Short
Ketika Hujan Tak Lagi Reda

Ketika Hujan Tak Lagi Reda

By:  TedyKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
22Mga Kabanata
1views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Baru setelah membaca catatan harian di akun anonim milik Juan Biantara tentang pertemuan kembali setelah sekian lama, Olivia Nismara akhirnya sadar bahwa selama tiga tahun pernikahan mereka, pria itu ternyata selalu mencintai adiknya. Di hari ketika dokter memvonis usianya tidak akan bertahan lebih dari sebulan, Juan justru sedang menghadiri acara makan hotpot bersama sang cinta sejati, yang juga adik Olivia. Dia membalikkan ponsel dan membiarkan panggilan dari Olivia terabaikan di atas meja dengan santai. Juan berkata, "Melda jarang pulang. Bulan ini aku mau lebih banyak menemaninya." Saat Olivia menjalani kemoterapi hingga muntah dan pingsan, Juan menulis di buku hariannya, [Aku mengajaknya berjalan di sepanjang jalan rindang di almamater kami. Rasanya seperti kembali ke masa lalu.] Ketika rasa sakit membuat Olivia sampai memuntahkan darah di hadapannya, pria itu malah pergi tergesa-gesa. "Anjing peliharaan Melda sakit. Aku harus membawanya ke dokter." Malam pergantian tahun, Olivia meninggal sendirian di kamar rumah sakit. Sementara Juan sedang bersulang bersama keluarganya di bawah gemerlap kembang api. Saat membuka mata lagi, Olivia mendapati dirinya kembali ke titik balik takdirnya. Juan menerobos hujan dengan mata memerah, berusaha meraih dirinya. "Olivia, di kehidupan ini aku nggak bakal mengecewakanmu lagi!" Namun, Olivia hanya berbalik dengan tenang. "Tuan Juan, permisi. Kehidupanmu itu, aku nggak berniat ikut menjalaninya lagi."

view more

Kabanata 1

Bab 1

"Sebulan, kurasa bahkan nggak bakal bertahan sampai lewat tahun baru."

Dokter melepaskan hasil rontgen dari layar, lalu menatap Olivia yang duduk di hadapannya. "Nona Olivia, kondisimu memburuk lebih cepat dari perkiraan kami. Sebaiknya anggota keluarga datang ke sini. Ada beberapa hal yang perlu didiskusikan bersama. Pengobatan lanjutan dan perawatan ke depannya nggak mungkin kau tangani sendirian."

Olivia mengangkat pandangan.

"Aku nggak punya keluarga," ujarnya.

Dokter terdiam sesaat. "Tapi di data medis tertulis suamimu, Juan ...."

"Itu dulu," potong Olivia, "sekarang aku sendirian."

Dokter terpaku beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi diurungkan. Dia kembali mengetik di komputer.

"Dosis obat pereda nyerinya aku tingkatkan dua kali lipat. Kalau sakitnya nggak tertahankan, langsung minum, jangan ditahan." Sang dokter menyerahkan resep obat. "Suplemen nutrisi diminum dua kali sehari, pagi dan malam. Minggu depan wajib kontrol lagi, kami perlu menyesuaikan pengobatan."

"Baik."

Olivia mengangguk, lalu keluar.

Dia menunduk melihat ponselnya.

Layar menyala. Kolom notifikasi bersih kosong, hanya ada satu pemberitahuan cuaca.

Tidak ada panggilan tidak terjawab. Tidak ada pesan baru.

Olivia naik bus dan menyandarkan tubuh di kursi, lalu memejamkan mata.

Saat bus melewati pusat perbelanjaan kota, di balik kabut hujan samar-samar terlihat papan neon merah dari restoran hotpot terkenal.

Di balik dinding kaca besar, suasana tampak terang dan ramai.

Tubuh Olivia mendadak kaku.

Dia sangat mengenal empat orang yang duduk di meja dekat jendela itu.

Juan mengenakan kemeja abu-abu yang pagi tadi baru saja Olivia setrika untuknya. Pria itu sedang menoleh ke samping sambil mengatakan sesuatu, senyum lembut penuh kasih terpancar di wajahnya.

Di sampingnya, duduk Melda yang baru kembali dari luar negeri setelah tiga tahun.

Di seberang mereka ada kedua orang tua Olivia.

Ayahnya sedang mengambilkan makanan untuk Melda dengan gerakan yang begitu alami dan terbiasa, sementara ibunya tersenyum sambil mengatakan sesuatu, matanya melengkung indah seperti bulan sabit.

Senyum tulus tanpa beban itu sudah tiga tahun tidak pernah Olivia lihat.

Keempatnya duduk mengelilingi panci hotpot yang mengepul hangat. Kuah merah pedas di dalamnya terus membentuk gelembung-gelembung kecil. Mangkuk kecil di depan Melda bahkan sudah menumpuk penuh makanan.

Bus melambat perlahan dan berhenti di persimpangan. Lampu merah menyala.

Olivia mengeluarkan ponsel. Di daftar kontak, nama Juan berada paling atas.

Nada sambung terdengar dari telepon. Tut ... tut ... tut ....

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Di dalam restoran, layar ponsel Juan yang tergeletak di meja menyala.

Dia melirik sekilas.

Lalu membalik ponselnya menghadap ke bawah dengan santai.

