LOGINWajah ramah Kaleb, seketika membuat Aerin menghela napas lega. Entah kenapa dia merasa Kaleb seperti malaikat untuknya, selalu datang saat ia butuhkan.
“Aku tidak menyangka kau akan datang ke bagian enrollment yang paling kacau ini,” kata Kaleb, tawanya ringan. “Kau beruntung. Aku ditugaskan di sini hari ini. Kau sudah dapat Student ID?” “Belum. Aku tidak yakin harus ke mana. Antreannya panjang sekali.” “Tentu saja. Ini birokrasi, darling. Ikuti aku. Aku tahu jalur cepatnya. Kau harus mendaftar ke Supervisor Departemen Sastra Inggris dulu.” Kaleb memimpin jalan menembus kerumunan. “Kau sangat menyelamatkanku,” bisik Aerin. “Sudah tugasku. Jadi, Aerin dari mana? Aku tahu logatmu bukan dari sini.” “Aku dari Indonesia, Jakarta.” “Wow. Jauh sekali. Kau tinggal di mana? Halls of Residence atau sewa flat?” “Aku tinggal dengan teman lama Ayahku.” Aerin memilih kata-katanya hati-hati. Kaleb mengangkat alisnya. “Menguntungkan. Itu berarti kau punya koneksi. Kami para senior harus berjuang untuk mendapatkan flat yang layak.” Mereka tiba di meja yang lebih sepi. “Oke, isi formulir ini dengan lengkap. Bagian ini tentang modul yang wajib kau ambil, dan ini adalah informasi tentang tutor akademismu. Jika beruntung, kau tidak akan mendapatkan Dr. Nathaniel.” Aerin menyambar formulir itu dengan gugup. Takut rahasianya langsung terbakar di hari pertama ia kuliah. Ia heran, setiap bertemu dengan Kaleb, pemuda itu selalu menyebut nama Ronn. “Dia seseram itu?” “Sangat. Dia dosen brilian, Aerin, tapi dia juga sangat menjaga reputasinya. Dia tidak mau ada kesalahan, tidak mau ada drama di departemennya. Sangat kaku. Tapi kau akan menyukai karyanya,” jelas Kaleb, bersandar di meja. “Kau akan bertemu tutor-mu minggu depan.” “Tutor?” “Ya. Itu dosen pembimbingmu. Kau harus bertemu dengannya secara rutin. Aku harap kau tidak dapat yang terlalu gila.” Kaleb tersenyum, dan Aerin ikut tersenyum. Untuk sesaat, ia melupakan pita pink dan Lilith. ***~*** “Selesai! Kau resmi menjadi mahasiswa Harrowgate.” Kaleb menyerahkan Student ID baru Aerin. “Selamat datang di neraka kami.” Aerin tertawa, lalu ia menatap Kaleb sambil tersenyum lebar. “Terima kasih, Kaleb. Serius, kau penyelamat,” kata Aerin. “Sama-sama. Sekarang, bagaimana kalau kita mencari kopi dan—" “Tidak,” potong Aerin cepat. “Aku harus segera pergi. Aku punya janji. Sekali lagi, terima kasih banyak.” Kaleb tampak kecewa, tiba-tiba ia mengambil ponsel di tangan Aerin, lalu mengetikkan sesuatu. “Baiklah. Sampai jumpa di Freshers’ Week. Hubungi aku jika kau butuh panduan lagi.” ucap Kaleb, menyerahkan ponsel Aerin kembali. Aerin sedikit kaget dengan sikap spontan Kaleb. Tapi ia tak merasa terganggu. Ia hanya mengangguk dan berbalik. Saat ia berjalan melewati gerbang aula, ia tanpa sengaja mengalihkan pandangannya ke area kantor fakultas di lantai atas. Jantungnya mencelos. Di koridor kaca, yang dikelilingi oleh buku-buku dan penghargaan, Ronn berdiri. Dr. Rowan Nathaniel. Ia mengenakan setelan jas yang rapi, berbicara dengan seorang wanita paruh baya yang terlihat seperti pimpinan departemen. Ronn terlihat