Beranda / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / Bab 1: Harga Diri yang Diinjak-injak

Share

Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!
Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!
Penulis: Salwa Maulidya

Bab 1: Harga Diri yang Diinjak-injak

Penulis: Salwa Maulidya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-02 10:43:43

“Suamimu selingkuh, Jane. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, dia sedang menghadiri pesta ulang tahun anaknya di hotel.”

Brak!

Pintu aula hotel terbuka dengan hentakan yang membuat semua kepala menoleh. Seketika itu Jane langsung datang ke hotel yang disebut oleh teman kantornya bahwa dia melihat Andrew sedang merayakan ulang tahun seorang anak kecil yang diduga adalah anaknya.

“Tidak mungkin …,” matanya langsung terbelalak menatap Andrew—sang suami yang tengah menggendong seorang anak dengan kue ulang tahun terpampang nyata di hadapannya.

Tiga tahun. Lilin yang menempel di kue ulang tahun itu sudah memberi jawaban bahwa Andrew telah memiliki seorang anak berusia tiga tahun.

Jane membeku di tempat menatap nyalang wajah Andrew yang bahkan tak terkejut sama sekali melihatnya di sana.

“Padahal usia pernikahan kami baru berjalan empat tahun. Itu artinya … perselingkuhan itu dimulai hanya beberapa bulan setelah kami menikah?”

Atau mungkinkah dia yang sebenarnya menjadi selingkuhan?

Pertanyaan itu menghantam kepalanya seperti badai. Jane tidak tahu mana yang lebih menyakitkan. Fakta bahwa Andrew berselingkuh, atau kemungkinan bahwa selama ini dialah pihak yang tak pernah benar-benar dimiliki.

Andrew menatap Jane dengan ekspresi kaku, seolah kehadiran istrinya di pesta anak hasil perselingkuhannya hanyalah gangguan kecil.

“Jane.” Andrew menatap datar wajah Jane.

“Oh, kau datang juga,” ucap Audi dengan nada manis yang dibuat-buat. “Sayang sekali, pestanya hampir selesai. Tapi tidak apa, kau masih sempat melihat suamimu meniup lilin bersama anaknya.”

Ia menekankan kata terakhir dengan kejam—anaknya.

Beberapa tamu saling berbisik menatap Jane dengan tatapan iba bercampur penasaran.

Jane bisa merasakan darahnya mendidih. Air mata sempat ingin turun, namun dia tahan. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan suami dan juga selingkuhannya yang telah menyakiti relung hatinya.

“Kenapa kau melakukan ini padaku, Andrew? Apa yang membuatmu mengkhianatiku?” tanyanya dengan suara bergetar sambil mengepalkan tangannya.

Audi menatapnya dari atas ke bawah, lalu tertawa kecil. “Karena kau memalukan, Jane,” jawabnya dengan santai.

“Terlalu kurus, pucat, dan kaku. Kau tidak bisa merawat diri dan akhirnya Andrew, kekasihku, memilih untuk mengkhianatimu,” lanjutnya kemudian terkekeh pelan, kekehan ejekan yang berhasil membuat hati Jane tercabik-cabik.

“Apa benar itu, Andrew? Kau … kau mengkhianatiku karena alasan itu?” tanyanya kemudian.

Andrew hanya menatap datar wajah Jane dan diamnya adalah jawaban bagi Jane.

Jane merasakan dunia runtuh seketika.

Ia dulu percaya bahwa cinta bisa menyembuhkan segalanya. Ia rela menanggung rasa sepi saat Andrew tak pulang, menutup mata terhadap pesan-pesan mencurigakan, meyakinkan diri bahwa semua hanya karena pekerjaan.

Tapi kini dia sadar: dia sedang mencintai seseorang yang bahkan tak pernah menganggapnya cukup.

Jane menggenggam tas kecilnya dengan erat, lalu berbalik tanpa kata. Suara hak sepatunya bergema tajam di lantai marmer meninggalkan aula hotel yang tiba-tiba terasa terlalu sempit untuk menampung air matanya.

**

Jane duduk di bangku taman kota yang sepi tak jauh dari hotel tempat pesta berlangsung. Ia memeluk tubuhnya sendiri sambil mencoba menahan gemetar yang bukan hanya karena udara, tapi karena kehancuran.

Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Empat tahun hidupnya terasa sia-sia.

Ia berhenti bekerja selama satu tahun demi mengurus rumah dan mendukung karier Andrew. Ia menolak tawaran promosi hanya agar bisa makan malam bersamanya setiap malam, tapi Andrew tak pernah pulang.

Dan sekarang? Dia bahkan menjadi bahan olok-olokan di depan umum.

“Cukup, Jane,” bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau. “Berhenti menangis. Kau sudah terlalu sering dipermalukan.”

Ia menarik napas panjang dan mencoba menenangkan diri. Matanya menatap kosong ke seberang jalan, dan di sanalah dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak, sebuah papan iklan besar bertuliskan:

“TRANSFORM YOURSELF. THE BODY, THE MIND, THE CONFIDENCE.” Hall’s Elite Gym — Private Coach Available.

