Masuk"Tuan akan pulang sore ini."
Helena menatap layar ponselnya lama sekali. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya bergetar—seolah kalimat singkat itu bisa menghangatkan seluruh kesepian yang ia rasakan.Sudah satu bulan berlalu sejak ia menginjakkan kaki di Manhattan. Satu bulan... tinggal di apartemen yang luas, megah, dan penuh kaca, tapi terasa hampa.
Hari-harinya berlalu dengan rutinitas sederhana: bangun seorang diri, sarapan seadanya dengan sisa roti panggang dan susu kotak, lalu menatap keluar jendela tinggi yang menampilkan kerlip lampu kota New York di malam hari. Semua tampak indah, namun keindahan itu terasa jauh, asing, dan dingin.
Seminggu sudah Rivano tak pulang. Katanya ada urusan bisnis di luar kota. Tak ada kabar pasti, hanya pesan singkat dari pengawal pribadinya, Bayu, yang selalu menempel layaknya bayangan.
"Akhirnya dia... pulang," gumam Helena pelan, bibirnya melengkung tipis.
Tanpa sadar, ia berlari kecil menuju kamar mandi. Air dingin musim semi menyambutnya begitu keran diputar. Sudah tiga hari ia tak benar-benar mandi—sekadar cuci muka dan sikat gigi saja—karena cuaca bulan April yang menusuk tulang membuatnya selalu menunda. Tapi kali ini berbeda. Rivano pulang, dan ia ingin menyambutnya dengan rapi.
Usai mandi, rambutnya masih basah, hitam berkilau dan tertatah indah, Helena melangkah perlahan menuju dapur. Ia membuka kulkas dengan harapan menemukan sesuatu untuk diolah. Namun begitu pintu kulkas terbuka, wajahnya meredup.
Kosong. Hanya botol air mineral, selai kacang yang hampir habis, dan beberapa buah yang sudah mulai layu."Sepertinya... Rivano lupa menyuruh seseorang mengisi kulkas ini," desisnya sambil menggigit bibir bawah.
Seharian ini, ia hanya mengandalkan snack di kamar tidurnya. Ia terlalu malas keluar menatap penthouse besar yang begitu kosong. Tangannya meremas erat pegangan kulkas, kemudian matanya berbinar kecil—seolah menemukan alasan untuk menjelajah kota Manhattan.
"Apa boleh buat... kalau begitu aku saja yang pergi berbelanja. Pasti dia akan lapar begitu pulang."
Bayangan hangat muncul di benaknya: meja makan panjang dengan lilin kecil menyala, aroma masakan rumahan yang sederhana, dan Rivano duduk di seberangnya. Hatinya bergetar. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Manhattan, ia punya tujuan yang membuatnya bersemangat.
Cepat-cepat Helena melirik dompet kecilnya. Masih ada uang pound sterling yang telah ia tukar di money changer. Sepertinya cukup, batinnya yakin.
Meskipun ia bersuamikan seorang pengusaha kaya, Ia belum pernah merasakan nafkah batin sekaligus nafkah materi dari suaminya. Ia tak pernah meminta, dan Rivano hanya memastikan apa yang ada di rumah tercukupi, tanpa menanyakan apakah ia membutuhkan uang.
Dengan mantap, Helena mengambil mantel panjang, menyampirkan syal tipis di lehernya, lalu melangkah keluar. Angin dingin Manhattan menyambut begitu pintu besar penthouse terbuka. Lobi luas dengan lantai marmer mengkilap dan hiruk-pikuk mobilitas kota menyapa setiap langkahnya. Udara April yang menusuk kulit bercampur dengan aroma aspal basah dan kopi dari kedai sekitar.
Untuk pertama kalinya, Helena merasa seperti gadis kecil yang berani menantang dunia asing ini. Ia menoleh sekali, mengingat gedung pencakar langit di mana ia tinggal—besar dan megah. "Kurasa aku pasti akan mengingat tempat ini." ucapnya sembari mantap melangkah.