berwibawa, karismatik, dan sangat disegani. Ia terlihat seperti pria yang sangat sukses. “Dia seperti punya dua kepribadian.” celetuk Aerin. Tiba-tiba, mata Ronn beralih dari rekannya dan langsung mengunci mata Aerin di tengah keramaian. Tatapan Ronn tidak menunjukkan sapaan, melainkan peringatan keras dan dingin. Pria di sana bukanlah pria dengan sorot mata kelelahan yang memijat pelipisnya di dapur. Pria ini adalah Dr. Nathaniel—ia melihat Aerin, dan ia juga melihat Aerin berbicara dengan seorang mahasiswa. Ronn lalu berbalik, kembali ke percakapannya, seolah Aerin hanyalah debu. “Ck, Sekarang dia mengawasiku di kampus??” ***~*** Aerin kembali ke rumah saat senja. Ia segera naik ke kamar, jantungnya masih berdetak kencang karena kemarahan yang tertahan. Ronn sudah mengawasinya. Ia masih ingat dengan tatapan itu. Seakan mengatakan, “Aku sedang mengawasimu.” “Apa-apaan dia itu?? Aku kan tidak melakukan apapun, kenapa dia melihatku seperti itu?? Seakan aku berbuat kesalahan besar!” omel Aerin. Napasnya menggebu-gebu. Amarahnya yang ia tahan sedari tadi, keluar begitu saja. Ia menjatuhkan ranselnya dan matanya menangkap sesuatu di sudut ruangan. Di balik tumpukan majalah lama yang ia temukan di lemari, ada kotak pengiriman kecil berwarna abu-abu gelap, dengan label toko desainer Italia yang sangat mewah. Kotak itu kosong, tetapi ada slip pengiriman yang terselip. “Apa ini?” gumamnya penasaran. Aerin mengambilnya. Tangannya bergetar. Ia tahu ia melanggar privasi, tetapi rasa penasarannya lebih besar. Penerima: L. Nathaniel. Item: Perhiasan (Limited Edition) senilai £7,500. Tanggal Pengiriman: September 19, 2025. Aerin mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi kalkulator dan mulai menghitung. “Wah!” Ia hampir menjerit saat melihat angka yang muncul di kalkulator, “Ini setara Rp 168.000.000!” “L itu Lilith ‘kan? Tentu, siapa lagi,” gumam Aerin, berbicara sendiri. Berarti Lilith berbohong kepada Ronn. Ronn mengklaim mereka kesulitan finansial. Tetapi Lilith menghabiskan ribuan Pound untuk membeli perhiasan di hari yang sama saat Lilith pergi pagi-pagi sekali dan Ronn bilang ia tidak tahu ke mana Lilith pergi. Aerin menelan ludah. Ia memegang bukti kuat yang bisa menghancurkan Lilith. Ia mulai bimbang, ia kini terlibat lebih dalam dari yang ia kira. Tiba-tiba, ia mendengar suara yang sangat lirih dari lantai bawah. Itu bukan suara teriakan Lilith, atau langkah Ronn yang lelah. Itu adalah suara piano. Melodi yang dimainkan itu kompleks dan menyayat hati, penuh kesedihan mendalam. “Chopin? Siapa yang memainkan melodi seindah ini?” gumam Aerin. Itu adalah piano terlarang, yang Lilith larang untuk disentuh siapa pun. Aerin memasukkan slip pengiriman Lilith di kantong roknya, lalu bergerak perlahan ke tangga. Ia mengintip ke ruang tamu. Duduk di bangku piano kayu, adalah Ronn. Matanya terpejam, dan jarinya menari di atas tuts. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kewibawaan seorang dosen, melainkan kesedihan yang polos dan tak tersentuh. Pria di depannya ini terlihat seperti pria yang sedang patah hati. Aerin berdiri membeku, tangannya yang sedang masuk ke dalam saku, memegang bukti slip pengiriman milik Lilith, sambil mengamati permainan piano Ronn. “Mau berapa lama kau sembunyi di sana? Keluarlah. Kau mau coba memainkannya?”