Share

Bab 4

Author: Ellow_dikata
last update publish date: 2026-01-09 11:05:07

“Kak Kevin… tolong percaya padaku kali ini.”

Suaraku bergetar, bahkan sebelum kata terakhir meluncur dari bibirku. Aku membencinya. Kebiasaan tubuhku yang selalu berkhianat ketika ketakutan merayap naik. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemetar yang menjalar hingga ke ujung jemariku.

“Hanya kalian yang aku miliki sekarang,” lanjutku lirih. “Aku tidak mau Andre sampai berhasil menyentuh kalian.”

Kata menyentuh itu keluar dengan makna yang lebih dalam dari sekadar fisik. Kevin pasti mengerti. Ia tahu bagaimana Andre bekerja. Bagaimana satu sentuhan darinya bisa berarti kehancuran hidup seseorang.

Aku menunduk sesaat, lalu kembali menatapnya.

“Kakak tahu sendiri, meski keluarga Ananta bergabung dengan keluarga Arsina, kita tetap tidak akan mampu mengalahkan keluarga Hardian.”

Nama itu melayang di udara di antara kami, berat dan mematikan.

Kevin menatapku lama. Terlalu lama. Hingga aku hampir berharap ia akan berteriak atau memotong ucapanku. Namun yang keluar dari bibirnya justru suara rendah yang tertahan.

“Vera,” ucapnya perlahan, seolah menimbang setiap suku kata. “Apa kamu punya bukti?”

Nada suaranya berubah dingin, dan aku tahu tembok pertahanannya mulai terangkat.

“Bukankah selama ini kau mencintai Andre dengan seluruh hidupmu?” lanjutnya. “Jika kau ingin aku dan orang tuaku pergi hanya karena ketakutanmu sendiri, lupakan itu. Jangan permainkan perasaan mereka.”

Tatapannya bergetar, bukan karena ragu, melainkan terluka.

“Kau tahu bagaimana orang tuaku menyayangimu. Mereka menganggapmu sebagai putrinya. Tapi sekarang…” Suaranya merendah. “Kau ingin kami menghilang?”

Dadaku terasa diremas. Bukan oleh tangannya, melainkan oleh kenyataan bahwa semua yang kukatakan terdengar seperti pengkhianatan.

“Kak…” bisikku. “Kediaman Ananta terbakar habis. Kau tahu itu.”

Aku menatapnya dengan mata yang tak lagi mampu menahan air.

“Suruh orang-orangmu menyelidiki. Jika kau menemukan siapa dalangnya, mungkin kita masih bisa bertahan di Kota Nawa. Tapi jika tidak…” Suaraku runtuh di tengah kalimat. “Itu berarti keluarga kita memang ditakdirkan hancur.”

Aku menarik napas, lalu menambahkan dengan nada hampir tak terdengar, “Dan hanya satu keluarga yang mampu melakukan itu.”

Kevin terdiam lama. Lalu ia bertanya, pelan namun menghujam tepat ke jantungku.

“Jika benar keluarga Hardian yang melakukannya… apakah kau akan terus diam?” Ia menatapku lurus. “Apakah kau masih akan bertahan di sisi pria itu?”

“Bertahan di samping pria itu…” aku mengulang lirih.

Kata-kata itu terasa asing, seolah bukan aku yang menjalaninya selama ini. Pikiranku dan hatiku bertabrakan, menciptakan kekacauan yang tak mampu kuurai.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya aku menjawab.

“Kak, aset keluarga Ananta saat ini berada di bawah kendali Andre.” Aku mengepalkan tangan di pangkuanku. “Aku akan mencoba merebutnya terlebih dahulu. Jika aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan… aku akan pergi.”

Aku menatap Kevin dengan tekad yang hampir mematahkan diriku sendiri.

“Aku pasti akan pergi.”

Kevin menggeleng pelan, seolah mendengar rencana bunuh diri.

“Aku akan meminta bawahanku menyelidiki semua yang kau katakan,” ucapnya akhirnya. “Jika itu benar, kau tidak perlu melakukan ini sendirian. Kekuatan keluarga Hardian terlalu kejam. Keluarga Arsina akan melindungimu.”

Aku tersenyum pahit.

“Kak… itu tidak akan semudah itu. Andre tidak akan melepaskanku.”

Suaraku merendah.

“Tidak sampai aku benar-benar terlihat menderita di matanya.”

Tanganku bergerak merogoh tas. Jantungku berdegup keras ketika aku meraih tangan Kevin dan menyelipkan sebuah benda kecil ke telapak tangannya.

“Kak… flashdisk ini berisi data harta keluarga Ananta.” Aku menelan ludah. “Separuh aset yang bahkan Andre ataupun keluarga Hardian tidak tahu keberadaannya.”

