MasukSeminggu kemudian, kabar itu akhirnya sampai ke telingaku.
Kediaman Ananta mengalami kebakaran hebat. Api melahap bangunan tua itu tanpa ampun, menjilat setiap sudutnya hingga tak menyisakan apa pun selain puing hitam dan abu. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Tidak kenangan. Tidak rasa aman. Tidak satu pun jejak kebahagiaan kecil yang pernah kutitipkan di sana. Aku tidak perlu berpikir lama untuk mengetahui siapa pelakunya. Andre. Ia selalu memiliki satu kebiasaan yang tak pernah berubah, menghancurkan apa pun yang memberiku sedikit rasa bahagia. Seolah penderitaanku adalah bahan bakar bagi egonya. Mungkin hanya dengan membuatku hidup dalam kesengsaraan, Andre merasa dirinya menang. Baginya, kebahagiaanku adalah ancaman. Dan setiap ancaman harus dimusnahkan sampai ke akarnya. Peristiwa ini menjadi pemicu terakhir. Setelah menimbang segala kemungkinan dan mengingat satu per satu kejadian yang menimpaku sejak menikah dengannya, aku akhirnya sadar bahwa aku tidak bisa lagi diam. Jika aku tetap bungkam, jika aku terus menunduk dan berpura-pura tidak tahu apa-apa, maka orang-orang di sekitarku akan menjadi korban berikutnya. Andre tidak pernah berhenti. Ia hanya menunggu giliran. Hari ini, aku memutuskan untuk menemui kakak angkatku. Sudah lama kami tak lagi bertemu secara pribadi, sejak Paman Ogio mengusirnya dari kediaman setelah mengetahui aku pernah terkurung di gudang sekolah karenanya. Aku paham, pengusiran itu bukan lahir dari kebencian, melainkan dari ketakutan, cara paling keras yang mereka pilih agar Kevin belajar bertahan hidup sendiri dan menjauh dariku, setelah menyadari bahwa kedekatannya denganku justru menempatkanku dalam bahaya. Namun tak satu pun dari kami menyadari bahwa keputusan yang dimaksudkan sebagai perlindungan itu justru menjadi awal dari ancaman yang kini perlahan mendekat. Aku mengatur pertemuan di sebuah kafe lama, tempat yang dulu sering kami datangi semasa SMA. Tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan untuk sekadar disebut kebetulan. Tempat yang aman, setidaknya untuk sementara. Pertemuan ini juga sengaja kuatur tepat sehari setelah Andre menyeretku pulang secara paksa dari kediaman Ananta, sebelum pengawasan terhadapku kembali diperketat. Begitu melangkah masuk, pandanganku langsung tertuju pada sosok yang duduk sendirian di salah satu meja sudut. Kevin Arsina. Ia memegang secangkir kopi, duduk tenang seolah dunia tak sedang berada di ambang kehancuran. Kafe itu nyaris kosong. Hanya ada Kevin dan beberapa pelayan yang berdiri berjaga dengan sikap terlalu waspada untuk sekadar disebut pegawai biasa. Aku segera menyadari bahwa ia telah menyewa tempat ini sepenuhnya, cara Kevin memastikan tak ada telinga lain yang mendengar pembicaraan kami. Tanpa sadar, langkah kakiku mempercepat ritmenya ketika mata kami bertemu. “Kakak…” Suaraku nyaris tenggelam di antara denting sendok dan mesin kopi. “Nyonya Hardian?” Nada itu dingin, sarat sindiran, seolah jarak di antara kami tak hanya diukur oleh tahun, melainkan oleh status dan luka yang tak pernah sembuh. Namun aku memilih mengabaikannya. Aku datang bukan untuk berdebat, apalagi membuka luka lama. Kevin mengerutkan kening ketika melihatku tetap berdiri di hadapannya. “Apakah Nyonya Hardian berniat berbicara sambil berdiri?” tanyanya datar. “Kalau begitu, langsung saja.” Aku menelan ludah, lalu berkata tanpa bertele-tele, sebelum keberanianku runtuh. “Kak Kevin, bisakah kau pergi dari Kota Nawa? Tolong… segera. Bawa Bibi Hara dan Paman Ogio juga. Pergilah ke mana pun, asalkan tidak lagi berada di kota ini.” Kevin terkekeh kecil, namun matanya sama sekali tidak ikut tertawa. “Sekarang Nyonya Hardian menggunakan kekuasaannya untuk mengusir kami?” “Bukan itu maksudku,” ucapku cepat. “Aku hanya tidak ingin kalian