Share

Bab 58: Kecurigaan Jane

Penulis: Salwa Maulidya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 00:05:08

Jane berdiri tegak di hadapan meja kerja John dengan map berwarna biru tua di tangannya.

Wajahnya tampak tenang dan profesional, sebagaimana yang selalu ia tunjukkan setiap kali berada dalam ruang kerja atasannya itu.

Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela besar di balik meja John, memantulkan bayangan samar pada lantai marmer yang mengilap.

“Ini laporan perkembangan proyek terakhir,” ujar Jane dengan suara jelas dan terukur sambil menyerahkan map tersebut.

“Seluruh tahapan utama sudah berjalan sesuai rencana. Jika tidak ada kendala berarti, proyek ini dapat dinyatakan selesai dalam beberapa minggu ke depan.”

John menerima map itu dan mengangguk singkat. “Baik,” ucapnya.

Dia lalu membuka dokumen tersebut sekilas dan memeriksa halaman-halaman awal dengan tatapan serius. “Kau sudah memastikan semua detail teknis dan administrasi terpenuhi?” tanyanya kemudian.

“Sudah,” jawab Jane mantap.

“Untuk penjabaran yang lebih rinci mengenai aspek teknis dan anggaran akhir, sekretaris
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
terlalu ikut campur banget kamu jhon dengan hubungan jane dan brian
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
aduhh John kamu ini knpa selalu ikut campur urusan Brian untung c Jane bisa ngomong untuk menjatuhkan mental mu.
goodnovel comment avatar
Icha Qazara Putri
Bagus Jane kau harus membungkam mulut si Jhon dengan kata" yang jelas.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 75: Sedang Merayu Calon Istri

    Lampu neon yang temaram di area parkir bawah tanah apartemen itu menciptakan bayangan panjang yang memantul pada bodi mobil sedan mewah milik Brian.Keheningan menyelimuti atmosfer di dalam kabin, hanya menyisakan deru halus mesin yang baru saja dimatikan. Jane masih berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, enggan untuk benar-benar melangkah pergi.Matanya tertuju pada Brian yang masih duduk di balik kemudi, menatapnya dengan binar mata yang sulit diartikan.Jane menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang membawa beban penyesalan sekaligus kejujuran yang selama ini dia pendam."Aku memang bodoh, Brian," ucap Jane dengan nada suara yang bergetar namun tetap terdengar formal dan tertata."Sangat bodoh karena telah mengatakan hal-hal sinis itu sebelumnya. Aku berpura-pura seolah aku tidak membutuhkan siapa pun, padahal jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu bahwa aku masih sangat membutuhkan cinta. Aku membutuhkanmu."Brian terdiam sejenak. Sudut bibirnya perlahan terangkat, mem

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 74: Beritahu jika sudah Siap

    Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman hotel yang masih dipenuhi cahaya lampu dan deretan kendaraan mewah.Di balik dinding kaca aula, pesta masih berlangsung meriah, musik mengalun, tawa terdengar samar, dan para tamu masih larut dalam perbincangan. Namun bagi Jane dan Brian, malam itu telah mencapai titik akhirnya.Jane duduk di kursi penumpang dengan punggung bersandar rapi. Ia melepaskan napas pelan, seolah baru saja keluar dari sebuah medan yang penuh tekanan.Brian fokus mengemudi, sorot matanya lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras. Suasana di dalam mobil terasa hening, tetapi bukan hening yang canggung—lebih seperti kelelahan yang sama-sama mereka pahami.Belum jauh mobil melaju, ponsel Brian bergetar. Ia melirik layar sekilas, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan itu.“Ya,” jawab Brian singkat.Suara di seberang terdengar jelas meski Jane tidak bisa mendengar kata per kata. Nada itu tegas, tinggi, dan sarat otoritas. Brian mengendurkan bahu

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 73: Akan Menemukan Banyak Hal

