เข้าสู่ระบบIa menghirup rokok itu perlahan, terlalu perlahan, hingga asap memenuhi seluruh kabin mobil. Bau tembakau yang pekat menekan dadaku, merayap ke paru-paruku, lalu mengendap seperti sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Udara terasa berat. Setiap tarikan napas bukan lagi kebutuhan hidup, melainkan hukuman.
Andre duduk santai di sisiku. Satu tangannya bertumpu pada sandaran pintu, sementara tangan lainnya menjepit rokok seolah benda itu bagian dari dirinya. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Seakan ia memegang kendali atas segalanya, termasuk napasku. Dulu, pemandangan seperti ini akan menghancurkanku. Aku akan memohon dengan suara gemetar. Menangis. Mengemis. Merendahkan diri sendiri demi secuil belas kasih. Aku akan menjadi perempuan bodoh yang percaya bahwa air mata mampu melunakkan hati lelaki seperti Andre Hardian. Namun itu adalah aku yang dulu. Aku yang sekarang lahir dari sesuatu yang jauh lebih kejam. Aku menatap lurus ke depan, memilih diam. Andre menyukai reaksiku, ketakutanku, kepanikan di mataku, rasa sakit yang berusaha kusembunyikan. Ia menikmati saat aku terlihat kecil dan tak berdaya. Karena itu, aku tidak akan memberinya kepuasan itu lagi. Dalam kehidupanku sebelumnya, Mira adalah perempuan terakhir yang Andre bawa ke kediamannya. Perempuan yang bertahan paling lama. Wajahnya terlalu mirip denganku, atau mungkin akulah yang terlalu mirip dengannya, hingga setiap kali menatapnya, aku seperti dipaksa melihat versi lain dari diriku sendiri. Versi yang lebih disukai Andre. Versi yang tahu cara bertahan hidup di neraka ciptaannya dengan menjadi lebih kejam. Mira tidak pernah memukulku. Ia tidak perlu melakukannya. Ia menyiksaku dengan cara yang jauh lebih halus. “Sekarang, kalian bisa merokok di kamar ini setiap hari,” katanya suatu sore pada para pelayan. “Biarkan dia tahu bahwa tempat ini bukan miliknya saja.” Tak hanya sekali atau dua kali. Asap menutup langit-langit kamarku, menyusup ke seprai, bantal, tirai, bahkan pakaianku. Aku sering terbangun di tengah malam dengan kepala pening, dada sesak, dan tenggorokan terbakar. Namun aku tidak pernah berani berteriak. Di kediaman Hardian, keberanian adalah kesalahan yang harus dibayar mahal. Aku sempat melaporkannya pada Andre. “Aku tidak bisa tidur dengan baik,” ucapku saat itu, tubuhku gemetar. “Para pelayan merokok di kamarku. Mira yang menyuruh mereka.” Aku berharap ia marah. Atau setidaknya peduli. Andre hanya menatapku sebentar. Tatapan kosong yang lebih kejam daripada tamparan. “Jangan banyak bicara,” katanya dingin. “Kau membuatku muak, Vera.” Sejak hari itu, aku belajar satu hal, suaraku tidak pernah berarti apa-apa. Maka aku terbiasa. Terbiasa menghirup bau rokok. Terbiasa menahan mual. Terbiasa menerima rasa tidak nyaman sebagai bagian dari hidupku. Diam menjadi satu-satunya cara untuk bertahan. Kini, di dalam mobil ini, Andre mengerutkan kening. Ia menunggu reaksiku, air mata, permohonan, ketakutan. Semua yang sudah ia hafal dari perempuan-perempuan sebelumku. Namun menit demi menit berlalu, dan aku tetap diam. Untuk pertama kalinya, keheninganku membuatnya gelisah. Aku menegakkan punggung, mengatur napas, lalu menoleh padanya. Dadaku masih sesak, kepalaku berdenyut, tetapi aku tahu tidak boleh mundur sekarang. “Andre,” ucapku pelan namun tegas. “Ayo kita cerai.” Udara di dalam mobil seolah membeku. Jari-jarinya menegang. Rokok di tangannya berhenti di udara. Ia menoleh perlahan, tatapannya datar. “Apa kamu menyukai pria itu, Nyonya Hardian?” tanyanya tenang, terlalu tenang. Seperti pisau yang belum menusuk, tetapi sudah terasa dinginnya. Aku menahan napas. “Hubungan kita tidak sehat. Keluarga Ananta