Mengandalkan peta di ponselnya, akhirnya Helena sampai di sebuah supermarket, berjalan kaki melewati trotoar yang masih diselimuti angin April yang menusuk.
Di dalam, ia mendorong troli melewati lorong-lorong panjang, dikelilingi rak-rak tinggi penuh warna: tomat merah mengkilap, paprika hijau segar, dan buah-buahan eksotis yang sama sekali asing baginya. Ia menatap daftar belanja kecilnya, bibir bergerak perlahan membaca di layar ponsel: "tomato, onion, milk... ramyeon..."
Mata Helena berbinar. Ramyeon... aku harus menemukannya. Aku bosan sekali makan roti terus. Aku sangat ingin makan mie instan.
Ia melihat seorang pramuniaga berdiri dekat rak sabun. Dengan gugup, Helena mencoba bertanya, "Ekcus me... uh... where... ramyeon?" tanya Helena dengan terbata bata.Pramuniaga itu menatapnya dari atas ke bawah, ekspresinya dingin, matanya menusuk seakan menilai. "Ramyun? What?"
Helena tersenyum canggung, menekankan kata itu perlahan. "Uh... ram..yeon... aa... maaf... noodle... noodle is ramyeon?" Ia mencoba menjelaskan kembali. Matanya menatap ramah berharap mendapatkan balasan yang serupa.
Pegawai itu mengerutkan alis, menatapnya sinis, lalu menunjuk dengan tangan ke arah lorong sebelah kiri sambil berkata dengan nada dingin. "If you can't speak English, at least don't be lazy—read the signs!"Helena menelan ludah, pipinya memerah. Ia merasa seolah berdiri di lorong yang salah, sebagai orang asing yang tidak sepantasnya ada di sini. Beberapa pembeli menatapnya—ada yang mengernyit, ada yang bergumam pelan. Rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu. Apakah ini karena aku orang Asia? Atau karena aku tak bisa bahasa Inggris? Ia di perlakuan buruk.
Ia menunduk, menatap rak-rak lain, mencari label "instant noodles". Mata Helena menangkap harga di bawahnya: USD 2.99 per bungkus. Ia menghitung cepat dalam kepala, mengonversi ke rupiah. Wajahnya merengut. Bisa-bisanya... satu bungkus mie semahal ini...
Dengan tangan gemetar, ia mengambil beberapa bungkus mie instan dan daging. Ia memegang troli seolah itu perisai dari tatapan sinis orang-orang di sekitarnya. Lalu ia berkeliling mengambil tomat (USD 1.50 per pound), susu kotak (USD 3.20), bawang bombay (USD 2.75 per pound), dan beberapa apel merah segar (USD 0.99 per buah).
Setiap kali menaruh barang di troli, jantungnya berdetak lebih cepat. Aku sedang menyiapkan makan malam untuk Rivano. Aku bisa. Aku harus bisa.
Namun, rasa frustrasi tetap ada. Harga-harga ini, semuanya terasa mahal untuk wanita yang tak bekerja. Troli belanjaannya tidak terlalu banyak, tapi rasanya sudah membuat dompetnya menipis dan hatinya sedikit berat.Helena mendorong troli menuju kasir. Weekend di Manhattan selalu ramai, dan antrian panjang di depan membuatnya menelan ludah beberapa kali. Beberapa orang tampak kesal, beberapa sibuk memeriksa ponsel, dan suara berisik kasir yang bercampur dengan interkom supermarket membuat Helena semakin gugup.
Ia menatap layar ponselnya—low battery. Satu bar tersisa. Panik merayap di dada. Bagaimana kalau aku tersesat di jalan pulang? Atau kalau ada darurat bagaimana nih?
Tangannya menggenggam pegangan troli, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas panjang. "Ini... cuma belanja... cuma belanja," gumamnya pelan, tapi kata-kata itu terdengar rapuh bahkan di telinganya sendiri.