Banner itu menampilkan seorang wanita berwajah tegas dengan tubuh kuat dan percaya diri. Di bawahnya tertulis: “Kami tak hanya melatih tubuhmu, tapi kami membentuk kekuatanmu kembali.”

Jane menatapnya lama. Haruskah dia merubah diri menjadi lebih sempurna? Dia lalu berdiri sambil menyeka air matanya, lalu menarik ponselnya.

“Hall’s Elite Gym …,” gumamnya lirih. Ia lalu mengetik alamat di layar dan memesan kendaraan daring.

Tak lama taksi datang dan Jane langsung masuk ke dalam.

Setibanya di sana. Jane melangkah masuk menuju resepsionis dan langsung disambut dengan hangat oleh penjaga di sana.

“Selamat malam, ada yang dibantu, Nona?” tanya staff tersebut dengan sopan.

“Aku ingin mendaftar program privat,” kata Jane dengan pelan. “Aku ingin pelatih khusus yang bisa membentuk tubuhku jadi ideal. Berapa pun harganya, aku akan membayarnya!”

Resepsionis itu langsung tersenyum lebar. “Tentu. Anda beruntung karena pelatih terbaik kami baru saja selesai kelasnya. Tunggu sebentar, aku akan panggilkan.”

Beberapa menit kemudian, langkah berat terdengar dari lorong. Jane sontak mendongak dan menatap seorang pria berperawakan tinggi, berambut hitam pekat dengan kulit sedikit kecokelatan berjalan mendekat.

Kaus hitamnya menempel pada tubuh yang berotot, dan setiap gerakannya tampak begitu terkontrol. Tatapan matanya tajam namun tampak tenang ketika menatap Jane yang masih berdiri di meja resepsionis. 

“Ini dia, Brian Kevin Hall,” ujar resepsionis. “Pelatih utama kami yang sudah profesional dan berpengalaman selama sepuluh tahun." 

Brian menatap Jane sebentar, hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat napas Jane tercekat. Tatapan itu menembus jantungnya yang langsung berdebar tak karuan. 

"Selamat datang, Jane. Sudah siap untuk sesi latihan dan membentuk tubuh jadi lebih indah?" 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (9)
goodnovel comment avatar
wieanton
perempuan klo udah di sakiti gebrakannya di luar dugaan, beda sm laki2 klo di sakiti paling cari yg baru ..klo perempuan pasti lbh fokus ke diri sendiri dlu baru cari yg lain
goodnovel comment avatar
Mbak Nana
awal cerita yang bagus
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
wahhh Andrew kayaknya sebentar lagi kamu akan menyesal karena telah mempermalukan c jane .
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 64: Kerjasama untuk Menghancurkan John

    Beberapa jam setelah bercinta yang cukup panas yang mereka lalui, Jane dan Brian masih berbaring berdampingan di sofa ruang keluarga apartemen Jane masih tanpa mengenakan apa pun di tubuh mereka.Hanya saling menggenggan dan berpelukan menikmati malam sunyi dan mengobati rindu masing-masing hati.Jane menatap langit-langit cukup lama, lalu menghela napas pelan. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak tadi, sebuah kejanggalan yang tak bisa dia abaikan begitu saja.Perlahan, dia memiringkan tubuhnya dan menoleh ke arah Brian yang berbaring di sampingnya. Wajah pria itu tampak santai, tetapi sorot matanya menunjukkan kewaspadaan yang tak pernah benar-benar padam.“Brian,” panggil Jane dengan suara rendah namun serius.Brian menoleh dan menatapnya penuh perhatian. “Ada apa?” tanyanya dengan nada suara yang lembut, seolah siap mendengarkan apa pun yang akan Jane katakan.Jane menarik napas lebih dalam sebelum akhirnya berkata, “Ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang terjadi sebelum ka

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 63: Meleburkan Semua Hasrat

    Jane melangkah pelan menghampiri Brian yang masih berdiri di depan pintu unit apartemennya.Cahaya lampu lorong memantulkan bayangan keduanya di dinding, menciptakan suasana canggung yang sarat dengan perasaan tak terucap.Jane berhenti tepat di hadapannya, menatap wajah Brian yang terlihat lelah namun penuh penahanan emosi.Tanpa berkata apa pun, Jane meraih gagang pintu dan membukanya. Ia menggeser tubuhnya sedikit ke samping, memberi ruang.“Masuklah,” ucapnya singkat, suaranya terdengar tenang, meski dadanya berdegup lebih cepat dari biasanya.Brian tampak sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Jane akan bersikap demikian mudah setelah semua jarak yang tercipta di antara mereka.Namun ia tidak menolak. Dengan langkah ragu namun mantap, Brian masuk ke dalam apartemen itu, sementara Jane menutup pintu di belakang mereka.Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Jane meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu berbalik ke arah dapur. “Aku akan mengambilkan minuman,” katanya sambil berjal