“Aaaaak—!”Teriakan itu memecah keheningan apartemen.Reza yang baru saja membuka pintu langsung berbalik. Evander, yang berdiri tepat di belakangnya dengan koper kecil di tangan, ikut tersentak.“Aerin!” Reza berlari.Aerin sudah terduduk di lantai ruang TV, punggungnya menempel ke sisi sofa. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya naik turun tak beraturan. Ponselnya tergeletak tak jauh dari tangannya—layarnya masih menyala, tampak layar panggilan yang telah terputus.Evander menjatuhkan koper. “Apa yang terjadi?”Reza berlutut, mengambil ponsel itu. “Panggilan masuk… nomor tidak dikenal.” Ia menatap Aerin. “Siapa?”Aerin membuka mulut—lalu menutupnya lagi. Tatapannya jatuh ke lantai. Tangannya mencengkeram ujung lengan bajunya sendiri.“Dia…” suaranya patah. “Dia tahu nomorku.”Reza berdiri dalam satu gerakan cepat. “Evander, tolong.”Tanpa perlu penjelasan, Evander mengangguk. Ia mendekat, membungkuk di depan Aerin. “Aerin. Lihat aku. Tarik napas.”Aerin mencoba. Gagal. Dadanya terasa sesa
Beberapa hari telah berlalu. Di bandara, Danadyaksa menyiapkan koper terakhirnya. Aerin berdiri di samping Reza, menatap ayahnya yang bersiap untuk lepas landas.“Kau yakin akan baik-baik saja di sini, Aerin?” tanya Danadyaksa, suaranya berat tapi hangat.“Aku bisa, Pa,” jawab Aerin singkat.Danadyaksa menghela napas panjang. “Sayang, kau memang sangat beruntung. Teman-temanmu yang baik itu—Liz dan Tristan mau berkerjasama dengan agensi untuk membersihkan namamu. Tolong sampaikan salamku untuk mereka.”Aerin mengangguk. Pikirannya kembali ke hari sebelumnya. Evander, managernya di Indonesia meneleponnya.‘Aerin, dengar.’ Evander tak berbasa-basi, ‘Agensi ingin segera memberikan klarifikasi sebelum skandal itu menyebar,’“Maksudnya?” tanya Aerin tak mengerti.‘Kau akan muncul ke publik, Aerin. Di London. Kau harus menunjukkan bahwa kau sedang menempuh pendidikan dan mendapat beasiswa bergengsi.’Dan setelahnya Evander menjelaskan panjang lebar tentang rencana agensi untuknya—soal kerja
“Aerin.”Tidak ada jawaban. Ketukan dari balik pintu itu terdengar lagi, lebih pelan.“Aku masuk ya.”Pintu terbuka sedikit. Reza, asisten Danadyaksa yang dia bawa dari Indonesia, berdiri dengan paper bag di tangan.“Kau belum makan sejak tadi siang,” katanya.Aerin duduk di ujung ranjang, punggungnya menempel ke sandaran. Ia menarik lututnya ke dada, seolah ingin mengecil di tempat itu.“Aku tidak lapar.”Reza melangkah masuk, meletakkan makanan di meja kecil.“Kau harus tetap makan,” katanya.Reza duduk di sofa seberang ranjang. Ia berusaha membuat Aerin nyaman—bukan sebagai pria, melainkan seseorang yang sudah lama mengaguminya dari jauh.Kini, melihatnya rapuh di hadapannya, ada rasa khawatir yang tidak ia sangka akan sebesar ini.Aerin tertawa kecil, hambar. “Aku lebih baik kelaparan jika itu bisa membuat Papa mengubah pikirannya dan tidak membawaku kembali ke Indonesia.”Reza diam sejenak. “Dia khawatir.”“Tapi tak mau mendengar penjelasanku.”“Karena kau tak berterus terang.”A