Antrian bergerak lambat. Setiap kali troli orang di depannya maju sedikit, jantung Helena ikut melonjak. Ia melihat kasir menatapnya beberapa kali, ekspresinya netral, tapi bagi Helena itu sudah terasa menakutkan.
Ia berusaha menatap sekeliling, mencari tanda-tanda familiar—rak, pintu, peta supermarket—tapi semuanya tampak sama, luas, dan membingungkan.
"Please... cepat... cepat..." batinnya, tapi tak ada yang bergerak lebih cepat.Dan ketika akhirnya ia hampir sampai di depan kasir, ponselnya mati total. Layar gelap, indikator baterai hilang. Helena terhenti, gemetar, tangan menggenggam troli semakin kencang. Dunia seakan melambat, dan kesadaran bahwa ia benar-benar seorang diri di kota asing membuatnya menelan ludah beberapa kali.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, Helena akhirnya berhasil membayar belanjaannya. dua kantong belanja, dompet menipis, dan tangan mulai pegal menuntunnya keluar dari supermarket. Di luar, angin Manhattan yang dingin menyambutnya, menusuk jaket tipis yang ia kenakan.
Ia menatap sekeliling, berharap menemukan tanda familiar dari perjalanan pulang sebelumnya, tapi jalanan ramai, kendaraan melaju cepat, dan papan petunjuk terasa membingungkan. Ponselnya mati total, sehingga ia tak bisa mengecek peta digital.
"Ok... tenang... tenang... aku bisa," gumam Helena sambil menarik napas panjang. Tapi langkahnya semakin ragu ketika melihat papan nama gedung pencakar langit yang tampak mirip semua.
Beberapa pejalan kaki menatapnya singkat, lalu melanjutkan langkah mereka. Helena merasa mata mereka penuh pertanyaan—atau mungkin heran melihat seorang gadis Asia tersesat di tengah keramaian Manhattan. Sebuah rasa kesepian dan keterasingan menghantamnya.
Ia mencoba mengingat jalan pulang: belok kanan di Starbucks, lalu lurus sampai taman kecil, kemudian... ah, hilang! Semuanya terasa sama, dan ia menatap ke atas, gedung pencakar langit menjulang tinggi, seakan menertawakan kebingungannya.
Tangannya menggenggam tas belanja erat, napasnya memburu, dan jantungnya berdegup cepat. "Kenapa semua ini terasa sulit... padahal hanya jalan pulang?" batinnya lirih.Helena merasa benar - benar bodoh. sudah ada disini selama satu bulan tapi baru kali ini ia keluar rumah.Ia melihat sebuah tanda petunjuk jalan—namun tulisan kecil di papan itu membuatnya semakin bingung. Semua huruf terlihat sama, dan ponsel mati membuatnya tak punya cara lain. Sambil menggigit bibir bawah, Helena melangkah perlahan, setiap langkah penuh waspada, berharap menemukan penthouse dengan selamat.
Helena menatap sekeliling, kantung belanja di kedua tangannya mulai terasa berat. Jalanan tampak sama semua—lampu jalan temaram, gedung tinggi menjulang di kanan-kirinya.
"Eh... gang ini... apa benar aku lewat gang ini ya?" gumamnya pelan, hampir tenggelam oleh deru mobil. Hari semakin gelap, bayangan panjang merayap di trotoar.
Di ujung jalan sempit, matanya menangkap empat pria duduk di bangku, botol minuman di tangan. Mereka tertawa, bercampur dengan kata-kata kasar yang terdengar samar.
Hati Helena mencelos. Ia berbalik, mencoba mengambil jalan lain, tapi langkahnya tersendat. Tubuhnya kaku, kantung belanja menggantung berat di tangan.
Salah satu pria mencondongkan tubuh, menatapnya tajam. "Oi, love... where d'you think you're goin'?" suaranya berat dengan aksen British, senyum sinis menghiasi wajahnya.