Tanganku bergetar.

“Ayah dan ibu memberikannya padaku saat aku berusia sembilan tahun.” Aku menatap Kevin dalam-dalam. “Tolong kelola atas namaku. Jika aku berhasil lolos dari Andre… aku akan mencarimu.”

Aku berhenti sejenak, memaksa diriku menyelesaikan kalimat terakhir.

“Dan jika aku gagal… jangan mengingatku lagi. Jangan pernah kembali ke Kota Nawa.”

Aku bangkit, mengambil tasku. Namun Kevin menarik tanganku, membuatku berhenti.

“Apa kau masih menyukai Andre?” tanyanya datar.

Aku terdiam.

“Aku...”

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku ketika pintu restoran di buka dengan kasar. Seorang pria masuk, diikuti delapan orang di belakangnya. Pelayan berusaha menghadang, begitu pula beberapa bawahan Kevin, namun perlawanan itu tak berarti apa-apa. Mereka disingkirkan begitu saja, cepat, senyap, dan tanpa ampun.

Pandanganku terlepas dari Kevin, beralih pada pria itu. Tingginya menjulang, sekitar seratus sembilan puluh sentimeter. Setelan jas pesanan khusus membungkus tubuh bidangnya seperti zirah. Mata hitamnya pekat, dingin, kosong dari belas kasihan. Garis wajahnya tegas, terlalu sempurna untuk seseorang yang memancarkan bahaya.

Ia melangkah ke arah kami. Langkahnya berat dan terukur, seakan ia tak sedang berjalan, melainkan menghitung. Setiap pijakan menghantam lantai, dan syarafku. Napasku tercekat. Jari-jariku dingin. Tubuhku bergetar, bukan karena aku ingin, tapi karena naluriku tahu, ini ancaman nyata.

Dia Andre. Dan kehadirannya selalu berarti satu hal, tidak ada jalan keluar.

Andre menatapku dingin. Tatapannya perlahan bergeser ke lenganku yang masih digenggam Kevin, seolah menilai sesuatu yang tak kasatmata.

“Bawa nyonya kembali ke mobil terlebih dahulu,” perintahnya datar.

Para bawahannya serempak menjawab, “Baik, Tuan.”

Aku segera menolak. “Jangan sentuh aku. Aku bisa berjalan sendiri.”

Mereka ragu, lalu menoleh pada Andre, meminta persetujuan.

Andre menatapku sinis, sudut bibirnya terangkat tipis sebelum akhirnya mengangguk.

Aku berbalik dan menatap Kevin sebelum melangkah pergi. “Kak… tolong kabulkan keinginanku ini.”

Kevin tidak menjawab. Ia hanya menatapku tenang, seolah menelan ribuan kata.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku melangkah masuk ke mobil milik Andre yang terparkir tepat di depan pintu restoran. Ruang di dalamnya terasa pengap, seolah menyimpan sisa amarah yang belum tumpah.

Lima menit berlalu sebelum Andre masuk dan duduk di sebelahku. Aku meliriknya sekilas, lalu kembali menatap jendela di sampingku.

Rambutnya sedikit berantakan. Kancing manset jas kanannya hilang, detail kecil yang menandakan kekacauan yang baru saja terjadi. Namun aku tak mengajukan satu pun pertanyaan.

Pikiranku sibuk menyusun rencana, bagaimana cara membuat agar Paman Ogio dan Bibi Hara keluar dari Negara Nawa dengan selamat. Juga Kevin.

Aku bahkan tak menyadari bahwa mobil yang aku tumpangi belum bergerak sama sekali.

“Apa sekarang kamu mulai menyukai pria itu?” suara Andre memecah keheningan, tajam dan mencela. “Sampai-sampai melakukan pertemuan diam-diam di belakangku.”

Aku tersentak oleh nada dingin itu. Aku menatapnya lama, sangat lama. Namun Andre tak membalas pandanganku. Tangannya bergerak menyalakan rokok, api korek menyala di antara jari-jarinya, seolah amarahnya lebih nyaman disembunyikan dalam asap.

Aku belum sempat menjawab ketika Andre akhirnya menoleh.

Ia tersenyum tipis.

“Vera,” ucapnya pelan, hampir lembut.

“Kamu tahu kenapa aku membiarkanmu hidup sampai sekarang?”

Jantungku berhenti berdetak.

“Karena aku ingin kamu melihat satu per satu…”

Suaranya merendah, dingin seperti besi.