terluka.” “Duduk,” potongnya tegas. “Baru bicara.” Aku menurut dan duduk di seberangnya. Baru saat itu Kevin benar-benar menatap wajahku. Wajah yang pucat, tanpa riasan, dengan lingkar gelap di bawah mata, jauh berbeda dari citra menantu keluarga Hardian yang selalu tampak sempurna di hadapan publik. “Apakah mereka memperlakukanmu dengan buruk?” tanyanya akhirnya, suaranya lebih rendah. “Kak… urusanku dengan Andre tidak perlu kau campuri,” jawabku lirih. “Aku mohon, pergilah sejauh mungkin dari Kota Nawa. Keluarga Hardian sedang mengincar nyawa kalian.” “Keluarga Arsina tidak pernah takut pada ancaman siapa pun.” “Kau tahu itu tidak sebanding,” balasku putus asa. “Kekuatan keluarga Hardian bukan sesuatu yang bisa kita hindari, bahkan jika kita mau.” Kevin menghela napas, nadanya berubah menekan. “Berikan aku alasan yang masuk akal. Mengapa keluarga Hardian mengincar keluarga Arsina? Mereka sudah memiliki segalanya.” Tatapannya mengeras. “Atau karena sekarang Bibi dan Paman sudah tiada, kau tak ingin lagi mengakui kami sebagai keluargamu?” Dadaku terasa sesak. Kesedihan di mata Kevin adalah sesuatu yang terlalu kukenal. Tatapan itu pernah kulihat sebelumnya, saat ia menyaksikanku berjalan menuju altar, menikah dengan Andre Hardian, sementara ia berdiri di antara tamu undangan, tersenyum pahit. Sejak SMA, aku tahu Kevin menyukaiku. Namun sifatnya yang pendiam membuatku tak pernah benar-benar mendekatinya. Ia bukan tipe pria yang kucari saat itu. Keputusan-keputusan bodoh yang kuambil di masa lalu kini berubah menjadi penyesalan yang tak bisa ditebus. Aku juga tahu, perpisahan kami di sekolah hari itu bukanlah kebetulan. Kevin sebenarnya ingin memberiku kejutan di Hari Valentine. Namun rencananya hancur karena seorang gadis bernama Andora, teman masa kecilnya. Rasa cemburu mendorong Andora untuk menjebakku, memaksaku menjauh dari Kevin. Ironisnya, meski aku menghindar, Kevin tetap tak pernah memilih Andora. Hubungan mereka justru retak, hingga Kevin memutuskan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Kebenaran itu baru kuketahui di kehidupanku sebelumnya, saat aku berdiri di pemakaman Kevin, mendengar pengakuan Andora dengan wajah penuh penyesalan. Andai saja saat itu aku tahu. Tatapanku kembali pada Kevin yang duduk di depanku. Dadaku terasa semakin sesak. Air mata yang kutahan akhirnya jatuh. “Kak Kevin…” Suaraku bergetar. “Jika aku mengatakan bahwa Andre tidak pernah mencintaiku… dan bahkan telah membunuh ayah serta ibuku… apakah kau akan percaya?” Kevin membeku. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan ini, ia kehilangan kata-kata. Sejak meninggalkan Kota Nawa, Kevin memang tak pernah lagi bertemu denganku. Namun tanpa sepengetahuanku, ia selalu memastikan keselamatanku, mengirim orang-orangnya untuk mengawasi dari kejauhan. -------- “Di mana nyonya muda?” Andre melontarkan pertanyaan itu begitu ia kembali ke kediaman Hardian. Jasnya belum sempat dilepas, sementara wajahnya masih menyimpan ekspresi dingin sisa rapat panjang dengan para tokoh politik Negara Nawa, rapat yang membahas pengembangan Hutan Petro, proyek strategis yang sebentar lagi akan sepenuhnya berada di bawah kendali keluarga Hardian. Kepala pelayan segera menunduk hormat. “Nyonya pergi keluar, Tuan. Beliau mengatakan ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya. Katanya… beliau rindu.” Andre menghentikan langkahnya. Keningnya mengerut tipis, bukan karena alasan itu terdengar masuk akal, melainkan justru sebaliknya. “Dia menggunakan sopir?” tanyanya datar. “Tidak, Tuan. Nyonya mengemudi sendiri.” Keheningan sesaat tercipta. “Periksa keberadaan nyonya sekarang.” Tak sampai lima menit kemudian, seorang bawahan kembali dengan wajah tegang. “Tuan, nyonya tidak mengunjungi makam orang tuanya. Beliau berada di sebuah kafe… dan sedang