Mereka berlari menghampiri.Helena tersentak dengan sapaan itu. Tubuhnya gemetar. Napasnya cepat, jantung berdetak kencang. Ia memutar tubuh, ingin segera menjauh, tapi kantung belanja yang berat membuatnya tersandung sedikit.
"Come on then, luv... don't just stand there," seorang pria lain menambahkan, nada penuh ejekan dan aksen British yang tebal.
Salah satu dari mereka melangkah lebih dekat. "Careful now... wouldn't want you losin' your way, eh?" ucapnya, senyum sinis tetap menempel di wajahnya.
Panik menguasai Helena. Langkahnya tercekat. Kantung belanja di tangan terasa makin berat. Helena berlari sekuat tenaga di gang sempit, napasnya tersengal.Tiba-tiba, kakinya tersandung sendiri di trotoar yang retak—jatuh keras, dengkulnya memar. Kantung belanja terlempar, buah dan sayur berhamburan di aspal.
"Ah..." ringis Helena melihat telapak tangannya tergores aspal.
"Beb... you need help," seorang pemuda mendekat dengan gerakan cepat, mencoba meraih pinggang Helena.
Helena menepis, wajah pucat, tangan gemetar.
"Jangan... jangan sentuh aku!" teriaknya, panik, mencoba menepis pria itu.
Empat pria itu mulai mengepungnya, tawa sinis terdengar, belanjaan berserakan di jalan, telur pecah berceceran. Helena semakin ketakutan, Ia berusaha mangangkat tubuhnya sendiri.
Panik menguasai Helena. Ia mundur, napas tersengal. "Please... don't..." gumamnya lirih, menatap ke sekeliling untuk mencari jalan keluar.
Tatapan pria itu liat menatap Helena dari ujung kaki hingga ujung rambut."Come beb...." ucap salah satu pemuda itu menarik tubuh Helena. Ia di dekap, tangan lelaki itu dengan liar masuk kedalam rok yang dikenakan Helena.
"Stop....." Jerit tangis Helena mengema.
"Rivano... tolong aku." rintih batin Helena.
Langkahnya menuju pintu mantap, penuh amarah yang menutup pintu hatinya. “Minta Baskara jemput kamu,” katanya sebelum berbalik pergi.“Riv… jangan pergi! Maaf… Riv!” Helena mencoba bangkit dari kursi roda, mencoba mengejar laki-laki yang ia cintai, namun tubuhnya terhuyung dan jatuh keras ke lantai.“Aarggh…” rintihnya. “Riv… jangan pergi… aku mohon…” Tangisannya menggema memenuhi ruangan.Rivano berhenti sejenak di ambang pintu ketika mendengar suara tubuh Helena jatuh. Ia menoleh sedikit, sekilas saja, wajahnya keras namun matanya bergetar.“Kalau kamu memang cuma cinta aku… bangun. Raih aku. Aku lelah mengejarmu terus,” ucapnya, kemudian membanting pintu dan meninggalkan ruangan.Di luar, napasnya tercekat oleh keraguan kecil. Apakah aku terlalu keras? pikirnya.Tapi biar saja. Aku ingin melihatnya berjuang, bukan cuma keras kepala.Di dalam kamar, suara Helena memecah seluruh dinding luka yang memisahkan mereka.“Riv…” Ia merangkak perlahan, berusaha bangkit meski tubuhnya gemetar