“…apa yang terjadi pada orang yang kamu lindungi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang sudah tidak aku inginkan   Bab 64

    Dengan sisa kesabaran dan paksaan yang tersisa, Fredrik kembali mencoba menanamkan ingatan buatannya pada Vera. Sekali, dua kali dan berkali-kali. Tapi, setiap kali ia menekan dan memaksanya masuk ke dalam ingatan Vera, yang ia temui hanyalah dinding tebal yang dibangun oleh Vera. Lima hari berlalu tanpa hasil apapun bagi Fredrik. Karena tahu ini harus segera diatasi, akhirnya Fredrik berbincang panjang lebar dengan Andre mengenai ingatan Vera, terutama tentang dirinya. Dan dari percakapan mereka, sebuah kesimpulan akhirnya diambil. Fredrik sempat terkejut melihat betapa mudahnya Andre menyetujui perubahan ingatan tersebut. Namun setelah melihat rasa bersalah yang menggerogoti Andre, dan harapan kecil yang masih ia simpan untuk bisa berada di sisi Vera sedikit lebih lama, Fredrik akhirnya mengerti. Ya… Cinta memang sering kali menyakitkan dan terkadang, justru orang yang paling mencintai adalah yang paling tega menghancurkan. Setelah beberapa kali percobaan ulang pada ingatan V

  • Cinta yang sudah tidak aku inginkan   Bab 63

    “Kau yakin?” tanya Andre akhirnya.“Yakin, tuan.”“Cara apa yang akan kau gunakan? Jelaskan padaku.”“Terapi psikologi,” jawab Fredrik tenang. “Namun bukan terapi biasa. Lebih tepatnya… penghapusan ingatan yang menjadi sumber luka bagi Nyonya Vera.”Andre menyipitkan matanya saat menatap Fredrik. “Itu terdengar seperti cuci otak?”“Benar,” Fredrik mengangguk ringan. “Sedikit mirip. Hanya saja, metode ini jauh lebih kejam jika dilihat dari sudut pandang dunia medis.”“Ingatan yang menyakitinya tidak akan dihapus sepenuhnya,” lanjut Fredrik. “Aku akan mengubahnya. Mengedit sebagian memori, lalu menambahkan ingatan baru sebagai penyangga. Trauma yang selama ini menghancurkannya tidak akan lagi muncul dalam bentuk yang sama.”“Jika tuan menyetujuinya,” ucap Fredrik pelan, “aku siap melakukannya.”Andre menarik napas dalam. “Apa itu berbahaya untuk Vera?”“Tidak lebih berbahaya dibandingkan membiarkannya dalam kondisi yang sekarang,” jawab Fredrik tanpa ragu. “Jika kondisi Nyonya dibiarkan

  • Cinta yang sudah tidak aku inginkan   Bab 62

    Pada hari keempat, pintu kamar itu akhirnya terbuka. Tanpa membuang waktu, mereka bergegas ke rumah sakit tempat Vera dirawat. Vera masih sama, ia terus berteriak tanpa arah, dengan suara yang pecah dan penuh ketakutan. Tubuhnya diikat erat ke ranjang rumah sakit, sebagai upaya terakhir untuk mencegahnya melukai diri sendiri. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan matanya kosong. Andre tidak masuk, ia tidak berani, ia hanya berdiri di balik jendela kaca gelap yang langsung menghadap ke arah Vera. Vera tidak mungkin melihatnya. Andre telah memerintahkan rumah sakit menyiapkan ruang observasi khusus, ruang di mana ia bisa mengawasi setiap gerakan Vera tanpa pernah diketahui keberadaannya. Jarak tipis itu menjadi batas antara rasa bersalah dan ketakutannya sendiri. Fredrik melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. Begitu melihat sosok asing, Vera langsung menunjukkan kepanikan yang sama seperti saat dokter dan perawat lain mendekatinya. Napasnya memburu, tubuhnya menegang, dan

  • Cinta yang sudah tidak aku inginkan   Bab 61

    "Carikan ibu susu terbaik untuk anak itu" perintah Andre dengan suara datar.Kepala pelayan menunduk dalam, "Baik, Tuan."Kini, anak itu diserahkan pada perawatan orang lain, bukan karena cinta, tapi karena ia sadar, ia belum layak berada di dekatnya.Bayi tersebut segera dipindahkan kembali ke kediaman keluarga Hardian, dijaga ketat dan dirawat secara terpisah.Andre memilih bertahan hidup dengan rasa bersalah itu.Karena pada akhirnya, ia tidak sanggup membunuh satu-satunya hal yang masih mengikatnya dengan Vera, meski ikatan itu kini lebih menyerupai hukuman daripada harapan.Andre mulai mengabaikan tugas-tugasnya sebagai kepala keluarga Hardian. Fokusnya sepenuhnya terpecah, pikirannya terus kembali pada Vera, meski ia sendiri tidak lagi berani menemuinya secara langsung.Tumpukan dokumen di meja kerja Andre mulai menumpuk. Rapat yang biasanya ia pimpin sendiri kini hanya dihadiri sekretarisnya.Beruntung, kepala pelayan dan sekretarisnya bergerak cepat mengambil alih seluruh urus