    Sheila melangkah dengan cepat menghampiri John. Wajahnya memerah oleh amarah yang tidak lagi bisa dia tahan.Tangannya mengepal, bahunya naik turun menahan emosi yang mendidih sejak dia mendengar percakapan John dan Clara barusan.“Kau benar-benar keterlaluan!” bentaknya dengan nada yang cukup tajam. “Bagaimana mungkin kau punya hati sebusuk itu pada Brian?” teriaknya kemudian.John menatap Sheila dengan sorot mata keras. Namun berbeda dari sikapnya pada Clara tadi, kali ini ia memilih diam.Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya menegang, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah menahan sesuatu yang ingin dia luapkan tetapi dia sendiri tidak sanggup mengucapkannya.Sementara Brian berdiri sedikit di belakang Sheila. Ia tidak ikut berteriak, tidak pula ikut memaki. Ia hanya menatap John dengan dingin, tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Tatapan itu membuat John refleks menelan ludah.“Kenapa, John?” Sheila kembali mendesak.“Kenapa kau tega melak

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 72: Kepergok Brian dan Sheila

    Lorong di sisi aula hotel itu lengang dan temaram, jauh dari hiruk-pikuk pesta yang masih berlangsung meriah di ruangan utama. Lampu dinding menyala redup, hanya memantulkan bayangan panjang di lantai marmer yang dingin. Di sanalah John berdiri berhadapan dengan Clara, wajahnya tegang, rahangnya mengeras seolah sedang menahan sesuatu yang berat.“Aku diancam oleh Brian,” ucap John akhirnya, dengan nada suara yang rendah namun sarat tekanan.Clara sontak mengernyit, jelas belum menangkap maksud ucapan itu. “Diancam?” tanyanya dengan nada suara yang meninggi. “Maksudmu apa?” lanjutnya.John menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan lorong itu benar-benar sepi. Tidak ada pelayan, tidak ada tamu yang berlalu-lalang. Setelah yakin, dia melangkah mendekat ke arah Clara dan menurunkan suaranya lebih jauh. “Sepertinya Brian tahu rencana kita.”Clara terdiam sejenak seraya menatap John dengan sorot mata tajam. “Rencana apa?” desaknya.“Rencana untuk mendekati Jane,” jawab John pelan. “Dan

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 71: Pesta Meriah Hills Group

    Pukul tujuh malam, Jane berdiri di depan cermin besar di kamar Brian. Cahaya lampu temaram memantul di permukaan kaca, menampilkan bayangan dirinya yang tampak berbeda dari biasanya.Gaun panjang berwarna gelap menjuntai anggun membalut tubuhnya. Punggung gaun itu terbuka, memperlihatkan lekuk punggungnya dengan elegan, sementara belahan dada yang tampak setengah memberi kesan dewasa dan berani, tanpa terkesan berlebihan.Jane menelan ludah pelan. Ia masih memandangi dirinya sendiri ketika pintu kamar terbuka dan Brian masuk.Langkah pria itu terhenti begitu matanya menangkap sosok Jane di depan cermin. Untuk beberapa detik, Brian hanya berdiri diam, menatap tanpa berkedip.“Kau ….” Brian menghela napas kecil lalu tersenyum. “Kau luar biasa cantik. Dan sangat seksi.”Jane tersenyum tipis, pipinya sedikit menghangat oleh pujian itu. Dia lalu menoleh menatap Brian melalui pantulan cermin. “Apa menurutmu aku berlebihan?” tanyanya dengan nada ragu.“Tidak,” jawab Brian cepat. “Kau sempurn

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 70: Pagi yang Panas

    Brian mengangkat tubuh Jane dengan enteng dan membuat wanita itu terkekeh saat dirinya kini duduk di meja makan sementara Brian berdiri di hadapannya.“Jangan menyesal jika aku terlalu liar, Jane. Karena kau yang memancing lebih dulu,” ucap Brian dengan tatapan matanya tak lepas dari Jane.Wanita itu hanya tersenyum rendah kemudian membuka mini dress yang dia kenakan itu dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu indah.“Sentuh aku, Brian. Lebih dalam,” bisik Jane dengan suara paraunya.“Shitt!” umpat Brian dan langsung meraup bibir Jane dengan liar. Ciuman yang rakus, liar, dan panas di pagi hari itu membuat gairah Brian semakin membara.Lidahnya mengunci lidah Jane dan bibirnya melumat dengan dalam sampai membuat Jane mendesah pelan.“Terlalu dini untuk mendesah, Sayang,” bisik Brian dan kini bibirnya merayap di ceruk leher Jane.Mengisapnya hingga meninggalkan jejak merah keunguan di beberapa titik leher wanita itu. “Brian, mmh …,” desah Jane yang tidak mampu menahan diri untu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status