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 62: Aku tidak Main-Main

    Langkah John terhenti seketika ketika mendengar ucapan Brian barusan. Tubuhnya membeku di ambang pintu apartemen, punggungnya masih menghadap Brian.Selama beberapa detik, keheningan menggantung di udara, berat dan menyesakkan, seolah ruangan itu menahan napasnya sendiri.Perlahan, John menoleh. Tatapannya datar, dingin, tanpa emosi yang mudah ditebak. Sorot matanya bertemu dengan pandangan Brian yang kini berubah sepenuhnya.Tidak ada lagi sikap santai atau nada mengusir semata. Yang tersisa hanyalah kemarahan yang tertahan, terbungkus rapi dalam kendali diri yang rapuh.Brian melangkah satu langkah mendekat. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang.“Jangan pernah berpikir untuk merebut Jane dariku,” ucapnya dengan suara rendah namun penuh tekanan. “Jika kau berani melakukannya, aku akan melaporkan semuanya.”John mengangkat alisnya tipis. “Semuanya?” tanyanya pelan, nyaris mengejek.“Ya,” jawab Brian tegas. “Pada orang tua kita. Dan juga pada istrimu. Semua yang sudah kau

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 61: Ingin Merebut Jane dariku?

    Apartemen Brian dipenuhi aroma khas keringat dan karet.Di sudut ruangan, sebuah samsak tinju bergoyang pelan setelah menerima rentetan pukulan yang terukur dan bertenaga.Brian berdiri tegak di hadapannya, kedua tangannya terbalut hand wrap hitam, rahangnya mengeras, napasnya teratur.Setiap pukulan yang dia lepaskan tidak sekadar menguji fisik, melainkan juga menjadi saluran bagi kegelisahan yang sejak beberapa hari terakhir enggan meninggalkannya.Pintu apartemen terbuka tanpa banyak suara. John masuk dengan langkah santai, seolah tempat itu juga miliknya.Dia menyandarkan punggungnya pada dinding dekat pintu, dengan kedua tangan terlipat di dada seraya menatap adiknya dengan sorot mata menilai.Tidak ada sapaan. Hanya keheningan yang dipenuhi suara pukulan berulang ke permukaan samsak.“Beberapa hari ini kau hanya di rumah,” ujar John akhirnya, suaranya terdengar ringan namun menyimpan nada mengusik. “Kenapa tidak melatih Jane lagi?” tanyanya dengan nada datarnya.Brian tidak menj

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 60: Perbuatan John?

    Jane dan Sita duduk berhadapan di sudut kantin kantor yang tidak terlalu ramai. Jam makan siang hampir berakhir, sebagian besar karyawan sudah mulai kembali ke meja kerja masing-masing.Di atas meja mereka, dua piring makanan terhidang. Spageti di hadapan Jane tampak nyaris tidak tersentuh, sementara minuman dingin di sampingnya sudah mulai mencair.Sejak beberapa menit lalu, Sita memperhatikan sahabatnya itu dengan kening berkerut. Jane sama sekali tidak menikmati makanannya.Garpu di tangannya hanya bergerak mengaduk-aduk spageti tanpa tujuan, seolah pikirannya berada jauh dari tempat itu.“Jane,” panggil Sita akhirnya, suaranya terdengar agak menegur.“Jam masuk tinggal sebentar lagi. Kalau kau tidak berniat makan, setidaknya berhentilah memainkan makananmu.”Jane tersentak kecil. Ia menghentikan gerakan tangannya dan meletakkan garpu di atas piring. Napasnya terhembus panjang, berat, seakan ada beban besar yang sejak tadi menekan dadanya.“Aku sedang tidak berselera,” jawab Jane s

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 58: Kecurigaan Jane

    Jane berdiri tegak di hadapan meja kerja John dengan map berwarna biru tua di tangannya.Wajahnya tampak tenang dan profesional, sebagaimana yang selalu ia tunjukkan setiap kali berada dalam ruang kerja atasannya itu.Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela besar di balik meja John, memantulkan bayangan samar pada lantai marmer yang mengilap.“Ini laporan perkembangan proyek terakhir,” ujar Jane dengan suara jelas dan terukur sambil menyerahkan map tersebut.“Seluruh tahapan utama sudah berjalan sesuai rencana. Jika tidak ada kendala berarti, proyek ini dapat dinyatakan selesai dalam beberapa minggu ke depan.”John menerima map itu dan mengangguk singkat. “Baik,” ucapnya.Dia lalu membuka dokumen tersebut sekilas dan memeriksa halaman-halaman awal dengan tatapan serius. “Kau sudah memastikan semua detail teknis dan administrasi terpenuhi?” tanyanya kemudian.“Sudah,” jawab Jane mantap.“Untuk penjabaran yang lebih rinci mengenai aspek teknis dan anggaran akhir, sekretaris

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status