  • Cinta yang sudah tidak aku inginkan   Bab 60

    Kepala pelayan menundukkan kepalanya sedikit sebagai salam hormat.“Tuan sedang menemani Nyonya ke rumah sakit, Tetua.”“Kondisi Vera… apa cukup bahaya?”Kepala pelayan tersenyum tipis, sopan namun jelas tertutup.“Para Tetua tidak perlu khawatir. Tuan akan menyampaikan kabar lebih lanjut mengenai kondisi Nyonya secara langsung.”Tetua Deri dan Tetua Waru saling pandang, lalu menghela napas pelan.“Kalian benar-benar bawahan Andre,” gumam Tetua Deri. “Cara bicara, sikap, bahkan caramu menutup informasi, persis seperti dirinya.”Tetua Waru mengangguk setuju. “Tidak heran dia mempercayai kalian sepenuhnya.”Sekretaris Andre dan kepala pelayan hanya membalas ucapan para tetua dengan senyum ringan. Kesetiaan mereka bukan sesuatu yang perlu dijelaskan, karena sejak awal, itu sudah menjadi bagian dari diri mereka.Di sisi lain, di rumah sakit tempat Vera berada.Setelah sepuluh jam waktu berlalu, lampu ruang operasi akhirnya padam.Andre yang sejak tadi menunggu dengan wajah tegang langsung

  • Cinta yang sudah tidak aku inginkan   Bab 59

    Tetua Deri, tetua kedua keluarga Hardian sekaligus anak angkat kedua, akhirnya angkat bicara.“Meski pun ada anak lain, apa kau yakin mereka akan mampu memimpin keluarga Hardian sebaik Andre?”Ia memandang Sandi tanpa ragu sedikitpun.“Hentikan omong kosongmu ini. Soal keturunan, Andre masih cukup muda. Tidak perlu bagi kita untuk terikat aturan lama keluarga secara membabi buta.”“Kalian membelanya? Atau jangan-jangan, kalian sudah disuap oleh Andre?”Meski tuduhan itu tidak sepenuhnya salah, Waru dan Deri memilih diam. Mereka tidak berniat untuk membuka hal seperti itu apalagi di depan para tamu undangan yang hadir malam ini.Mereka tahu kenyataan ini dengan sangat jelas. Di keluarga Hardian, bukan soal siapa yang bersih atau siapa yang kotor. Tapi siapa yang benar-benar layak atau siapa yang tidak layak dalam memegang kekuasaan.Waru akhirnya melangkah maju dan berdiri di hadapan Sandi, suaranya meninggi dan penuh wibawa.“Omong kosong apa yang kau bicarakan, Sandi?”“Semua orang d

  • Cinta yang sudah tidak aku inginkan   Bab 5

    Ia menghirup rokok itu perlahan, terlalu perlahan, hingga asap memenuhi seluruh kabin mobil. Bau tembakau yang pekat menekan dadaku, merayap ke paru-paruku, lalu mengendap seperti sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Udara terasa berat. Setiap tarikan napas bukan lagi kebutuhan hidup, melaink

  • Cinta yang sudah tidak aku inginkan   Bab 3

    Seminggu kemudian, kabar itu akhirnya sampai ke telingaku. Kediaman Ananta mengalami kebakaran hebat. Api melahap bangunan tua itu tanpa ampun, menjilat setiap sudutnya hingga tak menyisakan apa pun selain puing hitam dan abu. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Tidak kenangan. Tidak rasa aman. Tida

  • Cinta yang sudah tidak aku inginkan   Bab 2

    # Kehidupan Kedua Aku membuka mata dengan terengah, seperti seseorang yang baru saja ditarik paksa dari dasar laut. Suara isak tangis memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma dupa yang menusuk hidung. Suasana di sekelilingku terasa begitu asing, namun anehnya… juga sangat familiar. Ada sesuatu ya

  • Cinta yang sudah tidak aku inginkan   Bab 1

    Aku pernah mati. Bukan oleh musuh, bukan oleh takdir, melainkan oleh lelaki yang bersumpah akan menjagaku seumur hidup. Ia memelukku sambil berkata bahwa aku adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Namun saat aku menjerit kesakitan, tangannyalah yang paling cepat melepasku. Kini aku terlahir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status