sudah kau kuasai. Ayah dan ibuku kau bunuh dengan cara yang begitu tak manusiawi. Kediaman Ananta, satu-satunya tempat yang tersisa untukku, kau hancurkan.” Aku menatapnya lurus. “Apa itu belum cukup? Atau kau masih ingin membunuhku juga?” Untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya. Kebimbangan, atau mungkin hanya harapanku sendiri. Namun Andre memilih diam. Diam yang selalu lebih kejam daripada jawaban mana pun. “Jangan pernah bermimpi untuk bercerai dariku, Vera,” ucapnya akhirnya. Suaranya rendah dan dingin, seperti vonis mati. “Tidak sampai aku bosan dengan air matamu. Tidak sampai seluruh keluarga Ananta membayar kesalahan mereka.” Ia mematikan puntung rokok di tangannya dan melemparkannya ke luar jendela tanpa menutup kaca. Angin sore menerobos masuk, mengusir sebagian asap. “Jalan,” perintahnya singkat. Mobil kembali bergerak menuju Kediaman Hardian. Aku tetap diam. Jika bercerai semudah itu, aku tak perlu mati di kehidupanku sebelumnya. Bangunan kelabu itu menyambutku dengan angkuh. Megah sekaligus menyeramkan. Saat aku turun dari mobil, suara Andre kembali terdengar. “Jangan temui pria itu lagi,” katanya. “Jika kau tidak ingin melihatnya terluka seperti hari ini.” Tubuhku menegang. “Andre!” teriakku. Suaraku pecah oleh amarah dan ketakutan. “Jika kau sampai melukai keluarga Arsina, bahkan jika aku harus mati, aku akan terus mengutuk hidupmu!” Langkahnya terhenti sesaat. Namun ia tidak menoleh. Ia berjalan pergi, menuju ruang kerjanya di lantai tujuh, seolah ancamanku tak lebih dari angin lalu. Aku berjalan tertatih menuju kamarku. Tubuhku gemetar, napasku pendek. Bayangan kematian di kehidupanku sebelumnya kembali menghantam, wajah-wajah yang runtuh satu per satu karena namaku. Begitu pintu kamarku tertutup, aku menjatuhkan diri ke atas kasur. Gelap. Aku terbangun saat cahaya senja menyelinap di balik tirai. Kepalaku berdenyut hebat. Tubuhku panas. Tiga puluh delapan derajat. Dengan langkah lemah, aku menuju kamar mandi, membersihkan tubuhku, lalu berjalan menuju ruang dokter keluarga Hardian di lantai dua. Kepalaku masih berdenyut. Tubuhku panas, tetapi di kediaman ini, sakit bukan alasan untuk beristirahat terlalu lama. Lorong lantai dua sunyi. Lampu-lampu menyala terang, memantulkan bayanganku sendiri di lantai marmer yang dingin. Aku tahu, tidak ada orang baik di kediaman ini, termasuk dokter kediaman. Setiap kata dokter itu pernah menjadi laporan untuk Andre, setiap obat yang diberikan pernah membuatku merasa lebih lemah, lebih lamban berpikir. Aku ingat betul bagaimana waktu lalu, saat aku mengeluhkan sakit perut, obat yang diberikan membuatku pingsan selama sehari penuh, dan saat bangun, Andre sudah tahu semua tentang rencana kecilku untuk mencari bantuan dari luar. Namun tubuhku sekarang terbakar panas, kepalaku berdenyut seolah akan pecah, dan dadaku semakin sesak untuk bernapas. Aku butuh sesuatu untuk meredakan ini, jika tidak, aku mungkin tidak akan punya kekuatan untuk melanjutkan perjuanganku, tidak akan bisa melindungi keluarga Arsina seperti yang aku inginkan. Haruskah aku tetap mengetuk? Aku tahu apa arti pintu ini. Setiap obat dari ruangan ini selalu punya harga, dan harganya sering kali kesadaranku sendiri. Dokter Toni akan melapor pada Andre. Aku sudah hafal alurnya. Namun tubuhku goyah. Pandanganku mengabur, napasku pendek. Tanpa obat, aku mungkin tidak akan mampu berdiri lebih lama, apalagi melindungi siapa pun. Keringat dingin mengalir di pelipisku. Tanganku gemetar di depan pintu. Jika aku masuk, aku mungkin akan kehilangan kendali. Jika aku tidak masuk, aku bisa tumbang di tempat ini. Aku menarik napas pendek, lalu mengetuk. Pelan. Sekali. Dan di dalam kepalaku, satu