuhnya seperti diguncang hebat dalam mesin cuci, sementara pecahan kaca menyayat wajahnya. Pandangannya berputar sebelum akhirnya dia terjebak di bawah badan mobil. Mobil itu mulai memercikkan api dan tercium bau bensin yang menyengat, tetapi karena terluka parah, dia tidak bisa bersuara. Orang-orang yang melintas segera menelepon ambulans dan polisi, sementara beberapa warga yang baik hati berusaha menolong.Hujan deras mulai turun membasahi wajahnya. Dalam hati, dia hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu akrab dengan rumah sakit belakangan ini. Jalanan menjadi sangat kacau, pecahan kaca berserakan,

  • Cinta yang Terkubur   Bab 19

    Setibanya di Kota Kiskan, Samuel segera menyelidiki peristiwa yang terjadi belakangan ini. Melihat dokumen di tangannya, dia merasa sangat kesepian. Baru sekarang dia menyadari betapa fatal kesalahan yang telah diperbuatnya.Melihat foto pernikahan Frida yang didapatnya dari orang lain, serta senyum bahagia di wajah wanita itu, penyesalan mendalam merayapi hati Samuel. Kebahagiaan itu seharusnya menjadi miliknya.Setelah mengirimkan pesan pemecatan Kamila ke firma hukumnya, dia mengurung diri di rumah dan minum alkohol sepanjang hari untuk melupakan kesedihan.Hingga suatu hari, rekan kerjanya di firma hukum tidak bisa menghubunginya. Saat mendatangi rumah Samuel, rekan kerjanya menemukan Samuel sudah tidak sadarkan diri akibat keracunan alkohol. Karena panik, rekannya segera menelepon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.Saat terbangun, Samuel hanya bisa menatap kosong dinding ruang rawat yang putih. Dulu, setiap kali dia sakit dan dirawat, Frida selalu sibuk mengurus dan meraw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status