bertemu dengan tuan muda keluarga Arsina.” Sudut bibir Andre terangkat perlahan. Bukan senyum, melainkan seringai dingin. “Ke sana.” Andre menyandarkan punggungnya ke kursi mobil, menutup mata sejenak. Ia tidak marah. Tidak cemburu. Ia hanya sedang menghitung. Dan setiap kali Vera melangkah keluar dari kendalinya, selalu ada harga yang harus dibayar, oleh orang lain.Dengan sisa kesabaran dan paksaan yang tersisa, Fredrik kembali mencoba menanamkan ingatan buatannya pada Vera. Sekali, dua kali dan berkali-kali. Tapi, setiap kali ia menekan dan memaksanya masuk ke dalam ingatan Vera, yang ia temui hanyalah dinding tebal yang dibangun oleh Vera. Lima hari berlalu tanpa hasil apapun bagi Fredrik. Karena tahu ini harus segera diatasi, akhirnya Fredrik berbincang panjang lebar dengan Andre mengenai ingatan Vera, terutama tentang dirinya. Dan dari percakapan mereka, sebuah kesimpulan akhirnya diambil. Fredrik sempat terkejut melihat betapa mudahnya Andre menyetujui perubahan ingatan tersebut. Namun setelah melihat rasa bersalah yang menggerogoti Andre, dan harapan kecil yang masih ia simpan untuk bisa berada di sisi Vera sedikit lebih lama, Fredrik akhirnya mengerti. Ya… Cinta memang sering kali menyakitkan dan terkadang, justru orang yang paling mencintai adalah yang paling tega menghancurkan. Setelah beberapa kali percobaan ulang pada ingatan V
“Kau yakin?” tanya Andre akhirnya.“Yakin, tuan.”“Cara apa yang akan kau gunakan? Jelaskan padaku.”“Terapi psikologi,” jawab Fredrik tenang. “Namun bukan terapi biasa. Lebih tepatnya… penghapusan ingatan yang menjadi sumber luka bagi Nyonya Vera.”Andre menyipitkan matanya saat menatap Fredrik. “Itu terdengar seperti cuci otak?”“Benar,” Fredrik mengangguk ringan. “Sedikit mirip. Hanya saja, metode ini jauh lebih kejam jika dilihat dari sudut pandang dunia medis.”“Ingatan yang menyakitinya tidak akan dihapus sepenuhnya,” lanjut Fredrik. “Aku akan mengubahnya. Mengedit sebagian memori, lalu menambahkan ingatan baru sebagai penyangga. Trauma yang selama ini menghancurkannya tidak akan lagi muncul dalam bentuk yang sama.”“Jika tuan menyetujuinya,” ucap Fredrik pelan, “aku siap melakukannya.”Andre menarik napas dalam. “Apa itu berbahaya untuk Vera?”“Tidak lebih berbahaya dibandingkan membiarkannya dalam kondisi yang sekarang,” jawab Fredrik tanpa ragu. “Jika kondisi Nyonya dibiarkan
Pada hari keempat, pintu kamar itu akhirnya terbuka. Tanpa membuang waktu, mereka bergegas ke rumah sakit tempat Vera dirawat. Vera masih sama, ia terus berteriak tanpa arah, dengan suara yang pecah dan penuh ketakutan. Tubuhnya diikat erat ke ranjang rumah sakit, sebagai upaya terakhir untuk mencegahnya melukai diri sendiri. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan matanya kosong. Andre tidak masuk, ia tidak berani, ia hanya berdiri di balik jendela kaca gelap yang langsung menghadap ke arah Vera. Vera tidak mungkin melihatnya. Andre telah memerintahkan rumah sakit menyiapkan ruang observasi khusus, ruang di mana ia bisa mengawasi setiap gerakan Vera tanpa pernah diketahui keberadaannya. Jarak tipis itu menjadi batas antara rasa bersalah dan ketakutannya sendiri. Fredrik melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. Begitu melihat sosok asing, Vera langsung menunjukkan kepanikan yang sama seperti saat dokter dan perawat lain mendekatinya. Napasnya memburu, tubuhnya menegang, dan