Danadyaksa berdiri di depan rumah bergaya Georgian yang tenang dan menjulang tinggi. Beberapa waktu lalu, dia sempat menghubungi Nenek Ronn, Elara Nathaniel, hanya untuk bertukar kabar dia akan berkunjung ke London. Karena tahun lalu saat mengantar Aerin, ia belum sempat berkunjung.‘Oh, kau ingin menemui Aerin? Aku sangat senang Aerin tinggal di sini. Semenjak dia ada di rumah ini, suasana rumah jadi lebih ceria.’Itu yang dia dengar dari Nenek Elara. Kabar yang anehnya dia baru tahu.“Sejak kapan Aerin tinggal di rumah Nenek Elara? Kenapa aku tidak dianggap perlu tahu tentang ini?” gumamnya.Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya menekan bel rumah.***~***Danadyaksa mempercepat langkahnya. Ia sudah bertemu dengan Helena di depan pintu, dan mengatakan kalau Aerin sedang berada di kolam renang belakang rumah.Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada putrinya itu—sesuatu yang sepertinya dia sembunyikan.“Aerin—”Danadyaksa berhenti di tepi koridor kolam renang , langkahnya terputus
Di sela-sela kesadarannya, aroma Cedarwood itu muncul lagi. Hangat. Menenangkan. Lengan besar yang mengangkatnya. Detak jantungnya cepat—terlalu cepat untuk seseorang yang selalu terlihat tenang.Aerin mencengkeram jas Ronn lebih erat.‘Please, God… hentikan waktu. Biarkan aku bisa seperti ini lebih lama.’ doanya.“Dokter!” suara bass Ronn memecah udara di ruang IGD itu.Beberapa perawat menghampirinya, memindahkan tubuh Aerin di ranjang rumah sakit.“Dia tiba-tiba berkeringat, matanya tidak fokus dan pingsan…”Samar-samar Aerin mendengar suara Ronn saat menjelaskan kondisinya pada dokter yang menjaga.Dan setelah itu, gambaran lain berganti.Kini ia sudah berada di sebuah kamar, dengan dinding dan atap berwarna putih bersih. Saat tangannya sedang meraba, ia tak sengaja menyentuh sesuatu.Rambut. Ada seseorang yang sedang tertidur di bawah ranjangnya. Aerin sedikit menunduk.“R-ronn…”“Kau sudah bangun?”Ronn tiba-tiba saja mendongak. Ia segera berdiri, membungkukkan tubuhnya untuk me
‘Papa akan ke London.’Suara Danadyaksa beberapa waktu lalu terngiang di telinga Aerin. Ia masih duduk di tempat yang sama, punggungnya bersandar ke kursi kamar kecil itu, napasnya tenang—walau gemuruh dadanya terdengar keras.Ia mulai menggesek-gesek ujung kuku ibu jarinya dengan jari tengahnya.“Aku harus memberitahu Ronn ‘kan?” gumamnya bimbang. Aerin menatap layar ponselnya agak lama.“Tapi, bagaimana kalau itu justru menambah bebannya? Dia sudah banyak tertekan saat ini,”Tanpa sadar, kakinya melangkah bolak-balik di kamar itu. “Dia akan lebih shock jika tiba-tiba melihat Papa muncul di London,”Langkahnya terhenti. “Lagipula… aku tak tahu apakah harus berbohong pada Papa atau mengatakan segalanya,”Ia menekan satu nama. Nada sambung terdengar.Sekali. Dua kali.Tak diangkat.Aerin memutuskan mengirim pesan.[“Papa akan ke London. Kita perlu bicara.”]Aerin mengernyitkan alis. Kurang dari sepuluh detik, notifikasi muncul di layar ponselnya. Balasan datang cepat. Terlalu cepat.[“