Setelah itu, dia kembali menoleh ke Melda, menerima minuman yang disodorkan wanita itu, lalu mengatakan sesuatu yang membuat Melda tertawa makin riang.

Olivia memutus sambungan. Menelepon lagi.

Jarinya terus mengulang gerakan yang sama seperti mesin, tutup telepon, panggil lagi, tutup telepon, panggil lagi.

Lampu merah masih tersisa tiga puluh detik.

Di dalam restoran, ayahnya sedang mengangkat ponsel untuk berfoto.

Empat orang itu merapat bersama. Juan di kiri, Melda di kanan, kedua orang tua mereka di belakang. Melda membentuk pose V sambil tersenyum manis ke arah kamera.

Klik.

Olivia menurunkan ponselnya.

Seharusnya dia sudah menyadari semuanya sejak lama.

Sejak tiga bulan lalu, ketika dia menemukan akun anonim Juan. Sejak pria itu menulis, hari pertama bertemu kembali setelah lama berpisah. Sejak setiap hari Juan mulai mencatat hal-hal kecil tentang dirinya bersama wanita lain.

Lampu hijau menyala.

Bus kembali berjalan perlahan.

Olivia menyandarkan kepala ke jendela. Kaca terasa dingin menusuk.

Dia mengangkat tangan, lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangan.

Dia teringat tiga tahun lalu, di hari keluarganya bangkrut.

Waktu itu juga sore hujan seperti ini. Orang tuanya menyelipkan buku tabungan terakhir kepada Melda sambil berkata, "Melda, bawa ini. Pergilah kuliah di luar negeri dengan tenang, jangan khawatir soal keluarga."

Melda menangis sambil memeluk ibunya. "Ibu, aku pasti bakal merindukan kalian."

Ayahnya menepuk pundaknya lembut. "Anak bodoh, jaga dirimu baik-baik."

Sementara Olivia hanya berdiri di ambang pintu dengan ransel lusuh di punggungnya. Di dalam tas itu cuma ada beberapa setel pakaian ganti. Tidak seorang pun memandangnya. Tidak seorang pun mengatakan sepatah kata pun padanya.

Kemudian, hujan turun makin deras. Dia berjalan keluar dari rumah yang telah ditinggalinya selama dua puluh tahun itu seorang diri. Tanpa payung. Seluruh tubuhnya basah kuyup.

Saat Juan menemukannya dengan mobil, dia sedang meringkuk di halte bus sambil menggigil kedinginan.

Pria itu turun tergesa-gesa, menyampirkan jaket ke tubuhnya, lalu berkata, "Olivia, pulanglah bersamaku."

Suara pengumuman di bus menarik Olivia kembali dari ingatan.

Dia membuka mata. Bus sudah kosong, hanya sopir yang menoleh menatapnya.

"Nona, sudah sampai."

Olivia mengambil kantong obatnya, lalu turun dari bus.

Rumah dalam keadaan gelap, tetapi lampu sensor di area pintu masuk otomatis menyala. Dia mengganti sepatu dan meletakkan kantong obat di atas lemari sepatu. Pandangannya jatuh pada dinding di samping.

Foto pernikahan mereka masih tergantung di sana.

Di foto itu, Juan merangkul bahunya dengan senyum tipis dan tatapan lembut.

Olivia menatap foto tersebut cukup lama sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.

Lampu dapur masih menyala.

Dia berjalan mendekat. Benar saja, lampu penghangat penanak nasi masih menyala. Saat tutupnya dibuka, di dalamnya ada bubur putih hangat yang dimasak dengan sempurna, butiran nasinya lembut dan halus.

Di sampingnya tertempel secarik catatan, [Akhir-akhir ini kau sering bilang lambungmu nggak nyaman. Makan sedikit tapi sering. Bubur bagus buat lambung. Jangan lupa dimakan sebelum dingin. Aku pulang agak malam.]

Olivia mengambil semangkuk bubur lalu duduk di meja makan.

Uap hangat mengepul perlahan, aroma nasi yang ringan terasa menenangkan.

Tepat saat itu, ponselnya bergetar.

[Sudah makan buburnya? Aku masih menemani klien, mungkin pulang larut. Lambungmu bermasalah, jangan makan makanan dingin. Aku sudah potongkan apel di kulkas, nanti dimakan setelah nggak terlalu dingin.]

Olivia menatap pesan itu cukup lama, lalu mematikan layar ponselnya.

Saat buburnya tinggal setengah, tiba-tiba perutnya terasa mual luar biasa.

Dia bergegas berdiri dan berlari ke kamar mandi.

Dia berpegangan pada sisi toilet, membungkuk dan muntah hebat sampai tubuhnya gemetar.

Setelah beberapa saat, rasa mual itu perlahan mereda.

Dia menyiram toilet, lalu berjalan ke wastafel dan membuka keran.

Air dingin membasuh wajahnya. Sangat dingin.

Olivia mengangkat kepala dan menatap cermin.

Wajah di dalam cermin tampak pucat pasi. Bibirnya tidak memiliki sedikit pun warna merah. Rambut acak-acakan menempel di pelipis dan pipi. Matanya merah bengkak dengan lingkar hitam pekat di bawahnya.

Olivia memandangi dirinya sendiri seperti itu untuk waktu yang lama.

Lalu tiba-tiba dia tertawa pelan.

Untung saja, tinggal satu bulan lagi.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
22 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status