"Carikan ibu susu terbaik untuk anak itu" perintah Andre dengan suara datar.Kepala pelayan menunduk dalam, "Baik, Tuan."Kini, anak itu diserahkan pada perawatan orang lain, bukan karena cinta, tapi karena ia sadar, ia belum layak berada di dekatnya.Bayi tersebut segera dipindahkan kembali ke kediaman keluarga Hardian, dijaga ketat dan dirawat secara terpisah.Andre memilih bertahan hidup dengan rasa bersalah itu.Karena pada akhirnya, ia tidak sanggup membunuh satu-satunya hal yang masih mengikatnya dengan Vera, meski ikatan itu kini lebih menyerupai hukuman daripada harapan.Andre mulai mengabaikan tugas-tugasnya sebagai kepala keluarga Hardian. Fokusnya sepenuhnya terpecah, pikirannya terus kembali pada Vera, meski ia sendiri tidak lagi berani menemuinya secara langsung.Tumpukan dokumen di meja kerja Andre mulai menumpuk. Rapat yang biasanya ia pimpin sendiri kini hanya dihadiri sekretarisnya.Beruntung, kepala pelayan dan sekretarisnya bergerak cepat mengambil alih seluruh urus
Kepala pelayan menundukkan kepalanya sedikit sebagai salam hormat.“Tuan sedang menemani Nyonya ke rumah sakit, Tetua.”“Kondisi Vera… apa cukup bahaya?”Kepala pelayan tersenyum tipis, sopan namun jelas tertutup.“Para Tetua tidak perlu khawatir. Tuan akan menyampaikan kabar lebih lanjut mengenai kondisi Nyonya secara langsung.”Tetua Deri dan Tetua Waru saling pandang, lalu menghela napas pelan.“Kalian benar-benar bawahan Andre,” gumam Tetua Deri. “Cara bicara, sikap, bahkan caramu menutup informasi, persis seperti dirinya.”Tetua Waru mengangguk setuju. “Tidak heran dia mempercayai kalian sepenuhnya.”Sekretaris Andre dan kepala pelayan hanya membalas ucapan para tetua dengan senyum ringan. Kesetiaan mereka bukan sesuatu yang perlu dijelaskan, karena sejak awal, itu sudah menjadi bagian dari diri mereka.Di sisi lain, di rumah sakit tempat Vera berada.Setelah sepuluh jam waktu berlalu, lampu ruang operasi akhirnya padam.Andre yang sejak tadi menunggu dengan wajah tegang langsung
Tetua Deri, tetua kedua keluarga Hardian sekaligus anak angkat kedua, akhirnya angkat bicara.“Meski pun ada anak lain, apa kau yakin mereka akan mampu memimpin keluarga Hardian sebaik Andre?”Ia memandang Sandi tanpa ragu sedikitpun.“Hentikan omong kosongmu ini. Soal keturunan, Andre masih cukup muda. Tidak perlu bagi kita untuk terikat aturan lama keluarga secara membabi buta.”“Kalian membelanya? Atau jangan-jangan, kalian sudah disuap oleh Andre?”Meski tuduhan itu tidak sepenuhnya salah, Waru dan Deri memilih diam. Mereka tidak berniat untuk membuka hal seperti itu apalagi di depan para tamu undangan yang hadir malam ini.Mereka tahu kenyataan ini dengan sangat jelas. Di keluarga Hardian, bukan soal siapa yang bersih atau siapa yang kotor. Tapi siapa yang benar-benar layak atau siapa yang tidak layak dalam memegang kekuasaan.Waru akhirnya melangkah maju dan berdiri di hadapan Sandi, suaranya meninggi dan penuh wibawa.“Omong kosong apa yang kau bicarakan, Sandi?”“Semua orang d
Ia menghirup rokok itu perlahan, terlalu perlahan, hingga asap memenuhi seluruh kabin mobil. Bau tembakau yang pekat menekan dadaku, merayap ke paru-paruku, lalu mengendap seperti sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Udara terasa berat. Setiap tarikan napas bukan lagi kebutuhan hidup, melaink
“Kak Kevin… tolong percaya padaku kali ini.” Suaraku bergetar, bahkan sebelum kata terakhir meluncur dari bibirku. Aku membencinya. Kebiasaan tubuhku yang selalu berkhianat ketika ketakutan merayap naik. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemetar yang menjalar hingga ke ujung jemar
# Kehidupan Kedua Aku membuka mata dengan terengah, seperti seseorang yang baru saja ditarik paksa dari dasar laut. Suara isak tangis memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma dupa yang menusuk hidung. Suasana di sekelilingku terasa begitu asing, namun anehnya… juga sangat familiar. Ada sesuatu ya
Aku pernah mati. Bukan oleh musuh, bukan oleh takdir, melainkan oleh lelaki yang bersumpah akan menjagaku seumur hidup. Ia memelukku sambil berkata bahwa aku adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Namun saat aku menjerit kesakitan, tangannyalah yang paling cepat melepasku. Kini aku terlahir