pikiran mengeras seperti janji yang pahit, apa pun yang terjadi setelah pintu ini terbuka, aku tidak boleh kehilangan diriku lagi.Dengan sisa kesabaran dan paksaan yang tersisa, Fredrik kembali mencoba menanamkan ingatan buatannya pada Vera. Sekali, dua kali dan berkali-kali. Tapi, setiap kali ia menekan dan memaksanya masuk ke dalam ingatan Vera, yang ia temui hanyalah dinding tebal yang dibangun oleh Vera. Lima hari berlalu tanpa hasil apapun bagi Fredrik. Karena tahu ini harus segera diatasi, akhirnya Fredrik berbincang panjang lebar dengan Andre mengenai ingatan Vera, terutama tentang dirinya. Dan dari percakapan mereka, sebuah kesimpulan akhirnya diambil. Fredrik sempat terkejut melihat betapa mudahnya Andre menyetujui perubahan ingatan tersebut. Namun setelah melihat rasa bersalah yang menggerogoti Andre, dan harapan kecil yang masih ia simpan untuk bisa berada di sisi Vera sedikit lebih lama, Fredrik akhirnya mengerti. Ya… Cinta memang sering kali menyakitkan dan terkadang, justru orang yang paling mencintai adalah yang paling tega menghancurkan. Setelah beberapa kali percobaan ulang pada ingatan V
“Kau yakin?” tanya Andre akhirnya.“Yakin, tuan.”“Cara apa yang akan kau gunakan? Jelaskan padaku.”“Terapi psikologi,” jawab Fredrik tenang. “Namun bukan terapi biasa. Lebih tepatnya… penghapusan ingatan yang menjadi sumber luka bagi Nyonya Vera.”Andre menyipitkan matanya saat menatap Fredrik. “Itu terdengar seperti cuci otak?”“Benar,” Fredrik mengangguk ringan. “Sedikit mirip. Hanya saja, metode ini jauh lebih kejam jika dilihat dari sudut pandang dunia medis.”“Ingatan yang menyakitinya tidak akan dihapus sepenuhnya,” lanjut Fredrik. “Aku akan mengubahnya. Mengedit sebagian memori, lalu menambahkan ingatan baru sebagai penyangga. Trauma yang selama ini menghancurkannya tidak akan lagi muncul dalam bentuk yang sama.”“Jika tuan menyetujuinya,” ucap Fredrik pelan, “aku siap melakukannya.”Andre menarik napas dalam. “Apa itu berbahaya untuk Vera?”“Tidak lebih berbahaya dibandingkan membiarkannya dalam kondisi yang sekarang,” jawab Fredrik tanpa ragu. “Jika kondisi Nyonya dibiarkan
Pada hari keempat, pintu kamar itu akhirnya terbuka. Tanpa membuang waktu, mereka bergegas ke rumah sakit tempat Vera dirawat. Vera masih sama, ia terus berteriak tanpa arah, dengan suara yang pecah dan penuh ketakutan. Tubuhnya diikat erat ke ranjang rumah sakit, sebagai upaya terakhir untuk mencegahnya melukai diri sendiri. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan matanya kosong. Andre tidak masuk, ia tidak berani, ia hanya berdiri di balik jendela kaca gelap yang langsung menghadap ke arah Vera. Vera tidak mungkin melihatnya. Andre telah memerintahkan rumah sakit menyiapkan ruang observasi khusus, ruang di mana ia bisa mengawasi setiap gerakan Vera tanpa pernah diketahui keberadaannya. Jarak tipis itu menjadi batas antara rasa bersalah dan ketakutannya sendiri. Fredrik melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. Begitu melihat sosok asing, Vera langsung menunjukkan kepanikan yang sama seperti saat dokter dan perawat lain mendekatinya. Napasnya memburu, tubuhnya menegang, dan
"Carikan ibu susu terbaik untuk anak itu" perintah Andre dengan suara datar.Kepala pelayan menunduk dalam, "Baik, Tuan."Kini, anak itu diserahkan pada perawatan orang lain, bukan karena cinta, tapi karena ia sadar, ia belum layak berada di dekatnya.Bayi tersebut segera dipindahkan kembali ke kediaman keluarga Hardian, dijaga ketat dan dirawat secara terpisah.Andre memilih bertahan hidup dengan rasa bersalah itu.Karena pada akhirnya, ia tidak sanggup membunuh satu-satunya hal yang masih mengikatnya dengan Vera, meski ikatan itu kini lebih menyerupai hukuman daripada harapan.Andre mulai mengabaikan tugas-tugasnya sebagai kepala keluarga Hardian. Fokusnya sepenuhnya terpecah, pikirannya terus kembali pada Vera, meski ia sendiri tidak lagi berani menemuinya secara langsung.Tumpukan dokumen di meja kerja Andre mulai menumpuk. Rapat yang biasanya ia pimpin sendiri kini hanya dihadiri sekretarisnya.Beruntung, kepala pelayan dan sekretarisnya bergerak cepat mengambil alih seluruh urus