Rivano tidak pernah menyangka akan menemukan Helena di tempat ini. Perempuan itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca—tatapan yang membuat dadanya terasa sesak. Ia tahu, di balik bening air mata itu ada kekecewaan besar, ada rasa dikhianati oleh orang yang paling ia percayai. Helena tampak seolah menolak percaya bahwa laki-laki yang selalu ia pegang teguh bisa menyembunyikan hal sebesar itu.“Kita bicarakan di dalam. Sus, biar saya yang antar istri saya ke kamar,” ujar Rivano pelan. Ia menggenggam pegangan kursi roda Helena dan mendorongnya menuju ruang rawatnya.Begitu sampai, ia menghentikan kursi roda itu di dekat sofa lalu duduk perlahan. Bahunya sedikit naik turun, seperti seseorang yang sedang berusaha menenangkan diri sebelum badai menerjang.Wajah Helena memerah, bibirnya bergetar. “Kenapa bisa setega itu? Menyembunyikan kenyataan sebesar ini? Tega kamu,” suaranya pecah, namun setiap kata menusuk.“Dari semua orang dalam hidupku… kamu yang paling aku percaya. Tapi kamu malah bo
Setelah siang menjelang, perempuan itu tetap diam. Tidak banyak bicara. Bahkan kehadiran Davin—yang biasanya bisa membuatnya tersenyum—tidak mampu memecah sunyi yang menggantung di antara mereka.Ia hanya memalingkan wajah ke arah jendela, menatap langit abu-abu di luar. Kosong. Seolah pikirannya berada di tempat lain.“Sayang, Davin bertanya ke kamu,” suara Rivano memecah keheningan. “Iya… maaf,” jawabnya tanpa menoleh.“Kamu kenapa? Dari tadi diam sekali. Ada yang sakit?” tanya Davin hati-hati.“Aku baik-baik saja,” jawabnya sambil memaksakan sedikit senyum.Rivano mengambil
“Akkhhh—!” teriak perempuan itu begitu tubuhnya jatuh ke lantai, tertimpa tiang infus. Rasa nyeri di perutnya langsung menghantam tajam. Ia tak sanggup menahan lagi—air seninya keluar begitu saja, mengalir ke lantai dan membasahi seluruh kakinya.“Helena! Apa yang terjadi?!” Rivano terbangun panik, langsung melompat dari sofa.“Jangan! Jangan mendekat!” jeritnya histeris, tubuh gemetar, air mata jatuh tanpa kendali.“Sayang, kenapa tidak bangunin aku?” Rivano berusaha mendekat perlahan.“Pergi!!! Aku mau panggil suster saja! Suster! Tolong!” teriaknya sambil menangis keras.Rivano tertegun. Ia tidak pernah melihat istrinya ketakutan seperti itu. Dan saat
Rivano memeluknya erat, menciumi rambutnya dengan rasa syukur yang sulit disembunyikan. Namun sesaat kemudian, ia merasakan sesuatu—kehadiran lain di dekatnya. Begitu menoleh, ia melihat tangan perempuan itu masih digenggam erat oleh Baskara. Genggaman yang penuh luka, penuh sesal, namun tak sanggup dilepas.Baskara menunduk, bahunya bergetar, air mata jatuh diam-diam di punggung tangan perempuan itu.“Apakah kalian mau aku pergi?” tanya Rivano lirih, pelukannya terlepas perlahan.“Riv…” ucap perempuan itu memegangi ujung bajunya, seakan tak ingin ia menjauh.“Aku mengerti,” Rivano mengembuskan napas. “Kalian baru kehilangan seorang anak. Mungkin kalian butuh waktu berdua…”
Sementara itu, di dalam kegelapan panjang yang ia rasakan… perempuan itu hampir mencapai cahaya besar di ujung terowongan. Langkahnya tertatih, tubuhnya lelah, tapi cahaya itu seolah memanggil.Sebelum ia menyentuhnya, sebuah tangan kecil menarik pergelangan tangannya.“Jangan ke sana,” ucap seorang anak laki-laki tampan, suaranya lembut namun tegas.Ia terperanjat melihatnya. Anak itu… begitu mirip seseorang.“K-kamu siapa?”“Belum waktunya ke sana. Lebih baik ke arah itu.” Anak itu menunjuk cahaya lain—lebih lembut, lebih hangat.“Di sana sudah ada yang menunggumu.”