Kepala pelayan menundukkan kepalanya sedikit sebagai salam hormat.“Tuan sedang menemani Nyonya ke rumah sakit, Tetua.”“Kondisi Vera… apa cukup bahaya?”Kepala pelayan tersenyum tipis, sopan namun jelas tertutup.“Para Tetua tidak perlu khawatir. Tuan akan menyampaikan kabar lebih lanjut mengenai kondisi Nyonya secara langsung.”Tetua Deri dan Tetua Waru saling pandang, lalu menghela napas pelan.“Kalian benar-benar bawahan Andre,” gumam Tetua Deri. “Cara bicara, sikap, bahkan caramu menutup informasi, persis seperti dirinya.”Tetua Waru mengangguk setuju. “Tidak heran dia mempercayai kalian sepenuhnya.”Sekretaris Andre dan kepala pelayan hanya membalas ucapan para tetua dengan senyum ringan. Kesetiaan mereka bukan sesuatu yang perlu dijelaskan, karena sejak awal, itu sudah menjadi bagian dari diri mereka.Di sisi lain, di rumah sakit tempat Vera berada.Setelah sepuluh jam waktu berlalu, lampu ruang operasi akhirnya padam.Andre yang sejak tadi menunggu dengan wajah tegang langsung
Tetua Deri, tetua kedua keluarga Hardian sekaligus anak angkat kedua, akhirnya angkat bicara.“Meski pun ada anak lain, apa kau yakin mereka akan mampu memimpin keluarga Hardian sebaik Andre?”Ia memandang Sandi tanpa ragu sedikitpun.“Hentikan omong kosongmu ini. Soal keturunan, Andre masih cukup muda. Tidak perlu bagi kita untuk terikat aturan lama keluarga secara membabi buta.”“Kalian membelanya? Atau jangan-jangan, kalian sudah disuap oleh Andre?”Meski tuduhan itu tidak sepenuhnya salah, Waru dan Deri memilih diam. Mereka tidak berniat untuk membuka hal seperti itu apalagi di depan para tamu undangan yang hadir malam ini.Mereka tahu kenyataan ini dengan sangat jelas. Di keluarga Hardian, bukan soal siapa yang bersih atau siapa yang kotor. Tapi siapa yang benar-benar layak atau siapa yang tidak layak dalam memegang kekuasaan.Waru akhirnya melangkah maju dan berdiri di hadapan Sandi, suaranya meninggi dan penuh wibawa.“Omong kosong apa yang kau bicarakan, Sandi?”“Semua orang d
“Kak Kevin… tolong percaya padaku kali ini.” Suaraku bergetar, bahkan sebelum kata terakhir meluncur dari bibirku. Aku membencinya. Kebiasaan tubuhku yang selalu berkhianat ketika ketakutan merayap naik. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemetar yang menjalar hingga ke ujung jemar
Seminggu kemudian, kabar itu akhirnya sampai ke telingaku. Kediaman Ananta mengalami kebakaran hebat. Api melahap bangunan tua itu tanpa ampun, menjilat setiap sudutnya hingga tak menyisakan apa pun selain puing hitam dan abu. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Tidak kenangan. Tidak rasa aman. Tida
# Kehidupan Kedua Aku membuka mata dengan terengah, seperti seseorang yang baru saja ditarik paksa dari dasar laut. Suara isak tangis memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma dupa yang menusuk hidung. Suasana di sekelilingku terasa begitu asing, namun anehnya… juga sangat familiar. Ada sesuatu ya
Aku pernah mati. Bukan oleh musuh, bukan oleh takdir, melainkan oleh lelaki yang bersumpah akan menjagaku seumur hidup. Ia memelukku sambil berkata bahwa aku adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Namun saat aku menjerit kesakitan, tangannyalah yang paling cepat melepasku. Kini aku terlahir







